
🌻🌻🌻🌻🌻
Kesal, geram penuh kerinduan?
Sebagai satu-satunya anggota keluarga yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Alan sosok pria yang paling dirindukan Wisnu selama ini.
Alan memutuskan memilih pergi ke Australia agar kehidupan ibu kandungnya -mantan istri pertama Krisna- juga Yashna bisa lebih tenang. Wisnu pun menghargai keputusan itu.
Wisnu hanya pura-pura mengusir. Ia kembali ke dalam rumah bermaksud untuk menekan tombol remote control yang telah terintegrasi otomatis untuk membuka pintu gerbang, Wisnu mengulum senyumnya karena berhasil membuat syok dua orang itu.
"Bisa-bisanya dia melupakanku," gerutu pria itu berjalan menuju ke sisi pintu kiri bagian dalam rumah.
Pintu gerbang itu pun segera terbuka lebar. Yashna melebarkan bulatan mata saat memandang ukiran pagar tinggi di hadapannya terbuka perlahan.
"Astaga! Kupret, kukira dia benar-benar mengusirku," decak Yashna.
Alan meninggalkan Yashna dengan menjalankan mobil untuk parkir ke halaman rumah.
"Ck!"
Berdecak! Yashna hanya bisa membuang muka sembari berjalan di pinggiran. Melewati gerbang itu menuju ke halaman rumah Wisnu.
Sebenarnya jantungnya kini berdebar, pertama kali ia akan bertemu dengan istri Wisnu. Walau bagaimanapun, sosok pilihan hati seorang Wisnu cukup menggelitik hatinya selama ini.
Terngiang pujian dari Isna mengenai sosok Almira yang lembut dan ramah. Sudah tentu membawa Yashna pada satu kesimpulan bahwa Wisnu benar-benar bahagia selama ini. Kabar bahwa kelahiran bayi mereka yang tinggal menunggu detik-detik bulan terakhir sudah pasti membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga kecil Wisnu yang membuat Yashna kemudian memikirkan apakah bersedia menerima lamaran dari Alan. Ah, pria itu kerap kali membuatnya naik darah.
"Jangan melamun."
Sebuah rangkulan dari arah belakang membuat tubuh wanita yang kini sudah berusia dua puluh delapan tahun itu tersentak. Ok, selama berada di rumah Wisnu ia akan pura-pura baik-baik saja, seperti apa yang dilakukannya setiap hari.
"Ngagetin aja, sih!" desisnya meraih lengan kekasih berondongnya itu sembari berjalan bersandingan.
Usia Yashna yang lebih tua enam tahun membuat hubungan pasangan itu tidak semudah yang terlihat. Gejolak masa muda Alan terkadang membuatnya cukup kerepotan dalam menghadapi.
Kebiasaan Alan yang suka nongkrong bersama teman, liburan ke luar negeri bersama komunitas mahasiswa asing di Australia selalu menjadi hal yang membuat Yashna harus menahan kesabaran. Bersembunyi dibalik ikatan teman, sungguh Yashna selalu legowo menerima alasan Alan selama ini saat bersama teman wanitanya yang lebih muda. Sungguh, ia hanya berusaha percaya sampai kesabarannya mungkin akan habis setelah ini.
Kalau bukan karena kebaikan Kartika selama ini, Yashna pasti lebih memilih untuk meninggalkan pria muda itu. Lebih baik sendiri, pikirnya.
"Rumah paman bagus, ya, Yang?" bisik Alan meraih pinggang Yashna saat menaiki tangga menuju teras.
"Iya," sahut Yashna singkat.
"Kita bisa beli rumah yang ada di sekitar sini kalau kamu mau," lanjutnya masih berjalan.
"Yakin? Beli rumah di sini?" Yashna masih saja malas membicarakan masa depan mereka.
"Iya, lah. Pekerjaanku sebenarnya di sini bisa lebih mapan untuk membina rumah tangga sama kamu," ungkapnya pelan membuat Yashna menghentikan langkah.
Kurangnya komunikasi di antara keduanya, terkadang membuat Yashna tidak mengerti jalan pikiran Alan selama ini.
Sebenarnya ia cukup lelah. Merasa cinta Alan terhadapnya sebuah permainan semata dengan banyaknya teman wanita yang dimiliki pria berparas tampan itu.
"Jangan ngomongin masalah ini di sini, Lan, nggak enak," tegur Yashna merasa tidak nyaman.
Alan hanya bisa diam, mengangguk penuh rasa kecewa. Di sinilah sebenarnya ia ingin menguraikan benang kusut hubungan mereka.
Mereka berdua akhirnya mencapai depan pintu utama, memandang pemilik rumah yang sedang bersedekap tangan dalam menyambut.
Tanpa menunggu lama Alan segera berjalan mengiringi Yashna agar mencapai pamannya lebih cepat.
Bukannya tidak mau segera mengunjungi pamannya setelah sampai di Indonesia. Ia harus memenuhi keinginan Kartika dan Aswa Tama dengan mulai mengurus berkas-berkas pengalihan nama pemilik perusahaan lama dari ibu dan ayahnya menjadi atas namanya sendiri, ternyata hal itu sangat menguras energi dan pikiran selama seminggu ini. Kalau bukan demi Yashna, ia tidak mau sesegera mungkin melakukannya. Yashna terus saja membuatnya emosi karena mencoba menjalin hubungan dengan pria yang sama-sama berada di dalam komunitas penggiat pendidikan anak kurang mampu, Grup Para Pemimpi.
"Silakan masuk," sapa ramah Almira muncul dari dalam.
Wisnu segera merangkul sang istri untuk diperkenalkan dengan calon istri keponakannya, Yashna.
"Yash, ini Almira, istriku," ucap Wisnu memperkenalkan.
"Ira," sahut Almira.
"Yashna, senang berjumpa," balas Yashna mengangguk membalas senyuman.
"Kita masuk, yuk," ajak Almira segera meraih lengan suami agar menurut memutar tubuh kembali ke dalam rumah.
Wisnu dan Almira terlibat adu debat dengan cara berbisik. Mengingat di rumah tidak memiliki makanan apa-apa. Alan dan Yashna hanya bisa saling memandang satu sama lain sambil menahan tawa.
"Tuh, Yang. Pasangan menikah saja juga biasa berdebat," bisik Alan.
"Debat kita jelas lain," gerutu Yashna sembari mengikuti langkah Wisnu dan Almira ke arah ruang tamu.
__ADS_1
"Ya, jelas lain. Kita belum pada level adu gulat," seloroh Alan sukses membuatnya memekik karena tangannya dipelintir Yashna.
Wisnu dan Almira segera menoleh. Kedua orang yang sedang terlibat adu fisik kekesalan itu hanya bisa saling meringis.
"Terkadang keponakanmu harus diberi bimbingan jasmani biar pikirannya sehat," lontar Yashna melepaskan lengan Alan.
"Haha ... punya calon istri mantan bodyguard harus extra legowo diperlakukan semena-mena," sahut Alan dengan memasang wajah meringis menggoda.
Almira hanya bisa menggelengkan kepala samar, menyadari satu hal bahwa setiap pasangan pasti memiliki hal-hal lucu dan pelik untuk diungkapkan.
Melihat kesungguhan Alan dan gestur kurang nyaman Yashna dalam menanggapi Alan sangat terlihat jelas. Almira bisa merasakan semua hal itu dari bahasa tubuh mereka berdua. Sungguh, sebuah hal yang lagi-lagi cukup mengusik dirinya sendiri yang sempat mengalami hal tersebut saat awal pernikahan dulu.
"Silakan duduk."
Almira mempersilakan kedua tamunya untuk duduk di sofa tamu. Sementara Wisnu membuka gorden agar cahaya dari luar membawa suasana nyaman masuk ruangan.
"Baru ke sini kamu, ya?" Wisnu terdengar mengucap kalimat itu dengan desis penjabaran dari rasa rindu.
Alan meraih pundak Yashna, mengelus perlahan lengannya sembari merebahkan punggung ke sandaran sofa.
"Ibu mengalihkan beberapa saham yang diberikan tuan Krisna, Paman," jawab Alan dengan suara datar.
"Oya? Terus?" tanya Wisnu terkesiap.
"Seminggu ini aku mengurusnya bersama pengacara. Ayahku, Aswa juga sepertinya ingin melanjutkan hubungan dengan ibu yang sempat tertunda, tapi ibuku menolak. Menurut Paman Wisnu, bukankah aku ini anak yang menyedihkan," ucap Alan tersenyum miris.
"Alan, jangan begitu," sela Yashna menatap Alan dengan kepala menggeleng.
Wisnu dan Almira hanya bisa saling memandang tanpa bisa menyahut, cukup pribadi bagi keduanya untuk ikut campur ke dalam urusan itu. Bukan ranahnya.
"Aku ke sini untuk meminta pandangan terhadap apa yang sedang kuhadapi, dan aku akan menerima saran apa pun kalau itu memang yang terbaik," ucap Alan tanpa keraguan.
"Tunggu, ini ada apa, sih? Ke sini mau melepas kangen, kan? Kok bawahannya serius gini? tanya Yashna bingung, ia tidak mau Alan mengadukan semua masalah tanpa persetujuan darinya.
"Aku buatin minuman ke belakang sebentar, ya?" pamit Almira.
Almira yang merasa orang luar segera undur diri untuk membuat minuman di dapur. Wisnu merasa senang melihat istrinya begitu pengertian mengenai kondisi keluarganya yang memang berantakan.
"Hati-hati, ya," balas Wisnu melepas genggaman tangan sang istri.
Yashna menunduk, sangat tidak nyaman. Sangat tidak menginginkan Alan membicarakan masalah mereka kepada orang lain, walau nyatanya memang butuh masukan karena notabene hanya Wisnu yang dimiliki oleh Alan.
"Loh, kenapa?"
Wisnu mengalihkan perhatiannya ke arah Yashna, wanita yang dihindari untuk bertatapan langsung demi menjaga perasaan sang istri. Terlihat mengembuskan napas penuh kekesalan.
"Karena ayahku penyebab meninggal ayahnya, sudah pasti."
Wisnu tertawa hambar. Pemikiran sangat sempit baginya, bahkan Isna saja bisa begitu menerima, kenapa Yashna tidak?
"Alasan tidak masuk akal, bahkan kalau menilik pada bagian masa lalu, semua terasa rumit, Yashna. Kamu paham bagian mana 'kan posisimu?" tegas Wisnu berkomentar sinis.
"Bukan itu alasan yang sebenarnya. Bukan soal itu. Aku bahkan sudah melupakan apa yang kuketahui, asal kalian tahu," tegas Yashna memasang muka murka.
"Lalu masalahnya apa kalau bukan itu?" tanya Alan meradang.
"Jangan katakan kamu hanya berasumsi Alan?" sergah Wisnu memandang Alan yang kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Yashna memalingkan wajah. Tidak menyangka ke rumah Wisnu hanya untuk membicarakan hal sangat dibencinya selama ini.
"Ada apa Yashna?" Kini Wisnu membuncah kebisuan.
Tampak Alan maupun Yashna sama-sama tidak mau menyahut. Wisnu hanya bisa bergerak gelisah di sofa, menegakkan tubuhnya sembari melirik ke arah istrinya di dapur.
"Kalau kalian selalu berasumsi tanpa mengungkapkan apa yang menjadi kendala, maka semua tidak akan ada jalan keluar,“ ucap Wisnu memandang Yashna dan Alan bergantian.
”Aku bilang bukan karena ayahku meninggal karena ayah Alan! Aku bahkan tidak mengenal mereka semua, hanya nama dan warisan yang belum kuambil sama sekali yang membuatku terikat nama mereka,“ ungkap Yashna hampir histeris karena susah menjelaskan.
”Lalu apa? Kamu setiap saat mengajak putus, dan aku nggak bisa, Yash!" teriak Alan habis kesabaran.
“Bukankah selama berada di sini kamu mempelajari semuanya? Atau sama sekali kamu nggak tahu di mana letak salahmu?” balas Yashna dengan tatapan menghunjam.
“Cukup. Istriku sedang hamil. Tolong, kalian jangan berteriak. Boleh debat, tapi nggak harus dengan suara adu teriakan 'kan?” kilah Wisnu segera menenangkan.
Alan dan Yashna saling membuang muka. Perempuan itu tidak habis pikir kenapa Alan datang ke rumah Wisnu hanya untuk ini.
“Aku tanya sama kamu, Yashna. Untuk Alan, kamu nggak boleh ikut bicara, ini kalau kalian masih ingin saling bersama,” pinta Wisnu diberi anggukan Alan pelan.
Yashna menarik napas dalam, ia melirik ke arah Almira yang kini sudah datang dengan empat cangkir teh dan satu toples makanan ringan. Setelah menunggu Almira meletakan nampan, mengatur minuman, dan mempersilakan para tamu akhirnya Wisnu melanjutkan pertanyaan.
__ADS_1
“Alasan apa yang membuatmu ingin berpisah dari Alan? Dua tahun 'kan kalian sudah bersama?” tanyanya pelan. “Aku berbicara begini sebagai paman kalian,” tambahnya.
“Dia egois.” Yashna secepatnya menjawab. Alan melepaskan tawa hambar dengan menggelengkan kepala.
“Egois?” ulang Wisnu, bermaksud agar Yashna melanjutkan ucapannya.
“Dia jalan dengan banyak perempuan di belakangku, apa aku harus bertahan?” tanyanya datar menatap Wisnu.
“Nggak bener! Itu ... nggak seperti apa yang kamu tuduhkan, astaga!" Alan menegakkan tubuhnya dengan tangan mengusap wajah.
”Ya, sudah. Tinggalkan saja laki-laki seperti itu!" sela Almira sanggup membuat Alan terperangah.
“Bibi Almira ....”
“Cari laki-laki lain yang jelas kesetiaannya, Kak Yashna. Cari yang lain aja, kalau menurutku,” tambah perempuan yang tengah hamil itu membuat Yashna tersenyum tipis.
“Paman! Nggak bisa gini, dong. Paman harus membelaku. Aku nggak jalan sama perempuan, percayalah !" Alan semakin frustrasi saat Wisnu hanya terdiam.
”Terus kamu jalan sama mereka namanya apa?“ tanya Almira yang usianya tidak terpaut jauh dari Alan mencoba untuk mencairkan perseteruan pasangan itu.
”Cuma teman, Bibi,“ jawabnya dengan wajah serius.
”Apa yang memberi batasan antara teman dan kekasih, bagimu?“ cecar Almira dengan gaya santai.
”Aku tidak memainkan perasaanku.“
”Itu saja?“ Almira menggeleng pelan. Sungguh konyol baginya kalau harus berhubungan dengan laki-laki yang tidak memiliki perasaan.
”Aku anggap mereka teman, itu saja!“
”Kak Yashna, cari laki lain aja, deh. Model ginian banyak di negri ini,“ tegas Almira kemudian.
”Wah! Kalian ini ....“ Alan kehabisan kata-kata. Baginya apa yang ada di pikirannya sangat berbeda.
”Apa kalau kak Yashna jalan sama cowok dan pelukan gitu, kamu nggak akan marah?“ tanya Almira lagi merasa gemas dengan pemikiran Alan yang baginya menyebalkan.
Alan terdiam, ia tahu semua yang diucapkan istri pamannya itu seperti membalik situasinya. Ia memandang Wisnu yang masih diam saja.
”Aku kenalin sama cowok baik, Kak Yashna. Tenang aja, dia pasti nggak bakal punya pikiran jalan, nongkrong bareng cewek, dan peluk-pelukan atas dasar teman,“ ujar Almira kemudian membuat Wisnu tersenyum samar, ia tidak percaya Almira begitu antusias menanggapi masalah mereka berdua.
”Bibi, aku ke sini minta solusi. Ini yang ada malah tambah bikin panas, deh!" sungut Alan kesal.
“Lha ini aku kasih solusi,” kilah Almira juga dengan bersungut-sungut.
“Dengan kenalin Yashna dengan kaki-laki lain?” tanya Alan tidak percaya.
“Iya, betul banget,” sahut Almira cepat.
“Astaga, ya ampun!" teriak Alan seraya menjatuhkan dirinya ke kursi sofa.
”Apa? Kalian baru tunangan, kalau udah nikah terus kamu masih juga bersembunyi dibalik ikatan teman, Kak Yashna bisa mati stroke mikirin kamu, Alan.“ Almira masih mengoceh kesal.
Perempuan itu pun kini beralih untuk menggelayut manja kepada suaminya sambil berbisik, "Kayaknya kalau Yashna dikenalin sama Setyo, cocok ya, Mas?”
“Setyo yang mana, sih?” tanya Wisnu menekuk leher seraya mencium kening sang istri yang bersandar di dadanya.
“Yang terkenal dengan grupnya Para Pemimpi itu, loh. Bukannya kemarin dia baru aja ke sini menyodorkan profosal pendanaan sanggar tari untuk anak-anak ekonomi kurang mampu. Mas Inu setuju sebagai salah satu perusahaan donatur itu loh,” jawab Almira dengan suara lebih keras.
“Bang Setyo Hananto maksud Ira?” tanya Yashna yang kenal dengan orang yang dimaksud. Yashna pun juga ikut membantu pencarian dana tersebut bersama Aris.
“Eh, kamu kenal, ya? Wahh!" seru Almira seraya tepuk tangan dengan antusias.
"Kenal, aku sama Bang Setyo satu komunitas, Kok," sahut Yashna tak kalah antusias.
"Wah, kebetulan sekali!" seru Almira dengan wajah berbinar-binar.
Alan pun memandang dua perempuan itu dengan tarikan napas dalam. Ke tempat nini sepertinya keputusan yang tidak tepat. Tubuhnya lemas seketika.
”Sepertinya kamu harus berjuang untuk bersikap lebih dewasa, Clurut,“ bisik Wisnu mencibirkan bibirnya kepada sang keponakan.
Pri itu setuju dengan Almira yang akan merubah perilaku Alan dengan cara yang lain. Menasihati dengan kalimat retorika tidak akan memberi dampak signifikan pada orang yang sudah terbiasa hidup dengan budaya bebas di luar negeri seumur hidupnya, termasuk mindset Alan selama ini. Pria itu belum memahami budaya Indonesia tentang batasan hubungan yang sehat itu seperti apa. Wisnu malah penasaran bagaimana cara Alan untuk meyakinkan Yashna bahwa ia layak untuk dijadikan sandaran hidupnya kelak.
"Tunjukan padanya kalau kamu layak, Clurut," bisik Wisnu lagi seraya mengulas senyuman puas setelah melihat Alan memejamkan mata frustrasi.
"Paman Kampret!" omelnya kesal.
*****
'Sesekali kamu harus dibuang, dilupakan, dan dianggap tidak terlihat agar kamu juga tahu bagaimana rasanya ketika orang yang mencintaimu dengan tulus tanpa kausadari telah tersakiti karena ulahmu di belakangnya.'
__ADS_1
(Almira Putri)