Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 96 Cinta dan Kekhawatiran (Wisnu&Almira)


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻


Almira baru saja selesai dari kamar mandi ketika mendapati suaminya sudah berada di kamar sepulang dari kantor. Masih lengkap memakai jas dan sepatu pria itu berjalan mendekati Almira yang sedang mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Pria itu membungkuk, menekuk tubuhnya demi bisa mencium perut buncit sang istri tanpa mengeluarkan suara. Almira hanya menanggapi dengan tawa geli.


“Sudah lama?” tanya Almira meraih rambut kepala Wisnu dengan usapan lembut. Pria itu mendongak serta menyunggingkan senyumnya.


“Baru aja,” sahutnya kini bergerak untuk menegakkan tubuh kemudian berdiri sambil menarik tubuh sang istri agar berada dalam dekapannya yang hangat.


“Ada apa?” tanya Almira merasa aneh.


“Tinggal menunggu dan rasanya aku kok kayak was-was,” resah Wisnu masih menahan tubuh sang istri agar tidak menjauh, melepaskan pelukan yang sanggup memenangkannya.


“Bismillah, pasti bisa,” sahut Almira menenangkan.


“Ingat waktu kamu nangis pas malam itu ....”


“Udah, nggak usah diingat lagi, ya? Semua udah berlalu, mau bagaimana lagi.” Almira memotong ucapan sang suami dengan memeluk erat dirinya.


“Ra,” panggil Wisnu pelan.


Kini tangannya bergerak melepaskan pelukan. Meraih pundak dengan mata fokus memandang wajah cantik Almira. Jemarinya bergerak lembut menyusuri wajah dan berakhir pada bibir berwarna cerah alami kemudian ia menciumnya lembut.


Almira hanya akan membalas, mengimbangi, mengikuti apa yang diinginkan suaminya. Akan sangat berbeda setiap waktu. Menggebu, melandai, atau malah penuh kelembutan. Ia selalu memaklumi apa yang diinginkan Wisnu dari dirinya, menentramkan.


“Kalau kita nggak pulang apa kamu akan sedih?” tanyanya kini kembali menatap sang istri ketika bibir mereka saling melepaskan diri.


“Kenapa memang?”


Selalu, Wisnu akan menunjukkan ketakutan yang sangat berlebihan. Bila menyangkut perjalanan, ia akan memastikan Almira hanya akan di rumah atau di dalam mobil menunggu sedangkan dirinya yang akan sibuk.


“Ibu sengaja nggak nelpon kamu, beliau izin sama mas,” ungkapnya pelan.


“Ada apaan, sih?” Almira menggembungkan pipi, kesal karena Wisnu akan sering memberitahu kemudian melarang.


Sepertinya Wisnu memang terlahir sebagai pria rapuh kalau sudah menyangkut keselamatan seseorang yang dicintainya. Rasa takut kehilangan sangat terlihat jelas dengan beberapa kali menemui dokter hanya untuk mencari tahu prosedur paling aman dan nyaman untuk wanita yang akan melahirkan. Keselamatan yang paling ia utamakan melebihi apa pun. Almira hanya akan menjadi istri penurut dan diam saja bila tingkat kecerewetan suaminya sudah menggila.


“Tadi ibuk telpon. Katanya bapak sudah lima hari sakit. Sudah periksa tapi tetep belum sembuh, katanya kangen kamu makanya bapak belum juga baikan, tapi Ira -”


“Ya udah, kita pulang,” potong Almira menatap mata suaminya dengan penuh harap. “Bapak nggak pernah sakit, Mas,” rengeknya.


“Sudah kuduga.” Sorot mata Wisnu meredup.


“Mas, perjalanan cuma dua setengah jam,”bujuknya.


“HPL kamu tinggal lima hari. Nanti kalau -”


“Ya Allah, Mas. Bapak lho yang sakit. Nanti kalau keburu lahiran juga Ira bakal lama nggak balik pulang ke rumah. Pulang sekarang aja, ya, please.” Bibir Almira mengerucut saat Wisnu malah melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah kamar mandi. Ia pun hanya bisa mendesah kesal sendiri.


Banyak teman sesama ibu yang tengah hamil jalan-jalan ke luar kota bahkan sudah mendekati HPL, rasanya hanya suaminya saja yang rempong dan penuh peraturan layaknya wanita yang tidak sehat.


“Mas! Kalau nggak mau antar aku bakal telpon Kak Yashna buat anterin!" teriaknya kesal sambil melangkah menuju lemari pakaian.


”Akan kupecat dia dari calon keponakan!“ teriak Wisnu dari dalam.


”Dasar menyebalkan!“


”Sudah dari dulu,“ sahut Wisnu kini keluar dari kamar mandi dengan handuk piyama tanpa memandang Almira yang merajuk.


”Mas itu nggak cinta sama Almira,“ cibir perempuan yang kini sudah ganti pakaian itu duduk di ranjang.


”Nggak, kalau udah bawel susah dikasih tahu,“ debat Wisnu menyisir rambutnya di cermin, matanya menatap kekesalan sang istri dari pantulan kaca. Senyuman tipis terlepas juga dari bibirnya. Ketika Almira balas memandang ke arahnya, buru-buru ia melenyapkan senyuman itu kemudian asik menyempurnakan penampilannya.

__ADS_1


”Wah! Kesal bukan main aku,“ sungut Almira mengembus napas.


Wisnu tidak menanggapi omelan Almira, ia kini berjalan meraih handuk dari ranjang samping sang istri, membawanya turun dari lantai atas menuju ke area belakang untuk dijemur. Pria itu sejak Almira hamil lebih sering mengerjakan tugas rumah tangga alih-alih istirahat sepulang dari kantor.


”Mau ngapain?“ tanya Almira mendengar suara mesin cuci menyala. Perempuan itu pun menyusul. Beberapa hari orang yang bekerja paruh waktu tidak datang karena izin anaknya sedang sakit.


”Kalau mau pulang, ya nyuci dulu biar tumpukan baju kotor nggak jamuran,“ sahut Wisnu pelan. Bibirnya tampak terlipat, ia sedang menahan diri tertawa melihat ekspresi istrinya yang melongo.


”Jadi pulang nggak?“ godanya masih sibuk mengisi mesin cuci dengan beberapa helai pakaian, ia memisahkan cucian berdasarkan warna.


”Ah, kesel.“ Almira menyadari telah digoda habis-habisan oleh suaminya.


”Kenapa?“ godanya lagi melepaskan tawa terkekeh saat menyadari wajah Almira memerah, matanya kini malah tampak berkaca-kaca.


”Kukira kita benar-benar nggak bisa pulang nengok bapak,“ keluh perempuan itu menyeka butiran air mata yang lolos terjatuh.


Ia kesal, terharu sekaligus jengkel. Mudah saja baginya menangis hanya karena suaminya menggoda. Ia mendadak menjadi sosok melankolis sejak hamil.


”Nggak bilang makasih?“ Wisnu mendekati Almira yang masih mematung di ambang pintu yang memisahkan area dapur dan tempat mencuci pakaian. Tangannya sibuk menghapus air mata yang masih saja keluar tidak mau berhenti.


”Maaf, ya. Mas Inu cuma khawatir sama kamu dan bayi kita. Kita pulang, kok. Bapak sama ibuk 'kan orang tua mas Inu juga,“ ucapnya pelan sambil mengusap rambut Almira yang kini jatuh memeluknya.


”Nyebelin!“


”Udah, dong ngambeknya. Masa udah mau punya dedek bayi, kok nangisan gini? Kalau dedeknya ntar lahir trus nangis masa mau ikutan nangis juga?“ goda Wisnu yang tidak pernah puas menggoda wanita lebih muda darinya lima tahun itu setiap saat.


”Makanya, Mas Inu tuh jangan suka godain mulu!" sungut Almira menunjuk perut Wisnu dengan jari telunjuk hingga rasa geli memaksa Wisnu bergerak mundur sambil tertawa.


“Aku mau siapin baju dulu. Pasti pakaian seksiku nggak ada yang muat di desa,” oceh Almira sambil berlalu.


“Nggak usah pakai baju!” teriak Wisnu bermaksud menggoda pun menggeleng kepala menahan geli saat gurauannya tanggapi Almira dengan mata mendelik saat menoleh ke arahnya.


*****


Sehabis shalat Maghrib mereka baru berangkat dari rumah. Membeli beberapa oleh-oleh sejenak di sebuah pusat oleh-oleh khas kota Solo baru kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Tampak Almira sudah tertidur memeluk sebuah boneka berbentuk guling untuk menyamankan posisi perutnya yang memang besar untuk ukuran wanita hamil. Beberapa kali bahkan dokter kandungan memperingatkan untuk mengurangi asupan karbohidrat dan gula agar bayinya kelak tidak terlalu besar ketika lahir. Setidaknya tiga setengah kilo sudah pas untuk ukuran tubuh Almira yang tergolong biasa saja.


Rumah Almira bisa dikatakan sebagai salah satu desa yang akses jalan kini mulai diperbaiki. Banyaknya lokasi wisata yang ada di daerah Pacitan ikut mengangkat pendapatan masyarakat dengan berjualan meski pertanian masih menduduki peringkat pertama sebagai mata pencaharian penduduknya. Selain merantau ke kota seperti Almira tentunya.


Banyaknya lokasi pantai tersembunyi yang indah menjadi daya tarik tersendiri ketika mengunjungi salah satu lokasi yang masih berada di daerahnya. Meski rumah Almira tidak berada di dekat pantai, tetap saja namanya desanya ikut disebut dan terkenal.



Pantai Banyu Tibo misalnya. Salah satu destinasi wisata yang unik terletak di desa Widoro kecamatan Donorojo, Pacitan, Jawa Timur . Pantai yang masih merupakan bagian dari Samudra Hindia tersebut selain indah, juga memiliki ombak yang besar. Setiap pengunjung harus berhati-hati saat menikmati keindahannya dengan berjalan menyusuri bebatuan ataupun saat mencari spot indah untuk mengambil foto bersama keluarga dan teman-teman.


“Sudah dekat, Mas?” tanya Almira membuka kedua mata, menyipit untuk mengatur cahaya yang diakibatkan sorot mobil yang berlainan arah.


“Lima belas menit lagi,” jawab Wisnu menoleh sekilas kemudian fokus lagi ke depan.


“Ah, pegal,” keluh Almira kini mencoba untuk menggerakkan tubuhnya yang kaku.


“Tidur lagi kalau masih ngantuk,” ucap Wisnu pelan, tangannya bergerak menyentuh perut istrinya dengan lembut. “Kita nengok Akung sama Uti, ya, Dek. Baik-baik di dalam perut Bunda,” celoteh Wisnu penuh suka cita.


“Siap, Ayah keren,” sambut Almira memuat keduanya terkekeh.


“Nggak capek 'kan?” tanya Wisnu masih saja khawarir. Perjalanan yang tidak bisa dikatakan halus seperti jalan tol kadang memaksanya untuk menurunkan kecepatan untuk mengurangi guncangan. Ia tidak mau Almira sampai sakit perut karena hal tersebut.


“Pegal dikit, nggak apa-apa,” jawab Almira tersenyum senang. “Kangen sama masakan ibuk, ya, Mas.”


“Masakan kalian mirip, kok,” sahut Wisnu memuji.


“Tetep masakan ibuk paling mantab.”

__ADS_1


“Alhamdulillah, berkat menikah sama kamu mas Inu jadi bisa merasakan memiliki keluarga yang utuh,” ungkap Wisnu penuh haru. Ia mengulas senyum penuh kebahagiaan yang menjalari hatinya.


“Makasih juga, meskipun mas Inu orang kaya tapi menghormati orang tua Almira seperti orang tua sendiri,” sahut Almira bangga.


Wisnu tersenyum. Ia kini mulai membelokkan kendaraan ke arah di mana letak desa Almira berada. Rumahnya tidak terlalu jauh dari jalan beraspal. Hanya beberapa ratus meter menyusuri kanan kiri sawah dan beberapa rumah penduduk yang belum terlalu padat. Ia sengaja menggunakan mobil jenis Fortuner hingga tidak terlalu sulit menempuh jalan yang kadang rusak. Lebarnya jalan juga memudahkan dirinya memilih mana yang akan dilewati.


“Senangnya sampai rumah,” ucap Almira saat menatap pohon mangga dan kersen tampak terlihat dari jauh. Rumah terdiri dari tiga bangunan berderet membentuk huruf L semakin terlihat jelas.


“Rumah kamu habis dicat baru, tuh,” komentar Wisnu.


“Kapan bapak renovasi rumah?” tanyanya heran. Ia memandang sang suami dengan tatapan menyelisik.


Sudah lima bulan ia tidak pulang, Wisnu selalu melarang dengan berbagai alasan. Tentunya alasan pekerjaan dan ia pun hanya bisa menurut. Mereka sering bertukar kabar lewat telepon saja sesekali. Orang tua Almira tidak suka berlama-lama dengan telepon, katanya bikin panas di telinga.


“Mas?” tanya Almira ketika mobilnya sudah terparkir di halaman.


“Kamu tersinggung?” tanya Wisnu sangat hati-hati. Ia tidak mau kalau sampai istrinya marah karena membangun rumah mertuanya hingga tampak lebih bagus dari awal yang hanya berdinding papan kayu.


“Kenapa Mas ngelakuin itu? Mas malu punya istri dari desa dan rumahnya masih jelek?” tanya Almira pelan, hanya bertanya tidak ada kemarahan dari sorot matanya, hati Wisnu pun menjadi lega.


“Aku sudah merampas impian kamu, Ra. Sekolah tinggi, kuliah, lulus dan bekerja di perusahaan yang bagus -”


“Punya gaji besar dan membantu benerin rumah bapak?” potong Almira sambil terkekeh geli.


“Iya, kamu harus nikah muda, mengubur impian besar ... rasanya aku ... nggak bisa membayangkan bagaimana kecewanya kamu. Mas cuma berharap, bisa bantu kamu untuk mewujudkan impian itu, nggak apa-apa 'kan?”


Almira menunduk, tersenyum mengangguk dengan mata kembali berkaca-kaca. “Makasih, ya, Mas. Nggak tahu Ira mau ngomong apa. Mas Inu terlalu baik, dan Ira nggak bisa minta yang lebih dari apa yang udah Mas kasih selama ini,” ungkapnya penuh haru.


“Masuk, yuk. Bapak pasti udah kangen banget. Kita temuin mereka,” ajak Wisnu mengacak rambut Almira penuh sayang.


“Ira! Wisnu!” teriak Halimah begitu membuka pintu.


“Bapak ... anak wedok mantuk (anak perempuan kita pulang)!” seru Halimah memanggil suaminya dengan wajah kegirangan.


Almira dan Wisnu saling memandang, melempar senyum kemudian turun dari mobil, menyambut ibunya yang sudah turun tangga menghampirinya.


“Wahh, Ira balik seko kutho (wah, Ira pulang dari kota)! sapa tetangga yang kini mulai berdatangan untuk menanyakan kabar.


”Ah, indahnya tinggal di desa, Ir. Warganya ramah-ramah,“ bisiknya pada sang istri. Almira tersenyum senang karena suaminya ternyata kerasan.


”Pripun pawartosipun panjenengan, Mas Wisnu? Monggo pinarak dumateng griyo kulo?“ sapa tetangga kanan rumah Almira menyalami Wisnu dengan wajah semringah.


Wisnu mengangguk, membalas senyum juga uluran tangan dengan kikuk. Kemudian kembali berbisik di telinga sang istri, ”Ra, dia ngomong apa? Jawabnya gimana?“


Ira yang baru ingat suaminya belum fasih berbahasa jawa hanya bisa tersenyum. Gantian ia yang akan membalas menggoda dengan bahasa asing di telinga sang suami.


”Jawab aja mbuh,“ bisik Almira menahan tawa.


”Wah, nggak beres. Jangan main-main, nggak takut kamu kalau aku dihajar gara2 jawab ngawur?“ balasnya masih saja membuat Almira tertawa geli.


”Nggak, palingan kamu bakal dipelototin,“ godanya kemudian melangkah meninggalkan suaminya yang masih disambut warga dengan hangat.


Wisnu menghela napas, memandang tawa istrinya yang sedang mengobrol bersama tetangga perempuan yang berdatangan ke rumah, menanyakan kehamilannya.


Ia sendiri menyimak obrolan yang tidak ia mengerti dengan sesekali ikut melemparkan senyum. Ia bingung kalau sudah memakai bahasa asli desa. Wisnu hanya akan menjawab kalau mereka menyodorkan bahasa Indonesia kepadanya. Meski tinggal selama dua tahun di Solo, ternyata ia ketinggalan untuk mengikuti bahasa Jawa. Ahh ... PR besar, kilahnya dalam hati.


****


'Sesuatu yang dimulai dari niat baik, ketulusan, dan pikiran yang positif maka akan melahirkan keberkahan.'


-Syala Yaya -

__ADS_1


Note# gambar diambil dari google. Kalau kalian sedang berkunjung ke Kabupaten Pacitan mampir, yaa. Banyak destinasi wisata dan pantainya banyak pilihan yang keren, tersembunyi, dan eksotis tentunya. 🥰


__ADS_2