Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 95 Pertemuan Bagian Dari Jodoh


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Terkadang kita melupakan makna sebuah pertemuan. Jodoh adalah bagian dari pertemuan itu sendiri meski tidak mutlak untuk selamanya. Yashna percaya bahwa apa yang dilaluinya pasti akan berhenti pada muaranya, yaitu jodoh.


Perempuan itu kini telah berusia dua puluh delapan tahun. Sangat sadar bahwa usianya saat ini sudah bukan muda lagi. Mungkin saja ketika masih berada di Australia ia masih dianggap wanita muda beranjak dewasa, tetapi saat menginjakkan kakinya ke Indonesia kembali, usia itu lagi-lagi menjadi bagian dari kelemahannya.


“Mbak Yashna belum nikah-nikah apa karena udah nggak laku?”


Sebuah pertanyaan. Ah, bukan. Yashna menyebutnya sebagai serangan frontal tidak berakhlak. Ia pun hanya tersenyum, tidak memiliki niatan untuk beralasan. Baginya menikah itu pilihan hidup dan bukan sebagai tujuan hidup.


Bisa saja Tuhan tidak memberinya jodoh seorang suami melainkan sahabat saja. Ia pun akan menerimanya. Ketika nanti dia mati, ia sendirian, tidak mengajak serta jodohnya. Jadi, ia cukup tenang dalam menanggapi selentingan orang yang mengecap dirinya dengan sudut pandang negatif.


Beberapa hari ini setelah kunjungan ke rumah Wisnu, Alan tidak lagi menemuinya. Keputusannya untuk meminta break sejenak akhirnya disetujui pria muda itu, tetapi dengan syarat Yashna tidak akan menghindarinya lagi.


“Aku mohon jangan kabur.”


Hanya itu pesannya. Tidak ada kalimat lain yang manis atau pun putus asa. Ia tahu, keputusan untuk rehat sejenak tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, setidaknya ia kini sedang mencoba untuk menata kembali perasaan setelah selama dua tahun ini bagaikan naik rollercoaster.


Kegiatan Yashna pagi ini mengunjugi anak-anak penderita kanker di sebuah yayasan peduli kanker. Karena seringnya mengikuti kegiatan sosial kini membuatnya paham, hidup tidak melulu berisi pacaran, shoping, selfi, dan main jalan-jalan. Ada seseorang yang sedang berjuang untuk tetap sembuh meski harapan terkadang tidak sejalan dengan kenyataan. Saat hari ini masih bisa bertemu dan tertawa bersama, saling menyemangati, ternyata besoknya ia telah tiada.


Bersyukur, ia tidak henti-hentinya mengucap syukur terhadap jalan hidupnya.


“Cowok ganteng itu nggak dateng?” tanya Aris yang sejak beberapa hari ini tidak lagi melihat Alan menyusul ke dalam kegiatan Yashna.


“Dia sibuk,” jawab Yashna menoleh lalu kembali mengamati interaksi anak-anak yang sedang berada di taman sebuah rumah sakit yang khusus untuk merawat pasien penderita kanker.


“Kalian ada masalah?”


“Sudah nggak,” sahut Yashna pelan.


“Kalian putus!” pekik Aris tidak percaya.


“Aku minta break sejenak. Ya, kalau jodoh tidak akan kemana-mana,” tegas Yashna diberi anggukan kepala Aris.


“Oh, benar juga.


Yashna dan Aris saling membisu setelah itu. Mereka masuk dalam lamunan masing-masing.


****


Cuaca sore ini mendung. Sudah semingu ini Alan bolak balik ke kantor notaris. Ia kini sedang mengupayakan pengalihan nama dibantu pengacara dan juga perusahaan. Waktunya terkuras habis, ia cukup bersyukur karena hal tersebut membuatnya bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Yashna.


“Al, kamu nggak bisa, ya, alihin mata kamu buat lihat aku sebentar saja? Nggak takut itu kornea sama pupil mata kamu kesleo gara-gara seharian cuman mantengin layar monitor sama main game!”


Alan merebahkan tubuhnya ke atas kasur dengan bibir tersenyum, ia mengingat bagaimana dulu Yashna bahkan sampai meminta waktu sejenak agar dirinya menatap wanita itu. Saat itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.


“Minggu ini ada film bagus, gala premier loh. Kamu bisa temenin aku?” pinta Yashna saat itu. Ia tidak memiliki teman, Alan membatasi pergaulannya selain karena ia tidak fasih berbahasa ingris.


“Aku udah janji sama temen. Kuota terbatas. Gimana dong,” sahut Alan saat itu.


“Oh, ya udah. Aku temenin bunda di rumah aja. Nonton kapan-kapan aja kalau kamu senggang,” ucap Yashna memaksakan senyuman.


“Jangan marah, ya? Udah janji jadi nggak enak sama temen. Nanti aku ajakin kamu setelah itu, ok, Yashna Sayang?” ucap Alan mengecup kening Yashna.


“Ya, udah, aku nggak apa-apa. Terusin itu kegiatan kamu.”


Yashna saat itu menelan kekecewaan dalam hati. Ia dewasa, bukan anak-anak, seharusnya ia tak harus marah, bukan?


“Jangan marah, ya. Love you.”


Menyesal? Tentu, selama dua tahun ini ia terlena. Melupakan bahwa cinta harus terus dipupuk. Tidak peduli seberapa besar rasa itu, bila tidak diungkapkan dengan bahasa perhatian, maka akan musnah juga tertelan waktu.


Alan masih labil. Ia mengira hanya dengan mengucap kata cinta maka bagi wanita sudah cukup. Ia salah, ia salah, dan merasa sangat bersalah. Bayangan Yashna selama berada di Australia kini memutar di otaknya.


“Yashna, kamu di mana?” Alan menanyakan keberadaan wanita yang masih bertahta dalam hati setelah lima kali mencoba untuk menghubunginya.


“Di jalan, kenapa?” jawab Yashna dari saluran telepon.


Alan bisa memastikan Yashna tidak sedang berbohong. Suara ramainya kendaraan terdengar dari sana.


“Pulang jam?”


Ia tidak lagi memiliki hak untuk marah. Posisinya bukan siapa-siapa lagi setelah akan menjalani break selama dua bulan ini.


“Kenapa?”

__ADS_1


Alan menarik napas dalam. Kali ini ia pun bergerak dari atas tempat tidur dan berjalan untuk meraih kaos dari dalam lemari.


“Kenapa pertanyaan dibalas pertanyaan? Yang jawab nanti siapa?” gerutu Alan kini mulai melepaskan kemeja putih kantor dan mengganti dengan kaos.


Tidak mandi? No, ia sudah terlalu merindukan Yashna dan tidak mau lagi menunda.


“Kamu juga sepertinya baru pulang kantor.” Yashna hanya menebak.


Sebenarnya Yashna masih berada di dekat kosan, ia sengaja duduk di HIK, atau warung tenda yang sering menjual aneka jenis gorengan beserta nasi bungkus juga minuman. Lalu-lalang kendaraan ramai seperti biasa.


“Iya,” jawab Alan menghentikan upayanya mengenakan kaos hanya dengan satu tangan. Ia menunggu ucapan Yashna setelah ini.


“Jangan menemuiku kalau kamu tidak mandi dan wajahmu kusut!” pinta Yashna ketus.


Alan terpaku sejenak, ia pun menyunggingkan senyuman. Ia tidak menyangka Yashna akan menebak apa yang akan dia lakukan.


“Siapa yang tidak mandi?”


“Biasanya begitu!" Masih dengan suara ketus Yashna menjawab.


”Makasih, ya. Masih inget aku yang mblawus itu,“ seloroh Alan duduk lagi di ranjang, ia melepas kembali kaos yang hendak dikenakannya untuk mandi.


“Dah, ya. Aku lagi di jalan soalnya.” Yashna segera menutup panggilan, tanpa menunggu sahutan darinya sama sekali.


Setelah menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Yashna, mengusap dengan jempolnya sejenak, Alan segera ke kamar mandi dan bergegas ke indekos Yashna. Ia sangat merindukannya.


Ia berencana untuk mencari kos yang ada di sekitar Yashna. Sebenarnya ia tidak terbiasa jauh dari perempuan pemilik lesung pipit yang akan memaksakan senyumannya meski hatinya sedang kecewa dan marah sekalipun.


“Aku harus dapetin maaf dan hati kamu lagi, Yash. Bagaimanapun caranya akan kutempuh meskipun saat itu aku seperti ngemis sama kamu. Ternyata, rasanya kebodohanku sendiri yang membuat kamu jadi begini,” gumam Alan sambil berjalan keluar dari kamar Hotel tempatnya menginap untuk menemui Yashna.


Sepanjang perjalanan ia memikirkan kuatnya kesabaran wanita itu menghadapinya. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Ingin rasanya ia memeluk dan meminta maaf berkali-kali, tetapi sepertinya Yashna hanya akan mencibirnya. Ia harus membuktikan dengan tindakan, bukan bualan di mulut saja.


Alan tiba di Indekos Yashna dengan keadaan kamar wanitanya kosong. Penghuni yang lain mengatakan demikian. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, ponsel Yashna sejak sejam yang lalu terus sibuk saat dihubungi.


“Ujianku harus lulus,” gumam Alan mengesah kasar. Ia duduk di kursi yang telah disediakan di teras depan.


Sambil menepuk beberapa kali nyamuk yang singgah mampir untuk mengabsen kulitnya yang bersih dan mulus Alan memejamkan mata. Ia akan menunggu sampai Yashna pulang.


Suara tawa yang terdengar mendekat akhirnya membuat Alan yakin, suara itu milik wanita yang ditunggunya selama satu jam ini. Mereka pun saling berpandangan sejenak kemudian berubah menjadi canggung.


“Aku tutup dulu, ya, Bang. Ini ada temenku main,” ucap Yashna pada seseorang yang sedang berada dalam percakapan di telepon.


“Kamu baru pulang?” tanya Alan sambil terus mengamati Yashna yang duduk di seberang meja.


“Cuma nongkrong di depan itu, lho. Ada apa ke sini?” tanya Yashna meletakan ponselnya ke atas meja.


Alan melirik sejenak, foto profil telah berganti menjadi foto Yashna bersama anak sanggar tari. Hatinya cukup lega saat Yashna tidak memasang foto laki-laki lain untuk menggantikan fotonya.


“Aku kangen,” jawab Alan jujur. Ungkapan dari dasar hatinya. Biasanya ia hanya akan mengucapkan kata cinta dan rindu seringan gula-gula. Kini ucapannya jauh dari lubuk hati dan rasanya meledak ingin segera memeluk, mencium perempuan itu untuk meleburkan apa yang tengah dirasakannya. Namun, tidak bisa lagi. Ia sangat menyesal, Yashna selama dua bulan ini hanya sahabatnya saja.


“Kamu udah makan?” tanya Alan ketika Yashna tidak menanggapi ucapan rindu itu. Ia tahu, mungkin saja Yashna telah muak dengan seringnya ucapan cinta dan rindu di mulut saja, nyatanya memerhatikannya saja tidak pernah.


“Sudah, tadi di HIK depan,” jawab Yashna masih mempertahankan wajah datarnya.


“Besok, aku free. Semua urusan perusahaan sudah kelar. Aku bakal mulai belajar dibantu tim kerjaku akan menduduki jabatan di sana,” ungkap Alan segera diberi anggukan kepala Yashna.


“Selamat, ya. Semoga sukses dengan karir dan hidup kamu.”


“Besok, ada acara nggak, kita jalan?” tanya Alan menatap Yashna penuh harap.


“Wah, nggak bisa, Al. Aku udah ada janji sama anak-anak sanggar,” jawab Yashna menampilkan wajah simpati.


“Nggak bisa dibatalin? Bukannya kamu tiap hari ke sana?”


“Nggak enak, sih. Tahu sendiri 'kan rasanya kayak gimana kalau membatalkan janji sama temen? Kamu pasti juga nggak akan batalin janji temen buat menepati janji baru meski itu dengan pacar kamu sekalipun 'kan? Maaf ya, mungkin the next time,” jawab Yashna menusuk perasaan Alan.


Darah pria itu berdesir hebat. Merasakan tercabik-cabik oleh kalimat sederhana yang kini berbalik sendiri padanya. Ia menundukkan kepala, menyembunyikan wajah memerah agar Yashna tidak melihatnya.


“Jangan marah, ya? Sahabat yang baik pasti memaklumi 'kan?” kilah Yashna sama persis dengan senjata yang ia berikan saat Yashna kecewa dengan sikapnya yang mementingkan teman.


“Iya, janji kapan-kapan kita jalan lagi?” tanya Alan mengepalkan jemari kuat-kuat saat mengatakannya.


“Janji, deh.” Yashna memberikan senyuman manisnya saat mengucap.


“Tuhan, kenapa begitu berat menahan kesabaran? Kenapa aku harus menjalani ini agar bisa bersama dengan wanita yang aku cintai? Aku ingin kembali ke masa itu, akan kuubah kelakuanku padanya. Tuhan, aku harus apa?” batin Alan masih memandang dalam Yashna yang kini mengalihkan pandangannya ke arah depan. Pagar biru yang di bagian luarnya sudah sepi.

__ADS_1


“Kamu nggak pulang? Jam berkunjung hanya sampai jam sembilan,” ucap Yashna menundukkan kepala. Sebenarnya ia tidak ingin mengusir Alan, hanya saja memang peraturan seperti itu.


“Aku lulus wisuda dua bulan lagi, Yashna. Setelah itu kita rencanakan pernikahan kita, ya?” ungkap Alan membuat Yashna kaget, ia menelan ludah karena gugup begitu membalas tatapan Alan yang tidak seperti biasanya. Untuk mengatasi rasa kagetnya ia pun kemudian tertawa hambar.


“Cepat pulang. Kamu jangan ngomongin nikah saat kita break kayak gini, Al. Kita sedang menata hati, nggak boleh kayak gini,” kilah Yashna melengos.


“Ok, aku tunggu dua bulan ini jawaban kamu, ini akan berlaku selamanya. Aku bakal tetap ada buat kamu, dan aku harap sebelum kasih jawaban, kamu mikir ini dengan lebih bijak,” ucap Alan semakin membuat Yashna tertawa.


“Kamu tadi makan apa sebelum ke sini. Pulang sana, gih. Udah malam.”


Yashna beranjak dari kursi. Ia menghampiri Alan untuk menarik lengannya agar ikut berdiri dan pergi dari sana.


Letak kos yang berada di paling ujung memang terasa sangat sepi saat malam hari. Bahkan kamarnya hanya disewa tiga penghuni saja. Yashna tidak mau suara mereka menggangu.


Alan pun dengan perasaan kecewa menuruti Yashna untuk berdiri. Berjalan terseret langkah Yashna di depannya. Tanpa pikir panjang pria itu menarik kembali tangan Yashna hingga terpaksa menghentikan langkah. Tanpa memberi peringatan pria itu memeluk tubuh wanita yang dicintainya dengan penuh kerinduan bercampur rasa bersalah.


“Akan kubuktikan kalau aku layak mendapatkan maaf dari kamu, Yashna. Beri aku kesempatan, please. Kamu boleh marah, balas apa pun ke aku dan bakal aku terima. Tapi aku mohon, jangan pernah alihin hati kamu untuk pria lain, Yashna, please ... aku nggak tahan buat mukulin orang itu kalau sampai kamu izinin dia dekat sama kamu,” bisik Alan tepat di telinga Yashna.


Yahsna bergeming. Ia pun merasakan kerinduan yang sama. Namun, rasanya ia lelah.


“Apa rasanya sakit?” tanya Yashna dengan suara pelan.


“Sangat, dan aku mohon, maafin kebodohanku saat itu. Aku ....”


“Bagus, kalau kamu juga merasakan sakit. Bukankah kita impas,” lontar Yashna membuat pria itu melepaskan pelukannya dan menatap dalam Yashna.


“Apa kamu bakal nyiksa aku kayak gini selama dua bulan?” tanyanya kesal.


“Lulus tidaknya ada pada dirimu sendiri.”


“Lulus yang seperti apa?” tanya Alan bingung.


“Pulanglah. Pelukan ini yang terakhir kalinya, jangan melakukannya lagi. Standar persahabatan kita berbeda memang, Alan. Kamu peluk siapa aja yang kamu mau,” lontar Yashna melepaskan diri.


“Nggak akan. Selamanya yang aku peluk cuma kamu, aku janji.”


“Janji?” ulang Yashna sembari tertawa, ia pun berjalan mendekati pintu pagar agar Alan segera pergi. “Aku udah bosan sama janji kamu. Ok, sana pergi sebelum diusir warga,” tambah Yashna berdiri di sisi pintu yang terbuka.


“Aku pulang, ya.”


“Hati-hati.”


“Kamu nggak kasih kiss goodnight dulu,” ucap Alan menampilkan senyuman iseng.


“Kalau kamu berhasil lulus dan aku terima lamaran kamu, jangankan kiss goodnight, setelah nikah nanti kiss allnight aja aku kasih. Udah sana, pergi!” usir Yashna seraya mendorong tubuh Alan keluar pagar. Ia pun segera menutup tidak lupa menggembok setelahnya.


Ia berjalan meninggalkan Alan dan masuk ke kamar tanpa memedulikan kalau laki-laki itu menunggunya masuk baru terdengar suara mobilnya menjauh.


“Harus kulakukan ini, Alan. Atau selamanya kamu akan bertindak seenaknya sama hubungan kita.” Yashna duduk di kasur seraya meletakan jemari tangannya ke dada. Jantungnya berdebar kencang.


“Kamu harus beri dia pelajaran, Kak Yashna. Biar dia cemburu, panas, dan sakit hati agar dia sadar diri kalau kamu begitu berarti banget buat dia,” ucap Almira saat itu padanya. Almira mendukungnya break sementara dengan Alan.


“Haruskah?”


“Iya, dong. Aku tahu, kok. Alan itu cinta mati sama Kakak, cuma dia ini terlalu supel sama orang, dan itu bagi aku ya nggak banget,” tambah Almira menepuk pundak Yashna.


“Makasih, ya, Ira,” ungkap Yashna tersenyum.


“Tenang, kita 'kan saudara. Aku berharap Alan itu jodoh kamu. Akan sangat menyenangkan kalau kita jadi saudara.”


“Padahal aku dulu ada rasa lho sama Wisnu,” godanya membuat Almira memanyunkan bibirnya.


“Yang penting 'kan, Mas Inu ada rasanya cuma sama aku,” balasnya perempuan itu sambil nyengir.


“Sumpah! Kepedean banget!” rutuk Yashna sama-sama tertawa bersama Almira.


“Kamu nggak tahu 'kan perjuangan Mas Inu buat dapetin kepercayaan dan cinta aku agar nerima dia jadi suami aku?” ucap Almira pamer.


“Dia kena karma! Kapok, dia dapetin itu dari kamu ternyata! Huh!" desis Yashna merasa puas.


Almira pun mendorong pundak Yashna seraya tertawa terpingkal-pingkal.


*****


'Jangan mengharap menuai kebaikan saat yang kautanam benih kepedihan. Jagalah hatimu, maka orang itu akan menjaga juga hatimu.'

__ADS_1


-Syala Yaya-


#Tahukah kamu ~ Organ Hati/ Liver diciptakan Allah dengan sangat unik, bahkan hanya dengan mendonorkan sepotong saja ia mampu bertahan dan menyembuhkan diri. Namun, saat organ hati terasa sakit, saat kauperiksakan ternyata keadaanya bisa sudah parah dan hampir tidak berfungsi.


__ADS_2