Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 6 Mendapat Kunjungan


__ADS_3

Selamat membaca


Almira mematung memandang Ihsan dengan dada bergemuruh. Bisa-bisanya pria itu memberinya penawaran yang semakin membuatnya merasa terhina.


Almira segera membalik badan, mengacuhkan tawarannya dan berjalan meninggalkan Ihsan di koridor itu sendirian. Dengan mempercepat langkahnya, gadis itu berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dengan batin sesak, menatap sejenak bangunan IGD dari halaman dan berdiri mematung pikirannya berkecambuk bingung.


Almira segera berjalan kembali ke arah jalan raya dan berlari kecil mengejar Bus kota yang bersiap berjalan setelah menurunkan penumpang. Beruntung dia tidak terlambat.


Mendapat tempat duduk di belakang supir Bus membuatnya nyaman. Memandang jalanan yang dilalui Bus dengan pikiran bercabang.


Kenapa aku harus melalui ini?


Almira menghela napas berat. Menyentuh lehernya yang masih menyisa rasa tidak nyaman. Pria itu sangat bergairah saat menyentuhnya, benar-benar membuatnya menggeleng kepala berkali-kali untuk membuang bayangan malam itu.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi mengagetkannya, dengan cepat pula dia memasukkan jemarinya ke dalam kantong tas dan meraihnya, nama laki-laki yang membuatnya berani datang ke Bar memanggil. Dengan lesu dia angkat panggilan itu.


“Iya, Mas,” sapa Almira lesu.


“Kamu dimana? Sejak semalam kamu menghilang, aku menghawatirkanmu.” Suara dari Bagus, kekasihnya terdengar khawatir.


“Euhm … maaf, aku numpang tidur di rumah teman,” jawab Almira berbohong.


“Maaf, pas kerusuhan, Mas malah nggak bisa jagain kamu. Kamu pulang sama siapa? Kok dihubungi nggak bisa?” tanya Bagus membuat Almira meneteskan air matanya.


“Sendiri, Mas. Ya sudah, aku sudahi ya. Masih dijalan.”


Almira menutup sambungan telepon dengan cepat. Memandang wallpaper ponselnya, menampilkan gambar dirinya sedang tersenyum berdua bersama Bagus di kedai teh. Hatinya semakin merasa hancur.


Apa aku harus membatalkan rencana pertunanganku dengannya? Aku sudah tidak pantas lagi bersanding dengan keluarga sekelas mas Bagus.


Almira menggigit bibirnya dengan kuat, hingga bayangan ciuman kasar dari pria yang sekarang sedang terbaring lemah di rumah sakit itu kembali menguasi pikirannya. Almira semakin mengisak tangis dalam.


Dengan cepat dia turun dari Bus setelah memberikan uang kepada kondekturnya dan turun di sembarang tempat, bukan tempat tujuannya. Almira berdiri di depan pagar pembatas jembatan, memandang sungai jernih yang mengalir di bawahnya.


Harus bagaimana caraku menjelaskan semuanya? Kepada orang tuaku.


Aku tidak mau mati, aku juga tidak mau berpisah dari Mas Bagus, aku harus bagaimana menjelaskan masalahku kalau aku sudah tidak perawan? Melaporkan orang itu ke Polisi sama saja dengan membunuhnya dua kali, menerima uang kompensasi? Aku bukan *******.


Almira terduduk lemas merosot di sisi pagar jembatan. Mencoba mengurai langkah mana yang bisa dia tempuh. Dia merasa tersesat, dia korban tapi harus pula bertanggung jawab pada hidup orang lain.


Dengan langkah gontai dia lanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki menuju kosnya. Kos kecil yang bisa dia tempuh dengan jalan kaki selama 30 menit. Rasa lelah hatinya mengalahkan rasa lelah kakinya.


Benarkah kesucian itu tidak penting? Kenapa saat aku kehilangannya, aku merasa nyawaku seakan ikut berkurang?


Almira merebahkan tubuhnya di kasur setibanya di kos-kosan tempat tinggalnya, melemparkan sepatunya ke pojokan kamarnya. Gadis itu memejamkan matanya mencoba untuk tidur sejenak, melupakan apa yang dialaminya.


*****


Rumah Sakit


Suasana Rumah Sakit tempat Wisnu di rawat kembali sibuk, area Rumah Sakit terdapat beberapa personil bodyguard berpakaian rapi berada di pos masing-masing. Para anggota keluarga pasien yang biasanya ramai berkunjung jumlahnya di batasi untuk masuk dalam kawasan Rumah Sakit.


Mobil yang sejak tadi di tunggu kedatangannya kini sudah memasuki halaman dan satu pengawalnya segera membuka pintu untuknya.


Isna segera turun tanpa menghiraukan Krisna yang menahan suaranya agar tidak terkesan meneriakinya karena kesal.


“Ibumu, Sayang. Kalau sudah ada masalah menyangkut paman Wisnu, dia selalu melupakan segalanya,” bisik Krisna mengadu pada jagoan kecil di gendongannya.


Putra tampannya yang kini usianya sudah menginjak lebih dari 2 tahun itu mengerti dan mencium pipi ayahnya dengan sayang.


“Ibu sedang sedih, Ayah,” celotehnya imut tanpa ada suara cadel sama sekali.


“Kamu selalu saja membela Ibumu, ya?” protes Krisna mencubit pipi putra cerdasnya itu dengan gemas.“Ikut paman pengawal dulu, ya. Ayah akan menemani Ibumu menemui paman Wisnu,” pamit Krisna sambil menurunkan putra kecil bernama Saka itu dari gendongannya.


“Mau menemani atau mau mengawasi?” celotehnya imut Saka mengejek ayahnya sambil terkekeh ringan.

__ADS_1


“Ck! Berhenti bergaul dengan paman Alan, gayamu persis dirinya.” Krisna mengacak rambut Saka gemas. Putranya itu selalu membuat dirinya kewalahan dalam menghadapi kecerdasannya dalam berpikir.


Salah satu pengawal senior segera mengambil alih menjaga Saka dari Krisna, membawanya ke area bermain anak di fasilitas yang disediakan pihak Rumah Sakit.


Krisna segera ikut menyusul langkah Isna yang berjalan cepat menuju tempat dimana kamar rawat Wisnu berada.


Krisna sengaja cepat datang ke Rumah sakit begitu dirinya mendapat kabar dari Ihsan tentang apa yang menimpa Wisnu tadi malam. Krisna menggeram kesal dengan hal buruk yang harus menimpa Wisnu, apalagi ada sangkut pautnya dengan ketua Tim Pengawal Elit, Dirgantara. Pengawal pribadinya.


Setelah keluar dari dalam lift, Isna segera berlari kecil membuka pintu kamar rawat Wisnu, dengan wajah sedih dia segera menghampirinya. Menatap wajah pucat yang matanya masih tertutup rapat.


“Sayang, apa kak Wisnu tidak apa-apa?” tanya Isna menoleh menatap Krisna yang sudah berdiri di sampingnya.


“Tadi kata dokter dia sudah siuman, pasti dokter memberinya obat penenang agar dia bisa beristirahat lagi dengan baik,” jawab Krisna menarik pundak Isna dan mengusapnya lembut. Memeluknya menenangkan istrinya yang kelewat cemas.


“Kenapa bisa jadi begini?” ucap Isna sedih dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa hal buruk selalu menimpanya?”


“Dulu kau pernah merasakan berada di posisinya, saat menerima penawaranku. Aku tahu, saat ini kau merasakan apa yang sedang Wisnu rasakan,” papar Krisna membuat Isna merekatkan tangan suaminya dan membalas memeluknya juga.


“Terimakasih, sudah mengijinkanku menjenguk kakak kesayanganku ini,” ungkap Isna membuat Krisna tersenyum dan menepuk kepala Isna dengan helaan napas, ikut sedih melihat pengawal andalan sekaligus idolanya itu harus terbaring di bangsal rumah sakit. Diam-diam Krisna sangat kagum dengan sikap dan sifat Wisnu yang mirip Seno, Assisten pribadinya itu.


Mereka berdua segera saling melepaskan tautan tangan saat mata Wisnu mengerjap perlahan, sepertinya pria itu mulai sadar kembali.


Dengan wajah kembali berseri Isna segera menghampiri dan duduk di sisi ranjang, juga memasang senyuman ke arah Wisnu yang mulai membuka mata memandangnya. Hanya memandang tanpa bersuara. Isna menoleh ke arah Krisna dengan saling melempar senyum bahagia dan kembali menatap Wisnu dengan perasaan lega.


“Malaikatku, kenapa sekarang kau jadi payah begini?” ejek Isna memandang ke arah Wisnu.


“Aku berubah menjadi iblis, asal kau tahu,” sahut Wisnu lemah, bibirnya terasa kering dan pecah-pecah, membuatnya kesusahan membuka mulut. Walau batinnya senang dua orang ini sudah berada di sisinya seperti sebuah mimpi.


Isna segera mengambil botol minuman di meja dan meletak sedotan ke dalamnya. Kembali menghampiri Wisnu dengan senyuman.


“Minum dulu,” tawar Isna menyodorkan minumannya dan segera disambut Wisnu, meneguknya perlahan dengan kepala sedikit terangkat.


Krisna menghela napas memandang Wisnu prihatin, rasa cemburunya tidak bisa dia nampakkan bila melihat keadaanya seperti sekarang ini.


“Bukankah Hotel itu dilengkapi cctv?” tanya Isna kembali menatap Wisnu dan menarik kembali botol minuman itu ketika Wisnu melepaskan dari bibirnya.


“Ihsan sedang menyelidikinya,” jawab Wisnu lemah dan terlihat pasrah.


“BAR, kau harus memeriksa dengan seksama tempat itu, siapa saja yang berada di sana malam itu. Aku curiga ada orang dalam yang sengaja melakukannya. Menjebakmu.”


Krisna mulai berasumsi. Dirinya menarik kursi dan duduk di samping ranjang, memandang Wisnu yang menerawang ke langit-langit ruang rawatnya tidak menyahut.


“Sayang, masalah Wisnu tidak sesederhana itu. Ada gadis yang turut menjadi korban. Kau tahu?” lontar Isna dengan suara geregetan.


“Iya, Bunda cerewet,” sahut Krisna memandang Isna ikut geregetan.


“Apa yang bisa aku lakukan? Apa?” tanya Wisnu merasa frustasi menghadapi kemelut masalahnya.


“Lalu dimana gadis itu?” tanya Krisna dengan wajah serius.


“Dia, diantar Ihsan ke kantor polisi malam itu, dia jijik melihatku dan aku benar-benar membuatnya terluka,” ungkap Wisnu dengan suara menahan sesak dadanya.


“Itu, yang membuatmu melakukan hal bodoh ini?” ejek Isna memukul perut Wisnu dengan kesal


Wisnu meringis menahan sakit dengan tangan kanan menghalau tangan Isna.


“Lihat, kedua tanganmu terluka semua. Seharusnya kau lukai saja wajahmu itu, bukan tanganmu. Tanganmu lebih bermanfaat daripada wajahmu,” lontar Isna sewot membuat Krisna terbahak.


Wisnu hanya bisa berdecak kesal, namun ikut tersenyum juga. Wanita di depannya ini selalu punya lontaran kata ampuh yang bisa menghilangkan tekanan di saat masa sulit sedang melanda mereka.


“Jomblo dua tahun? Sekarang malah terbaring lemah di sini setalah tidak perjaka lagi?” desis Isna membuat Krisna menahan tawa. Wisnu menatap Isna dengan wajah masam.


“Belum ada laporan dari pihak kepolisian mengenai apa yang terjadi antara dirimu dan gadis itu, sepertinya dia belum lapor polisi,” papar Krisna membuat Wisnu terkejut dan kembali serius.


“Dia belum lapor polisi?” tanyanya mencoba meyakinkan apa yang dia dengar.

__ADS_1


“Belum, kita tunggu perkembangannya. Orangku akan membantumu mencari tahu kenapa.”


Wisnu kembali menatap langit-langit kamarnya, mencoba mengingat kembali malam dimana dia melukai dirinya sendiri, suara dan sentuhan jemari lembut di pipinya.


Apa gadis itu yang kembali ke kamar hotel dan menolongku. Dia belum lapor polisi karena melihat keadaanku.


Jantung Wisnu berdetak lebih cepat, dia mengingat janji dan sumpahnya, membalas orang itu dengan hidupnya.


“Isna, tuan Krisna, bisakah kalian mencari tahu dimana dan siapa wanita itu?” pinta Wisnu dengan wajah serius.


“Kau mau apa kalau bertemu dengannya? Ihsan menawarkan kompensasi berupa uang dan dia sepertinya akan menerimanya,” ucap Krisna membuat Wisnu bergemuruh marah.


“Kompensasi uang?” tanyanya mengulang ucapan Krisna.


“Iya, aku rasa dia menerimanya, tandanya dia belum melaporkanmu kepada polisi hingga detik ini.”


Wisnu menatap Isna dan Krisna dengan mata sayu, merasa malu kenapa hal hina ini harus dia alami.


"Kenapa kau belum melaporkan aku? " batin Wisnu bertanya-tanya.


“Kalau dia menerima uang itu, anggap kau jajan, kalau dia tidak mau menerimanya, nikahi dia, kejar dia sampai kata maaf terlontar langsung dari hatinya untukmu,” ucap Isna membuat Wisnu dan Krisna menatap dengan kening berkerut.


“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?” desis Krisna menjentikkan ujung jari telunjuknya ke kening Isna membuat Isna mengerucutkan bibirnya.


“Jajan? Bisa-bisanya,” decak Krisna membuat Isna tertawa lirih.


Wisnu menatap Isna dengan senyuman tipis, merasa lega saat dia terpuruk ada yang mencoba untuk menghibur dengan mengurangi beban tentang ungkapan berat, seorang pemerkosa.


“Berhati-hatilah. Ada seseorang yang sepertinya sedang mencoba memanfaatkan kejadian malam itu hingga gadis itu jadi korbannya.”


Krisna berdiri dan menepuk lengan Wisnu memberi semangat. Memberi tatapan menguatkan agar bisa menghadapi masalah ini tanpa melukai diri sendiri lagi.


“Cepat sehat ya, keponakanmu merindukanmu,” ucap Isna juga ikut berdiri.


Wisnu mengangguk dan memaksa tersenyum, membiarkan kedua orang yang sudah dia anggap keluarga itu pamit.


Sepeninggal Krisna dan Isna, Wisnu dengan susah payah menarik tubuhnya agar bisa duduk bersandar. Memandang kedua tangannya dengan perasaan menyesal. Kenapa dirinya malam itu sangat lemah jiwanya, seperti dikuasai pikiran kotor.


Siapa orang yang mencoba menjatuhkanku? Dan kenapa dia melakukannya? Kalau bukan Dirga … lalu siapa? Dan obat apa yang dia berikan padaku, hingga rasa ingin menyakiti yang seolah timbul di otak hingga membuatku menjadi tidak waras dan melakukan kekerasan pada gadis itu dan diriku sendiri?


Wisnu mendesah frustasi, mengatur napasnya mencoba untuk menenangkan diri. Dia mulai menyusun rencana untuk membuka tabir masalahnya. Ada yang merencanakan kehancurannya, tapi siapa?


Bersambung …


Hai semua, kembali lagi ya pada kisah Wisnu. Ikuti terus kisahnya jangan bosan ya ^_^


Berikan Like komentarmu juga vote seikhlasnya yaa 😊


Note.


Krisna, Isna adalah teman kecil sekaligus tuan besar dimana Wisnu dulu menjadi bodyguardnya. (Novel IKTK)


Saka adalah putra mereka berdua bagi yang sempat bertanya tentang anak KrIsna laki-laki apa perempuan. Hehe


Alan adalah keponakan Wisnu.


Biar nggak merasa lama menunggu updatenya, baca juga ya kisah lain dari karya sahabatku




Semoga suka.


Salam segalanya bagiku ~Syala Yaya🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2