
Almira membalik badan menghadap suaminya, ia merasa sangat antusias, matanya berbinar cerah saat Wisnu mengungkapkan kekaguman terhadapnya sejak dari insiden serempetan antara motornya dengan mobil mewah milik Wisnu kala itu. Perempuan yang akrab dipanggil Ira itu tidak mampu lagi menyembunyikan rona kebahagiaan di wajahnya, Wisnu sampai senyum-senyum sendiri memandang istrinya.
"Ayo," bujuk Almira meraih lengan Wisnu dan tersenyum manis ke arahnya, ia sandarkan kepalanya di atas dada Wisnu dan memeluknya dengan erat.
"Ke mana?" goda Wisnu.
"Mulai deh." Wajah Almira sukses cemberut karena Wisnu menggodanya.
Wisnu tergelak menatap wajah istrinya yang sudah tampak kesal. Ia menjadi gemas dan membalas pelukan itu seraya mencium ujung kepalanya dengan sayang.
"Besok, mas Inu ceritain, malam ini sudah ngantuk," ucap Wisnu masih berbaring memeluk Almira.
"Mas Inu bisa ingat Ira bagian apa? Kenapa waktu di bar tidak mengenali Ira?" tanya Ira sambil memejamkan mata, mencoba untuk tidur.
"Karena penampilan kamu berbeda malam itu, rambut kamu sudah nggak cokelat seperti dulu. Kamu saat itu wanita muda, cantik, rambut cokelat lurus sebahu tapi ngakunya usia empat puluh tahun," jawab Wisnu juga sambil memejamkan matanya, tangannya mengusap lembut rambut Almira yang kini sudah panjang dan berwarna hitam alami.
Almira tertawa kecil, ia semakin erat memeluk Wisnu. Ia mengingat jelas kejadian saat itu.
"Hubungannya antara kecelakaan dengan usia apa? Kenapa saat itu kamu menanyakan soal umur?" telisik Almira merasa sangat kesepian.
Wisnu ikut melengkungkan bibirnya dan tersenyum mengingat kembali saat itu. Ia merasa cukup tertarik tapi gengsi karena Almira, gadis itu pelit informasi pribadi saat ditemui, cukup membuatnya tercengang karena saat itu Almira tidak tertarik sama sekali dengan dirinya, padahal baginya setiap wanita yang ia temui pasti mudah untuk diajak kenalan.
"Mobilmu sudah kamu benerin di bengkel? Habis berapa?" tanya Almira merasa penasaran dengan mobilnya.
"Masih di garasi, belum aku benerin. Buat kenang-kenangan," jawab Wisnu membuat Almira mendongak cepat.
Ia tidak percaya dengan apa yang suaminya itu katakan, menjadikan goresan lecet di mobil sebagai kenang-kenangan? Itu sangat menggelitik hatinya.
"Lalu motormu?" tanya Wisnu balik.
"Sudah aku jual," jawab Almira enteng.
"Apa!"
"Biasa aja deh," sela Almira merasa suara Wisnu seakan terkejut dan kesal.
"Yah, masa di jual?" protes Wisnu menarik tangannya dan menatap Almira dengan wajah masam.
"Buat bayar kuliah sama bayar kost," jawab Almira seraya tersenyum malu.
Sambil menghela napas Wisnu segera memeluk kembali tubuh istrinya. Ia sadar, wanita yang telah mengandung anaknya itu berasal dari keluarga sederhana, ia tidak menyangka kehidupan yang mereka jalani juga harus mengalami kekurangan, sama persis seperti dirinya sebelum menerima aset dari Isna, kehidupannya sama keras di masa lalu. Ia bersyukur ketika sudah berumah tangga kehidupannya sudah membaik dan bisa memberi nafkah istrinya dengan layak.
"Mas mau membelikan motor Ira?" tanya Almira menampakkan sorot mata memohon.
"Tidak, kamu tidak boleh mengendarai motor lagi, bahaya," jawabnya tegas.
"Sejak kelas satu SMP aku mengendarai sepeda motor, Mas."
"Pokoknya tidak boleh," tegas Wisnu.
"Huh, jahat."
Almira segera memunggungi suaminya seraya menarik selimut dan tidur. Wisnu hanya bisa tersenyum, matanya juga sudah sangat ngantuk, ia segera memeluk istrinya dari belakang dan ikut tertidur.
Sementara itu di tempat lain ...
Ihsan mengendarai mobilnya menuju ke rumah Dhepe, pandangannya fokus ke arah jalanan tanpa ada pembicaraan. Dalam keadaan ngantuk dan istri bosnya meminta bantuan agar dirinya membantu Dhepe yang sedang mengalami masalah pada kendaraannya membuatnya langsung tancap gas tanpa memikirkan apa-apa. Tampak Dhepe yang duduk di samping kursi kemudi mengelus kepala Azka yang tengah tertidur di pangkuannya dengan perasaan canggung.
"Maaf malam-malam merepotkanmu," ucapnya memecah keheningan.
Ihsan menoleh sesaat dan mengangguk dengan senyuman. Ia segera kembali menatap ke arah jalanan karena arus kendaraan masih ramai di malam hari.
"Tidak masalah, tenang saja. Aku sudah menghubungi pihak garda o*o, jadi mobilmu aman," jawab Ihsan bersikap sangat santai.
__ADS_1
"Tadinya aku menelpon Almira tapi dia malah meminta bantuan kamu," jelas Dhepe.
"Mereka sudah bahagia, aku harap kamu bisa memahami apa yang mereka hadapi agar bisa seperti sekarang ini," ucap Ihsan membuat Dhepe menunduk, tapi jujur saja ia belum paham.
Ihsan melirik sesekali ke arah wanita yang baru beberapa bulan menyandang status janda itu dengan perasaan kasihan, entahlah, Ihsan merasa wanita itu memiliki kisah hidup yang sedikit rumit. Bisa saja ia dulu sempat terlibat hubungan serius dengan Wisnu, tapi tidak berjodoh.
"Apa kamu masih menyukai pak Wisnu?" tanya Ihsan dengan suara pelan.
Dhepe memandang sejenak sebelum akhirnya ia tertawa getir dan berdehem beberapa kali memperbaiki sikapnya.
"Aku dilahirkan dari keluarga yang mengekang kebebasan anak-anaknya dalam meraih mimpi," ungkapnya membuat Ihsan menelan salivanya cepat, ia tidak menyangka wanita itu mau berbagi cerita hidup dengannya.
"Oh, keluarga memang ingin yang terbaik untuk anak-anaknya," sahut Ihsan.
"Tidak sesederhana itu," sahut Dhepe.
Terlihat wanita itu kembali mengusap kepala putranya, meraih anakan rambut Azka dan merapikannya sebelum menghela napas dan melanjutkan ceritanya.
"Aku mengenal Wisnu saat pria itu masuk jajaran bodyguard tuan Krisna dan mengawal artis sekaligus Brand Ambassador dari Baratha Grup, kak Tya Gunawan saat ada acara peresmian salah satu Department Store milik perusahaan itu," kenang Dhepe sambil tersenyum.
"Dia pria yang cukup misterius," jawab Ihsan.
"Sangat," timpal Dhepe membuat keduanya tertawa bersamaan.
"Kalau Almira?" tanya Ihsan kemudian.
Dhepe tersenyum tipis, ia terlihat memandang ke arah jalanan sebelum akhirnya memandang Ihsan dan mengangguk bersedia menceritakan hubungannya dengan Almira.
"Almira itu teman adikku, bernama Bagus, adikku seorang berandalan dan playboy kampret, tapi sejak bertemu dengan Almira sikapnya berubah banyak, mulai mendekati gadis sederhana itu dan meminta dijadikan kekasih, dan syaratnya dari Almira mengharuskan adikku mau bekerja. Hebatnya, dia berhasil merubah adikku menjadi pria yang lebih bertanggung jawab, mau bekerja dan menjalin hubungan hanya dengan Almira saja hingga keduanya bertunangan, tapi lagi-lagi keluargaku menginginkan Bagus mendapatkan istri dari keluarga kaya raya jadi hubungan mereka ditentang habis-habisan oleh kedua orangtuaku dan hanya aku yang mendukung hubungan mereka, tapi dengan satu syarat," ungkap Dhepe membuat Ihsan merasa sangat penasaran dengan cerita kehidupan Almira dari sudut pandang wanita cantik itu.
"Syarat?" tanya Ihsan menoleh sesaat.
"Dia harus membantuku mencari tahu semua hal tentang Wisnu Tama, bodyguard dingin, kaku, si patung hidup yang mampu membuatku sangat tertarik dengan sikapnya yang cuek dan sopan, tidak mau mencampuri urusan orang lain," jawab Dhepe seraya tertawa mengingat kekonyolannya saat itu.
"Harapanku sempat pupus saat seorang wanita bernama Yashna ternyata juga tertarik padanya," jawab Dhepe dengan suara pelan.
"Apa dia yang kini berstatus menjadi tunangan Alan, keponakan pak Wisnu yang ikut menghadiri pernikahan Wisnu?" tanya Ihsan masih sambil menyetir.
"Wah, benar. Ternyata kamu juga mengenalnya," sahut Dhepe menatap Ihsan dengan kilatan matanya.
"Karena menurutku, Alan itu keren," jawab Ihsan ikut tertawa.
"Sayang sekali semua informasi dari Almira tidak sepenuhnya tepat, sehingga satu hal yang aku rasa bagian dari takdir terukir dalam kisah kami berdua. Saat aku bertemu dengan Imran, kakak tiri dari Krisna di lelang amal, acara penggalangan dana yang diselenggarakan di salah satu gallery milik keluargaku membuat pria itu getol berkenalan denganku dan mencoba terus mendekati kedua orangtuaku agar bisa menjadi calon suamiku."
"Kamu menerimanya?" tanya Ihsan tercengang.
"Orangtuaku sangat menyukainya, selalu memaksaku hingga aku muak mendengar semua hal yang mereka ceritakan tentangnya, setiap hari pria itu selalu datang ke kafe yang diremehkan oleh ibuku, pria itu berhasil membuat kedua orangtuaku menatapku bangga karena semua pujian yang dia berikan mengenai pekerjaanku."
"Pria hebat," sahut Ihsan merasa minder sendiri.
"Saat itu Almira memberi kabar yang membuatku jatuh dan terpuruk, dia memberi foto-foto Wisnu sedang berada di kedutaan besar Australia, aku dan Almira menyimpulkan bahwa rencana pernikahan Wisnu dan Yashna seperti yang aku dengar dari kak Isna tetap berlanjut," ungkapnya dengan wajah tertunduk sendu.
"Kamu tidak berjodoh dengannya," ucap Ihsan memberi semangat.
"Iya, Wisnu jodoh Almira sendiri," sahut Dhepe melengkungkan bibirnya mencoba bersikap tenang.
"Ada andil Bagus di dalamnya," ungkap Ihsan tegas.
"Maksud kamu?" tanya Dhepe belum mengerti, ia memang secara pribadi belum menanyakan hal yang cukup mengusiknya setelah pertemuan dengan Almira.
"Bisa kamu jelaskan?" tanya Dhepe merasa sangat penasaran.
"Cari tahu sendiri dan aku akan menjadi saksinya bila apa yang Bagus ceritakan tidak sesuai dengan realita yang terjadi sebenarnya," balas Ihsan.
__ADS_1
"Apa adikku melakukan kesalahan?" tanya Dhepe membelalak mata. "Apa benar bahwa Bagus mencoba untuk mencelakai Almira?" tambah Dhepe lagi.
"Begitulah adanya, tapi Almira tidak mau memperpanjang masalah karena masih menyayangi adikmu, jadi aku rasa tolong biarkan pasangan yang kini sedang menyembuhkan diri dengan saling menerima satu sama lain itu hidup tenang tanpa ada pihak ketiga sebagai pemicu pertengkaran," Pinta Ihsan sambil tersenyum bijak.
Dhepe terdiam, tapi dia cukup paham. Dia juga bukan tipe wanita perusak hubungan orang lain, hanya saja perasaannya terhadap Wisnu memang begitu dalam ditambah salahnya informasi yang diberikan Almira yang membuatnya menjadi sulit untuk menerima hubungan mereka berdua.
"Wisnu itu sangat mandiri, hidupnya monoton dan diatur oleh keluarga yang dilayaninya, mirip sekali denganku. Meskipun begitu, dia bisa tetap bersemangat dan penuh misteri, dan itu sangat menarik perhatianku," kenang Dhepe lagi.
"Itu yang membuat kamu tertarik kepadanya?" tanya Ihsan menoleh.
"Iya," jawabnya sambil menunduk menahan tawanya.
"Ehm," sahut Ihsan mengangguk.
Kini mereka berdua sudah memasuki kawasan perumahan elite Green House, sebuah perumahan yang jelas menunjukkan kelas sosial bahwa penghuninya pasti berasal dari kalangan orang kaya. Ihsan menghela napasnya, selalu saja ia dihadapkan pada kenyataan seperti ini, kehidupannya yang biasa saja selalu bertemu dengan wanita yang punya karir dan berasal dari keluarga yang menjulang sangat tinggi jauh dari keadaannya, ia kembali harus menelan pil pahit kenyataan.
"Di daerah ini rumahmu?" tanya Ihsan memandang deretan hunian mewah di samping kanan kiri di sepanjang jalan yang mereka lewati.
"Rumah mendiang suamiku," jawab Dhepe sambil tersenyum.
"Suamimu berasal dari keluarga orang kaya," ucap Ihsan pelan.
"Itulah alasan kenapa aku menikah dengannya," sahutnya tertawa ironi.
Ihsan terhenyak menatap sejenak Dhepe, ia berdeham sejenak mengusir keterkejutan pengakuan wanita di sampingnya itu tanpa menyahut sama sekali.
"Dia sangat menyayangiku, mencintaiku dan tulus menunggu sampai aku menerima perasaannya, itulah mengapa aku bersedia menerima dirinya secara utuh sebagai suami," kenangnya lagi.
"Mencintai itu lebih sulit daripada dicintai?" tanya Ihsan mencoba menebak apa yang Dhepe ungkapkan dibalik kalimatnya.
"Wisnu menjadi sebuah pengalaman berharga bagiku, mencintainya seperti aku mengharapkan bulan tampak di siang hari," ucapnya.
Ihsan tertawa kecil mendengar perumpamaan payah yang terlontar dari Dhepe, baginya siang ataupun malam bukankah bulan selalu berada di atas langit.
"Kamu menertawaiku?" protes wanita itu mengernyit. Baginya itu tidak lucu sama sekali, Ihsan tidak menyahut masih tenggelam dalam tawanya.
"Tidak menutup kemungkinan aku bisa bersanding dengan Wisnu, makanya aku ibaratkan seperti itu tapi sulit, bukan tidak mungkin tapi sedikit butuh kesabaran," terang Dhepe.
"Tentu saja, bukankah pak Wisnu datang ke rumahmu saat ijab qobul pernikahanmu sedang berlangsung?" lontar Ihsan membuat Dhepe mengangguk dan ikut tertawa.
"Kami tidak berjodoh," aku Dhepe sembari menunduk dan tersenyum, setidaknya ia merasa dulu tidak begitu mengenaskan sudah berjuang memperlihatkan perasaannya terhadap pria itu. Ternyata Wisnu datang juga untuk mengajaknya serius menjalin hubungan dengannya setelah lama mengabaikannya, tapi sekali lagi, takdir berkata lain.
"Kira-kira jodohmu siapa, ya, nantinya?" celetuk Ihsan membuat Dhepe menoleh dengan wajah terkejut dengan perkataan itu. Ihsan hanya tersenyum simpul.
Mereka hening sesaat, kedua orang itu terlihat kikuk saling memandang, lalu saling membuang muka fokus ke jalanan.
"Rumah di depan itu, tolong berhenti ya?" ucap Dhepe kemudian membuang kecanggungan, tangannya menunjuk sebuah rumah mewah berlantai dua bergaya minimalis dengan sorot lampu berwarna orange menghiasi desain eksteriornya. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu menatap arah jendela mencoba menenangkan diri, ia tidak mau terlalu gegabah dalam menyelami arti dari ucapan atau guyonan pria lajang yang masih seumuran dengannya itu.
"Hmn, baiklah. Itu rumahmu," sahut Ihsan mengangguk melipat bibirnya menahan senyum.
"Hmm," sahut Dhepe mengangguk canggung dan kembali menunduk menatap wajah tampan putranya.
Bersambung.
Sekuat apa pun aku mencoba melupakan bayangmu, tetap saja hanya waktu yang bisa mewujudkannya.
Bagaimanapun aku mencoba memperjuangkan apa yang aku harapkan tetap saja campur tangan Tuhan satu-satunya hal yang bisa menjawab pada akhirnya.
Aku hanya mencoba, berusaha dan berjuang, tapi sungguh menerima kenyataan adalah cara paling bijak untuk merefleksikan perasaanku untukmu. (Dhepe ~ Wisnu)
By, Syala Yaya 🌻🌻
__ADS_1
Salam segalanya dari Wisnu, Almira dan Syala Yaya ❤️