Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 26 Kekonyolan Di Pagi Hari


__ADS_3

Wisnu meraih selimut dan menutupi tubuh istrinya yang sudah tertidur hingga sampai ke leher. Tidak mau memberi trauma baru untuk gadis yang mulai bisa bicara dengannya tanpa urat kekesalan malam ini. Wisnu menyadari, begitu berat ternyata apa yang dialami Almira disetiap malam-malamnya. Mengingat malam saat bersamanya.


Samar-samar dia teringat jelas malam itu, malam dimana dirinya merasa sangat puas saat bisa menyalurkan hasratnya sebagai seorang lelaki dewasa. Dan beruntung dirinya bisa melakukannya bersama gadis baik yang kini sah menjadi istrinya ini.


Andai saja bukan kamu, bagaimana hidupku, Ira.


Wisnu menghela napasnya sambil memandang langit-langit kamarnya, menoleh ke arah jam dinding sudah menunjuk pukul dua dini hari.


Kamu tidak hanya cantik, Almira. Kamu juga anak yang sangat patuh kepada orang tuamu. Aku beruntung mendapatkanmu. Ketika sampai Kota nanti bagaimana kalau kamu bertemu dengan pria bernama Bagus itu? Bagaimana caraku memisahkan kalian dan menjagamu secara diam-diam.


Hati Wisnu menjadi gelisah, ingatan masalalu tentang kehilangan wanita yang dia cintai kembali menyesakkan dadanya.


Isna harus dia relakan bersama Krisna, juga kepahitan kembali harus dia telan setelah mengetahui Depe meninggalkannya dan menikah dengan kakak tiri Krisna yaitu Imran.


Mendadak hatinya menjadi sangat takut, saat istrinya yang hatinya belum sepenuhnya bisa dia menangkan akan direbut oleh pria lain. Dirinya sangat takut kehilangan lagi.


Dengan hati-hati Wisnu meraih jemari tangan Almira dan menggenggamnya erat, merasakan kehangatan yang menjalari hatinya. Dia berjanji dalam hati, akan mempertahankan istrinya ini sekuat apapun wanita ini saat mencoba meninggalkannya.


“Kenapa belum tidur?” tanya Almira sambil mengucek matanya dan tidur miring menghadap Wisnu.


“Kamu terbangun?” tanya Wisnu masih menggenggan jemari tangan Almira dengan erat.


“Aku biasa terbangun malam hari,” jawab Almira mencoba bangkit dan duduk, merasakan jemari tangannya masih digenggam erat Wisnu, Almira hanya memandang tangannya tanpa berkomentar.


“Aku mau mengambil wudhu, Mas.”


“Cepat kembali.”


Wisnu melepaskan genggaman tangannya, menatap Almira yang menyingkap selimut dari tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Berjalan sambil meraih kunciran rambut dari atas meja dan keluar dari kamar.


Almira menyentuh dadanya mencoba mengatasi jantungnya yang berdebar saat genggaman tangan itu bisa dia rasakan. Kenapa rasa itu mendadak datang kembali.


Dengan cepat dia melangkah ke arah kamar mandi dan menyempurnakan wudhunya dengan shalat malam, menenangkan perasaannya. Malam ini dia sampai tertidur masih menggunakan mukena.


***


Suara ayam berkokok membuyarkan mimpi Almira, tubuhnya menggeliat ringan dan segera duduk menatap ruangan.


Mendadak merasa sangat menyesal meninggalkan Wisnu dan malah tertidur di ruangan khusus untuk sholat di rumahnya itu.


Segera meraih mukena dari badannya dan menyampirkan di tempatnya, Almira segera berdiri dengan tergesa-gesa. Merasa terancam kalau sampai ayah atau ibunya tahu dia malam ini tidur tidak bersama suaminya. Bisa-bisanya dia akan mendapatkan siraman rohani sepanjang hari dari kedua orang tuanya.


Sambil merapikan rambutnya yang agak acak-acakan dia berjalan memakai sandalnya. Sampai-sampai menubruk kursi yang tidak benar tempatnya dan menimbulkan kegaduhan.


Suara berisik dari arahnya berdiri meraih kursi yang terjatuh dan membenarkan ke tempatnya membuat Wisnu menertawainya dari arah belakang.


Wisnu menepuk pundak Almira dan meraihnya hingga terhuyung saking terkejutnya, tubuhnya menempel dada Wisnu.


“Istri durhaka takut ketahuan orang tuanya,” bisik Wisnu menggoda sambil memeluk Almira dari belakang dan mengajaknya melangkah.


“Apa? Siapa yang durhaka?” elak Almira mencoba melepaskan diri.


“Aku semalam menunggumu, istri durhaka,” bisik Wisnu lagi sambil mencium pipi Almira dan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


“Aku … ketiduran,” jawab Almira membalik badannya menghadap Wisnu yang berjalan melewatinya, dengan cepat telapak tangannya mengusap pipinya yang mendadak terasa memanas dan merona malu karena dicuri cium suaminya itu.


“Tidak minta maaf? Aku laporkan,” goda Wisnu masih berjalan.


“Eh, jangan. Aku tidak sengaja, aku ketiduran.”


Almira berjalan cepat menyalip langkah Wisnu mencoba mengurangi kecepatan langkah Wisnu menuju ke dapur dimana suara ibunya terdengar beradu dengan peralatan masaknya.


“Aku minta maaf,” ucap Almira sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. Sorot maya eye puppy berhasil dia tampilkan.


Wisnu menahan tawanya melihat kelakuan Almira yang tidak biasa.


“Minta maaf yang benar,” goda Wisnu mendorong ringan Almira agar tidak menghalangi langkahnya. “Sepertinya kamu tidak sungguh-sungguh.”


“Aku tulus tau,” protes Almira meradang. “Aku sungguh-sungguh.”


“Bersiap-siaplah, kita pulang hari ini. Kasihan sekali melihatmu tersiksa begini,” ejek Wisnu menampilkan tawa ringan dan berhenti di depan pintu kamar mandi.


“Euhm … aku akan siap-siap. Kita ke kota hari ini.”


Almira mundur selangkah hendak berbalik badan, dengan cepat tangannya diraih Wisnu dan menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Dengan gerakan bertahan Almira menolak hingga tubuhnya terpaksa dipojokkan Wisnu di pintu seraya menutup pintunya dengan cepat.


“Gosok dulu punggungku, itu sebagai hukumanmu.”


Wisnu melepaskan tangannya yang menahan tubuh Almira dan melepaskan kaosnya dengan cepat. Menaruh di bak cucian dan menghadap bak air dengan anggukan kepalanya memerintah Almira melakukan permintaannya.


“Aku sudah menunggu,” panggil Wisnu dengan gayanya merasa Almira belum beranjak dari tempatnya berdiri.


Wisnu tahu, pasti wajah kekesalan yang akan terlihat tapi dirinya merasa senang dan sengaja tidak menatap ke belakang.


“Kamu kesal?” tanya Wisnu tidak muat akhirnya menoleh, ledak tawanya ingin sekali dia lepaskan.


“Tidak, kenapa harus kesal?” elak Almira menggeleng menampilkan senyum palsunya.


“Kakimu menghentak tadi?” ungkit Wisnu semakin senang dengan reaksi Almira yang baginya sudah bisa dia anggap bisa bersikap baik padanya. Walau senyuman palsu sekalipun tetap menyenangkan bagi Wisnu.


“Tidak menghentak,” bantah Almira lagi sudah berada dibelakang Wisnu.


“Cepat, mau kamu sampai diketahui bapakmu kita berduaan di sini?” goda Wisnu duduk di kursi bahan plastik yang ada di dalam kamar mandi. “Nanti dikiranya anak perempuannya berubah mesum,” tambah Wisnu lagi menahan tawa.


“Ish, bisanya cuma mengancam,” sungut Almira meraih sabun cair dan menggosok punggung Wisnu dengan kekesalan.


“Yang rata, yang bersih. Aku hari ini kerja lho,” seloroh Wisnu berniat melucuti celana panjangnya. “Harus wangi, dan terlihat tampan juga.”


“Heih … kamu mau apa? Aku keluar nih!” decak Almira melihat Wisnu mau mengangkat kakinya.


Almira merasa pasti Wisnu akan macam-macam dengannya pagi ini. Alarm tanda peringatan segera muncul di benak Almira seketika.


“Mandi masak memakai baju dan celana, ya Ampun Ira?” Wisnu menoleh ke arah Almira yang melengos hendak pergi.


“Pakai! Atau aku tidak mau melanjutkan,” ancam Almira berhenti berjalan kembali menatap Wisnu yang malah menertawainya.


“Aku hanya bercanda, ya ampun. Sini lanjutkan, nanti gajiku aku kasih kamu semua, slipnya sekalian kalau perlu,” lontar Wisnu dengan gayanya.

__ADS_1


“Ish, gaya. Memangnya gajimu berapa?” tanya Almira sudah mulai serius menggosok punggung Wisnu kembali. Berdiri dibelakang Wisnu.


“Sedikit, empat juta mungkin,” jawab Wisnu menunduk kepala, dia kembali berbohong.


“Banyak juga ya gajimu,” jawab Almira jujur.


Wisnu menoleh kebelakang dengan cepat hingga Almira terkejut dan mundur menendang ember kakinya, dengan cepat Wisnu berdiri meraih Almira yang hampir terpeleset sabun.


Braakkk


Suara gaduh dari dalam kamar mandi membuat keduanya memejamkan matanya karena merasa sangat malu kalau sampai terdengar dari luar.


Almira sampai melepas tawa ringan terduduk di lantai yang bersama Wisnu. Mereka berdua saling memandang dengan geli kekonyolan pagi-pagi yang mereka berdua ciptakan.


Tok tok tok!


“Ira, kamu mandi apa semedi? Dari tadi nggak kelar-kelar?”


Teriakan ayahnya dari luar membuat keduanya merasa kepalang basah saling memandang penuh cemas karena malu.


“Sudah belum?” teriak Ersa yang menggedor pintunya merasa kesal.


“Sebentar lagi,” sahut Almira sambil tangannya membekap mulut Wisnu agar tidak ikut bersuara. Wisnu hanya bisa diam dengan tubuh menegang.


“Cepat sedikit. Aku kebelet!” teriak Ersa sambil berlalu dari depan pintu kamar mandi.


“Bu, tadi Wisnu sudah bangun belum? Waktunya sholat Subuh lho ini … kesiangan nanti dia. Cepat bangunin sana.”


Suara pak Ramlan kepada ibu Halimah terdengar dari dalam kamar mandi. Almira memandang Wisnu dengan helaan napas lemas.


“Siapa disini yang bodoh?” omel Almira mendorong pundak Wisnu gemerutuk gemas.


“Istriku, kau kenal?” sabut Wisnu hendak berdiri diberi selonjoran kaki Almira hingga tubuh pria itu tergelincir kembali jatuh terduduk. Matanya mendelik kesal ke arah Almira yang kelewat jail.


“Kau-”


“Almira, Wisnu! Ngapain didalam? Kalian ini benar-benar ya!”


Suara ibu Halimah dari luar kembali membuat mereka tersadar dan berebut bangun dengan saling mendorong dengan kekesalan karena pasti akan bingung cara menjelaskan. Akan ada ledekan seharian yang akan mereka terima, Almira sampai apal diluar kepalanya.


***


Mari kita ukir kekonyolan ringan, melupakan sejenak masalah kita. Tidak mungkin hari mendung dan hujan badai bertahan selamanya menyergap kita. Ada kalanya pelangi akan nampak ketika mentari mulai terbit kembali setelah hujan badai menerjang. Ada kalanya jalan cinta akan tercipta dibalik rasa benci menggelayuti hati. (Wisnu-Almira)



Bersambung.


Terimakasih masih menyempatkan waktu menikmati kisah Wisnu.


Terimakasih untuk dukungan like, komentar positif, kritik membangun dan Vote yang luar biasa untuk Wisnu.


Masuk GC yuk, kita ngobrol bersama kami tiga serangkai wkwkwk Syala, Dewi dan Disa mak Admin baik hati ^_^

__ADS_1


Salam segalanya dariku ~Syala Yaya🌷🌷


__ADS_2