Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 18 Wisnu Vs Arjuna


__ADS_3

Ihsan mondar-mandir di pinggiran mobil dengan beberapa kali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dengan hembusan napas jengkel dia menatap layar ponselnya karena beberapa kali panggilannya tidak dijawab Wisnu.


Pandangannya masih ke arah Lobby sedari tadi, berharap Wisnu segera keluar dari dalam Hotel dan segera teralihkan dengan adanya telepon masuk.


Dengan jemari cekatan menarik ponselnya yang sudah dia masukkan ke dalam saku celananya, Ihsan segera menggeser paneh hijau saat nama Dokter Arjuna sedang memanggil.


“Ihsan, ini jam berapa?!”


Ihsan menelan salivanya dan menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga saat suara Juna nyaring di telinganya.


“Apa jam tanganmu sedang kehabisan batre?” jawab Ihsan sekenanya, bibirnya meringis menahan geli karena menjawab seorang dokter Arjuna


Ihsan sedang mencoba menenangkan kemarahan Dokter tampan sahabat Wisnu. Pekerjaan extranya. Menenangkan semua orang yang kesal dengan bosnya.


Huh! Ihsan selalu menggerutu dalam hati dengan pekerjaan extranya yang unik ini.


“Ck! Kemana Bos kakumu itu? Apa dia pikir dia sultan, hah?” decak Dokter Arjuna karena harus menyia-nyiakan waktunya untuk menunggu Wisnu.


“Kenapa dia harus berpikir jadi Sultan?” sahut Ihsan dengan suara datarnya.


Arjuna terdengar menggeram dengan kelakuan dua orang paling menyebalkan baginya itu. Bos Assistan sama saja, telmi semua.


“Apa kau tahu, ini pertama kali dalam sejarah, seorang dokter bedah menunggu pasiennya? Hem … apa kalian gila?” cerocos Juna kembali membuat Ihsan menjauhkan ponselnya dari telinga.


Ihsan segera membayangkan raut wajah Juna saat ini, dengan menahan tawa dirinya kembali menjawab semua lontaran dokter itu agar tidak semakin menjadi.


“Selamat kalau begitu Dokter Arjuna,” lontar Ihsan dengan suara seperti bersorak memberi selamat.


“Apa maksudnya? Selamat untuk apa,” ucap Arjuna dengan nada suara yang bisa Ihsan pastikan terdengar bingung dengan ucapan selamat darinya itu.


“Ya … selamat karena Anda sudah mencetak sejarah baru, menjadi dokter yang setia menunggu pasiennya, prestasi yang keren,” seloroh Ihsan dengan menahan tawa dengan menjauhkan kembali ponselnya. "Sertifikat akan segera dicetak," imbuh Ihsan terkekeh.


Sudah pasti dokter itu mengumpati Ihsan beberapa kali. Ihsan hanya bisa tertawa.


“Kalau sampai sepuluh menit lagi dia belum datang, awas ya? Akan aku jadikan pusakanya seperti belut mini, mengerti!” decak Arjuna menutup sambungan telepon.


Dengan ledakan tawa Ihsan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ihsan merasa bosnya itu selalu mempunyai teman yang kaya tapi bersikap aneh-aneh dan suka marah-marah tidak jelas, sekaligus lucu.


Sambil memasukkan kembali ponselnya di saku celana dirinya memandang kembali pintu Lobby yang dibuka petugas security.


Terlihat sosok Wisnu keluar dari sana membalas tundukan kepala anggota scurity itu dengan senyuman dan langkah tergesa ke arah Ihsan yang melambaikan tangannya.


Ihsan segera memutari mobil dan membuka pintu di bagian kursi kemudi. Menatap langkah Wisnu yang semakin mendekat dan segera membuka pintu di bagian samping kemudi.


“Maaf lama,” ucapnya sambil mendaratkan tubuhnya di kursi dan segera menutup pintunya, tidak lupa juga dirinya memakai sabuk pengaman.


“Kita berangkat sekarang, Pak,” ucap Ihsan segera melajukan kendaraannya dari depan Hotel. “Dokter Juna sudah marah-marah di telepon,” tambah Ihsan lagi masih fokus menyetir, menatap jalan berkelok memutar menuju pos pintu luar Hotel.


“Biarkan saja, lagipula memang sikapnya dari dulu seperti itu,” sahut Wisnu menampakkan sikap santai menghadapi teman-temannya itu.


Ihsan terkadang merasa kagum dengan sikap Wisnu, masalalu seperti apa hingga membuatnya bisa menjadi pria tenang, cuek dan biasa saja saat jelas-jelas temannya suka berdecak marah dalam lontaran kata yang menurutnya juga konyol. Sebuah pertemanan yang membuatnya merasa iri.


“Iya, Pak.”


Ihsan melirik sekilas kemudian kembali fokus kedepan karena mobilnya sudah memasuki jalan raya yang mulai padat kendaraan, jam pulang kerja.

__ADS_1


Terdengar Wisnu menghembus napas dalam kebisuan. Pikiran Ihsan menjadi penuh rasa penasaran dengan apa yang ada di benak bosnya itu.


Mimik wajah yang sukar ditebak. Ketenangan dan pandangan datar seakan bisa menipu apa yang sebenarnya sedang ada di dalam hati dan pikiran Wisnu. Ihsan memandang sekilas.


“Apa kau sudah menyuruh orang untuk membuatkan berkas syarat pernikahan untukku?” tanya Wisnu beralih menatap Ihsan yang terlihat mengangguk menoleh ke arahnya dan kembali fokus menyetir.


“Tenang saja, Pak, semua sedang dikerjakan," jawab Ihsan menenangkan. "Apa Anda akan membawa serta keluarga Anda?” tanya Ihsan bersikap hati-hati.


Ihsan mengerti dan paham bahwa Wisnu sudah yatim piatu walau tidak tahu cerita mendalam tentang kehidupannya, yang jelas Wisnu pria sebatang kara.


“Tentu saja, aku masih punya kakak dan juga keponakan,” jawab Wisnu dengan senyuman tipis.


“Ohh … bagus, saya senang mendengarnya,” jawab Ihsan manggut-manggut merasa lega.


“Urus Kantor dengan baik ya, aku titip padamu selagi aku tidak ada,” ucap Wisnu segera diberi anggukan Ihsan paham.


Mobil kini sudah memasuki area Rumah Sakit. Wisnu semakin gugup membayangkan dirinya berada di dalam sana. Dengan kekehan ringan yang membuat Ihsan menoleh dengan tatapan aneh Wisnu mengusap area bawah hidungbya dengan jemari. Ihsan segera menyadari Bosnya itu sedang cemas.


“Kita turun disini, Pak. Saya sudah mendaftarkan Anda jadi mereka pasti sudah menunggu.” Ihsan mematikan mesin mobil dan membuka sabuk pengamannya sambil menatap Wisnu yang mengangguk dan turun lebih dulu.


“Kau tidak tahu 'kan? Aku bahkan pernah mengalami hal yang lebih menegangkan dari ini,” ungkapnya menoleh ke arah Ihsan, padahal dalam batinnya sendiri sebenarnya lebih kepada memberi penguatan pada diri sendiri.


“Iya, Pak. Lagipula banyak juga anak usia 7 tahun berani dan meminta sendiri,” lontar Ihsan menggoda. “Anda sih, termasuk terlambat,” tambah Ihsan menggigit bibir bawahnya ingin tertawa karena ledekan itu malah lolos begitu saja dari bibirnya.


“Lama-lama menjengkelkan, ya, ocehanmu,” decih Wisnu menyentlong tubuh samping Ihsan hingga Assistennya itu terhuyung dan berjalan duluan.


Astaga, ternyata menyenangkan sekali menggodamu, Pak Bos.


Ihsan berlari kecil menyusul Wisnu memasuki Lobby Rumah Sakit. Memandang ke sekeliling area itu dan menoleh ke arah Ihsan yang memberi isyarat dagunya agar dirinya mengikutinya.


Dengan menghembus napas Wisnu mengekor langkah Ihsan berjalan melewati banyak koridor hingga membuat kakinya merasa capek dan napas menderu kesal.


“Ruangan itu, di sana” jawab Ihsan dengan jari telunjuk menunjuk arah.


Wisnu segera meraih pundak Ihsan dan merangkulnya dengan geraman. Ihsan yang menyadari isyarat tanda ancaman hanya bisa menepis segera rangkulan itu dengan kekehan ringan.


“Olah raga, Pak. Bukankah setelah ini Pak Wisnu akan istirahat beberapa hari?” oceh Ihsan sambil berjalan cepat menghindari amukan Wisnu.


Ihsan meraih gagang pintu setelah seorang perawat menganggukkan kepalanya mengijinkan masuk ke dalam ruangan.


Dengan decakan kesal Wisnu mengikuti Ihsan masuk ke dalam.


Sebuah tatapan terkejut dan senyuman merekah langsung tercipta dari bibir Arjuna. Menyambut kedatangan Wisnu di ruangan prakteknya, sesuatu yang sangat langka baginya.


“Wisnu,” pangil Juna dengan suara slengekan khasnya. Wisnu hanya bisa menebar senyum.


Sambil berjalan meninggalkan kursinya, Arjuna segera mendekati Ihsan dan Wisnu, memepersilahkan masuk dan duduk di kursi layaknya seorang sahabat.


“Senang kau mengunjungiku,” oceh Juna mengambil minuman tiga botol mineral dari dalam lemari pendingin di dalam ruangannya.


“Aku tidak senang,” jawab Wisnu sambil memandangi area yang menjadi ruangan Juna saat tidak mendapatkan jadwal operasi.


“San, mana pasien yang akan aku tangani?” tanya Juna menoleh ke arah Ihsan dengan kerlingan matanya.


“Di samping saya,” jawab Ihsan dengan suara datar mengerti gaya isyarat dokter sahabat Bosnya itu.

__ADS_1


“Kamu? Waaww … kira-kira mau dikurangi berapa senti?” ujar Arjuna sambil tertawa dan berdiri dari kursinya. Dia melakukan panggilan untuk tim medis yang akan membantunya nanti.


Wisnu mendelik kesal karena selalu menjadi korban ledekan segera mengikuti Juna menuju ruangan di sebelah tempatnya berkonsultasi, diikuti Ihsan di sampingnya.


“San, pistolku tadi sudah kau isi penuh pelurunya 'kan?” seloroh Wisnu segera memberikan seringainya dan menepuk pundak Juna yang menoleh memberikan rona wajah terkejut tapi tertawa segera menghalau tangan Wisnu dari pundaknya.


“Kau ini, pandai bercanda,” ujar Arjuna sembari tertawa, ekor matanya menatap Ihsan yang segera mengeluarkan senjata berupa pistol dari dalam sakunya.


“Penuh, Pak,” jawab Ihsan menatap Juna dengan senyuman kepada pria di hadapannya ini.


“Kau ini, pasti bercanda kan? Mengacungkan senjata di depan dokter itu namanya menyalahi aturan tauk,” sela Juna mundur selangkah.


Wisnu gantian tertawa, segera duduk di atas bangsal dirinya menertawai tingkah Juna yang lucu.


“Dan kau, menakut-nakuti pasien bukankah menyalahi aturan?” lontar Wisnu sambil menepuk kasurnya sambil tertawa.


“Sialan kalian ya?” decak Juna merasa dikerjai.


“Dor!” seru Ihsan segera menembakkan pistol mainan anak ke dada Juna, dengan reaksi kaget dan menepis kesal Juna meraih pundak Ihsan dan mereka bertiga segera tergelak bersama.


Dalam suka maupun duka kupinjamkan pundakku. Saat tangis tawa mendera, putus asa dan kekecewaan kerap menyapa.


Kau tahu, aku bisa marah padamu.


Aku bisa sayang padamu.


Aku bisa kecewa padamu.


Memberimu umpatan dan juga pujian.


Kau tahu kejelekanku.


Kau tahu kebaikanku.


Kau menutup kekuranganku untukmu, dan kau buka juga kelebihanmu untukku.


Kenapa bisa begitu? Apa hubungan kita?


Kita pacaran? Tidak.


Lalu?


Karena kita terikat kuat pada sebuah ikatan suci bernama persahabatan. (Arjuna-Ihsan-Wisnu)


By~Syala Yaya🌷🌷


Bersambung …


Terimakasih


Hai semua, semoga tidak menganggap cerita ini bertele-tele ya. Aku hanya ingin menulis dengan kebahagiaan dan alur cerita dengan konflik yang ringan juga masih bisa menghibur.


Terimakasih untuk selalu mencintai Wisnu.


Like komen dan vote seikhlasnya yaa

__ADS_1


Masuk join ke GCku juga dan ikuti event disana kita seru-seruan bareng admin2ku yang ramahnya banyak dikir bar-barnya. Hehehe


Salam segalanya dariku ~Syala Yaya🌷🌷


__ADS_2