Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 50 Bolehkah Aku Mengenalmu Secara Utuh?


__ADS_3

Almira tersenyum manis memandang punggung suaminya, kecepatan tangannya dalam memotong aneka sayuran membuatnya geleng-geleng kepala. Bukan karena serapi dan sekeren drama dan sinetron akan tetapi lebih seperti seorang pria yang baru pertama kali memasak di dapur.


“Kalau masakanmu rasanya tidak enak, nanti kamu maunya aku panggil apa?” ledek Almira masih memandang suaminya dengan berpangku tangan di meja makan.


“Suamiku,” jawab Wisnu tersenyum sambil menoleh.


Almira menutup bibirnya dengan jemari tangan, saking geli ia ingin tertawa terbahak, memanggil suamiku malah membuatnya sedikit malu.


“Kenapa tertawa? Aku akan panggil kamu 'istriku',” seloroh Wisnu ikut istrinya tertawa juga.


Almira menunduk menyembunyikan wajahnya, dengan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lengannya bertumpu pada meja. Badannya terlihat bergetar karena tertawa.


“Mas Inu lucu,” jawab Almira mendongakkan kepalanya dengan wajah memerah karena terlalu banyak tertawa.


“Aku sexy bukan lucu, memangnya aku Ismed,” sahut Wisnu menahan tawanya masih berkutat pada masakannya.


Almira menggigit bibir bawahnya, menatap Wisnu dari arah meja makan. Pria itu masih sangat misterius baginya, pria yang sampai kini belum juga dikenalnya secara utuh.


Sapa orang ini? Almira sesaat termangu menatapnya.


“Mas,” panggil Almira pelan. Kini pandangannya tak lagi ke arah suaminya. Ia memandang cincin yang tersemat manis di jemari tangannya.


“Hem?”


Wisnu menoleh sesaat, tapi kemudian ia sibuk kembali dengan kegiatan memasaknya, ia memasukkan irisan bawang bombay ke dalam wajan yang sudah ia beri minyak. Mengaduknya pelan hingga memberikan aroma sedap khas bawang goreng yang selalu bisa menggugah seleranya untuk makan.


“Baso dan sayurnya, tolong,” pinta Wisnu menoleh lagi kepada Almira yang masih membisu di tempatnya. Ia sendiri merasa heran, kenapa selalu saja melihat Almira sering melamun.


Wisnu mengambil sendiri bahan masakannya dengan cepat, memasukkan sayuran sawi dan semua bahan yang sudah terlebih dahulu dia persiapkan tadi.


“Kamu melamun lagi?” tegur Wisnu pelan tapi nadanya jelas seperti memprotes kebiasaan Almira yang menurutnya tidak baik.


“Hem?” sahut Almira memandang.


“Melamun terus. Aku sampai penasaran dengan apa yang sedang kamu pikirkan, yang kamu lamunkan. Hal yang sampai begitu menyita pikiranmu,” ucap Wisnu sambil mengaduk masakannya.


Almira hanya menghembus napas dan berdiri. Melangkah mendekati suaminya tanpa menjawab omelan suaminya. Langkahnya berhenti tepat di samping suaminya yang masih sibuk mengaduk masakannya, menjaga agar tidak gosong. Ia ikut mengawasi masakan.


“Tambahkan garam dan lada,” ucap Almira sambil mengambilkan bumbunya.


“Siap, istriku,” jawab Wisnu menampilkan lengkungan bibirnya ke arah Almira. Almira mencibir dalam menanggapinya.


"Gula sama penyedap rasa?" lontar Almira.


"Sipp, Nyonya," sahut Wisnu dengan gayanya.


Almira mau tak mau tersenyum juga melihat gaya suaminya.


“Besok pagi aku akan wawancara ke Hotel dimana Mas Inu juga bekerja di sana. Nanti, kalau ketahuan kita ternyata pasangan menikah dan aku ditolak karena aturan perusahaan bagaimana?” tanya Almira menunduk, ia menyandarkan punggungnya di tembok samping Wisnu berdiri.


“Bukankah kamu hanya harus bertemu dengan Ihsan? Biar dia yang mengurusnya,” sahut Wisnu berlalu dari hadapan Almira, ia mengambil piring untuk menyajikan masakannya yang kini sudah matang.


“Iya, Mas Inu tahu?” tanya Almira mengikuti langkah Wisnu, membuntuti kemana arah suaminya melangkah. Wisnu hanya bisa tersenyum.


“Aku tahu, bukankah kemarin kamu merayuku karena masalah pekerjaan itu?” ledek Wisnu sambil kembali ke arah dapur setelah mengambil dua piring dari dalam rak.


“Tidak! Kapan aku merayumu?” sanggah Almira membelalak mata tidak terima.


“Kamu tidak mengakuinya?” desis Wisnu sambil tangannya mulai menyerok masakan dan memindahkannya di dua piring yang sudah dia persiapkan.

__ADS_1


Almira masih berdiri mengamati apa yang sedang Wisnu lakukan, masakan yang masih dia sangsikan rasanya. Memandang bingung saat Wisnu menyodorkan dua piring itu ke arahnya.


“Apa?” tanya Almira membelalak mata.


“Ambil semua," pinta Wisnu masih menyodorkan kedua tangannya yang membawa piring berisi masakannya di depan wajah Almira.


Almira menghembus napasnya dan mundur selangkah dengan bibir cemberut. Ia mengambil dia piring itu dengan kedua tangannya. Baru ia hendak membalik badannya ke arah meja makan, tapi langkahnya terhenti saat Wisnu menghentikannya dengan satu kaki terangkat dan dia hentakkan ke tembok untuk menghalangi jalan Almira.


“Apa sih? untung tidak tumpah,” desis Almira menatap bingung suaminya.


Wisnu menurunkan kakinya kembali ke lantai sambil menahan tawa, dengan cepat ia mencium pipi Almira sekilas. Kelakuan konyolnya sungguh membuat istrinya menahan napas saking terkejut.


Masih sambil tertawa jahil Wisnu mengambil kembali dua piring yang dibawa Almira dan membawanya ke meja. Ia melelenggang mengabaikan reaksi Almira yang bengong menatap dirinya.


"Sini, ayo kita makan," ajaknya masih menertawai Almira yang masih menatapnya dengan mata mendelik karena lagi-lagi dikerjai. Almira mendekatinya dengan hentakan kakinya memprotes sikap jahil suaminya.


“Aku baca di novel-novel, istri akan semakin sayang dengan suaminya saat mendapatkan ciuman seperti tadi. Sepertinya aku salah mempraktekkannya,” ledek Wisnu lagi semakin membuat Almira menekuk wajahnya karena malu.


“Sok romantis,” ejek Almira balik sambil duduk dan meraih piringnya dari hadapan Wisnu. Padahal jauh di dalam hatinya nyatanya dia merasa senang.


“Tapi sepertinya kamu suka,” balas Wisnu melirik ke arah wajah Almira yang melipat bibirnya menahan senyuman. Bisa dia pastikan istrinya sedang bersikap gengsi mengakui perasaannya.


“Masakannya bentuknya aneh,” lontar Almira mengalihkan topik, ia mengaduk makanannya sambil meraih gelas di sampingnya.


“Yang penting 'kan rasanya,” sahut Wisnu penuh percaya diri.


Wisnu santai sekali dalam menanggapi ocehan Almira. Sambil memandang istri yang duduk berhadapan dengannya, Wisnu mulai memasukkan makanan itu dengan sendok ke dalam mulut dan mengunyahnya perlahan.


Almira memandang perubahan di wajah suaminya. Sambil meneguk air putih ia memandang piring dihadapanya.


“Apa rasanya meracuni lidahmu?” lontar Almira menelan air dengan perasaan ragu.


“Pasti tidak enak,” komentar Almira memandang kembali Wisnu yang berhenti mengunyah juga belum menelan makanannya.


“Kamu cobain, hemm … sumpah, ini enak,” ucapnya sambil mengunyah dan menelan cepat makanannya. Dagunya terangkat menyuruh Almira untuk mencoba.


Almira meletakkan sendoknya dan menggeleng cepat. Ia merasa pasti Wisnu membohongi soal rasa masakannya. Dengan tangan bersedekap di dada ia memandang Wisnu yang terlihat lahap memakan masakan itu.


“Kalau kamu bohong, awas,” ancam Almira bersungut. Perutnya yang memang merasa lapar mau tak mau harus dia isi juga.


“Kalau rasanya tidak enak, kamu bisa meminta apapun dariku. Tapi kalau rasanya enak, aku akan meminta apapun juga, dan kamu harus menurutinya, bagaimana? Kamu berani bertaruh rasa?” tantang Wisnu menegakkan tubuhnya dan bersandar di kursi, memandang perubahan wajah istrinya yang bingung dalam memberikan jawaban atas taruhan yang dia tawarkan.


“Aku … incip sedikit,” balas Almira.


“Tidak bisa,” tolak Wisnu mengibaskan jemari tangan ke arah Almira. "Jangan curang."


Almira memandang penuh selidik, perubahan wajah Wisnu saat memakan masakannya jelas menandakan makanan itu tidak enak, dengan keyakinan itu dia mengangguk setuju.


“Deal, setuju?” tanya Wisnu lagi sambil memiringkan wajahnya disertai sunggingan senyum.


“Setuju, siapa yang takut.”


“Ok! Kalau ini enak. Saat kamu mulai bekerja di restoran Hotel dimana aku bekerja juga, kamu harus menyempatkan waktu untuk menemuiku selama 10 menit, bagaimana?” tawarnya dengan lipatan bibir mencurigakan dimata Almira.


“Asshhh, tidak mau! 10 menit yang membahayakan bagiku,” tolak Almira mengibas tangan.


“Cemen, kamu belum menawarkan keinginanmu kenapa sudah mundur begitu? Payah,” ejek Wisnu memandang remeh Almira.


Almira menghembus napasnya, merasa tertantang juga. Saat pikiran mengenai misteriusnya Wisnu selalu menghantui perasaannya, akhirnya ia memilih menginginkan hal itu sebagai syarat taruhannya.

__ADS_1


Sambil menatap lurus suaminya Almira berucap," Kalau masakanmu tidak enak, bisakah kamu membawaku masuk ke dalam hidupmu?" ucap Almira menatap lurus, pandangannya sangat dalam ke arah manik mata hitam suaminya.


“Memasuki hidupku?” ulang Wisnu belum paham.


“Siapa kamu sebenarnya, hingga aku harus masuk ke dalam hidupmu tanpa mengenal asal usulmu? Apa aku bagimu hingga aku tidak mengenal satu pun dari keluargamu," ucap Almira membuat Wisnu termangu dan menunduk dengan suasana hati sedikit memburuk.


“Kenapa membahas ini,” jawab Wisnu tampak mengepalkan jemari tangannya.


“Ah, aku kecewa. Apa keluargaku begitu buruk di hadapan keluargamu, hingga aku tidak pernah Mas pertemukan dengan keluarga besar Mas Inu?” tanya Almira merasa bingung dengan gelagat aneh suaminya.


"Bukan begitu maksudku, tidak seperti itu," jawab Wisnu menghela napasnya, ia bingung menjelaskannya.


"Lalu apa?" desak Almira menampilkan wajah penasaran.


“Lebih baik kamu kecewa karena aku tidak bisa mempertemukan kalian, daripada kamu merasa kecewa setelah tahu tentang sepak terjang keluargaku di masa lalu," jawab Wisnu menghembus nafas dan mulai menyendok kembali makanannya.


Almira yang merasa kecewa hanya bisa diam. Ia segera memakan masakan suaminya yang sudah mulai dingin. Almira mengunyahnya pelan bersama beberapa pikiran buruk memenuhi kepalanya. Terus saja Almira menyendok makanannya dan memakan sampai habis.


Baginya sifat Wisnu sangat keras kepala, apa yang menjadi prinsipnya akan sulit sekali dia tembus. Dalam diam Almira merasa lelah sendiri.


“Masakanmu enak,” ucap Almira pelan, ia menatap Wisnu dengan menelan sebuah rasa kecewa.


Wajah kesal Almira terpampang nyata bisa Wisnu baca, tapi walau bagaimana pun, Wisnu belum mempunyai keberanian untuk membagi kisah masa lalunya, bahkan ketakutannya bertambah saat Almira mulai mengisi kekosongan hidupnya.


“Terimakasih untuk pengertianmu,” jawab Wisnu memandang Almira ragu.


🍁🍁


Maaf.


Aku belum siap menghadapi cara pandangmu terhadapku.


Bagaimana mungkin aku mengenalkanmu kepada mereka saat aku sendiri ingin menghapus nama itu dari daftar masa laluku?


Berapa banyak rasa sakit harus aku lalui hanya karena menanggung dosa mereka.


Berapa banyak luka yang harus tertoreh dalam ingatan dan menyisa trauma mendalam bagiku.


Aku takut, takut rasa jijikmu kepadaku saat mengetahui asal usulku.


Memandangku dengan sorot mata tak lagi mengagumiku.


Aku mohon jangan kecewa saat aku menolak mengabulkan keinginanmu?


Dalam kesendirian bayangan itu membuatku tercekik.


Aku malu saat menyadari bahwa sampai sekarang pun ikatan darah itu masih saja terus terpaut padahal telah terpisah oleh maut. (Wisnu&Almira)


By. Syala Yaya.


Bersambung


Terimakasih untuk semua dukungannya teman-teman, jujur aku terharu dengan banyaknya like yang aku terima, komentar positif yang masuk memberiku energi untuk menulis, juga banyaknya jumlah Vote yang masuk untuk Wisnu. Ilove you all😍😍😍.


Dukung juga karya sahabatku teman-teman😊😘



Maafkan aku juga bila dalam menyajikan cerita tidak bisa sempurna dan terkesan biasa. Aku berharap kalian masih terus mau mendukung sampai kisah ini tamat.

__ADS_1


Salam tos online dan berjuta terimakasihku untuk sumbangan waktu dari kalian. ~ Syala Yaya🌹🌹


__ADS_2