
Wisnu menutup bukunya dimeja dengan senyuman canggung, meraihnya dan menaruh ditepian meja. Memandang Almira yang nampak juga tersenyum kaku padanya. Dalam hati Wisnu merutuki mulutnya yang kelewat cepat membaca. Terlalu sinkron hingga lupa tidak menyortir mana yang harusnya di skip mana yang harusnya terucap dihadapan istrinya itu.
“Habiskan makananmu, nanti malah mubazir,” ucap Almira sudah merapikan alat makan didepannya, menatap Wisnu yang mulai melambat memakan makanannya.
“Iya,” jawab Wisnu mengangguk canggung.
Sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal Almira menatap Wisnu yang juga sekilas menatapnya, masih sesekali saling menatap hingga saling menyunggingkan senyuman.
“Maaf, aku tidak bermaksud ….”
“Aku tahu. Segera selesaikan, aku cuci piring duluan,” jawab Almira menggeser kursi dan menjauhi meja makan. Wisnu hanya bisa menatap dan menghabiskan makanannya dengan cepat.
“Ira,” panggil Wisnu dengan suara ragu-ragu.
“Iya, Mas,” jawab Almira menoleh sejenak.
“Bisa kamu ceritakan kenapa malam itu kamu bisa ada di Bar Hotel tempatku berada?” tanya Wisnu dengan suara serius.
“Itu … itu hanya sebuah kebetulan saja, kebetulan yang membawa kesialan,” jawab Almira kembali mencuci peralatan masaknya dan menghela napasnya berat. Mencoba tidak menghindari bahasan masalah itu lagi, dia sudah mencoba menerimanya, walau rasanya cukup berat juga dia rasakan.
Pikirannya melayang jauh, mengingat kembali sosok Bagus dalam pikirannya. Sosok yang masih saja menghubunginya walau sudah dia abaikan beberapa minggu ini. Keputusannya sudah dia pikirkan jauh-jauh hari, dan kini dia sudah berada di setengah jalan.
“Ada yang mengundangmu ke sana?” tanya Wisnu berdiri dan membawa piring kotornya ke tempat Almira dan berdiri tegas di sampingnya.
“Iya, Mas,” jawab Almira tanpa menoleh sama sekali. Pandangannya masih ke arah pitingnya.
“Siapa?” tanya Wisnu menampilkan mimik wajah serius, dirinya akan menyelidiki sendiri kasus yang menguap begitu saja bagai buih ini. Sepertinya pihak Hotelnya menutup rapat kasus ini.
“Kenapa Mas tanya masalah itu lagi?” tanya balik Almira dengan suara tercekat di tenggorokannya. "Aku ingin melupakannya."
Wisnu hanya bisa menatap Almira dengan ragu-ragu, tangannya segera meraih pundak istrinya dan memutar agar menghadap kepadanya. Wisnu memeluknya begitu erat hingga terasa debaran jantung mereka saling terpaut terasa.
Almira menjatuhkan tangannya kesamping tubuhnya, tidak membalas pelukan itu hanya wajah bertanya-tanya dan rona terkejut yang mampu dia lukiskan dalam pikiran. Almira membiarkan hembusan napas berat menerpa telinganya, banyak hal berat juga ternyata dia rasakan bersama pria ini.
“Kamu berusaha melindunginya?” tanya Wisnu masih memeluk tubuh Almira belum berniat melepaskannya.
Sepatah katapun tak mampu Almira ucapkan, dirinya merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Antara membela atau lebih kepada tidak mau berurusan lagi dengan pria itu.
__ADS_1
Lalu hatiku bagaimana?
Almira meraih dada Wisnu dan mendorongnya agar melepaskan pelukannya, dirinya tidak siap dengan kontak fisik itu. Dengan perasaan ragu Wisnu melepaskan perlahan tautan jemari dan tubuhnya. Berganti menyentuh pundak Almira pelan, pandangan mata mereka beradu. Berusaha mencari kejujuran di kedua bola mata Almira. Nampak cinta masih terasa ada di sana.
“Baiklah,” jawab Wisnu mundur dan melepaskan tangannya, meninggalkan area dapur dengan kepalan jemari tangannya.
Almira menunduk menatap tangannya yang nampak bergetar, mengatur napasnya dengan menggumam pelan. Bahwa harinya termasuk buruk juga. Dimana saja dirinya berada, perasaan masih saja sama.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di dapur Almira mencari Wisnu di rumah yang masih asing baginya itu. Melongok sana sini nyatanya suaminya itu tidak ada. Berjalan kesana kemari tanpa berusaha memanggil namanya.
Almira menjadi tidak enak, perasaanya merasa akan benar-benar di laknat malaikat saja, membuat suaminya marah.
Dengan langkah semakin cepat dirinya memasuki ruang satu per satu yang ternyata banyak yang kosong tanpa perabot. Dengan batin semakin sesak dirinya memasuki sebuah ruangan dimana seperti ruangan kerja, nampak foto seorang wanita asing baginya mengisi hampir semua bingkai foto disana.
“Aku juga punya seseorang yang aku cintai sepenuh hati, tapi ketika aku menikah aku lupakan perlahan namanya dari hatiku, lalu bagaimana denganmu?” tanya Wisnu mengagetkan Almira hingga memutar dirinya dengan cepat ke arah Wisnu dibelakangnya.
Apa kamu cemburu? Aku harap begitu. Cemburulah sebanyak dan sebesar yang kamu bisa, aku akan bersyukur saat melihatnya.
“Aku ….”
“Kalau kamu tidak berusaha, maka usahaku akan sia-sia,” ucap Wisnu masih duduk santai memandang.
“Aku sedang mencoba, Mas,” jawab Almira segera diberi senyuman Wisnu.
“Baiklah, kemarilah,” ucap Wisnu melambaikan tangannya.
“Untuk apa? Aku disini saja,” jawab Almira menggeleng. Almira masih bergeming ditempatnya tidak melangkah walau selangkah.
“Ajari aku membaca iQro', aku baru saja membukanya beberapa hari yang lalu. Hadiah dari ustadz dimana aku mengucap syahadat di sana,” ungkap Wisnu menjelaskan, nadanya serasa santai dan sangat menyukai momen itu.
Ucapan Wisnu mendadak membuat Almira menatap malu, bayangan trauma yang masih merasuk di pikirannya membuatnya menatap canggung ke arah Wisnu yang nampak santai sekali duduk kursi kerjanya. Dengan menghela napas mengusir kecemasan dirinya mulai berani mendekat.
“Ohh … baiklah, aku bantu semampuku,” jawab Almira bernapas lega dan mendekati meja dengan ragu-ragu.
“Kamu sudah bisa mengatasi rasa traumamu, kecemasanmu bagaimana?” tanya Wisnu dengan nada khawatir membuat Almira berhenti melangkah.
“Maksud, Mas Inu?” Almira mencelos menatap Wisnu yang malah tersenyum tipis padanya.
__ADS_1
Wisnu membuka buku kecil dihadapannya, menatap Almira dengan penuh senyuman, apalagi wajahnya jelas nampak sungkan bercampur malu.
“Kita shalat maghrib dulu, setelah itu ajari aku membaca ini dilanjut shalat Isya' dan lanjut lagi melakukan hal yang membuat malaikat ikut senang,” ucap Wisnu bangkit dari duduknya sambil menutup buku IQro'nya.
Almira melongo dibuatnya, menatap punggung Wisnu yang berjalan santai keluar dari ruang kerjanya dengan menggumam hafalan surat-surat pendek Al Qur'an yang beberapa sudah dia kuasi.
Sifat yang masih sangat misterius baginya. Perubahan gaya bicara yang selalu membuatnya terkejut setiap saat.
Melanjutkan hal yang disukai para malaikat?
Almira menggaruk tengkuknya sesaat, merasa merinding, dirinya segera keluar dari ruangan itu mengikuti langkah Wisnu yang sudah jauh mencapai pintu kamar mereka berdua.
**
Karena setiap aku melihatmu, memandang senyumanmu seolah bebanku berlalu.
Entah bagaimana lagi caraku untuk membuatmu memandangku. Merasakan cinta dan sayangku. Sebenarnya begitu mudah untuk yang lain tapi kenapa menakhlukkanmu menjadi sulit dengan besarnya rasaku untukmu. Cemburulah … mungkin itu satu-satunya hal yang ku nantikan, tuk tegaskan bagaimana sesungguhnya perasaanmu terhadapku. (Wisnu~Almira)
Bersambung ….
Hari ini aku up 2 bab ya🤗
Terimakasih Wisnu-Almira Lovers untuk jejak Like, Komentar dan juga Vote nyaaa. Love you full😘. Baca yaa biar levelnya ada😄😄😄😄
Terimakasih juga untuk para sahabatku yang mendukung novel ini. Dukung karya mereka juga yaa.
Kak Tya G
Kak Aldheka Dp
Salam segalanya buat readersku setia. Tanpa kalian aku buka apa-apa. Tangan ini tak mampu menggerakkan papan keyword sama sekali. Tanpa dukungan kalian cerita ini tidak bisa berlanjut. Tanpa level tulisan ini tidak akan menghasilkan apa-apa.❤
Matur thankyou ~ Syala Yaya🤗🤗
__ADS_1