Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 8 Pulang Kampung


__ADS_3

Selamat membaca


Ucapan nasehat yang selalu terngiang di kepala Almira, ucapan dari kedua orang tua yang mewanti-wantinya agar bergaul dengan orang baik, ke tempat yang baik-baik, dan selalu bersikap baik kepada siapa pun.


Almira mengemasi barangnya ke dalam tas ransel, setelah selama sehari semalam berpikir, dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya, kampung halaman setelah seminggu berlalu sejak pertemuan dengan assisten dari pria yang menodainya itu.


Setelah pamit dan meminta ijin keluar dari tempatnya bekerja di sebuah Mini Market milik orang tua dari teman kampusnya dulu, Almira segera memesan ojol menuju ke Terminal. Tekadnya sudah bulat, melupakan segalanya.


Almira masih berharap suatu saat akan ada laki-laki yang menerima kekurangannya, sebuah hal traumatis yang menderanya.


Dia menutup semua rahasia yang menimpanya, akan ada banyak cercaan saat dia mengungkapkan di kepolisian dimana dirinya berada saat terjadinya malam naas itu, semua itu dia pikirkan sendirian. Entah salah, entah benar keputusannya. Dia hanya berharap tidak akan menyesalinya nanti.


Menyusuri peron Terminal dimana bus jurusan kota tempat tinggalnya berada, Almira berjalan dengan langkah yang membuat batinnya ketakutan. Senggolan tidak sengaja dari beberapa pengunjung benar-benar menyiksa batinnya.


Mungkin orang yang belum mengalami malam naas seperti dirinya akan mengatainya berlebihan, namun siapa yang mau mengalami hal seperti itu? Rasa traumatis pasti bakal menghantui setiap wanita yang menjadi korban. Itulah yang sedang dirasakan Almira saat ini.


Almira memilih menaiki bus yang berpenumpang lebih lengang dengan mengambil tempat duduk di belakang pas supir membuatnya tenang. Mengamati hiruk pikuk aktivitas di terminal yang sesak membuatnya engap dan ingin sekali meninggalkan kota ini dengan segera. Meninggalkan mimpinya menjadi seorang pengajar ataupun guru.


Pikiran Almira melayang entah kemana, terbiasa bertemu orang baik dan hidup normal apa adanya membuatnya tidak siap saat mengalami masalah berat yang tiba-tiba mendera hidupnya. Hingga lamunannya buyar kala ponselnya bergetar dan mengalihkan perhatiannya ke layar dengan nomor asing terpampang jelas di sana.


“Hallo, ini siapa?” sapa Almira dengan suara ragu-ragu kala menjawab panggilan itu.


“Saya Ihsan, maaf mengganggu sebentar, bisa kita bertemu lagi?” ucap Ihsan dari seberang.


Almira mendesah lirih, memperbaiki letak ponselnya di telinga masih tidak mau bersuara.


“Maaf, saya mendapat nomor Anda dari rekan kerja Anda,” ujar Ihsan seperti tahu apa yang terlintas di benak Almira.


“Ada perlu apa?” tanya Almira dengan suara nampak tidak suka.


“Masalah kemarin,” jelas Ihsan tanpa basa basi.


“Maaf, saya bukan pel*c*ur, jadi saya menolak kompensasi dalam bentuk apapun dari Anda. Dan tolong, jangan ganggu saya lagi, atau saya benar-benar melaporkan apa yang bos Anda lakukan pada saya kepada pihak berwajib,” tegas Almira segera menutup sambungan telepon.


Dirinya kembali membisu, sebuah kompensasi yang tidak bisa dia terima berapapun nilainya. Sebuah hal yang hanya akan dia berikan kepada laki-laki yang berani meminta ijin kepada orang tuanya untuk dijadikan pendamping hidup. Dengan menyandarkan bahunya di kursi dirinya menutup kedua matanya, merasakan Bus yang dia tumpangi mulai bergerak pelan meninggalkan Terminal.


Tanpa memandang jendela kaca bus pun, Almira bisa merasakan bahwa perjalanan panjangnya sudah dimulai. Perjalanan yang dibencinya, karena harus merasakan mabuk kala menggunakan transportasi seperti yang kini dia tumpangi. Bagian dari kelemahannya.


Dirinya pun tertidur setelah memberikan uang kepada kondektur Bus karena pengaruh obat anti mabuknya.


Butuh waktu tiga jam naik Bus untuk sampai di tujuannya, yaitu sebuah Terminal kecil di kotanya, Almira segera naik Bus kecil yang melewati kampung halamannya, sebuah desa yang asri dengan petani dan pedagang juga pengrajin sebagai mata pencaharian hampir separuh peduduknya selain merantau ke Kota besar seperti dirinya.


Almira segera berjalan kaki sesampai di gapura menuju desanya, melangkah dengan helaan napas menguatkan batinnya. Memandang kanan dan kiri hamparan sawah luas bercampur beberapa sudah dibangun menjadi rumah tinggal, Almira melangkahkan kakinya dengan cepat.

__ADS_1


“Wahh, Neng Ira?” sapa seorang bapak yang sedang merapikan rumput di karung saat Almira lewat.


“Iya, Pak. Sedang mengambil rumput?” sapa Almira basa basi.


“Iya, Neng. Kok jalan kaki? Nggak di jemput Bapaknya?” tanya orang itu lagi sambil tersenyum.


“Tidak, Pak. Mari, saya permisi,” tukas Almira sambil tersenyum.


Almira melanjutkan langkahnya, menghindari terlalu banyak berbicara. Perasaannya bergolak, ingin sekali bisa cepat sampai di rumah dan mengurung diri di kamarnya.


Dengan langkah kaki yang dia percepat, menghindari teriknya mentari siang hari yang kadang menyengat saat tidak ada pohon dia jumpai di pinggir jalan. Almira segera membelok ke arah rumahnya yang nampak asri, dengan adanya pohon mangga dan jambu air di depan rumahnya membuatnya terasa sangat sejuk dan adem kala kaki menginjak halaman rumahnya.


“Ira?” sapa ibunya terkejut dengan kepulangan putrinya tanpa pemberitahuan.


Almira tipe gadis penakut bila di tempat umum, apalagi di dalam bis yang membuatnya mabuk, jelas ibunya paham betul pasti Almira sedang ada apa-apa di kota tempatnya menuntut ilmu sambil bekerja.


“Iya, buk. Ira pulang,” jawab Almira mendekat dan meraih jemari ibunya dan menciumnya dengan senyuman.


“Pulang nggak bilang dulu, 'kan Bapakmu bisa jemput di Terminal,” omel ibunya sambil menarik tas ransel Almira dan membawa masuk ke dalam rumah.


“Mendadak, Buk.”


Almira hanya bisa menatap punggung ibunya yang berjalan pelan masuk ke dalam rumah tengah, dimana kamarnya berada. Dengan cepat Almira menyusul dan ikut masuk ke dalam kamar.


Almira segera berjalan ke arah jendela dan membukanya cepat, membuang gerah di tubuhnya karena merasa bingung menjawab apa. Dia tidak pernah berbohong kepada orang tuanya.


“Tidak ada apa-apa, Buk.”


“Lagi marahan ya, sama 'Nak Bagus?” seloroh ibunya membuat Almira menoleh sambil menggeleng lesu.


“Ya sudah, ibu masak dulu buat kamu ya. Istirahatlah, kalau sudah mateng nanti ibu panggil kamu,” ujar ibunya tersenyum dan segera keluar dari kamar Almira.


Almira segera bernapas lega. Menatap kasur empuk yang selalu dia rindukan kala di kota. Sambil mendesah lirih dia segera menjatuhkan tubuhnya di sana. Memukul kepalanya ringan dengan umpatan dalam hatinya.


“Bisa-bisanya aku dulu punya impian malam pertama di sini, nyatanya malam pertamaku malah di Hotel bintang lima seperti wanita rendahan,” gumamnya lirih sambil menghentak kaki kesal.


Ponselnya yang dia letakkan di ats meja terdengar berbunyi berulang kali, tapi Almira masih malas untuk sekedar melihat siapa orang yang menghubunginya.


Hingga dirinya terlelap di dalam mimpi indahnya, menikmati kenyamanan di dalam ruangan terfavorit di dalam rumahnya itu.


Jam sudah menunjukkan jam 5 sore, ketukan pintu dari luar terdengar sangat keras, Ersa Untari adik perempuannya yang masih kelas 2 SMP terdengar memanggil namanya berulang-ulang. Tapi Almira masih malas untuk membuka matanya apalagi membuka pintu kamarnya.


“Kak Ira, cepat bangun!” seru adiknya kesal.

__ADS_1


Almira tersenyum tipis, adiknya yang selalu bersikap galak padanya saat panggilan lebih dari tiga kali tidak dia jawab. Almira merindukan suara itu.


“Buka saja,” balas Almira berteriak malas.


“Bangun, mandi sana. Ada yang datang ngapelin 'tuh,” ucap Ersa membuka pintu dan memasukkan kepalanya melongok menatap Almira yang masih tiduran di kasurnya.


“Nanti, ah.” jawab Almira malas.


“Ganteng banget, pakai bawa mobil segala lagi,” seloroh Ersa menampilkan senyuman menggoda sang kakak.


“Tidak mempan,” sahut Almira yang nampak biasa saja, dia hafal Ersa sering sekali mengerjai dirinya.


“Pake nggak percaya, lagi?” buruan mandi, menyesal baru tahu rasa, Mbak Ira."


Adiknya bersungut sambil masuk ke dalam kamar kakaknya yang rapi. Ibunya selalu rutin membersihkan kamar kakaknya itu.


“Udah ah, Mbak males. Kamu keluar gih, masih mau malas-malasan,” tolak Almira mengambil bantal dan menutupi kepalanya agar tidak mendengar ocehan adik manisnya itu.


“Anak perawan kok malas-malasan, dasar!” decak Ersa memandang kakaknya itu sedikit sebal. “Kalau begitu, tuan Tampan yang datang buat Ersa aja ya?” ocehnya lagi membuat Almira tersenyum geli.


Ersa segera keluar dari kamar Almira tanpa menutup pintu. Pintu itu dia biarkan terbuka biar kakaknya kesal dan bangun sendiri.


Dan benar saja, rasa tidak nyaman kala pintu kamar tidak di tutup benar-benar membuatnya harus mau bangun dan melangkah mendekati pintu kamar dan bersiap menutup pintunya kembali dengan batin menggerutu.


Suara sayup-sayup terdengar ramai berasal dari rumah depan. Suara asing dan beberapa tetangga sepertinya datang ke rumahnya. Almira hanya bisa menduga.


“Kira-kira apa yang datang? haruskah aku keluar?” selidik Almira mencoba mendengar suara yang semakin ramai saja di depan rumahnya. "Ersa bisa-bisanya mengatakan tuan tampan yang datang," gerutu Almira pada celotehan adiknya itu.


Dengan lesu, Almira kembali menutup pintu kamarnya dan berjalan mendekati ranjangnya. Hingga perasaan dan pikirannya seolah menarik satu kesimpulan.


“Siapa yang datang? Apa mungkin dia ….”


Almira meloncat ke arah kasurnya dan menatap pintu kamarnya dengan cemas. Membayangkan siapa yang datang ke rumahnya sore ini. Suara tetangga semakin terdengar jelas, hingga membuatnya semakin merekatkan tubuhnya menahan perasaan takut dan cemas yang masih mendera perasaannya.


Laksana bunga, itulah aku. Berharap sang bayu datang menerjang menyingkirkan kelopakku yang mulai layu, memudarkan cerahnya warna kini berubah menjadi sayu. Siapa yang salah? sudah benarkah ketika aku menyerah dan pasrah karena aku tak punya kuasa dan keberanian untuk berani melangkah melawan dengan gagah. ~ Almira


Bersambung …


Terimakasih yaa masih setia menunggu Kisah cinta Wisnu.


Berikan tanda dukunganmu melalui Like komentar juga vote karya aku seikhlasnya ya 😊👍


Salam cinta dariku untuk semuanya ~Syala Yaya🌷🌷.

__ADS_1


__ADS_2