Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 52 Menguji Sabarku


__ADS_3

Wisnu masih diam memandang langkah Delia ke arahnya, tangannya yang masih memegang handle pintu merasa wanita ini pasti punya segudang rencana yang tersusun di kepalanya. Wisnu ingat betul rekaman cctv yang kini sudah berada di tangannya.


“Katakan saja, kenapa harus membawa nama ayahmu? Apa kamu tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan yang sepele seperti ini?” sindir Wisnu belum melepaskan tautan jemari tangannya.


“Aku akan jadi sekertarismu,” jawab Delia cepat dengan senyuman manisnya.


Wisnu hanya berdecih dalam hati, ia memandang Delia dengan perasaan risih. Merasa jengah dengan tipe wanita seperti ini. Sambil menghembus napas ia mencoba masih menahan diri.


“Apa pekerjaanku hari ini?” tanyanya sudah mendekat, tangannya menyentuh dada bidang Wisnu hingga seketika Wisnu mundur dengan menekan handle, pintu terbuka lebar bersama Wisnu yang ikut keluar ruangannya.


Langkah Wisnu yang keluar dari ruangannya sontak menjadi perhatian para staf yang jelas berkantor di depan ruangannya. Mereka menatap dengan wajah bertanya-tanya.


“Carilah Ihsan di Lobby, dia sedang interview karyawan restoran baru. Layani mereka berdua dengan baik. Tunjukkan kemampuanmu, aku akan menilai sebaik apa kemampuanmu," perintah Wisnu dengan suara tegas.


Delia memandang para karyawan di luar ruangan yang menatapnya dengan perasaan malu. Dalam hati dia geram sendiri saat menyadari Wisnu berhasil mempermalukannya. Delia menahan sungutannya dengan berdehem sejenak dan mengangguk kepada Wisnu. Dengan langkah sok percaya diri dia keluar dari ruangan Wisnu. Membuang muka pada beberapa karyawan yang berbisik mengomentari kelakuannya.


“Oya, Nona," panggil Wisnu tegas menghentikan langkah wanita itu sejenak. "Jangan mempermalukan ayahmu dengan nilai burukmu, Nona Delia,” lontar Wisnu lagi sambil memandang remeh ke arah Delia. Delia hanya bisa menghembus nafasnya dan pergi dari sana.


Delia mengabaikan suara sinis yang terlontar ke arah dari beberapa staff di sana.


Wisnu memandang para karyawannya satu persatu. Sorot mata tidak suka jelas terpancar dari sana. Para karyawannya saling sikut menyalahkan keteledoran masing-masing. Mereka tidak berani memandang Wisnu.


“Siapa yang memberi ijin wanita itu masuk ke dalam ruanganku?” tanya Wisnu melemparkan pandangannya ke arah karyawannya dengan geram.


“Maaf, Pak. Nona Delia memaksa masuk. Dia juga mengatakan kalau dia adalah sekertaris pribadi pak Wisnu,” jawab salah seorang dari mereka.


Wisnu menghembus nafas membuang muka, sambil mengecek ponselnya ia segera kembali memandang para stafnya kembali.


“Siapkan satu tempat khusus untuknya, tempatkan di luar bersama kalian. Kalau dia memaksa masuk ke ruanganku, kalian panggilkan General Manager untuk memecat seorang karyawan yang membantah perintahku. Mengerti,” perintah Wisnu tegas.


“Baik, Pak,” jawab stafnya.


Wisnu menutup pintu dengan keras. Tidak seperti biasanya dirinya tidak bisa mengontrol kemarahannya. Sambil membuang jasnya di kursi sofa dirinya menghempaskan tubuhnya juga di sana. Memijit keningnya dengan mata terpejam.


“Kurang ajar sekali wanita itu, apa dia pikir aku tidak tahu apa-apa,” gumam Wisnu menghela napasnya membuang emosi.


***


Almira berjalan penuh semangat, sambil mengamati desain interior bagian Lobby yang baginya sangat mewah dirinya menghampiri bagian resepsionis. Sambil tersenyum dia menyapa.


“Selamat pagi, Ibu. Apa yang bisa kami bantu?” sapa resepsionis itu menyambut hangat kedatangannya.


“Oh, Saya Almira. Saya ada janji bertemu dengan Pak Ihsan. Bisa saya bertemu dengan beliau?” jelas Almira merasa gugup.


“Ohh, tentu. Pak Ihsan sudah memberi pesan kepada saya mengenai ini," jawabnya ramah.


“Benarkah? Di mana saya bisa menemui beliau?” tanya Almira merasa antusias.


“Silahkan anda menunggu di sana, Nona. Saya akan memanggilkan Pak Ihsan segera,” jawabnya sambil menunjukkan tempat sebuah kursi tunggu di Lobby, Sofa beserta meja di pojokan.


“Baik, permisi. Terimakasih."


Almira mengangguk mengerti, sambil menyunggingkan senyum ia melangkah meninggalkan meja resepsionis.


Almira masih saja terlihat takjub dengan tempat kerjanya yang baru. Walau mungkin ia akan berada di restoran, tapi tetap saja menjadi bagian dari staf dan karyawan hotel ini membawa kebahagiaan tersendiri baginya. Dengan sikap tenang ia mulai duduk dengan jantung berdebar penuh semangat.


“Almira?” panggil seorang wanita berjalan cepat menghampiri Almira.


Karena namanya dipanggil Almira segera menoleh ke arah suara yang tidak asing baginya, ia merasa terkejut menatap wanita yang tidak lain adalah Delia.

__ADS_1


“Kamu … Delia 'kan? Kamu sedang apa di sini?” tanya Almira segera berdiri menyambut kedatangan Delia.


Delia tertawa sejenak. Dia tutupi bibirnya dengan jemari tangan dan bersikap sangat elegan. Ia segera melangkah mendekat dan berdiri berhadapan dengan Almira di Sofa saling berseberang. Dengan penuh keanggunan dia mempersilahkan Almira untuk duduk kembali.


“Kamu ada urusan apa berada di hotel ini? Apa sedang menunggu tamu?” tanya Delia seraya menyilangkan kakinya dan duduk santai di sofa.


Almira memandang Delia masih dengan senyuman, walau jelas ucapan wanita itu sedikit kasar baginya.


“Iya, aku sedang menunggu tamu,” jawab Almira dengan nada tidak suka.


Delia memandang remeh ke arah Almira dengan senyuman sinis, perasaan kesal terhadap wanita di depannya ini sangat kentara. Entah kenapa dirinya malah bisa bertemu dengan Almira di tempat ini. Kalau bukan demi Bagus, dia tidak sudi menjadi teman wanita gadis saingannya ini.


“Bagus terpukul karena kamu tidak mau dihubungi lagi olehnya,” ungkap Delia tiba-tiba dengan nada ketus. Almira hanya menanggapi dengan senyuman, walau jelas ia terkejut dengan lontaran yang Delia berikan kepadanya.


“Aku tidak habis pikir, apa yang Bagus lihat darimu hingga dia tidak bisa mengalihkan pikirannya dari wanita sepertimu,” lontar Delia jelas mengagetkan Almira.


Bagi Almira sosok Bagus adalah masa lalu dimana kata putus terucap darinya pertama kali. Bahkan ia menyusul ke Bar demi penjelasan itu, tapi apa yang dikatakan Delia jelas mengusik pikirannya.


“Kami sudah putus,” jelas Almira memasang wajah serius. Delia masih tersenyum miring menanggapinya.


Delia yakin pasti apa yang terlontar dari keduanya hanyalah omong kosong. Bagus selalu saja mengatakan hal ini terhadap dirinya, nyatanya Almira selalu saja menjadi prioritasnya.


“Bagus bilang kamu masih kekasihnya,” ucap Delia berkata ketus. Almira hanya bisa menghembus nafas.


Almira selalu berpikir positif mengenai hubungan keduanya, tapi raut wajah Delia menunjukkan semuanya. Mereka berdua berada dalam hubungan yang tidak seharusnya.


“Aku menyerahkan sepenuhnya Mas Bagus kepadamu, Delia. Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Jadi, mari kita hidup sewajarnya tanpa himpitan masa lalu lagi. Kamu bebas berhubungan apapun dengannya,” lontar Almira membalas sinis.


Pandangan sinis keduanya harus berakhir saat Ihsan datang dengan tergesa menghampiri Almira berada. Almira dan Delia berdiri bersamaan saat kedatangan Ihsan bergabung di sana.


“Nona Almira sudah lama menunggu?” tanya Ihsan segera menghampiri Almira.


Ihsan menyapa Delia dengan menunduk kepala. Delia hanya membalas dengan menunduk ringan dan melengos. Seperti biasa Ihsan merasa biasa saja.


“Oh, baiklah. Mari kita mulai interviewnya. Silahkan duduk,” ajak Ihsan sudah duduk terlebih dahulu.


“Baik, Pak Ihsan,” jawab Almira segera duduk dengan perasaan gugup.


“Interview di sini? Bukankah ini bagian pekerjaan HRD ya? Kenapa Pak Ihsan yang melakukan interview?” tanya Delia merasa aneh.


Delia masih berdiri sambil tersenyum memandang jengkel Almira. Wanita itu terlihat bersedekap tangan memandang kesal ke arah Almira dan Ihsan.


Ihsan tidak habis pikir kenapa Wisnu malah menyuruh wanita menyebalkan itu untuk mengganggu proses perekrutan karyawan baru, hatinya jengkel sendiri.


“Lalu tugas pas Johan apa? Kenapa dia bisa seenaknya menempatkan karyawan berperilaku minus di hadapan bos pemilik hotel menjadi sekertarisnya? Apa itu tidak mempermalukan citranya sebagai Manager Hotel?” sindir Ihsan merasa tidak sabar.


Delia terang saja merasa panas kupingnya saat mendapat sindiran itu, dengan kesal ia memandang tajam ke arah Ihsan. Ihsan tidak menggubris Delia sama sekali. Dia segera memperbaiki duduknya dan tersenyum ke arah Almira yang berubah canggung.


“Oh … tolong ambilkan minuman untuk Nona Almira, sekertaris baru. Ini juga hari pertamamu bekerja "kan? Berikan penampilan terbaikmu ya, siapa tahu nilaimu mampu membuatmu mendapat tempat bagus di kantos bos kita,” lontar Ihsan sengaja menambah kekesalan Delia.


Almira menunduk menahan tawanya, melirik wajah Delia yang tampak memerah menahan kesal. Ihsan juga bersemu dalam hati.


“Maaf, Nona Almira. Silahkan berikan CV Anda, saya akan mengecek satu persatu dan akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda,” ucap Ihsan sudah mulai serius memandang Almira. Almira segera mengangguk dan mengeluarkan Map dari pangkuannya.


“Kamu masih di sini? Kamu mau jadi lalat? Kenapa tidak bekerja?" tanya Ihsan membuat Delia bersungut dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Dengan langkah kaki terlihat jelas kekesalan merasa di jadikan pelayan, Delia segera meninggalkan Ihsan tanpa berniat melakukan tugas yang diberikan Assisten pribadi Wisnu itu.


“Kurang ajar, lihat saja … akan aku buat kamu di buang si bos angkuh itu selamanya. Berani sekali dia menyindirku dan memerintahku mengambilkan minuman, dia pikir aku siapa, heh,” geramnya berjalan menuju ruangan ayahnya berada.

__ADS_1


Almira masih memandang Ihsan yang menyimak CVnya. Beberapa kali pria kalem itu membolak-balik kertas tanpa sapatah katapun terucap dari mulutnya. Almira jadi gemas sendiri.


“Jadi ... saya diterima apa tidak?” tanya Almira ragu.


Ia beberapa kali memandang lalu lalang staf maupun tamu yang datang. Beberapa kali mengedarkan pandangan mencari sosok suaminya, tapi tidak pernah tampak batang hidungnya. Iseng-iseng ia ingin menanyakan hal ini kepada Ihsan, tapi keberaniannya seakan menguap.


“Kamu gelisah mencari siapa?” tanya Ihsan mengamati arah pandangan Almira.


“Oh, tidak,” jawabnya cepat.


“Kamu melihat ke sana ke mari dari tadi,” ucap Ihsan membuat Almira menunduk malu.


“Itu … Mas Inu. Dia … kerja di bagian apa sih? Kok tidak kelihatan dari tadi,” tanya Almira memberanikan diri.


Ihsan tertawa tertahan. Masih mengamati lembaran kertas di hadapannya dia membayangkan Wisnu sudah mulai bersikap manis pada istrinya. Dia merasa geli sendiri memikirkannya.


“Ehm! Bolehkah aku tanya padamu? Sebagai sahabat Wisnu,” bisiknya kepada Almira. Seketika Almira menoleh penasaran.


“Ada apa?” tanya Almira cepat.


“Apa Wisnu mengijinkanmu bekerja di sini karena kamu berhasil merayunya? Atau dia memberimu ijin karena kamu bersikap galak padanya?” tanya Ihsan sambil berbisik.


“Kapan aku galak? Aku tidak pernah galak,” sanggah Almira kesal dikatain galak.


“Bos kami di sini suka dengan wanita lembut. Kamu lihat 'kan, karyawati di sini cantik semua, ramah juga,” ungkap Ihsan segera diberi anggukan setuju Almira.


“Makanya sejak kamu memberitahuku masalah itu, aku selalu bersikap baik pada pria itu,” jawab Almira pelan.


“Benarkah? Wah bagus. Lakukan terus agar suamimu aman dalam genggamanmu. Kamu tahu, Delia itu sedang mengincar suamimu,” bisik Ihsan mengingatkan.


“Benarkah? Jujur aku jadi khawatir.”


“Makanya, bujuk Wisnu agar memberikan mobilnya itu kepadaku, aku akan membantumu menjauhkan Delia dari Wisnu,” rayu Ihsan mencoba melancarkan aksinya mendapatkan mobilnya.


Almira sejenak terlihat berpikir. Ia memandang Ihsan dengan berjuta pikiran.


“Suamiku sangat misterius, saat diberi pertanyaan selalu saja terlihat tertekan dan marah, bisakah kamu beritahu apa pekerjaan dia di sini? Bagaimana mungkin karyawan bersih-bersih memakai jas saat berangkat kerja dan mengendarai mobil mewah juga? Padahal saat aku lihat semua karyawan di sini memakai seragam,” tanya Almira membuat Ihsan terdiam dan bingung.


“Dia bilang, di sini dia kerja bersih-bersih?” tanya Ihsan terkejut.


“Iya,” jawab Almira manggut-manggut.


“Wahh … gila, bersih-bersih?” decak Ihsan merasa aneh dengan kelakuan bosnya.


“Iya, bersih-bersih. Memangnya kenapa? Apa dia sudah berbohong?” tanya Almira merasa penasaran.


Almira menegakkan tubuhnya, ia merasa ada yang tidak beres mengenai ini. Selalu saja Wisnu begitu menutupi kehidupannya, bahkan untuk mengetahui siapa orang tuanya saja ia harus menelan rasa kecewa. Almira menahan nafas menunggu jawaban dari sahabat suaminya itu. Dia berharap setidaknya mendapatkan sepenggal kisah tentang pria misterius itu walau sedikit.


“Oh … bukan, bukan berbohong. Baiklah, kita lanjut lagi interview kita,” potong Ihsan mencoba mengalihkan perhatian Almira.


Almira hanya bisa mengangguk masih dalam hati bertanya-tanya. Ia kembali harus bersikap sabar mengenai apa yang menjadi bahan pikirannya. Almira menyandarkan kembali punggungnya dengan lesu, berharap bisa melihat suaminya secara tidak sengaja.


“Astaga, pak Wisnu selalu membuatku menyelesaikan masalahnya. Aku gemas dengan sikapnya. Lihat saja, akan aku buat dia benar-benar membersihkan kamar hotelnya,” gerutu Ihsan dalam hati.


***


Kenapa kamu harus menutupinya, bahkan saat jelek saja aku menyukaimu?


Kau anggap aku apa, saat orang yang selalu menjadi temanmu berbagi selimut tidak mengetahui apapun tentangmu.

__ADS_1


Beri tahu aku sendiri dari bibirmu, jangan biarkan aku mengenalmu dari mulut orang lain yang belum jelas itu semua adalah kebenaran mengenai dirimu. (Almira&Wisnu)


Bersambung.


__ADS_2