
🌻🌻🌻🌻
Derai tawa masih mewarnai suasana rumah. Setyo, Wisnu, Alan, dan pak Ramlan masih asyik bercengkerama di teras rumah. Banyak hal yang menjadi pembahasan. Tentu pak Ramlan yang menciptakan keramaian sekaligus menjadi pemecah suasana tegang antara Alan dan Setyo. Sedari tadi pria berusia dua puluh dua tahun itu hanya diam menyimak.
“Nak Alan sudah kerja juga? Wahh, baru usia dua puluh dua tahun sudah punya usaha sendiri." Ramlan kini mulai memfokuskan pandangan ke arah pemuda tampan tersebut sambil tersenyum.
”Iya, Pak. Kebetulan saja, itu berasal dari warisan ayah dan ibu saya,“ jawabnya merendah sambil melirik ke arah Wisnu dengan gestur tubuh tidak nyaman untuk menceritakan kehidupan pribadinya.
”Sama kayak saya, Pak. Dari orang tua juga,“ sahut Wisnu menenangkan diri Alan yang mulai diliputi rasa gelisah bila mulai membahas masalah keluarganya yang carut marut.
Menjadi anak adopsi saudara dari ibunya—Kartika, dan menjadi anak yang terbuang karena lahir dari hubungan di luar nikah menjadi sumber kepedihan yang dirasakan Alan selama ini. Merasa tidak pantas bila bersanding dengan wanita manapun, ia merasa kotor bila harus mengungkapkan bagaimana masa lalu hidup orang tua kandungnya. Hanya Yashna satu-satunya orang asing yang mengetahui asal usulnya hingga ia tidak ingin kehilangan wanita yang sanggup memahami, seperti apa pahitnya hidup karena kelahirannya tidak disambut oleh dunia. Ia sangat malu menyebut dirinya sendiri sebagai seorang manusia.
”Lalu, ayah kamu—“
”Ayah Alan menetap di Australia, Pak,“ sela Wisnu menjawab pertanyaan yang ditujukan Ramlan pada Alan. Ayah Almira pun kemudian tersenyum, memahami bahasa Wisnu yang mengisyaratkan sebuah kerumitan dalam keluarga seperti yang Wisnu selalu ucapkan ketika dirinya mempertanyakan mengenai kehidupan mendiang ayah dan ibu menantunya tersebut.
Jawaban Wisnu akan selalu sama. 'Ayah dan ibu saya sudah meninggal saat saya berusia sembilan tahun.' Titik dan pria itu akan menghindar untuk pembahasan lebih jauh.
”Al, ponsel kamu bunyi terus,“ panggil Yashna begitu keluar dari rumah. Kedatangannya menginterupsi perbincangan mereka berempat yang terjebak kecanggungan.
”Angkat aja nggak apa-apa. Bilang aku lagi sibuk,“ sahut Alan menoleh dengan tatapan malas.
"Oh, ok." Yashna mengangguk kikuk.
”Kamu nggak gabung ngobrol di sini, Yash?“ Setyo yang duduk di seberang Alan pun bersuara. Yashna hanya memberi senyuman rikuh kemudian menggeleng saat Alan memberinya tatapan tajam, tanda peringatan untuk masuk lagi ke dalam rumah.
”Ibuk pengen ketemu sama kamu. Kalau besok bisa?“ tanyanya sanggup membuat Alan terkesiap, darahnya berdesir panas.
”Maksudnya apaan nih!“ Alan bangkit dari kursi hingga suara gaduh pun terdengar. Wisnu buru-buru meraih pundak keponakannya yang terlihat kesal, menahan tubuhnya agar duduk kembali.
”Hush! Apa sih, kamu?“ tanyanya lirih.
Setyo memilih melengos, memandang Yashna ketimbang menjawab pertanyaan penuh kekesalan yang keluar dari pria yang dianggapnya masih bau kencur itu.
Alan mengembus napas, masih menatap tajam ke arah Yashna yang memandangnya tidak nyaman. Beberapa kali ia melihat perempuan itu menundukkan kepala untuk menghindari bersitatap dengannya. Ia benar-benar tidak mengerti apa saja yang telah Yashna dan Setyo lakukan hingga bisa membawa pihak keluarga. Kali ini ia tidak akan kecolongan dalam hal apa pun lagi.
”Wahh, ternyata ini sudah malam. Sebaiknya kita masuk untuk istirahat,“ seloroh pak Ramlan mencoba untuk menurunkan tensi ketegangan. Ia pun memandang semua orang sambil meneguk kopi yang telah dingin lalu merapikan meja disusul Yashna yang segera mengambil nampan dari kursi yang kosong dan bergerak membantu.
”Biar saya saja, Pak,“ usul Yashna segera mengambil alih cangkir yang kotor. Alan pun hanya bisa gantian menatap tajam ke arah Setyo yang tidak bergerak dari tempatnya untuk pulang.
__ADS_1
Alan tidak bicara lagi, pria itu memilih berpamitan dan segera menyusul Yashna masuk ke rumah. Mengikuti langkah perempuan itu hingga mencapai dapur. Tampak sepi karena mungkin Almira, adik, dan ibunya sudah berada di kamarnya masing-masing. Yashna menoleh saat meraih bak cucian dan mulai mengisinya dengan air.
”Kenapa?“ Yashna pun kemudian bertanya untuk memecah kebisuan Alan.
Alan berdiri di sampingnya, tapi tidak berbicara satu patah kata pun. Kalau sedang marah, Yashna seperti sudah hafal bagaimana sikap pria muda itu padanya.
”Kamu nggak ada rencana serius sama dia, 'kan?“ Alan mengembus napas sambil melangkahkan menjauh.
”Dia kok, yang serius. Jangan salah paham.“
”Kamu kayaknya juga mulai terpengaruh sama bualan cowok itu!“
”Sssthh! Kamu kenapa jadi bentak-bentak gitu, sih? Bikin gaduh aja.“ Yashna meletakkan gelas ke dalam rak satu persatu. Ia tidak mau meladeni omelan Alan. Kini ia tidak begitu peduli dengan kekesalan pria itu terhadap hubungan mereka.
Baginya ia cukup bersikap tenang. Siapa yang datang melamar dengan niat baik, ia akan dengan senang hati menerima. Usianya bukan lagi barang mainan yang bisa menunda lagi sesuatu yang semestinya bisa segera dilakukan.
”Kamu besok mau ketemu sama orang tua Setyo?“
”Lah, cuma ketemu. Ada yang salah?“
”Dodol, banget. Kamu kalau nanti ditawari nikah sama Setyo, terus aku bagaimana? Hem!" Alan mengerang kesal sendiri.
”Kamu mikirnya terlalu jauh, deh, Al.“ Yashna menarik napas dalam-dalam. Membasuh tangan kemudian mulai melangkah menjauh.
Kini ia pun sadar bahwa selama ini telah menyebabkan banyak kerenggangan hanya karena merasa kurang dalam segala hal. Menuntut dan tidak pernah merasa cukup.
”Kamu layak dapetin orang yang lebih baik dari aku, Al.“ Yashna kembali berucap penuh ambigu.
”Nggak usah bicara omong kosong! Aku bakal gagalin pernikahan kamu, itu janjiku.“ Alan mengalihkan pandangan arah lain. Wajahnya tampak menegang dengan dengus napas kasar terdengar.
”Jangan kekanakan, deh,“ sahut Yashna ingin tertawa.
”Aku serius. Kamu pikir aku tidak bisa merusak acaramu? Hem? Darah yang mengalir di tubuhku ini darah dingin yang kotor, asal kamu tahu!“ decaknya kesal.
”Aku kira sama kayak aku ... A, B, AB, sama O,“ kilah Yashna tertawa tertahan.
”Ck! Aku lagi nggak mood buat bercanda.“ Alan merebahkan punggungnya di sandaran kursi, memandang langit-langit ruangan dengan dentuman dada penuh rasa sakit.
Yashna menaikan kakinya ke kursi, menjumput makanan ringan dari atas meja dan mulai menyalakan tv. Alan sampai tidak habis pikir dengan sikap santai yang ditunjukkan Yashna malam ini. Ia pun meraih makanan ringan berupa kacang bawang lalu memakannya perlahan.
__ADS_1
”Sekar lucu banget, ya?“ bisik Alan menahan senyuman. ”Imut, lucu ... aku udah bisa gendong juga.“ Alan terkekeh bangga.
Yashna tidak menjawab. Diam menikmati makanan.
”Kita nanti bikin satu yang mirip dia, yuk,“ ujarnya terkekeh lagi. Ia pun menyandarkan kepalanya pada punggung Yasha. Sejenak, memejamkan mata untuk mengusir rasa kesal yang timbul setiap kali bersinggungan dengan dunia Yashna yang baru. Teman-temannya.
”Aku kangen sama yashna yang dulu. Yang nggak suka touring, nggak kumpul komunitas yang anggotanya banyakan laki-laki. Suka Yashna yang ngomel kalau aku main ke luar. Aku ... benci Yashna yang sekarang. Rasanya pingin cekik dia biar tahu kalau aku selalu khawatir hatinya akan merasa baik-baik saja kalau dia nggak lagi sama aku. Aku benci Yashna tiga ratus ribu kali.“
Yashna tidak mengatakan apa pun. Ia berhenti mengunyah, merasakan apa yang dikatakan Alan banyak benarnya. Ia tidak lagi mengenal dirinya yang sekarang. Dulu ia orang yang pesimis yang tidak memiliki keberanian memandang dunia kecuali mencuri, seorang kriminal. Jalan yang baginya paling mudah untuk manusia seperti dirinya.
”Terima kasih untuk semuanya, Al.“
”Tunggu! Ini makasih untuk apa?“ sengaknya menegakkan diri.
Yashna hanya tersenyum, tidak mau menjawab. Ia pun bangkit dari tempatnya kemudian melangkah meninggalkan Alan yang masih terbengong menatap punggungnya.
”Heh! Mau ke mana? Jawab dulu makasih untuk apa?“ Alan ikut bangkit.
”Tidur.“
”Aku ik—“
”Nikahi dulu aku kalau mau ikut,“ goda Yashna seraya tertawa. ”Mau nggak kupeluk sambil tidur?“
”Sial! Awas kamu, ya! Rese banget!“ Alan mengacak rambutnya menahan malu, kemudian hanya bisa melempar sandal ke arah Yashna karena merasa ditertawakan.
Yashna pun masih tertawa sambil menghindar, melenggang memasuki kamar yang sudah dipersiapkan khusus untuk tamu bila berkunjung ke rumah keluarga Almira.
Alan merebahkan diri di kursi sofa depan televisi, mengusap wajahnya sambil tertawa sendiri. Ia tidak menyangka akan jadi segila ini. Membayangkan wanita itu jadi istrinya, alangkah senangnya. Dua orang yang lahir tidak diinginkan dunia? Dia akan memutus rantai sial itu untuk keturunannya kelak.
”Jalurku harus benar,“ bisiknya meyakinkan diri.
****
'Aku tidak pernah lagi membenci hujan meski saat itu aku harus basah karenanya. Aku tidak lagi benci lahir menjadi diriku karena mungkin dengan begini takdirku bisa hidup bersamamu. Kita satu nasib, satu takdir. Mari kita capai kesempurnaan sebagai manusia dengan saling memahami satu sama lain. Dari aku, kamu, menjadi kita.'
(Kalandra Tama)
Mohon dukungannya untuk novel baru Syala 🙏🤗, Cerita Bagus Ahsan dan Jihan Nabila. Klik aja judulnya Behind Closed Doors
__ADS_1
Terima kasih sobat polos oplosan,❤️ Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, Amiin. 🤲