Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 16 Langkah Awal menjadi Muslim


__ADS_3

Wisnu menunduk dengan air mata yang lolos begitu saja dari sudut matanya. Dengan perasaan haru dimana dirinya bisa mengikat dirinya dengan aturan Tuhan.


“Alhamdulillah,” semua orang bersyukur dan menatap Wisnu yang masih larut di dalam rasa haru sebuah perasaannya yang terdalam.


“Setelah ini, apa yang harus saya lakukan?” tanyanya setelah bisa menenangkan perasaannya.


“Anda bisa mempelajarinya prlan-pelan bersama saya, datanglah kepada saya kapanpun anda inginkan, saya akan membantu sebatas kemampuan saya,” ucap Ustad Hasyim menepuk pundak Wisnu menenangkan.


“Baiklah, saya ucakan terimakasih,” jawab Wisnu menatap Ustad itu dengan senyuman ramah.


“Ini, kami berikan buku-buku untuk anda, agar bisa mempelajari dasar agama Islam itu seperti apa, anda juga bisa mengaji bersama kami di sini setiap ba'da maghrib, silahkan anda datang,” ucap salah seorang dari mereka, Wisnu segera menerimanya dengan kedua tangannya, hatinya merasa senang.


“Terimakasih,” jawab Wisnu menatap banyak sekali buku-buku yang diberikan pengurus Masjid untuknya.


Sambil menoleh ke arah Ihsan yang mengangguk memberi semangat. Wisnu mengangguk yakin.


**


Hingga malam sudah menjelang Wisnu baru sampai di rumahnya, meletakkan tas ke sofa sembari menenggak minuman dingin dari dalam kulkas, menatap ke seantero dapurnya, sepi hanya dirinya sendiri.


Dengan langkah pelan dia menuju ruangan dimana biasanya senang sekali menghabiskan waktunya untuk tiduran dan menonton tv atau sekedar minum-minum disana, sendirian.


Helaan napasnya kian terdengar menyesakkan, sendiri dan sendiri. Pandangan matanya berhenti di deretan botol minuman ber-alkhohol yang tertata rapi di lemari kaca, sambil tersenyum tipis dia memejamkan kedua matanya, perlahan.dirinya merebahkan tubuhnya, merelaxkan pikiran.


“Mulai hari ini, kalian bukan temanku lagi.”


Wisnu bergumam lagi, lebih kepada minuman yang kini sudah dilarang untuknya itu.


Hingga ponselnya berbunyi, membuatnya kembali membuka mata dan meraih dalam saku celananya, nama Ihsan terpampang dilayar memanggilnya. Wisnu segera menggeser panel dan menempelkan ke telinganya dengan malas.


“Hmm?” jawab Wisnu kembali memejamkan kedua bola matanya.


Wisnu merasa Assitennya itu terlalu berlebihan dalam menghawatirkannya, seperti ibunya saja.


“Saya sudah membuat jadwal anda bertemu dokter, Pak Wisnu.”


Suara Ihsan yang bersemangat membuat Wisnu membuka mata karena merasa penasaran.

__ADS_1


*Dokter? Apa aku tidak salah dengar?


Wisnu segera duduk dan serius bicara dengan Ihsan, sambil kembali dia meneguk air putih dingin yang dia letakkan di meja sampingnya.


“Dokter Arjuna.” Ihsan berbicara.


“Memang siapa yang akan dioperasi?” tanya Wisnu merasa heran.


“Kamu alias Anda, Pak Wisnu,” jawab Ihsan terkekeh membuat Wisnu menjauhkan ponselnya merasa risih dan kesal.


“Aku? Ngawur, aku baik-baik saja kenapa butuh Juna segala?” decak Wisnu bersungut menjawab.


“Salah satu syarat wajib yang harus dijalani umat muslim itu dengan berkhitan, Pak,” ungkap Ihsan dengan suara antusias sekali, Wisnu mengernyitkan dahinya, dia belum mengerti dengan istilah baru di dalam hidupnya.


“Apa itu khitan?” tanya Wisnu segera diberi kekehan dari Ihsan.


Wisnu menghembus napasnya jengkel, assistennya itu membuatnya seperti orang bodoh saja. Satu geraman darinya, Wisnu segera menutup sambungan telephon dan mulai mengetik di kolom pencarian tentang makna khitan.


Dengan wajah dan sorot mata terbuka lebar wisnu terperanjak kaget dengan arti yang dijabarkan.


“San, bagaimana rasanya?” tanya Wisnu dengan menelan salivanya, dirinya merasa gentar.


“Aku serius,” lontor Wisnu merasa kesal.


“Saya juga serius, Pak. Dua rius malah.”


Wisnu menghembus napas merasa kembali gentar, dia menatap ke bawah dengan badan ngeri. Dia gelengkan kepalanya beberapa kali membuang bayangan itu.


“Haruskah aku melakukan itu?” tanyanya ragu.


“Saya dulu mengalaminya saat usia saya 10 tahun, Pak,” jawab Ihsan mengagetkan Wisnu.


Dirinya merasa bingung, kenapa harus ada syarat seperi itu untuk kaum muslim terutama kaum laki-laki.


“Berapa banyak? Apa akan cacat dan kalau tidak bisa berfungsi lagi bagaiamana?” tanya Wisnu segera membuat Ihsan meledak tawa.


Sambil memijit pelipisnya Wisnu lagi-lagi menggeram, merasa Ihsan benar-benar berhasil menggodanya.

__ADS_1


Ihsan segera menahan tawanya dan berdehem beberapa kali. Dirinya beruntung, hanya bicara dengan bosnya itu lewat telepon, kalau tidak pasti dirinya akan dibabat habis bosnya itu.


“Tetap akan bagus, Pak. Malah sehat dan menghindarkan kita dari penyakit kelamin akibat kotoran yang terperangkap bisa dihilangkan. Pak Wisnu harus percaya, bahwa apa yang sudah ditentukan oleh Agama Allah dan diajarkan para NabiNya kepada umat Islam itu pasti paling baik bila dikerjakan.”


Wisnu mengangguk mengerti, dengan helaan napas lega dirinya bersandar di sofa kembali.


“Pak Wisnu berencana menikahi Almira kapan?” tanya Ihsan kembali serius, Ihsan menunggu sebuab jawaban.


“Seminggu lagi aku kesana untuk mempersiapkan berkas,” jawab Winsu merasa sangat tak karuan.


Batinnya bingung, antara khawatir dan tanggung jawab besarnya pada masa depan gadis itu. Bahkan rasa suka, rasa cinta apakah sudah bisa dia rasakan? Wisnu belum bisa memilah bagaimana perasaan sesungguhnya.


“Anda harus melakukan khitan secepatnya, Pak, kalau begitu,” cerocos Ihsan sambil tergelak tawa.


“Apa maksudmu?” Wisnu menampakkan suara kekesalan, Ihsan malah semakin menjadi.


“Ya kalau anda bisa segera sembuh, bukankah saat sudah sah menikah nanti, pusaka Anda sudah bisa diajak berperang?” lontar Ihsan sambil kembali meledak tawa.


“Ihsan!” hardik Wisnu menggeram.


Dengan cepat sambungan telepon diputus sepihak oleh Ihsan yang merasa sudah cukup untuk menggoda bosnya itu.


Awal mula jalan sudah mulai ku tapaki, pahit manisnya kucoba rasai dengan sepenuh hati. Entah itu rasa cinta, entah itu rasa sayang, entah kerinduan atau hanyalah perasaan bersalahku saja. Inginku mencintaimu karena sosok itu kamu, hingga sorot mata tajammu itu perlahan melunak, terkikis oleh sebuah ketulusanku yang tanpa lelah mencoba untuk mengetuk hatimu. (Wisnu)


By. Syala Yaya.


Bersambung …


Haii, selamat membaca yaa. Berikan dukunganmu melalui jejak like, komentar juga vote seikhlasnya


Baca juga kisah cinta dari novel temanku sekaligus author idolaku


kak Tya G



kak Ranty Yoona

__ADS_1



Salam segalanya dariku ~Syala Yaya🌹🌹


__ADS_2