
Almira tidak menyahut maupun menanggapi Wisnu. Dia memilih untuk pamitan untuk menunaikan shalat shubuh dan mengerjakan tugasnya sebagai istri. Memasak untuk sarapan suaminya dan menyiapkan segala perlengkapannya juga setiap hendak bekerja termasuk sepatunya.
Hingga jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi tapi sosok tegap itu belum nampak menggodanya di meja makan.
Almira segera kembali ke kamar, takut suaminya bangun kesiangan dan membolos kerja. Bukankah pengangguran akan menambah masalah lagi bagi keduanya.
“Mas, jam segini belum bangun?” panggil Almira merasa gemas.
Almira membuka tirai dan jendela hingga sorot matahari pagi menerpa kamarnya dan berubah menjadi terang. Dengan cekatan pula dia mematika nyala AC dan mengisi bak kamar mandi agar suaminya bisa mandi. Wisnu yang pura-pura tidur menggelengkan kepalanya merasa sangat terhibur pagi ini, istri bawelnya kembali beraksi.
Wisnu sengaja terlambat pergi bekerja, ingin rasanya ia mengerjai istri durhaka yang telah membuatnya hilang kewarasan tadi malam.
Hanya kata melepaskan saja sudah membuatnya menggila. Dengan decakan lirih Wisnu merutuki hatinya yang kelewat rapuh.
“Mas, sudah siap airnya,” oceh Almira kembali dari kamar mandi dan membuka lemari baju --bermaksud menyiapkan pakaian kerja suaminya agar cepat dan tidak terlambat berangkat.
“Aku malas,” jawab Wisnu asal menjawab.
“Malas? Mas bilang, malas?” omel Almira membelalakkan matanya. "Bisa-bisanya," omel Almira dengan suara menggemaskan bagi Wisnu, tapi tetap dia akan menghukum dengan mengabaikannya.
“Kenapa? Bukankah kamu akan melakukan semua maumu, aku juga akan melakukan apa mauku,” balas Wisnu kembali meraih bantal dan memeluknya dengan mata nyaman terpejam.
“Ohh ... astaga. Terserah 'lah.”
Terdengar suara kaki Almira menghentak kasar ketika keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan asal. Wisnu segera bangkit dengan sunggingan senyum dan menyingkirkan bantalnya. Dirinya akan bersikap menjengkelkan, tidak akan bersikap hangat lagi pada istrinya itu agar kapok dan tidak berbicara sembarangan lagi. Dia akan menampilkan kemarahan yang memang masih menyisa kuat di hatinya.
Melepaskan? Dicampakkan?
Sebuah hal yang sangat dibenci dan dihindarinya seumur hidup. Menjadi pria yang malang, pria yang dibuang.
Wisnu turun ke lantai bawah setelah jam menunjuk pukul setengah sembilan pagi. Memandang area dapur yang terlihat dari arah tangga. Ingin sekali dia tertawa melihat istrinya sedang duduk termenung di meja makan. Wisnu akan menghukumnya dengan cara mengabaikan.
“Aku berangkat dulu,” ucap Wisnu memandang Almira yang menoleh dan segera berdiri dari tempatnya.
Langkahnya cepat menghampiri Wisnu menuju pintu keluar rumah. Dia harus berlari kecil agar tidak sampai tertinggal langkah suaminya dan ditinggalkan begitu saja.
“Tidak sarapan dulu,” tanya Almira berdiri di sisi kiri mobil, Wisnu kembali menatap jam tangannya dan masuk ke dalam mobilnya.
“Aku sudah terlambat, makan sendiri ya. Lakukan semua hal sesukamu, rasanya tidak enak kalau status kita ternyata membelenggu kebebasanmu,” ucap Wisnu mulai menyalakan mobilnya.
Ia sengaja membuka kaca jendela mobil agar Almira bisa mendengar nada bicaranya yang terdengar sarkastis
Almira tertegun memandang, merasakan aura beda nampak jelas setelah tadi malam. Suaminya berubah, seperti ingin mengabaikannya.
Apa dia akan membuangku perlahan? Aku tidak rela.
Almira berkeluh dalam hati, memandang Wisnu yang kini sibuk dengan ponselnya. Bahkan tanpa senyuman pula ia menjalankan mobil dan meninggalkan rumah.
Almira terduduk lesu di emperan terasnya, duduk di tangga memandang gerbang yang perlahan menutup sendiri ditinggalkan tuan besarnya.
“Ah andai aku tidak membuatnya marah tadi malam,” rutuknya pada diri sendiri, “Pasti dia akan sarapan dulu dan pamitan dengan senyuman manis sebelum pergi bekerja.”
Almira segera berdiri lagi dengan lesu, melangkah masuk kembali ke rumah tanpa ada semangat seperti biasanya. Kemarahan suaminya sangat membuatnya tersiksa, rasa rindu dengan kehangatannya seolah muncul dan mengobrak-abrik benteng pertahanan hatinya.
“Maafkan aku kak Dhepe, sepertinya aku tidak rela kalau harus berpisah dengan Mas Inu,” gumamnya sendiri.
Kini Almira sudah berada di depan pintu dimana ruangan itu menjadi saksi bisu kemarahan suaminya. Membuka perlahan dan mengamati keadaan ruangan yang sudah bersih.
“Kapan Mas Inu membersihkannya?” Almira bertanya-tanya.
Langkah kakinya dengan cepat segera masuk ke dalam dan mengamati keadaanya. Semua sampah yang berserakan sudan bersih, buku-buku yang dibersihkan Almira nampak masih berada di tempatnya, suaminya tidak memindahkannya sama sekali.
“Apa ini artinya … apa artinya aku juga bisa dihapus juga semudah yang terjadi di ruangan ini. Semua kekacauan nampak tidak pernah terjadi.”
Almira memilih duduk di depan meja, laptop kini sudah tidak ada lagi. Hingga rasa curiga Almira muncul kepermukaan. Kenapa suaminya itu menanyakan masalah cctv itu kepadanya. Apa yang sebenarnya terjadi.
Drrrttt … drrrttt … drrttt
Pikiran Almira terpecah saat ponselnya berdering kencang, sunyi rumahnya membuat suara gaung dering nada ponselnya di kamar bisa terdengar hingga sampai ke ruang kerja suaminya.
“Ponselku,” serunya setengah berlari menghampiri.
__ADS_1
Dering ponsel berbunyi berulang kali menandakan ada hal penting, berharap orang tuanya yang menelpon, dia sudah merindukan rumahnya sendiri.
Pintu kamarnya ternyata dibiarkan suaminya terbuka, dengan tergesa dia segera menyambar ponsel di nakas dan membaca nama orang yang sedang memanggilnya.
“Pak Ihsan?” gumam Almira dengan perasaan gugup segera mengangkat panggilan.
“Apa Mas Inu dipecat? Kenapa teman kerjanya sampai menelponku?” batin Almira merasa cemas, cemas saat suaminya sedang emosi malah ditimpa masalah. Rasanya Almira sudah lemas membayangkan.
“Selamat pagi Nyonya Wisnu Tama,” sapa Ihsan dengan nada sopan.
“Iya, Pak Ihsan,” jawab Almira setengah kikuk menjawab.
Almira merasa bingung dengan sikap Ihsan yang sopan, walau memang dari awal bertemu pria itu selalu bersikap sopan saat dirinya bersikap ketus sekalipun. Apalagi saat pria itu menawari uang kompensasi. Almira ingin sekali mencekiknya dan menghempaskan pria itu ke Sungai Bengawan.
“Maaf mengganggu, Bu. Bisakah kita berbicara hal penting?” tanya Ihsan semakin membuat Almira gelisah, hal penting apa hingga Ihsan menghubungi dirinya.
Ingin rasanya dia menjitak suaminya kalau pria itu benar-benar kehilangan pekerjaan karena malas. Ahh … Almira merasa kelimpungan.
“Ibu Almira Putri?” panggil Ihsan setelah beberapa saat tidak mendengar jawaban Almira.
“Eh, iya, Pak. Maaf, hal penting apa ya kok sampai Anda menghubungi saya?” tanya Almira kembali fokus.
“Begini, kami bermaksud menawari Anda pekerjaan. Tapi maaf, itu bila Anda bersedia, kalau menolak, saya juga tidak memaksa,” jawab Ihsan terdengar sangat serius.
Kening Almira berkerut. Pekerjaan? Ihsan menawarkan pekerjaan? Ingin rasanya ia berjingkrak senang. Dambaan bekerja dengan ijazah pendidikan rendah sangat membuatnya frustasi. Ditambah kuliahnya tercecer dan berhenti karena suaminya, hal itu semakin membuatnya merasa sudah tenggelam di dasar kesialan.
“Pekerjaan apa?” tanya Almira seolah ragu menerima, sekali lagi pendidikannya sangat miris untuk dibanggakan. “Saya hanya punya ijazah SMA.”
“Menjadi Waitres di tempat Hotel saya bekerja,” jawab Ihsan segera terdengar mengaduh dan percakapan tidak jelas dari arah sana.
Almira terdiam, bingung mendengarkan.
“Maaf, jadi … bagaimana apa kira-kira Ibu Almira tertarik? Untuk lebih jelasnya silahkan datang langsung ke Hotel Sultan dan masuk saja ke bagian Lobby nanti bilang saja kalau Anda ingin bertemu dengan Pak Ihsan Paundra, nanti pasti akan diarahkan langsung ke kantor saya,” jelas Ihsan panjang lebar.
“Ohh … saya pikirkan dulu ya, Pak. Saya cukup tertarik, tapi … saya ijin suami saya dulu. Ijin Pak Wisnu,” jawab Almira yang sebenarnya merasa sayang melewatkan kesempatan bekerja dengan cara rekomendasi seperti ini.
“Baiklah … semoga Pak Wisnu mengijinkan,” jawab Ihsan dengan suara lebih bersahabat.
“Bolehkah saya bertanya, Pak Ihsan?” tanya Almira ragu-ragu.
“Apa … Pak Wisnu sudah sampai di tempat kerja. Saya tahu Anda temannya walaupun jabatan Anda mungkin lebih tinggi darinya. Apa Pak Wisnu terlihat ada yang aneh dalam bekerja?” tanya Almira membuat sejenak suara Ihsan menghilang.
Almira menduga Ihsan sedang bertanya kepada rekan kerjanya tentang Wisnu, dengan jantung berdebar dia menunggu.
“Ibu Almira, bisa dipastikan pak Wisnu sudah sampai di tempat kerja dengan selamat, bekerja tidak fokus dan sempat berbicara dengan General Manager Hotel kami,” jawab Ihsan dengan sangat serius.
“General Manager? Bukankah itu jabatan tertinggi di perhotelan?” tanya Almira merasa tercekat lemas, matanya membelalak cemas.
“Iya, dia atasan kami,” jawab Ihsan riang. “Sepertinya dia sedang ada masalah ya sama kamu?” bisik Ihsan kepada Almira dengan bahasa sok akrab.
“Iya,” jawab Almira mengiyakan, suaranya lesu.
“Kalian ini, temanten baru bukannya harusnya lagi gila-gilanya, ya?” bisik Ihsan lagi membuat Almira menjadi tersipu.
“Gila apanya?” balas Almira dengan suara bersungut malu.
“Karyawan perempuan di sini cantik semua, aku saja sampai bingung pilih yang mana. Jangan sampai telat memberi Wisnu jatah ya ... bisa-bisa suamimu diberi jatah perempuan lain yang bekerja disini, mereka ganas-ganas soalnya, secara Wisnu idola para wanita,” seloroh Ihsan sembari tertawa tertahan.
Almira menelan salivanya, mendengar ocehan sahabat suaminya itu membuat bulu kuduknya meremang, hatinya menjadi gelisah. Dia tidak menjawab malah bengong mendengarkan.
Lamat-lamat terdengar suara pria berbicara dengan Ihsan, Ihsan segera menutup sambungan telepon setelah memberi salam perpisahan kepada dirinya.
“Jatah?” gumam Almira sambil menekan tombol merah di ponselnya.
“Kenapa Ihsan berbicara seperti itu? Karyawan cantik? Idola para wanita? Ahh .. rasanya aku bisa gila,” keluh Almira terduduk di kasur, segera ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya.
*
*
*
__ADS_1
*** 🌻🌻***
“Mau kerja apa ghibah?” decak Wisnu duduk kursinya, pandangan matanya masih tertuju pada berkas laporan-laporan di mejanya.
“Kerja, Pak. Astaga,” jawab Ihsan meletakkan ponselnya di meja, dia melirik ke arah Wisnu yang nampak fokus bekerja dan diam.
“Kenapa memasukkan Ira ke bagian Waitress? Wah sama istri Bos bersikap sembarangan kamu, ya?” komentar Wisnu segera diberi senyuman Ihsan.
“Tempat paling aman, Pak. Ijazah tidak memadai. Wah … gara-gara Anda, dia berhenti kuliah, benar-benar jahara,” oceh Ihsan membuat Wisnu menghentikan sejenak aktifitasnya.
“Saya merasa kalian berdua sedang ada prahara ya? Padahal menikah baru berapa minggu,” oceh Ihsan lagi sambil mengamati layar komputer di hadapannya.
“Apa dia menerima pekerjaan yang kamu tawarkan?” tanya Wisnu kembali mengamati berkas di mejanya, dia tidak mau menoleh Ihsan sama sekali.
“Sepertinya dia sangat tertarik, tapi katanya akan bertanya dan meminta ijin dari suaminya dulu, yaitu Anda sendiri,” jawab Ihsan memandang Wisnu yang masih sibuk seolah tidak perduli. Senyuman yang terukir malah membuat Ihsan merinding sendiri.
“Masih menganggapku suami setelah berniat melepaskan? Membuatku ingin tertawa.” Wisnu bergumam tidak jelas ditelinga Ihsan.
“Sepertinya Anda harus siap-siap nanti malam dirayu deh, Pak,” celoteh Ihsan lagi dan hanya diberi reaksi Wisnu tertawa mencibir.
“Dia pasti akan berusaha sekuat tenaga meminta ijin agar bisa bekerja di sini. Anda harus sulit memberi ijin, Pak, biar makin mesra seperti di drama-drama,” lontar Ihsan dengan suara sangat bersemangat.
“Drama kepalamu itu yang benar,” sahut Wisnu menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil mengomentari assisten anehnya itu.
“Kita taruhan,” tantang Ihsan dengan ide brillian di kepalanya.
“Apa? Kalau gila tidak perlu ajak-ajak,” desis Wisnu segera diberi acungan jempol terbalik Ihsan.
“Cemen,” ejek Ihsan dengan bibir mencibir.
“Kurang ajar!” decak Wisnu melemparkan pulpennya ke arah Ihsan hingga pria itu terkejut tapi berhasil menghindar.
“Kalau sampai Almira nanti malam benar-benar merayu Anda, Anda harus melepaskan mobil kesayangan Anda yang saya pakai kemarin, Pak. Bagaimana, apa Anda berani bertaruh?” tantang Ihsan memandang serius dengan ucapannya.
“Kalau kamu kalah? Kamu mau apa?” adu Wisnu merasa tertantang, jelas saja assisten jomblonya itu tidak tahu apa-apa tentang hidupnya bersama Almira.
“Kalau saya kalah, saya akan bekerja dihari minggu dan lembur tanpa libur selama satu bulan, bagaimana, apa anda setuju?” tantang Ihsan dengan keyakinan penuh.
“Ok, deal. Jangan merengek kalau kalah.” Wisnu menatap Ihsan juga penuh keyakinan.
“Jangan bersedih saat mobil kesayangan Anda akhirnya bisa berhasil jadi milik saya,” balas Ihsan dengan gaya tangan bersedekap di dada.
“Assisten sinting,” ejek Wisnu mengibaskan tangannya.
“Bosnya lebih sinting,” celetuknya sambil menyembunyikan kepalanya diantara skat rak buku dengan bibir menahan tawa.
Sudah dia pastikan Bosnya mendengar dan kini menatap tajam ke arahnya.
Ahh … dia tidak peduli, bukankah bosnya akan sibuk memikirkan rayuan istrinya dan melupakan balasan ejekan darinya? Dalam hati Ihsan berdo'a semoga kesempatan mengendarai mobil mewah segera bisa terlaksana.
Almira, rayu boseQue ya …
***
Kalau cinta katakan saja, kalau sayang ungkapkan saja.
Jangan biarkan rasa cinta dan sayang terlalu lama terpendam.
Kalau semua hanya kau simpan sendirian, maka jangan salahkan saat orang lain dengan berani mengantikan tempatmu bersemayam. ~ Syala Yaya.
Kalau boleh menebak siapa ya yang menang??
Wisnu atau Ihsan?
Suara terbanyak akan jadi part berikutnyaa🤗👍👍
Bersambung ...
Salam manis dari @Syalayaya 🌷🌷
__ADS_1
Walingmi jangan lupa dibaca juga yaa😘