
Extra part semoga Mas Inu Lovers suka 😍
🌻🌻🌻🌻🌻
Wisnu mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya di lantai depan pintu kamar. Beberapa kali pula ia menoleh ke arah Almira yang sibuk memilih pakaian yang akan dikenakannya pagi ini. Lebih dari lima belas menit istrinya itu berdandan, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda selesai. Pria yang sudah mengganti kembali pakaian kerjanya itu hanya bisa sesekali menghela napas.
"Bagusan yang tadi, apa ini?" tanya Almira ragu dengan penampilannya.
"Yang itu," jawab Wisnu sambil melirik ponsel yang bergetar, Ihsan sudah memberinya jadwal agar tidak terlambat karena ada meeting dengan beberapa partnership hotel miliknya.
"Tapi bukankah yang ini terlalu mencolok, untuk istri pemilik hotel?" keluhnya cemberut.
"Bebas, siapa pula yang akan berani mengritikmu, Sayang," jawab Wisnu sembari sibuk membalas pesan dari Ihsan.
Tampak Almira menghela napas, memutar badan ke arah Wisnu yang sama sekali tidak menatapnya, melainkan sibuk memainkan ponsel di tangannya. Dengan wajah bersungut ia segera melemparkan pakaian yang tercampakkan di ujung kasur ke arah suaminya itu dengan kekesalan menggunung.
"Eits!" pekik Wisnu terkejut.
"Mana ada komentar, tapi nggak lihat?!" ketus Almira berucap.
Wanita itu segera duduk berjongkok dengan perasaan sakit hati hingga membuatnya menangis di samping tempat tidur. Wisnu harus menarik napas dalam-dalam agar tetap waras menghadapi sifat aneh yang ditunjukkan istrinya sejak hamil.
"Kamu itu mau pakai baju warna apa pun tetap terlihat sangat cantik, Dek Ira. Istri mas Inu tercinta, terkasih, tersegalanya," rayu Wisnu sembari berjalan mendekat.
"Bohong!"
"Sumpah, nggak bohong. Tandanya mas Inu nggak bosen lihat Ira setiap waktu," ungkap Wisnu lagi ikut berjongkok seraya meraih pundak istrinya.
Diraihnya pipi menunduk itu dengan kedua tangannya. Memberikan senyuman seraya mengusap air mata dan rambut yang menutupi wajahnya. Pandangan mereka beradu, saling menelisik ke dalam perasaan masing-masing hingga setelah tidak lagi menemukan keraguan, akhirnya
Almira mengangguk pelan.
"Sekarang, mas Inu sudah terlambat. Meskipun itu perusahaan milik mas, tapi kalau mas Inu tidak tertib waktu, dan memberikan contoh yang baik untuk karyawan, maka nggak ada yang bakal kasih respect sama kinerja mas sebagai pemilik perusahaan. Kamu ngerti, Sayang?" tutur Wisnu lembut.
Almira menurunkan lututnya, bertumpu padanya dan segera memeluk suaminya. Moodnya semudah itu memburuk, membenci sesuatu dan marah pada sesuatu hal yang tidak dimengertinya.
"Kalau kamu tersenyum, tertawa, bahagia, aku yakin anak kita kelak akan menjadi anak yang bisa mengekspresikan perasaan cerianya. Kalau kamu murung, apa kamu nggak merasa khawatir nantinya dia menjadi anak yang seperti itu? Murung?" ucap Wisnu seraya memeluk balas Almira.
"Apa aku menyusahkanmu?"
"Nggak, sama sekali nggak susah." Wisnu meraih tubuh Almira, mengajaknya untuk berdiri masih saling memeluk.
__ADS_1
Keduanya meleburkan sebuah perasaan yang damai, saling memeluk dan mencoba untuk memahami satu sama lain. Hubungan yang cepat, tanpa proses perkenalan membuat keduanya harus pandai memindai karakter masing-masing.
"Pakai baju mana?" tanya Almira melepaskan pelukan seraya mendongak menatap Wisnu yang menipiskan bibirnya, mengecup pelan keningnya.
"Nggak usah aja," bisiknya terkekeh.
Almira segera berjengit memberi tatapan mengerikan yang segera diberi tawa lepas dari Wisnu seraya kembali memeluk tubuh sintal itu agar tidak sampai kembali marah.
"Aku bercanda, Sayang. Biar aku pilihkan," ucap Wisnu kemudian sembari tertawa tertahan.
"Okey, Mas Inu pilihkan," sahut Almira kembali ceria.
Wisnu segera membiarkan Almira melepaskan dirinya dan beralih membuka lemari. Menarik beberapa baju di dalam lemari dan pandangannya jatuh kepada sebuah gaun berwarna putih polkadot, menatap Almira sejenak sambil tersenyum dan mengeluarkan gaun itu dari dalam dan menempelkan di tubuh Almira yang menurutnya berisi dan menawan. Sangat cocok.
"Pakai ini, Sayang," pinta Wisnu segera disambut Almira dengan senyuman.
"Ok! Pilihan bagus," jawab Almira menyukai pilihan suaminya.
Wanita itu segera menyambar gaun itu dari tangan Wisnu dengan antusias, tapi dengan cepat pula Wisnu menahan tangan Almira hingga istrinya memandangnya dengan wajah bertanya-tanya. Tangan mereka berdua saling menarik pakaian.
"Apa, sih. Katanya sudah telat?" ucap Almira dengan perasaan kesal kembali memuncak.
"Ganti lain aja," putus Wisnu tidak jadi menyerahkan gaun itu.
"Justru karena pilihan bagus, makanya nggak jadi. Ganti pakaian lain aja. Aku pilihkan yang lain, yang bukan pilihan bagus," sahut Wisnu menggeram.
"Nggak, aku tetep pakai itu atau nggak usah pakai baju sekalian!" teriak Almira jengkel.
"Wah, gila ya? Mau bikin mas marah, ya kamu?"
"Salah sendiri, sudah setuju malah ganti lagi, aku nggak mau ganti yang lain pokoknya itu!" decak Almira dengan bibir mengatup kesal.
"Wahh, karena yang beliin bagus? Makanya nggak mau ganti? Ck!" Wisnu mengetapkan bibirnya kesal.
Baginya nama bagus selalu membuatnya panas sampai di ubun-ubun. Nama bagus begitu mengesalkan perasaan dengan banyaknya jejak kenangan yang ditorehkan keduanya di masa lalu, saat mereka masih berstatus sebagai kekasih.
"Bagus? Maksud Mas Inu?" tanya Almira dengan batin mencelus, keningnya mengernyit belum paham.
"Iya, baju ini dibelikan Bagus, mantanmu itu, kan?" tuduh Wisnu kesal masih berebut gaun dengan Almira, tangan mereka berdua masih sama-sama mencengkeram erat pakaian itu.
"Pfffttt!" Almira tertawa terbahak.
__ADS_1
"Ihs! Jangan menertawai suami yang sedang cemburu!"
"Habisnya lucu."
"Pokoknya ganti," tegas Wisnu lagi.
"Padahal baju di dalam lemari ini selera bagus semua," ledek Almira tertawa cekikikan.
"Kita beli baju baru semuanya." Wisnu gemerutuk menatap wajah Almira yang memerah karena menahan tawa. Bahkan istrinya itu melepaskan gaun dari tangannya dan duduk di kasur dengan tawa yang belum berhenti. Wisnu hanya bisa mengeram kesal sendiri dengan kelakuan sang istri.
"Berhenti tertawa, Ira. Atau aku beresin semua bajumu," ancam Wisnu membuat Almira mengatupkan bibirnya dengan paksa. Tapi jelas dari wajahnya masih saja wanita itu tertawa.
"Baju ini, yang sedang kupakai selera bagus juga, loh Mas," godanya seraya menutup bibirnya dengan telapak tangan.
"Kalau gitu lepaskan!"
"Eits! Nggak jadi ke kantor, nih? Asyiikkk," teriak girang Almira membuat Wisnu menarik baju Almira dan mencoba melepasnya. Almira hanya manut seraya menahan tawa karena sudah berhasil mengerjai suaminya.
"Bagus yang aku maksud 'good' bukan bagus nama mantanku, mas Inu, Sayang," bisik Almira di samping telinga Wisnu hingga membuat Wisnu menghentikan aksinya.
"Wahh, curang!" desisnya kesal.
Pria itu segera mendorong tubuh Almira kesal hingga terjerembab jatuh ke kasur, hal itu semakin membuat Almira tertawa geli.
Wisnu menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal sama sekali, ia dengan geram mencopot sepatunya dan melemparkan asal dengan wajah kesal.
"Eh, mau apa!" teriak Almira berguling menjauh, masih saja ia sanggup tertawa.
"Menghukummu! Sial," jawab Wisnu mencekal lengan Almira sebelum istrinya itu lolos lari menjauh.
Terdengar tawa Almira meledak. Walau kini dirinya jatuh dipelukan suaminya, nyatanya ia belum mampu menghentikan kegelian hatinya melihat ekspresi Wisnu yang merah padam karena malu.
"Nggak telat nih, Pak Bos?" goda Almira membelai pipi suaminya.
"Untuk menghukummu nggak ada kata terlambat, istri nakal," bisiknya tersenyum.
'Senyummu, menjadi candu. sikap manjamu menjadi hiburan untukku. Nyatanya walau bibirku mengucap kata marah, tapi sejatinya jauh dari lubuk hati ini, aku bahagia mendapat godaan menggelitik yang terlontar darimu.' (Wisnu Tama)
--Syala Yaya--
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih supportnya untuk Mas Inu lovers ❤️❤️❤️🙏🙏🙏
Salam segalanya dari --Syala Yaya--