
Suara senda gurau dari ruang tv masih terdengar menyenangkan. Wisnu memilih untuk berpamitan kembali ke kamarnya. Banyak sekali laporan pekerjaan dari Ihsan yang belum dia baca seharian ini.
“Ra, susul suamimu,” kata Ibu Halimah sambil menepuk pundak anaknya yang masih terkekeh mendengarkan celotehan adeknya yang lucu.
“Iya, Bu?” sahut Almira menoleh menatap ibunya yang nampak memberikan lirikan matanya ke arah Wisnu yang sudah berjalan meninggalkan ruangan tv.
“Suamimu sudah kembali ke kamar, susul sana.”
“Lagian, pengantin baru jam segini belum ke kamar,” goda Ersa sambil terkekeh.
“Bocil jelek tahu apa kamu?!” decak Almira menjewer telinga adiknya.
“Apa sih, aku cuma bilang pe-ngan-tin ba-ru. Idih baperan,” oceh Ersa segera dipeluk ibu Halimah dan mereka tertawa bersama. Memandangi Almira yang mulai menampilkan sisi jengkelnya.
“Pikiranmu itu ngeres tau. Masih bocil juga, dasar!”
“Aah … ibu, Mbak Ira ngatain aku bocil,” rengek Ersa segera dipeluk ibunya masih tertawa.
“Ngumpet di ketek sana,” ledek Almira sambil tertawa gemas mencubit pipi adiknya.
“Sudah sana, mau kita temenin?” goda ibu Halimah diiringi tawa Ersa yang semakin menjadi.
"Jangan, Bu. nanti yang ada kita mengganggu," celoteh Ersa kembali tertawa karena berhasil menggoda kakaknya.
Almira menatap Ersa dengan wajah bersungut sekaligus malu. Segeranmengangguk kepada ibunya dengan batin resah.
Pikirannya menerawang. Apa yang akan dia lakukan di kamar dengan Wisnu? Membayangkan saja dirinya sudah gemetaran. Apa pria itu akan menakutkan seperti malam itu?
Almira bangkit dari kursi dengan helaan napasnya, tanpa memandang anggota keluarganya yang kini sudah merubah topik bahan canda tawa yang lain.
Melewati sekat papan berbahan kayu ukiran dimana di balik sana berjajar barisan kamar yang terdapat juga kamarnya. Dengan langkah pelan dia berjalan hingga mencapai depan pintu dan diam tidak mampu melangkah.
Memandang gagang pintu sejenak dan meraihnya dengan jemari tangannya dengan ragu-ragu dan membukanya perlahan.
Melangkah masuk dengan pelan dan memandang punggung Wisnu yang masih duduk di kursi belajar, terlihat sibuk menatap layar laptopnya. Pria itu menoleh ke arahnya sejenak lalu kembali berkutat dengan ponsel dan laptopnya kembali.
“Sudah selesai?” tanyanya kepada Almira singkat tanpa menoleh.
“Ehm,” jawab Almira tak kalah singkat. Tidak mengerti maksud dari selesai.
Merasa diacuhkan, Almira segera berjalan ke arah tempat tidurnya dan duduk di sana, menarik ponsel dari atas bantal dan mulai mengecek ponselnya. Beberapa pesan grup dan teman-temannya masuk.
“Sudah mau tidur?” tanya Wisnu lagi memutar kursi dan menghadap ke arah Almira yang menahan tawanya saat membalas pesan yang masuk.
“Kenapa?” tanya Almira masih asik mengetik ponselnya tanpa menoleh.
“Tidak, aku kira kita akan ada acara saling mengenal satu sama lain sebelum tidur,” ucap Wisnu membuat Almira menoleh dengan bulatan mata bingung.
“Apa maksudnya? Jangan ngaco ah.”
“Siapa yang ngaco?” balas Wisnu mematikan layar ponselnya dan meraih ponsel dari atas meja. Membawanya serta saat berdiri dan berjalan mendekati tempat tidur dimana Almira memandangnya dengan guratan wajah takut sekaligus gelisah.
Wisnu merasa gelagat Almira yang tidak nyaman segera berhenti berjalan, wajah Almira langsung terbayang jelas di pelupuk matanya malam kelam itu.
Wisnu membuang muka dengan jemari menggenggam erat ponsel di tangannya. Helaan napasnya terdengar kasar.
“Aku minta maaf kalau aku sudah membuatmu tidak nyaman,” ucap Wisnu kemudian memutar tubuhnya mengalihkan pandangannya.
Raut wajah ketakutan dari Almira begitu mengganggu pikirannya. Wisnu merasa sama brengseknya dengan kelakuan kakaknya Aswa Tama. Membuat seorang wanita dilanda kecemasan dan kepanikan saat berhadapan dengannya.
Wisnu juga mengingat kecemasan Isna saat menghadapi pelik hidupnya saat berurusan dengan kakaknya Aswa Tama juga pria yang kini menjadi suaminya yaitu Krisna. Wisnu merasa sangat frustasi menghadapi jalan hidupnya sendiri.
“Apa kamu butuh dokter?” tanya Wisnu dengan batinnya yang sesak, menyadari satu hal pasti bahwa wanita yang kini sudah jadi istrinya itu menderita trauma akibat ulahnya malam itu.
“Dokter? Untuk apa?” tanya Almira mulai mencoba mengatasi kepanikan dan kecemasannya.
“Kenapa kalau kamu menderita seperti ini tapi tidak pernah bilang padaku!” bentak Wisnu membuat Almira berjingkat dan beringsut mundur.
Wisnu menoleh ke arah Almira dengan mata memerah menahan diri. Almira hanya bisa memandang tanpa bisa menjawab. Dia hanya bisa meraih sprei dan meremasnya kuat-kuat.
“Seberapa terluka kamu? Seberapa dalam?” tanya Wisnu dengan suara sudah mulai merendah. “Seharusnya kamu laporkan aku ke polisi, seret aku ke penjara saat itu. Kenapa … kenapa kamu membiarkan aku seolah menjadi pria brengsek? Kenapa kamu tiba-tiba memilih pulang padahal jelas, kelakuanku menghancurkan hidupmu?” Wisnu melangkahkan kakinya mendekat.
Almira tidak menjawab dan semakin diam membisu dengan tubuh kaku memandang ke arah lantai.
“Andai … andai saja kau melaporkanku ke polisi atau membiarkan aku mati malam itu, kamu tidak akan terjebak denganku seperti ini.”
__ADS_1
Wisnu duduk membelakangi Almira yang masih terdiam. Wisnu hanya bisa mengusap wajahnya, mengurangi ketegangan yang hampir meledak, menginginkan jawaban.
“Aku akan membawamu ke rumahku besok, tenanglah. Kamu tidak perlu berpura-pura baik-baik saja lagi.”
“Kamu janji, akan memberiku status istri tapi tanpa menyentuhku 'kan?” tanya Almira meyakinkan.
“Tidak kalau kamu yang meminta hakmu, selagi kamu tidak meminta aku tidak akan menyentuhmu,” jawab Wisnu menunduk dengan napasnya menahan rasa kecewa.
“Aku tidak bisa, dan mungkin tidak akan bisa,” jawan Almira lirih.
“Bagaimana caraku membantumu mengatasi traumamu?” tanya Wisnu dengan suara lemah, dirinya menoleh ke arah Almira dengan wajah penuh simpati dan bingung dengan langkah yang harus dia ambil.
“Tidak ada, aku bisa mengatasi sendiri.”
“Sini, mendekatlah … trauma itu diatasi dengan menghadapinya bukan menghindarinya,” lontar Wisnu menepuk sisi sampingnya dengan wajah serius.
Almira hanya memandang Wisnu dengan gelengan kepalanya tanda menolak, dirinya terlalu cemas. Pandangannya lurus ke arah telapak tangan Wisnu yang beberapa kali menepuk kasur di sisi kirinya. Memintanya mendekat.
“Almira,” panggil Wisnu dengan suara menuntut. “Sini,” ucapnya sambil memberi isyarat dengan dagunya agar Almira mendekat.
“Tidak mau,” tolak Almira menggeleng.
“Almira,” panggil Wisnu masih dengan suara seriusnya menandakan tidak mau ditolak dan dibantah. “Ck!”
“Aku bilang tidak mau, ya tidak mau,” tolak Almira lagi memberengut kesal.
“Atau, kamu pilih menjelaskan ... kenapa di buku album koleksimu ada banyak sekali fotoku yang kau ambil dan kau simpan tanpa ijinku?” ungkap Wisnu dengan senyuman seringai yang menakutkan Almira.
“Apa? Mana … tidak ada fotomu,” bantah Almira mendekat.
“Mau aku buktikan kalau kamu mencuri-curi fotoku?” tantang Wisnu hendak bangkit dari duduknya.
“Tidak ada!” seru Almira beringsut dari atas kasur dan menarik tangan Wisnu agar berhenti.
Dia tahu, pasti Wisnu bakal mengubrak abrik deretan koleksi albumnya. Dengan cepat dia raih tangan itu hingga langkah Wisnu terhenti seketika.
“Apa sih? Tidak ada fotomu, kamu salah lihat,” bantah Almira lagi menarik lengan Wisnu agar menghentikan niatnya menuju meja belajar.
“Tidak mau mengaku,” tuntut Wisnu menampilkan senyumannya.
“Apanya yang mengaku?” desis Almira mencibir.
“Mau apa?” decak Almira melihat Wisnu sudah kembali ke atas tempat tidur dan meraih tangannya. “Eih … mau apa! aku tidak mau mengaku.”
Dengan cepat Wisnu sudah mengusai tubuh Almira dan tertawa karena berhasil menggodanya. Menatap dalam kerjapan mata Almira yang berangsur berubah menjadi kecemasan, Wisnu kembali merasakan gemetaran tangan Almira dibawah genggaman tangannya. Wisnu menghela napasnya saat memandang.
“Apa … seberat ini kamu melaluinya?” tanya Wisnu dengan suara tercekat lirih, tatapannya masih ke arah Almira dibawah kungkungannya.
Almira mengangguk pelan dengan deru napasnya terkena serangan kecemasan, hingga keringatnya terlihat mulai terlihat didahinya.
“Apa hampir setiap hari?” tanya Wisnu lagi merasa sangat bersalah.
“I-iya,” jawab Almira mengangguk, kini wajahnya melengos menghindari tatapan mata Wisnu. Air matanya meleleh seketika.
“Tarik napas dalam … dan hembuskan perlahan,” pinta Wisnu mencoba menenangkan istrinya. “Ira,” panggil Wisnu lembut.
Almira kembali menoleh dengan isakan tangis lirih. Wisnu masih berusaha menenangkan Almira dari kecemasan yang melandanya.
“Tatap aku, Ira. Lihat … aku suamimu, aku bukan si rese itu lagi. Hem?”
“Kamu masih si rese,” ucap Almira masih terisak.
“Bukan, aku Wisnu. Ayo lupakan malam itu. Kamu bisa, ya?”
Almira menggeleng pelan, merasakan tangan Wisnu membelai rambut dan keningnya. Entah mengapa perlahan-lahan gemetar di tubuhnya berangsur hilang dan berubah tenang. Gadis itu menatap Wisnu saat memberikan senyuman dengan sorot mata yang teduh ke arahnya.
“Kamu sudah merasa tenang?” tanya Wisnu dengan suara lembutnya, pandangannya masih dalam ke arah Almira.
“Jawab, Ira,” pinta Wisnu ingin sebuah keyakinan.
“Ehm,” jawab Almira mengangguk canggung.
“Baiklah … kamu gadis baik dan pintar.”
Wisnu memperbaiki posisi nyamannya, masih mengungkung tubuh Almira di bawahnya, dia bisa merasakan bahwa tubuhnya sangat nyaman memeluk tubuh gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
__ADS_1
“Minggirlah … tubuhmu sangat berat,” ronta Almira mendorong dada Wisnu agar menjauh.
“Beri aku hadiah dulu,” goda Wisnu menampilkan sisi isengnya lagi.
“Hadiah? Apa sih … bisa minggir cepat?” tolak Almira mencoba mendorong tubuh Wisnu dan mencoba melepaskan diri.
“Perjanjiannya apa?” lontar Wisnu mengingatkan kembali Almira.
“Apa? Perjanjian apa,” sahut Almira membulatkan kedua bola matanya.
“Tidak ada larangan berciuman 'kan?” terang Wisnu semakin tertawa melihat Almira yang terkejut. “Kita bisa berbuat apa saja kalau kamu mengijinkan.”
Wisnu merasa bahwa istrinya ini tidak begitu membencinya, apa yang ada keluar dari mulutnya hanya bentuk kekesalan yang dangkal, Wisnu membuktikan dengan cara ini. Tidak ada penolakan berarti dari gadis dibawah kuasanya ini.
“Cium aku,” perintah Wisnu dengan wajah serius.
“Astaga, aku tidak mau,” tolak Almira menggeleng.
“Istri durhaka,” celoteh Wisnu hendak beranjak bangkit. "Baru sehari susah durhaka, dosanya banyak lho," tambah Wisnu mengamati ekspresi Almira yang berubah seperti terhempas perasaannya.
“Cuma ciuman?” ucap Almira kemudian. Betapa dirinya sangat takut saat ucapan menyangkut statusnya dihadapan Tuhan harus terlontar dari suaminya.
“Hanya ciuman,” tegas Wisnu kembali menoleh senang.
Almira menghembuskan napasnya, menatap malu ke arah suaminya itu yang sudah tersenyum cerah memandangnya. Meraih kembali tubuhnya dalam kendali. Almira hanya bisa menunggu dengan jantung berdebar.
“Cuma ciuman lho,” ucapnya lagi menegaskan.
“Iya, Ya Allah. Memangnya mau apa selain ciuman?” lontar Wisnu berhasil menggoda lagi Almira.
“Terus kenapa lama sekali?” desis Almira sudah merasa sesak terhimpit.
“Masa lama?” ledek Wisnu mendekatkan wajahnya, memandang bibir yang sejak tadi mengganggu pikirannya. "Istriku sepertinya sudah tidak sabar, ya?" lontar Wisnu membuat Almira memejamkan matanya karena merasa sangat malu dan tidak siap.
Cup
Wisnu mengecup kening Almira dan memberikan senyuman hangatnya, memandang raut wajah kaget Almira yang segera membuka matanya memandangnya. Wisnu mengusap kening istrinya seraya beringsut bangkit dan merebahkan dirinya disamping Almira. Melepaskan kungkungannya.
Almira masih bengong dengan kerjapan matanya. Seolah tidak percaya dengan yang dilakukan Wisnu padanya. Hanya ciuman kening? Almira merasa Wisnu sangat menghormatinya. Almira menelan salivanya dan begitu bingung harus memberi reaksi apa terhadap suaminya itu.
Hati Almira mendadak menjadi tenang.
“Ajari aku menghafal do'a sebelum tidur,” ucap Wisnu menoleh ke arah Almira yang masih bengong menatapnya dengan canggung.
“Ira istri cantikku, halo ... bisa mendengar suaraku?” panggil Wisnu membuat Almira gelagapan.
“Eh … iya, do'a mau tidur ya?” sahut Almira beringsut mengubah posisi tidurnya dengan canggung.
“Do'a tidur dan bacaan ayat kursi,” jawab Wisnu menyamankan tubuhnya sambil meraih bantal dan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Almira.
“Baiklah … Alfatihah kamu sudah hafal?” tanya Almira mulai bisa nyaman mengobrol dengan suaminya.
Apa yang baru saja Wisnu lakukan seakan merubah pandangannya terhadap Wisnu yang tidak mengancam dirinya malam ini.
“Kamu dengarkan ya, kalau salah nanti kamu benarkan,” pinta Wisnu bersemangat.
“Baiklah,” balas Almira ikut mengangguk bersemangat.
***
Ku coba kenalkan hatiku lewat perhatianku.
Memberimu kenyamanan lewat kasih sayangku.
Memberimu rasa aman dengan perlindunganku.
Saat semua rasa cinta sudah aku curahkan untukmu.
Terimalah pengenalan rasa ini agar hati kita segera bisa bersatu. (Wisnu-Almira)
Bersambung …
Terimakasih ya masih mengikuti kisah Wisnu semoga menginspirasi dan suka dengan konflik ringannya.
Terimakasih juga untuk dukungan like, komen juga vote yang luar biasa dari kalian.
__ADS_1
Aku update dobel yaa …
Salam persahabatan dariku ~ Syala Yaya🌷🌷