
Isna memandang bingung ke arah Almira, lontaran pertanyaan soal foto terang saja membuatnya tidak mampu menjawab apa-apa. Ia hanya tersenyum dan mengibaskan tangannya dalam menanggapi Almira.
“Foto apa maksudmu?” tanya Isna sembari tersenyum, tangannya segera meraih jemari Almira dan menariknya agar mengikuti langkahnya.
“I-itu, foto kak Isna di ruangan kerja Mas Inu,” jawab Almira segera melangkah mengikuti Isna yang menariknya berjalan.
“Mas Inu-mu menyimpan fotoku?” tanya Isna melirik Almira dengan gemas. Ingin sekali ia menertawai sikap istri Wisnu ini. Bukannya menghardik, kenapa malah malu-malu menggemaska.
“I-iya kak,” jawab Almira berjalan bersandingan dengan Isna. Isna semakin tertawa menanggapi.
“Lalu kamu mau apa?” tanya Isna dengan batin tertawa sendiri.
Isna memandang raut wajah Almira yang terlihat cemberut, sisi wajah menanda jelas bentuk kecemburuan terhadap dirinya. Isna membayangkan bahwa dirinya menjadi sosok yang sengaja Wisnu perlihatkan untuk menguji perasaan istrinya. Isna merasa Wisnu juga sangat lucu.
“Mau aku beri saran?” tawarnya membalik badan menghadap Almira yang gugup menghentikan langkahnya.
“Kalau aku jadi kamu, akan aku ganti semua foto itu dengan foto pernihanku, aku akan mengacak-acak meja kerjanya dan akan aku perlihatkan rasa cemburu dan marahku kepadanya. Aku akan menangis histeris dan tidak akan diam sebelum dia memelukku dan meminta maaf. Aku tidak akan diam saja seperti kamu,” ucap Isna berapi-api. Semua perkataannya malah menyentuh perasaan Almira. Wanita ini mengajari cara menunjukkan sebuah cinta.
Almira menunduk dengan perasaan malu, bahkan dirinyalah yang memberikan banyak syarat untuk pernikahannya. Kenapa dia yang marah saat mendapati semua hal dari suaminya tidak berubah sesuai kemauannya. Almira yakin Isna akan mengatainya bodoh kalau cerita masalah kenapa dia diam saja mengenai foto yang disimpan suaminya.
“Kalau suamimu masih mengingat masa lalunya, berusahalah dengan membuatnya memandangmu. Masa lalu akan selalu ada, tapi masa depannya sudah jelas itu kamu. Kenapa harus khawatir?” lontar Isna memandang Almira dengan senyuman.
“Saya … bukan bermaksud untuk menuduh Anda …,” Almira menghentikan kalimatnya dengan tatapan ragu terhadap Isna.
“Kamu cemburu ya?” goda Isna sembari tertawa dan melangkah lagi menuju ke ruang tamu dimana Krisna dan Wisnu terlihat sedang berada dalam pembicaraan santai.
“Kalau kamu cemburu, aku malah senang. Itu tandanya kamu benar-benar mencintai kakakku,” ujar Isna menggandeng tangan Almira lagi.
Almira membalas sunggingan senyum Isna. wanita bernama Isna ini sungguh membuatnya membelalak mata, sikapnya yang santai, pandangannya sederhana tapi luas.
“Jangan biarkan wanita lain merebut perhatian suamimu, rebut semua hatinya. Kalau ada wanita masa lalu yang datang, hadapi dia … walau dia datang lebih dulu tapi dia hanya bagian dari kenangan, sedangkan statusmu sekarang adalah masa depan. Kamu paham?” ucap Isna sambil terus berjalan mengiring langkah Almira.
“Iya, Kak Isna. Terimakasih banyak,” jawab Almira sambil menatap suaminya yang kini juga sedang memandangnya.
“Ehm!” Isna berdeham usil, dengan langkah santai ia mendekati Krisna dan berbisik di telinganya. Saling memandang hingga Krisna balik membisikkan sesuatu juga di telinga Isna, Isna tertawa terbahak menatap Wisnu.
Wisnu menahan decakan, merasa dirinya dijadikan obyek yang sedang jadi bahan gibahan orang yang termasuk penting bagi kehidupannya itu. Sesekali pandangannya mengarah pada interaksi Isna dengan suaminya yang sangat asyik baginya.
“Abaikan saja dua orang itu,” ucap Wisnu kepada Almira. Almira hanya bisa tersenyum mengangguk.
Almira tersenyum sendiri. Ia memahami setiap ucapan yang diberikan Isna kepadanya bahwa semua orang memiliki masa lalu hanya saja tergantung dari bagaimana cara ia menyikapinya.
“Kamu melamun?” tanya Wisnu pelan, tangannya sambil menyentuh jemari Almira.
Almira menoleh kaget, sejak kapan perpindahan tempat dilakukan Wisnu hingga pria itu kini sudah duduk di sampingnya. Almira segera menggeleng cepat dan tersenyum kebingungan.
“Apa Isna bicara macam-macam denganmu, kenapa kamu berubah pendiam begini?” sindir Wisnu segera diprotes Isna dengan gerutu dan kibasan tangannya ke arah Wisnu.
“Apaan? Wah … aku bicara apa,” decak Isna bersungut tidak terima. Pundaknya segera di rangkul Krisna dan memberi isyarat diam.
“Wisnu, aku rasa pembicaraan kita sudah jelas ya, aku pulang dulu kalau begitu,” pamit Krisna segera diberi anggukan Wisnu.
“Kami permisi ya Almira. Jangan lupa pembicaraan kita yang tadi ya?” pesan Isna memandang Almira dengan senyuman.
“Iya Kak, saya mengerti,” jawab Almira mengangguk.
“Kamu memberinya nasehat?” tanya Wisnu memberi isyarat menggoda Isna.
”Ck! Hih … tidak menyangka seorang Wisnu bisa payah menakhlukkan wanita," desis Isna sambil meraih Shaka dalam pangkuan Krisna dan berdiri sambil menciumi putranya dengan gemas.
“Sudah mau pulang?” tanya Krisna memandang Isna yang sepertinya sudah siap-siap.
“Iya, kita jangan lama-lama. Kedatangan kita mengganggu mereka,” bisik Isna tapi masih bisa terdengar jelas di telinga Wisnu maupun Almira.
__ADS_1
“Nah … itu tahu,” celetuk Wisnu tertawa.
“Iya, iya … kita pulang,” balas Isna melirik Wisnu dengan cibiran. "Temanten baru butuh ketenangan."
Almira menutup bibirnya menahan tawa. Sikap Isna memang sudah seperti adik Wisnu. Ia percaya bahwa hubungan mereka kini hanya sebatas kakak adik saja.
Krisna segera berdiri dan mengambil alih Shaka dari gendongan Isna, meraih pundak Isna agar berjalan mengikutinya.
“Kita pamit Wisnu. Berhati-hatilah,” pesan Krisna segera diberi anggukan Wisnu.
Almira hanya bisa memandang bingung, tidak paham dengan pembicaraan antara suaminya dengan tuan Krisna. Ia segera berjalan ketika pundaknya diraih Wisnu agar berjalan menyusul Krisna dan Isna yang sudah mencapai pintu keluar.
“Tamu kita sudah mau pulang, kita antarkan kepergiannya,” seloroh Wisnu diberi anggukan Almira.
Mereka berempat saling melambai tangan. Krisna sudah berada di dalam mobil, begitu juga Isna. Mereka saling melempar senyum hingga akhirnya mobil mereka berjalan dan meninggalkan kediaman Wisnu.
Gerbang perlahan menutup hingga mobil akhir dari pengawal Krisna meninggalkan halamannya. Hanya menyisakan mereka berdua lagi, sepi.
Wisnu menghembus napas, meregangkan sejenak tubuhnya dan menghirup udara sejuk dalam-dalam. Almira hanya tersenyum mengamati.
“Istri tuan Krisna cantik sekali ya?” ucap Almira masih berdiri di samping Wisnu yang sedang berolah raga ringan di halaman.
Wisnu hanya menoleh, dia masih meregangkan tangan dan kepala dengan gerakan ringan tanpa menyahut. Mau dilihat dari sisi manapun seorang Isna tetaplah cantik baginya, dan semua orang setuju dengan dirinya. Wisnu menggelengkan kepalanya membuang ingatan kepedihan yang harus Isna hadapi sebelum menjadi sekarang ini.
“Pantas saja suamiku betah menjomblo,” lontarnya mengagetkan Wisnu.
“Kenapa kamu jadi membawa namaku?” protes Wisnu memandang bingung.
“Iya 'lah. Kamu dingin, kaku dan angkuh dengan semua orang, tapi tidak dengan satu perempuan itu,” tunjuk Almira dengan bibir bersungut protes.
“Tentu saja, dia nona yang harus aku jaga, aku dulu bekerja sebagai Bodyguardnya. Masa aku ketus padanya. Apa aku cari mati,” jawab Wisnu menyanggah ucapan Almira yang kini raut wajahnya nampak merengut.
Wisnu yakin dan ia amat senang, istrinya pasti sedang cemburu dengan masa lalunya bersama Isna yang baginya cukup menyesak di dada.
“Dia cantik sekali, pasti matamu selalu mencuri pandang terus dengannya 'kan?” sungut Almira lagi.
"Kamu hanya melirik saja 'kan? aku harap belum ada kenangan manis dengannya," lontar Almira membuang bayangan Wisnu dan Isna bisa saja dibelakang Krisna mencuri adegan mesra.
Wisnu hanya bisa menahan tawa, ucapan Almira sangat menggelitik hatinya. Wisnu mengabaikan ucapan Almira dan memilih berlari kecil mengintari halaman. Almira semakin bersungut memandang suaminya.
"Kenangan apa yang bisa dilakukan seorang Bodyguard bersama nona cantiknya?" lontar Wisnu menertawai Almira.
"Siapa yang tahu," omel Almira masih saja mencoba mendapatkan jawaban kenapa suaminya harus memasang foto istri orang.
"Makanya, cobalah kamu berusaha hapus kenanganku dengannya," goda Wisnu masih sambil berlari kecil, sesekali tawanya terdengar menyebalkan bagi Almira.
“Dia sangat ramah dan juga sederhana, aku menyukainya,” lontar Almira lagi masih berdiri memandang Wisnu yang saat ini berlari kecil ke arahnya.
“Dia memang cantik, bohong kalau bilang dia jelek. Tapi bagiku sekarang ini yang paling cantik cuma is …,” jawab Wisnu menggantung, ia sengaja menghentikan ucapannya dan kembali berlari menjauh.
“Is? Isna pasti ya?” decak Almira kesal hendak pergi meninggalkan Wisnu yang malah tertawa sambil berlari menghampirinya.
“Istriku, dong,” ucapnya sambil mencuri cium pipi Almira dan segera masuk ke dalam rumah, melambaikan tangannya mengajak Almira menyusul cepat.
“Gombal,” sungut Almira masih merasa cemburu, tapi nyatanya hatinya gembira juga mendapatkan ciuman manis itu.
Almira gemas merutuki diri. Pagi-pagi Isna dan Wisnu berhasil membuatnya cemburu. Sebuah hal yang dia buang jauh dan menjadi salah satu dari daftar list yang harus dihindarinya. Pertahanannya runtuh karena pesona wanita itu malah hadir, nyatanya dia memang cemburu.
“Kita belanja bersama, aku mau kamu masak enak nanti malam,” ucap Wisnu sudah berada di lantai atas memandang Almira yang menaiki tangga dengan langkah pelan.
“Aku malas masak,” jawab Almira kesal.
“Kalau begitu, aku yang akan memasak. Bagaimana, kamu mau?” lontar Wisnu lagi berdiri di pagar pembatas memandang Almira dengan sorot mata menertawai sikap menggemaskan istrinya. Sikap cemburu yang amat dia sukai.
__ADS_1
“Mas Inu bisa masak?” ledek Almira menghentikan langkahnya dan memandang senyuman Wisnu yang kini masih berada di atas sana memandang dirinya.
“Jangan panggil namaku Wisnu kalau aku tidak bisa membuatmu terpesona dengan masakanku,” jawab Wisnu dengan suara sombong.
“Halah … Wisnu payah dalam memperebutkan wanita, jelas saja aku meragukanmu,” balas Almira menyindir. "Isna menikah dengan Krisna bukan denganmu," ejek Almira gregetan sendiri sekaligus merasakan aneh pada hatinya. Dia tidak rela Wisnu menikahi wanita lain.
“Astaga … kalau aku menang, sudah pasti kisah ini tidak akan ada. Bukankah begitu?” jawab Wisnu dengan suara serius. Almira menunduk hingga beberapa saat, pikiran yang sama.
“Kisah pernikahan ini tidak akan terwujud bila kisah masa laluku tidak payah, bukan begitu?” ucap Wisnu lagi menunggu tanggapan Almira.
“Iya ... Mas Inu benar,” jawab Almira tersenyum dan berani memandang Wisnu lagi. Ia segera menaiki kembali tangga dan berhenti saat kakinya sudah mencapai lantai atas.
Mereka berdua berdiri sambil memandang satu sama lain dengan pikiran yang semakin dalam.
“Kenapa ... kita tidak melanjutkan hal yang tertunda tadi?” ucap Almira lantang hingga terdengar dan mencengangkan Wisnu.
“Kamu ….” Wisnu mengernyitkan keningnya bingung.
Seorang Almira menggodanya?
Astaga, Wisnu memecah derai tawa, ia segera berjalan mendekati Almira yang malah mundur selangkah demi selangkah dengan kerjapan matanya.
“Kamu menantangku?” goda Wisnu masih tertawa.
“Hah? Aku … aku hanya terbawa suasana, aku bercanda,” sanggah Almira tertawa sendiri dengan lontaran kata-katanya.
“Tapi aku suka candaanmu,” sahut Wisnu segera berlari mendekati Almira yang malah berhenti melangkah dan membiarkan Wisnu menggapainya dan memeluk tubuhnya.
“Terimakasih sudah cemburu,” bisik Wisnu merekatkan pelukannya.
“Ehmm … tapi kamu harus singkirkan fotonya dari ruang kerjamu,” desis Almira kesal.
“Yang penting dari hatiku, sudah,” ucap Wisnu membuat Almira merona senang.
“Tetap saja,” jawab Almira masih belum puas.
“Lalu, bagaimana dengan foto Bagus di dalam ponselmu? Apa kamu sudah mengganti wallpapernya seperti ponselku?” tanya Wisnu melepaskan pelukannya dan memandang Almira dengan tatapan pertanyaan yang dalam.
“Itu ….”
“Aku sudah berusaha merubah hidupku, semuanya. Sedikit demi sedikit agar aku bisa layak bersanding dan menghargai keberadaanmu. Lalu kapan kamu akan mulai berubah dan menghargai posisiku sebagai suamimu? kapan?” ucapnya lembut namun sekali lagi berhasil menghenyakkan perasaan Almira.
***
Sudahkah aku memantaskan diri agar cintaku pantas dihargai?
Sudahkah aku merubah cara pandangku agar langkahnya sama dengan pasanganku?
Sudahkah pula aku merubah hal kecil dari hidupku yang akan terus kupupuk menjadi sebuah hal besar dan membawa perubahan berupa kasih sayang dan juga cinta?
Kenapa aku selalu menuntut padahal aku belum mau dituntut?
Kenapa aku memaksa padahal aku sendiri menolak untuk dipaksa?
Kini aku merasa malu saat menyadari kamu sudah melakukannya untukku.
Kamu membuatku menyadari bahwa dasar dari cinta adalah keseimbangan rasa, saling memberikan sayang dan menerima sebuah perhatian. (Almira&Wisnu) by ~ Syala Yaya🌷🌷
Bersambung ...
Hallo semuanyaa
Terimakasih untuk dukungannya yaa like, komen positif juga Votenya😘
__ADS_1
Ikuti terus kisahnya yaaa ... jan bosan pokoknya. mode maksa Almira On hehehehe
Salam tos Online dari ~ Syala Yaya🌷🌷