Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 113 Mengusik Hati Yashna


__ADS_3

Yashna menutup pintu mobil bagian penumpang setelah memastikan perempuan cantik bernama Julia sudah duduk dengan aman. Kali ini ia akan membawa pulang orang asing itu ke rumahnya. Bukan idenya, dan itu cukup membawa rasa tidak nyaman di benaknya.


“Apa tadi pagi aku sudah memasukan barang berhargaku ke dalam keranjang terkutuk itu?” Yashna menggeram pelan.


Lebih seperti mengumpat, ia sadar rumahnya berantakan dan beberapa pakaian jelas sudah memenuhi seantero ruang seperti gadis lajang pada umumnya.


“Kau bicara padaku?” tanya Julia, wanita cantik yang duduk di sebelah Yashna itu sambil mengerutkan keningnya.


“Oh, tidak. Aku bicara sendiri. Hehe ... iya, bukan apa-apa."


Yashna buru-buru menepis tanggapan wanita itu dengan mata melebar, senyum secerah mentari pagi kepada Julia. Sungguh, rasanya sangat memalukan kalau sampai orang lain tahu bagaimana kacau rumahnya. Oh, tidak! Yashna segera menyebut nama nama Alan dalam hati dengan umpatan kesal karena sudah membuatnya merasa seperti ini. Ia melampiaskan rasa cemburu dengan memporak-porandakan barangnya yang tidak berdosa.


“Rumahmu masih jauh?” tanya perempuan itu lagi seraya memasang sabuk pengaman.


“Tidak, aku malah biasa berjalan kaki kalau berangkat dan pulang kerja,” jawab Yashna seraya menjalankan mobil milik Julia dengan kecepatan sedang. Ia segera menyeberang jalan raya dan mulai mendapatkan jalur ke arah di mana rumah kontrakannya berada.


“Tinggal sendirian?”


Oh, Tuhan. Yashna menggeram dalam hati. Rasanya sangat kesal karena wanita di sampingnya itu memberikan pertanyaan dan ia malas kalau terus-terusan harus menjawab pertanyaan mengenai kehidupannya. Setelah mengembus napas, Yashna pun menjawab, "Sendirian."


“Oh, syukurlah." Julia tertawa kecil. "Oya, apa itu tandanya kau belum punya kekasih?”


Yashna hanya memandang perempuan cantik itu sekilas, lalu fokus lagi menyetir karena jarak rumahnya sudah dekat. Dia enggan menjawab, rasanya sangat berat ketika mengungkapkan betapa buruk hubungan percintaannya di saat usianya tidak lagi muda.


Julia menahan diri untuk tertawa, ia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita incaran adiknya dengan cara dramatis seperti ini. Awalnya ia malah tidak tahu kalau Yashna bekerja di sana. Niatnya untuk berkunjung ke rumah Yashna yang sudah ia ketahui sebelumnya setelah membeli sesuatu yang malah membawanya pada kejadian tidak menguntungkan seperti yang dialaminya ini.


“Aku kenal dekat dengan seseorang. Aku rasa dia pria yang baik,” ungkap Julia memancing percakapan.


Yashna bergeming, tidak menoleh sama sekali karena itu jelas tidak membawa minatnya untuk membahas seorang pria. Dia sedang mengutuk Alan tidak laku.


“Dia masih sangat muda, ehhmm ... usianya mungkin baru sekitar dua puluh tiga, itu sih kalau sudah genap,” ujar wanita itu diiringi tawa. Pundaknya bergerak naik turun seirama dengan gelak suaranya yang nyaring di telinga. "Aku tidak yakin, sih.“


Yashna masih enggan menanggapi. Ia memutar setir kemudi mobil, melajukan ke arah sebuah kawasan perumahan yang baru dihuni beberapa blok saja. Banyak bahan bangunan yang masih berserak di bahu jalan karena beberapa rumah memang masih dalam tahap pembangunan. Julia memutar bola matanya, memandang ke arah jalanan yang membawanya pada kesunyian. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan menunggu ke mana Yashna akan membawanya.


”Nah, kita sudah sampai.“ Yashna menghentikan laju mobil tepat di gang paling ujung. Ia membuka sabuk pengaman, melirik sekilas ke arah Julia yang masih terpaku memandang rumah dengan bangunan mungil tetapi cukup rapi daripada yang berada di sebelahnya. Ia pun mulai bergerak untuk membuka sabuk pengaman kemudian membuka pintu mobi.

__ADS_1


”Aku akan bantu Kakak turun.“ Yashna dengan cepat keluar dari mobil untuk membantu Julia yang sedang cedera.


”Hm,“ sahut Julia mengangguk, mengamati langkah Yashna ketika memutari mobil untuk menjangkau dirinya. Dia bisa merasakan itu sebuah tindakan yang tulus dan hangat. Julia bisa membayangkan bagaimana Alan dalam memandang wanita yang memiliki usia sebaya dengannya tersebut. Tentu, ia memahami apa yang dirasakan adiknya, yaitu cinta yang sebenarnya.


”Mari, Kak.“


Yashna membuka pintu mobil lebih lebar, tangannya terulur untuk membantu Julia turun dari mobil. Merasa sangat menyesal saat mendengar wanita itu mengerang kesakitan saat kakinya menyentuh tanah.


Julia mengembuskan napas pelan. Sungguh, ia tidak sedang berakting saat ini. Kakinya memang terkilir dan ia meringis saat mencoba untuk berjalan menuju teras melewati halaman rumah yang tidak terlalu luas.


”Ya, Tuhan!“ keluhnya sambil berjalan diiringi Yashna.


”Apa rasanya sangat sakit? Aku sangat menyesal, Kak Julia.“ Yashna mempererat tautan pada lengan Julia dengan tatapan pasrah.


”Aku ... entahlah. Ingin tidak marah, tapi hatiku masih marah,“ sahut Julia pura-pura mendengus. Sebenarnya ia ingin bersikap hangat, tetapi ia harus menguji kesabaran wanita cantik incaran adiknya itu sampai pada batas tertentu. Sudah pasti Alan tidak akan mempermasalahkan karena semua ini bagian dari rencana mendekatkan kembali hubungan mereka berdua. Rasanya hati Julia tidak sabar melihat bagaimana perasaan Yashna yang sebenarnya.


Yashna pun hanya bisa diam, menahan diri untuk tidak berbicara lagi. Dengan sekuat tenaga ia membantu perempuan berpostur tubuh lebih tinggi dan seksi itu masuk ke dalam rumah. Beban berat rasanya kini tertimpa ke pundaknya. Yashna meyakinkan diri bahwa ia bisa melewati keadaan ini dengan baik dan penuh kesabaran.


”Aku gerah, mau mandi,“ ucap Julia seraya mengibaskan jemari tangannya. Tubuhnya terasa panas dan gerah karena pendingin ruangan tidak ada. Ia memandang hanya ada kipas di pojokan ruang tamu dan tangannya tidak mampu menjangkau.


Kini, ia sudah duduk dengan kaki berselojor di atas sofa, sedangkan Yashna terlihat sibuk menyiapkan kamar.


Julia mengamati tiap-tiap bagian sudut ruangan. Ia merasa betapa sederhana rumah yang ditempati Yashna menurut kacamatanya sebagai bagian dari keluarga yang berkecukupan. Ia sendiri wanita dewasa yang memiliki karir bagus hingga bisa membangun rumah idamannya. Apa yang dilihatnya dari Yashna tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan orang-orang bahwa perempuan itu merupakan kakak tiri dari Isna yang kaya raya. Namun, Julia segera sadar bahwa kehidupan mereka sangat berbeda jauh dan ia tahu bahwa Yashna juga Alan memang sama-sama anak terbuang. Anak yang hanya membawa aib bila diperkenalkan pada publik siapa sebenarnya orang tua mereka. Tiba-tiba perasaan Julia menjadi tidak nyaman. Rasa simpatinya muncul tiba-tiba, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.


”Maaf, Kak. Rumahku berantakan.“ Yashna menatap malu ke arah Julia. Ia sudah selesai dengan kamar yang akan ditempati tamunya. Ia tersenyum saat mendekat dan duduk di kursi sebelah wanita itu.


”Hm, aku sudah kirim pesan pada teman dekatku untuk membawakan kita makanan. Aku rasa kamu harus tetap menemaniku karena rasanya sangat sakit kalau aku berjalan tanpa bantuan darimu,“ kata Julia sambil meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas.


”Oh, baiklah.“ Yashna mengangguk.


Mereka berpandangan sejenak, sama-sama melemparkan senyuman asing. Rasanya ada keterlibatan emosi di antara keduanya. Yashna bisa merasakannya, tetapi tidak berkomentar apa-apa. Sosok Julia mengingatkan dirinya pada bunda Kartika, dan mata cokelat gelap milik Julia juga membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengingat siapa pemilik mata indah itu, siapa lagi kalau bukan Alan. Mata keduanya sangat mirip.


”Kakak bilang mau mandi?“ tanya Yashna hendak bangkit.


”Aku malas, nanti saja. Aku lapar dan menunggu makanan datang,“ kilah Julia kembali merebahkan punggung pada sofa.

__ADS_1


”Kalau gitu aku akan buatkan minuman.“


”Tidak perlu! Cukup duduk di sini temani aku. Sangat sedih saat menyadari aku kembali mengalami cedera,“ pintanya dengan tatapan penuh kesedihan ke arah Yashna lalu beralih memandang kakinya yang bengkak.


”Aku—“


”Jangan minta maaf lagi, aku bosan mendengarnya,“ potong Julia berucap tajam.


Yashna mengangguk sedih, ia pun duduk kembali ke tempatnya dengan perasaan gamang. Sekali lagi, ia merasakan bahwa hidupnya tidak pernah jauh dari penyebar nasib sial bagi orang di sekitarnya.


”Tentu aku tidak akan mempermasalahkan kejadian buruk hari ini, seandainya kamu bersedia menggantikan beberapa pekerjaanku sampai aku sembuh,“ ujar Julia menebarkan senyum manis ke arah Yashna.


”M-maksud Kak Julia?“


”Yes, kamu resmi kuangkat jadi asisten spesial selama aku sakit. Kamu akan membantuku bekerja dan—“


”T-tapi, Kak.“ Yashna menelan ludah, melebarkan bola matanya, rasanya tidak percaya wanita itu akan menjeratnya hingga seperti ini.


”Kamu keberatan?“


”Bukan begitu.“ Yashna menggelengkan kepala sambil mengibaskan jemari tangan. Rasanya sangat membingungkan, tetapi hatinya tidak sanggup untuk menolak permintaan tersebut mengingat bagaimana perempuan cantik itu tidak menuntutnya karena telah berbuat lalai hingga menyebabkan celaka. Lidahnya mendadak kelu.


Suara ketukan pintu rumah mendistraksi percakapan mereka, Julia segera merebahkan kembali punggungnya dan membiarkan Yashna bangkit untuk melihat siapa yang datang. Ia yakin, Yashna pasti akan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Namun, tugasnya hanya menjadi seseorang dalam hubungan mereka berdua. Ia merasa tidak sabar dengan pertunjukan seru selanjutnya.


”Itu pasti temanku!“ seru Julia memberi tahu. Yashna yang sudah berjalan ke arah pintu pun mengangguk sambil menoleh lagi ke arahnya.


Sepanjang perjalanan Yashna mengembus napas dalam-dalam. Akan banyak orang asing yang akan memasuki rumahnya—kehidupannya, dan itu bagian dari hal yang tidak disukai Yashna. Setelah mengembus napas, Yashna pun membuka pintu. Tidak lupa ia memberikan salam selamat datang dengan wajah penuh senyuman. Namun, tubuh tegap yang kini berdiri membelakanginya nyaris membuat wanita itu berhenti bernapas. Senyar nyeri sampai ke ulu hati ketika menyadari teman yang ditunggu Julia adalah Alan. Begitu mendapat sambutan, pria itu berputar arah tepat menghadapnya. Yashna terpaku cukup lama, hanya bisa menatap senyuman hangat dari Si Tampan itu kala terurai kepadanya.


”Yashna,“ panggil pria itu tampak ragu. Yashna bisa merasakan sikap kikuk Alan karena pria itu menggaruk kepala dan mengerutkan kening. "Katanya temanku ada di sini? Aku—”


“Hmm, silakan masuk,” sahut Yashna mengangguk. "Dia sudah menunggumu."


Yashna melebarkan daun pintu sambil memalingkan wajahnya, menahan diri agar tidak memeluk Alan untuk meyakinkan diri bahwa ini semua hanya mimpi. Rasanya ia ingin terbangun, melepaskan impitan rasa cemburu ini jauh-jauh. Siapa mengira, ia telah kalah. Ketika dirinya yang mati-matian ingin berpisah, begitu melihat pria itu dekat dengan wanita lain tepat di depan matanya, luka dan cemburu itu kembali mencekiknya.


***

__ADS_1


'Kepedihan yang tidak pernah kusangka. Baru kusadari bahwa teramat berat untuk membohongi diri bahwa aku masih sangat mencintaimu.'


(Yashna Andara Bumi)


__ADS_2