Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 73 Ektra Part Wisnu Almira


__ADS_3

Wisnu dan Almira baru bisa beristirahat saat hari sudah hampir tengah malam. Setelah mempersilakan beberapa teman, juga sahabat yang datang untuk mengucap selamat dan berpamitan untuk pulang, akhirnya kini mereka berdua bisa bernapas lega, berganti pakaian seraya melepas lelah sejenak di kamar yang dikhususkan untuk menginap Wisnu ketika berada di hotel miliknya itu. Setelah sedikit berdebat dengan Almira, akhirnya Wisnu memutuskan untuk menyetujui istrinya itu untuk pulang dan tidur di rumah.


Selama perjalanan Almira hanya terdiam, membiarkan suaminya fokus menyetir karena rasa kantuk yang mulai menyerangnya.


"Ajak aku bicara," ucap Wisnu sesekali menguap.


"Aku ngantuk," keluh Almira menyandarkan tubuhnya seraya menoleh ke arah suaminya.


"Salah sendiri, diajak pulang besok menolak," sahut Wisnu.


"Masih kesal, ya?"


"Tidak," jawab Wisnu tanpa menoleh, ia masih fokus menyetir.


"Nggak enak sama ibu dan bapak," jawab Almira menghela napasnya.


Rasa rindu yang terasa di dalam hati terhadap orangtuanya membuat Almira tidak mau tidur di hotel dan membiarkan kedua orangtuanya menunggu di rumahnya. Wisnu menghirup udara dalam-dalam, ia memahami apa yang dirasakan istrinya, tapi entah mengapa hatinya terasa ingin memeluk istrinya di tempat lain, aneh memang.


"Kapan-kapan kita menginap di Hotel, ya?" ajak Wisnu kemudian.


"Mesum," balas Almira tergelak dan memukul lengan suaminya.


"Situ paham," adu Wisnu ikut tertawa.


"Hahaha ... Wisnu Tama jangan membuatku tertawa," seloroh Almira menutup bibirnya masih menatap Wisnu yang ikut tertawa seraya menatap ke depan arah jalanan.


"Kenapa?" sahut Wisnu kemudian, ia yakin saat ini Almira sedang menilai dirinya, sedang mencoba mengurai sebuah rasa terpendam di dalam hatinya.


"Apa kamu bakal gombal dan rese juga sama semua wanita yang kamu temui?" tanya Almira masih mencoba menggoda.


"Tentu saja," jawab Wisnu menoleh sesaat masih tersenyum.


"Baiklah," sahut Almira meredupkan senyumnya.


"Saking gombal dan rese, aku sampai punya julukan lho," ucap Wisnu kemudian setelah melirik raut wajah Almira yang berubah keruh, senyumnya memudar berganti mengerucut seperti biasanya kalau suasana hatinya tidak sesuai dengan yang ia inginkan.


"Apa?" tanya Almira tidak antusias sama sekali menyahut, suaranya malas.


"Patung hidup," jawab Wisnu sambil tersenyum, bibirnya melipat menahan tawa pada kekonyolannya di masa muda.


"Patung hidup?" ulang Almira sambil menoleh dengan kening berkerut.


"Aku menggombal hanya denganmu," tambah pria pemilik senyuman mempesona itu sambil menoleh sesaat dan kembali fokus ke arah jalan raya.


Kini mobilnya sudah memasuki kawasan komplek perumahan miliknya. Almira mau tak mau tertawa juga membayangkan kekakuan saat pertama bertemu saat Dhepe memintanya jadi penguntit.


"Kamu sama kak Dhepe juga nggombal," ungkap Almira mencibirkan bibirnya.


"Karena dia banyak berjuang," sahut Wisnu menjulurkan jemari tangannya ke arah Almira dan mengacak poninya karena gemas, kenapa saat malam indah resepsi pernikahan istrinya itu membicarakan masalah masa lalu.


"Aku tidak mau berjuang," ucap Almira menggelengkan kepala memegang tangan suaminya agar menghentikan kelakuan yang akan mengganggu konsentrasi menyetir mobilnya.


"Karena kadar cintaku lebih tinggi darimu," ungkap Wisnu membuat sejenak Almira terpaku, wajahnya mendadak menghangat.


Sebuah ucapan ringan, tapi mampu menembus dasar perasaannya. Ia mengakui sejak pertama kali bertemu, sejak malam itu, pria bernama Wisnu ini secara terang-terangan menunjukkan keseriusan hubungan hingga ia tidak bisa membedakan apakah itu karena bentuk tanggung jawab saja atau sebuah perasaan memakai hati sebagai alasan utama.

__ADS_1


"Kalau malam itu tidak pernah terjadi, apa kita bisa bersama?" tanya Almira seraya menggigit bibirnya kuat-kuat, ia merasa nyeri juga saat menanyakan hal ini.


Almira melirik ke arah Wisnu yang tidak menanggapi pertanyaannya. Suaminya itu kini sedang konsentrasi untuk memarkir kendaraannya yang mulai memasuki garasi rumahnya. Almira menunggu dengan perasaan berdebar. Ia merasa takut kalau Wisnu tersinggung karena membahas masalah itu lagi.


"Sini aku lepaskan sabuk pengamanmu," ucapnya datar. Almira memandang tangan Wisnu yang dengan cekatan melepaskan tautan sabuk dari tubuhnya dan membiarkan Wisnu meraih pipi dan memberi senyuman sebelum turun dari mobil.


"Apa bapak dan ibu sudah tidur, ya," gumam Almira seraya berjalan di samping Wisnu yang meraih pundaknya agar melangkah bersama saat memasuki teras rumah.


"Kenapa? Apa kamu mau minta nambah lagi?" goda Wisnu segera diberi lirikan mata kesal dari Almira.


Wisnu hanya bisa terkekeh menanggapi raut merona bercampur malu dari wajah istrinya seraya membuka kunci rumah dan membuka perlahan pintunya, membiarkan Almira masuk terlebih dahulu. Wisnu segera menyusul wanita yang kini sudah berpakaian santai itu memasuki rumah tidak lupa mengunci lagi.


Wisnu masih berjalan mengikuti langkah istrinya menaiki tangga, ia sengaja melakukannya karena sangat menyukai cara berjalan Almira yang baginya sangat anggun.


Tubuhnya yang mulai berisi karena sedang mengandung semakin membuat wanita itu terlihat alami dan sangat sexy bagi Wisnu tanpa gerakan yang terkesan dibuat-buat.


"Aku lapar lagi," ucap Almira masih berjalan menyusuri tangga.


"Mau aku pesankan makanan melalui go-food?" tawar Wisnu berhenti berjalan saat istrinya memutar badannya menoleh ke arahnya.


"Pingin makan masakan Mas Inu," sahut Almira seraya menampilkan senyuman manis merayu.


Wisnu menggeleng pelan, ia merasa lelah kalau harus memasak malam-malam, dia ingin bermalas-malasan di kamar.


"Ya sudah."


"Kamu marah?" tanya Wisnu melihat senyuman yang menghilang dari wajah istrinya yang dengan cepat pula membalik badan melanjutkan langkahnya.


"Kenapa marah? Aku cuma pingin, besok juga bisa," jawabnya.


"Mas?" panggil Almira menoleh kembali saat derap langkah kaki suaminya terasa menjauh.


"Aku akan segera kembali," sahut Wisnu melambai tangan tanpa menoleh sama sekali.


"Bikinin susu aja," pinta Almira sambil tersenyum senang, yang dia inginkan sebenarnya perhatian bukan makanannya, sambil tersenyum ia segera melangkah menuju kamarnya menunggu Wisnu.


Wisnu hanya membutuhkan waktu sepuluh menit membuatkan susu khusus ibu hamil untuk Almira, dan membawanya ke kamar secepatnya dengan hati senang. Setidaknya ia merasa sudah menjadi suami siaga untuk istri dan juga calon anaknya kelak.


"Sudah tidur?" tanyanya saat membuka pintu terlihat Almira sudah meringkuk di kasur dengan ponsel di tangannya.


"Belum, masih nunggu kamu," jawabnya sambil meletakkan ponselnya di nakas dan duduk menerima segelas susu dari Wisnu yang kini tengah duduk di sampingnya.


"Siapa?" tanya Wisnu melirik ke arah ponsel yang layarnya masih menyala terang.


"Ersa, aku nanya udah tidur apa belum," jawab Almira setelah meneguk habis susunya dan menyerahkan kembali kepada Wisnu.


"Kok aku lihat kamu habis telponan sama Ihsan?" telisik Wisnu yang mendengar sayup-sayup nama Ihsan saat memasuki kamarnya.


"Oh, itu ... mobil kak Dhepe mogok, tadi dia nelpon aku,jadi aku kasih aja nomer pak Ihsan biar menjemput dia daripada aku nyuruh Mas Inu bantu dia," jawab Almira memandang Wisnu dengan wajah serius.


"Bagus, aku suka gaya istriku yang keren ini," pujinya seraya menjawil dagu Almira dengan gigi gemerutuk saking gemasnya.


"Bagus?" terang Almira bertanya.


"Iya, bagus. Kenapa?" tanya Wisnu dengan kening berkerut, ia merasa tidak salah dalam memberikan pujian kepada istri kesayangannya itu.

__ADS_1


"Bagus itu nama mantan pacarku, calon tunangan dan calon suamiku, Mas," ledek Almira sambil tertawa lebar.


"Ck!" Wisnu berdecak, melengos. Mengalihkan pandangannya ke arah meja seraya meletakkan gelas di sana.


"Kamu telah membangkitkan kenangan indahku," tambah Almira lagi sambil terkekeh.


"Ira?" panggil Wisnu bermaksud protes dan menyuruhnya diam.


"Aku bahkan berencana dengan mas Bagus hendak ke Papua kalau bulan madu nanti," tambah Almira lagi sambil beringsut menggeser tubuhnya ke tengah kasur, tidak lupa menarik selimut dan merebahkan dirinya memunggungi Wisnu.


"Bisa diam?" tegas Wisnu merasa hatinya panas, kepalanya berdenyut karena kesal.


"Aku akan menyewa sebuah pesawat kecil dan menikmati keindahan gunung-gunung yang berada di sana," oceh Almira lagi semakin membuat Wisnu merasa kesal.


"Nantangin aku, ya, kamu?" balas Wisnu dengan suara datar, pria itu segera menggambil posisi tiduran di samping Almira, ia melirik sekilas ke arah punggung istrinya yang terlihat bergetar menahan tawanya. Diam-diam Wisnu tersenyum juga, berhasil dibuat cemburu habis-habisan.


"Kalau malam itu tidak terjadi, aku tetap akan nyari kamu," ungkap Wisnu sambil melipatkan kedua lengannya ke bawah bagian kepalanya sebagai bantal, matanya menerawang menatap langit kamarnya.


"Ehm?"


Almira menoleh dan membalik tubuhnya setelah mendengar penuturan suaminya, jujur ia merasa sangat penasaran dengan ucapan Wisnu barusan, ia merasa ada sesuatu yang hendak suaminya itu ungkapkan.


"Aku tetap akan mencari kamu, karena sejak malam pas kita terlibat kecelakaan di depan portal kereta api itu, setiap aku melihat jejak goresan motor kamu di mobilku, aku selalu mengingat kamu," ungkap Wisnu lagi membuat mata Almira membulat sempurna, ia tidak menyangka akan mendapat kejutan ini, hal yang tidak pernah ia perkirakan sama sekali di dalam hidupnya.


"Mas Inu, mengingat Ira?" tanya Almira lagi seraya mengerjapkan mata belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Mau aku ceritain, apa saja yang aku lakukan untuk mencoba mencari kamu?" ucap Wisnu seraya tertunduk menahan tawa.


"Apa? Apa saja yang Mas Inu lakukan? Ayo ceritakan," pinta Almira merasa sangat antusias, wajahnya tidak mampu menahan rasa suka cita luar biasa. Ia merasa sangat penasaran dengan cerita itu.


Seorang pria dingin seperti Wisnu berusaha untuk mencarinya? Ahh, hati Almira berbunga-bunga.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sudah aku katakan, hidup itu penuh misteri.


Sudah aku jelaskan, hidup itu penuh kejutan.


Kita tidak bisa menyelami isi hati orang lain.


Kita tidak bisa memasuki jejak kenangan orang lain.


Dan kita tidak mungkin tahu semua cerita yang ditorehkan dari setiap kehidupan yang dijalani orang lain.


By, Syala Yaya ๐ŸŒป๐ŸŒป


Bersambung...


Ekstra part, spesial untuk pecinta kisah Almira dan Wisnu.


โค๏ธJangan lupa untuk mengikuti novel baruku yang akan aku publish tahun depan yaaa. Semoga sukaaaa



__ADS_1


Salam segalanya dari ~ Syala Yaya ๐ŸŒป๐ŸŒป, Dispenser's Girls for All Dispenser's Family ๐Ÿ˜


__ADS_2