Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 43 Aku atau Kamu yang merayu?


__ADS_3

“Kamu yakin?” sahut Wisnu masih merasa kalau ucapan istrinya terasa menggantung.


“Ehm, yakin. Daripada aku membiarkan Mas Inu jajan dan mendapatkan jatah dari wanita lain,” lontar Almira semakin membuat Wisnu tercengang.


“Jatah dari wanita lain?” ulang Wisnu sedikit tersinggung dan bingung, keningnya semakin berkerut dan belum tersambung dengan semua ucapan yang menjadi alasan Almira memberikan haknya.


“Karyawan di kantor Mas Inu katanya cantik-cantik,” oceh Almira menghentak kaki kirinya dengan wajah bersungut.


“Memang, mereka semua cantik. Tidak ada yang jelek,” jawab Wisnu membenarkan.


“Mas Inu katanya idolanya semua karyawan di sana, ya?” oceh Almira lagi sedera diberi anggukan Wisnu membenarkan.


“Itu semua benar,” jawab Wisnu dengan ulasan senyum samar. Geli juga mendengar hal seperti ini terlontar dari istrinya, dirinya seperti dipuji habis-habisan secara tidak langsung.


“Tuh 'kan, berarti benar. Keputusanku untuk ikut bekerja di kantor Mas Inu, agar Ira bisa mengawasi selama Mas Inu bekerja, sudah benar,” lontar Almira segera diberi tawa tertahan.


“Kerja?” tanya Wisnu menginginkan penjelasan langsung dari Almira masalah pekerjaan, dirinya berharap Almira menerima tawaran Ihsan, tapi sekaligus separuh hatinya malah kecewa.


“Masuk dulu, ayo … Ira mau menjelaskan kepada Mas Inu.”


Almira menutup pintu dan menarik lengan Wisnu ke arah ruang santai, mendorong tubuh Wisnu yang hanya menuruti langkahnya ke sofa dan disusul dirinya duduk di samping suaminya. Sambil memutar tubuhnya menghadap Wisnu Almira mulai bersikap serius.


“Aku ditawari Mas Ihsan pekerjaan,” ungkap Almira membuat Wisnu segera melengos.


“Lalu?” tanya Wisnu menjawab malas.


“Apa di Hotel tempatmu bekerja ada Restorannya?” tanya Almira maaih sangat serius.


“Ada, kenapa?” tanya Wisnu merebahkan pundaknya ke sofa dengan masih memandang Almira yang antusias.


“Aku ditawari kerjaan Mas Ihsan,” jawab Almira menampakkan kilatan wajah bahagia.


“Iya, kamu sudah bilang tadi, terus hubungannya dengan memberi jatahku, dengan wanita cantik, dengan pria idola, apa?” sahut Wisnu pura-pura belum paham.


“Aku akan bekerja menjadi Waitress di satu Hotel yang sama denganmu, itu kalau Mas Inu mengijinkan,” jawab Almira melirik ke arah Wisnu dengan takut-takut.


Wisnu menghembus napasnya pelan, memandang kerjapan mata Almira yang selalu dia sukai, hanya memandang tanpa berkata apa-apa. Pikiran wanita ini begitu rumit, apa susahnya mengakui sebuah perasaan yang sebenarnya bisa terbaca secara jelas, dia sedang cemburu, sedang takut kehilangan dan merasa cemas suaminya direbut orang.


Menyebalkan. Dia menang, Ira tidak merayunya.


Wisnu segera bangkit dari duduk, dengan cepat Almira menarik tangannya dengan wajah panik kebingungan. Bahkan dengan cepat dia peluk tubuh tegap itu agar tidak melangkah pergi dari sisinya.


“Mas mau pergi kemana?” resah Almira menatap wajah Wisnu yang tidak membalas pelukannya.


“Apa begini caramu agar aku mengijinkanmu bekerja?” tanya Wisnu dengan nada dingin.


“Apa maksudnya?” tanya Almira menatap bingung.


“Kamu berniat memberi hakku sebagai suami hanya agar aku mengijinkanmu bekerja? Semurah itu nilaimu?” lontar Wisnu dengan suara sinis penuh kemarahan.


Almira segera melepas pelukannya dan mundur dengan ucapan tajam menghujam perasaannya, dia menunduk dengan tetesan air mata yang tiba-tiba terukir.


Salah paham lagi, Almira terduduk lesu kembali ke sofa di sampingnya. Semua pembicaraan kenapa selalu membawa sudut pandang berbeda bagi suaminya. Almira mendesah kesal.


“Pergilah kalau mau pergi, sana … aku memang seumur hidup tidak pernah merayu satupun pria. Aku selalu menjaga diri agar tidak terlihat murahan bagi pria, tapi nyatanya sia-sia saja. Suamiku sendiri yang mengataiku murahan, benar-benar tragis.”

__ADS_1


Almira bangkit dari kursi sofa dan melenggang meninggalkan Wisnu yang memejamkan matanya juga penuh sesal. Dengan cepat dia raih tubuh Almira dan memeluknya dengan erat, memeluknya hingga merasakan tangisan Almira semakin pecah.


“Maafkan ucapanku, maaf, bukan begitu maksudku,” ucap Wianu penuh sesal. Ia menepuk punggung Almira dan ikut merasakan getaran isak tangis yang dalam. Wisnu menyesal melontarkan kata kejam itu kepada istrinya.


Almira masih menahan tangis tidak mau menjawab ucapan maaf. Dia sendiri tahu bagaimana rasanya saat suaminya juga menerima lontaran ucapan tajam darinya. Dia merasakan marah suaminya sama dengan apa yang ia rasakan saat ini.


“Kenapa begitu sulit kamu mengungkapkan perasaanmu, bodoh,” kesal Wisnu menepuk kepala Almira yang masih mengisak.


“Aku sedang mencoba merayu, tapi kamu salah paham terus,” gerutu Almira disela tangisnya.


Wisnu semakin mempererat pelukannya dengan perasaan gemas. Senang sekali saat rasa nyaman memeluk istrinya bisa dia rasakan, pelukan yang tulus.


“Rayuanmu itu paling payah, asal kamu tahu,” ejek Wisnu melangkah maju mendorong tubuh Almira hingga punggung istrinya menyentuh tembok.


“Ajari aku bagaimana cara merayu,” ucap Almira mendongakkan kepalanya, mata sembab dan hidung merah berair membuat Wisnu semakin gemas memandang.


“Seperti bayi, bodoh, payah,” ejek Wisnu lagi memainkan pipi Almira yang gembul. Bibir Almira mengerucut protes, hal itu malah menambah keimutan wajah Almira yang sangat menyenangkan di mata seorang Wisnu.


“Bagimana caranya merayu pria tampan?” tanya Almira mengerjapkan matanya, tangannya segera melepaskan pelukan di pinggang suaminya dan jemari tangannya mengusap wajahnya yang sembab air mata.


“Coba rayu aku, nanti aku nilai. Kalau lulus nanti aku akan memberimu hadiah,” jawab Wisnu memandang wajah ayu istrinya.


“Aku malu,” jawab Almira melengos dengan senyuman terukir jelas menampakkan malu yang nyata.


“Kalau malu, berarti kamu nggak mau dapat ijin kerja?” lontar Wisnu segera diberi Almira tatapan mata membulat, mengukir senyuman malu yang semakin membuat Wisnu semakin tidak sabar untuk mendengarkan.


“Waktumu hanya 15 menit, atau aku akan pergi, temanku sudah menungguku,” ungkap Wisnu menggoda.


“Tidak boleh, sudah kubilang kamu tidak boleh pergi,” cegah Almira, pipinya menggembung memberi rona marah.


“Karena aku cemburu,” jawab Almira memandang polos suaminya, entah mengapa ungkapan gombal ringan dan payah itu ternyata mampu juga melambungkan perasaannya.


“Kamu cemburu? gombal,” ejek Wisnu mencibir, beda bibir beda hati. Dia tidak bisa berbohong, ia merasakan ada sengatan rona bahagia mengisi perasaanya.


Almira mengangguk.


“Karena saat Ihsan bilang kalau kamu idola para karyawan perempuan cantik di tempat kerjamu aku jadi merasa takut,” ungkap Almira lagi, bodohnya hati Wisnu merasa sangat senang mendengar ungkapan perasaan istrinya, rayuan yang dia anggap payah.


“Takut kenapa?” tanya Wisnu menguji sebuah ungkapan, menginginkan lebih sebuah jawaban.


“Aku takut kamu tergoda dan mulai menanggapi godaan mereka, kamu meninggalkanku dan benar-benar melepaskanku,” ungkap jujur Almira, dirinya semakin malu saat Wisnu meraih tengkuknya dengan pandangan mereka saling beradu, dengan lembut pula suaminya mencium bibirnya.


Perasaannya mengaduk, ciuman lembut yang berubah menjadi ciuman saling menuntut. Wisnu segera merekatkan pelukannya, merasai setiap inci dari bibir istrinya yang memberi candu. Manis, lembut dan memabukkan, dia menginginkan lebih dari sekedar ciuman saja.


Ciuman mereka berhenti sesaat dengan wajah saling menunduk mengatur napas. Sebuah hal yang saling mereka pahami bahwa mereka sama-sama ingin membuka diri dan perasaan masing-masing.


“Apa kamu memberikan ijinmu malam ini?” tanya Wisnu memandang dengan sorot mata penuh cinta bercampur nafsu.


“Mas melakukannya karena apa?” lontar Almira dengan rasa takut masih menjalari.


“Kamu sendiri?” tanya Wisnu menarik tubuh Almira ke arah sofa, mendorongnya hingga tubuh itu ambruk ke atas kursi sofa dan menindihnya, nafsunya sudah menggebu ingin dia lepaskan bersama istri yang dia inginkan selama ini.


“Karena aku percaya, Mas Inu akan menyentuhku bukan hanya karena nafsu saja tapi sebuah perasaan berupa cinta, karena itu ... aku ... malam ini akan melayani apa yang Mas Inu mau,” jawab Almira memandang gugup senyuman yang terukir manis dari bibir suaminya.


Tanpa menunggu lama lagi Wisnu mulai melancarkan apa yang sudah dia inginkan selama ini, memagut, mereguk manisnya tubuh wanita yang sudah memenuhi fantasinya. Tangannya mengusap lembut tubuh halus yang kini menerima semua ciuman bertubi darinya tanpa memberi reaksi menegang, reaksi balasan ciuman yang sama-sama menginginkan satu sama lain.

__ADS_1


“Kita pindah ke kamar,” bisik Wisnu disela cumbuannya, Almira menggeliat geli dengan anggukan kepala menyetujui keinginan suaminya.


Wisnu tersenyum puas mendapat jawaban isyarat malam yang akan dia lalui kali ini. Segera mengangkat tubuh istrinya, memandang leher memerah karena ulahnya.


Selayaknya dunia milik berdua, rumah hanya mereka berdua di dalamnya. Sepanjang jalan pagutan bibir kembali terukir, memberi sinyal tanda tak sabar menghabiskan malam panjang berdua tanpa trauma itu kembali hadir.


Wisnu merebahkan tubuh istrinya ke tempat tidur, saling memandang sejenak tanpa berkata apa-apa, saling menatap bibir dan mulai kembali saling mengecap rasa manisnya. Saling menyesap penuh kelembutan, saling mengenalkan sentuhan satu sama lain.


“Mas,” desah Almira merasakan tubuhnya sudah tidak memakai busana. Entah kapan itu terjadi dia tidak ingat, pikirannya penuh dengan sensasi cinta yang diberikan suaminya, dahaga seorang suami menunggu ijin dari istrinya selama berminggu-minggu.


“Hem,” sahut Wisnu masih mencium setiap inci apa yang ada dihadapannya, tangannya mengusap lembut area sensitif hingga Almira mencengkeram punggung suaminya.


Kriuukk!


Suara perut keroncongan karena lapar segera membuat Almira mendorong wajah suaminya dari ceruk lehernya.


“Mas, kamu lapar ya?” lontar Almira menarik wajah Wisnu hingga kedua mata mereka saling memandang lagi, wajah cantik Almira penuh keringat semakin membuat Wisnu merasa menggila.


“Itu tidak penting,” jawab Wisnu kembali ingin mencumbu.


“Makan dulu,” cegah Almira menahan geli akibat bibir jail suaminya.


“Iya, ini aku lagi makan,” decak Wisnu merasa Almira sedang mencari alasan untuk lari.


“Perutmu bunyi,” ejek Almira membalas ciuman.


“Salah kamu bikin aku lapar,” balas Wisnu sudah mulai ingin menuntaskan permainannya, memposisikan tubuhnya dengan nyaman. Dengan pelan dia menyatukan tubuh mereka, menautkan kasih sayang agar bisa saling merasa memiliki dan menyalurkan kebahagiaan.


“Ah! Mas Inu-,” Almira tersentak, namun dengan cepat Wisnu sambar bibir mungil itu dan mengajaknya kembali hanyut kedalam permainan dan membuang kesadaran, dengan pasti Wisnu memimpin tiap sesi dan memenangkannya. Saling memberi rona puas dan bahagia yang mengalir bersama-sama menikmati sentuhan cinta.


Apa ini berarti Ihsan pemenangnya? ahh bukan ... Aku dan Ira, bukankah kami sama-sama saling merayu? Benar tidak.


**


Aku merayumu bukan untuk membohongimu, rayuanku untuk ungkapkan rasa sayangku.


Aku merayumu bukan untuk menakhlukkanmu, rayuanku untuk memilikimu.


Bisakah kamu membedakan antara ucapan rayuan dengan ucapan merayu? Bila kamu mampu membedakan berarti sudut pandang kita sudah menyatu. (Almira~Wisnu)


~Syala Yaya.


Bersambung …


Tunggu update selanjutnya ya ... perasaan malu mereka setelah sesi merayu dan ehem ... hehehe



Baca juga dong novel tamat kami, okey😘




__ADS_1


Salam dariku ~ Syala Yaya🌷🌷


__ADS_2