
🌻🌻🌻🌻🌻
Suara tangisan bayi menjadi pelengkap hari-hari Wisnu selama seminggu ini. Dia belum rela meninggalkan Almira di desa sedangkan ia seharusnya sudah berada di Solo untuk bekerja. Sejak kelahiran Sekar otomatis begadang menjadi rutinitasnya setiap malam. Ia setidaknya membantu Almira mengambilkan beberapa keperluan untuk bayinya karena Almira belum sembuh benar.
Tubuhnya menggeliat pelan. Ia tidur di kursi rumah bagian tengah yang sering digunakan untuk menonton televisi. Setiap malam hampir semua tetangga sebelah datang ke rumah untuk menjenguk Almira. Mereka baru pulang hampir tengah malam.
Awalnya Wisnu merasa aneh, untuk apa ada tradisi seperti itu, tetapi setelah seminggu berlalu ia pun merasa terbiasa.
“Mas Wisnu, sarapan,” panggil Ersa sudah membawa sapu dan lap kaca ke dalam ruangan TV yang terbuka.
“Hem,” sahut Wisnu membuka pelan kedua matanya sambil menguap.
“Mbak Ira sudah mandi, dedek Sekar sudah cantik, Lho,” oceh Ersa seperti biasa. Gadis yang kini duduk di kelas dua SMK itu membuka korden dan mulai membersihkan lantai.
“Jam berapa?” tanya Wisnu malas.
“Delapan,” jawab Ersa sambil lalu. “Dapur udah rame, lho Mas. Banyak yang masak buat acara Aqiqah dedek Sekar,” papar Ersa tanpa melihat Wisnu, dirinya masih asyik mengelap kaca.
“Astagfirullah, sudah siang.” Wisnu bangkit dari kursi sambil meraih selimut dan berjalan meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke kamarnya.
Semalam ia diminta ibu mertua untuk di luar saja agar lebih nyaman saat tidur. Di kamar Sekar terus saja rewel hingga memaksa semua orang begadang hingga subuh menjelang. Halimah tidak mau menantunya kecapaian karena siangnya harus PP Solo-Pacitan untuk balik bekerja. Mertuanya sangat cemas karena Wisnu kurang tidur setiap malam.
“Tuh, Ayah baru bangun. Kucel, ya, Dek. Gantengnya ke mana itu?” goda Almira seraya menggendong Sekar yang mulai bangun dengan mulutnya yang menguap.
“Gantengnya ilang,” sahut Wisnu meraih pinggang sang istri kemudian mencium tengkuknya dengan perasaan sayang.
“Kamu balik dan istirahat di rumah, Mas. Kalau udah enakan, nggak kurang tidur lagi, baru pulang ke sini. Kamu nanti capek pulang pergi ke sini,” bisik Almira menoleh ke arah Wisnu yang sedang memeluknya dari belakang dengan menempatkan wajahnya di ceruk lehernya sementara dirinya menimang Sekar dalam gendongan.
Wisnu hanya menghela napas.
“Kamu mandi dan sarapan, kusut, tuh,” pinta Almira seraya mengusap wajah mungil putri mereka yang kembali terlelap.
“Apa bayi seperti itu?” komentar Wisnu.
“Kenapa? Apanya yang seperti itu?” Kening Almira berkerut.
“Kalau siang bobok, kalau malam begadang dan rewel?”
__ADS_1
“Ada yang sebagian begini, ada yang enggak. Kenapa? Kamu kesel?” tanya Almira bergerak menuju ke kasur kemudian merebahkan tubuh mungil Sekar ke atas pembaringan. Wisnu masih belum mau melepaskan pelukannya dan ikut serta ke manapun Almira bergerak.
“Aduh! Bayiku ternyata ada dua,” keluh Almira membuat Wisnu terkekeh. Rasanya nyaman sekali bisa memeluk terus sang istri. Rasanya tidak kuat kalau harus pisah lama-lama tidak mendengarkan omelan Almira kalau ia harus tinggal di Solo sementara istri dan anaknya di Pacitan.
Ia pun kini beralih duduk di kasur, mengamati betapa polos dan indahnya ciptaan Allah yang kini berada di hadapannya. Ia pun merebahkan dirinya ke kasur, tidur miring sambil meletakan jemari tangannya ke dalam genggaman mungil Sekar.
“Dia sangat cantik,” gumam Wisnu dengan perasaan penuh haru. “Dia tercipta penuh cinta, benar 'kan?”
Almira yang sedang merapikan popok Sekar ke dalam bak cucian menoleh, tetapi tidak menanggapi ucapan suaminya. Ia paham apa yang sedang dipirkirkan Wisnu, tetapi membuat keputusan untuk berdamai dengan masa lalu membuatnya enggan membayangkan apa yang terjadi di masa itu.
“Biar aku yang nyuci.” Wisnu menatap tajam ke arah Almira yang berjalan pelan menuju ke arah pintu.
“Udah baikan, Kok. Nggak apa,” kilah Almira.
“Nggak! Taruh embernya di situ dan kamu ke sini, tidur lagi aja barengan sama Sekar. Nanti malam begadang lagi soalnya,” tegas Wisnu melambaikan tangannya.
“Mas capek, baru balik semalam. Nanti berangkat jam berapa?” Almira masih mematung di tengah ruang.
Wisnu memiliki sifat yang tidak mau dibantah kalau sudah menyangkut kesehatan. Meski beberapa kali berdebat, tetap pria itu akan tegas dengan pendiriannya. Tangannya kini masih melambai, menyuruh Almira kembali ke kasur dan tidur, ia tidak mau mendengar alasan yang lain lagi.
Almira menghela napas kemudian meletakan embernya di tengah ruang. Ia pun duduk di kasur dengan hati-hati. Mendapatkan beberapa jahitan hingga ia harus berhati-hati saat melakukan aktivitas.
“Maaf, ya. Gara-gara Almira minta pulang, Mas jadi repot begini?” ungkap Almira merebahkan dirinya di kasur. Mereka sama-sama tidur miring menghadap Sekar yang masih terlelap.
“Justru, kalau kamu nggak sama ibuk, mungkin aku malah yang terus saja setress, Ra. Aku aja bingung bagaimana cara gantiin popok,” ungkap Wisnu tersenyum.
Almira pun ikut tersenyum. Mengingat kembali beberapa hari lalu saat dirinya masih sukar bergerak. Apa-apa harus dilayani dari tempat tidur. Sekar terbangun dan menjerit, tangisan melengking hanya karena sedang pup. Wisnu yang panik malah membuat Almira mengulum senyum. Seorang pria yang baru saja menyandang gelar kehormatan, yaitu Ayah.
“Ganti popoknya, Yah. Itu kayaknya Sekar pup,” pinta Almira berusaha bangkit dari tidur. Baru saja melahirkan tiga hari dan pulang ke rumah membuat tubuhnya masih lemah dan sakit untuk bergerak.
Wisnu pun saat itu segera membuka bedong pelan-pelan. Setelah menyadari tubuhnya ada yang memegang, tangisan Sekar segera berhenti. Kesempatan itu pun digunakan Wisnu untuk membuka popok si kecil.
“Ah! Belepotan, Ra,” keluh Wisnu menatap memelas ke arah sang istri.
“Ya, namanya juga bayi.”
“Terus ... ini ... aku harus ngapain?” tanyanya polos.
__ADS_1
Almira menggeleng menahan tawa. Wisnu pun menutup kembali popok bayi itu dan beralih menatap Almira bingung.
“Ambil washlap sama air hangat. Tempat menampung popok yang kotor dan jangan lupa kapas untuk bersihin pupnya,” ucap Almira pelan.
Wisnu pun bergegas mengambil semua yang Almira minta. Mengisi ember dengan air hangat. Menyiapkan washlap juga kotak perlengkapan Sekar ke atas kasur. Ia pun menatap Almira dengan ragu-ragu.
“Terus gimana?” tanyanya bingung harus memulai dari mana.
Sekar pun menggeliat mulai tidak nyaman. Mengeluarkan suara pelan membuat wajah Wisnu mendadak panik. “Ra, dia mau nangis, cepetan aku harus ngapain?” tanyanya sambil menggulung kaos lengan panjangnya dengan wajah kebingungan.
“Ya, bersihkan, Mas.” Almira menahan tawa.
Sambil meremas kedua jemari tangannya dan menarik napas dalam Wisnu pun melakukannya kewajiban sebagai ayah untuk yang pertama kalinya. Ia sangat patuh dengan panduan Almira agar Sekar tetap nyaman sementara ia membersihan tubuh putri mungilnya.
Almira menatap Wisnu penuh rasa haru. Pria itu sangat telaten meski ia tahu bahwa kini suaminya berusaha untuk menahan risih atau mungkin saja membuang rasa jijik. Ia menatap dalam saat Wisnu melepaskan senyuman penuh kebanggaan saat selesai melakukannya tanpa membuat Sekar kembali menangis.
“Done, Dek Sekar.” Wisnu menoleh ke arah Almira dengan tatapan bahagia dan senyuman lebar. “Udah nyaman 'kan? Enggak kotor lagi 'kan, cantiknya Ayah?”
“Good job, Ayah,” sahut Almira memberinya jempol.
Setelah selesai Wisnu merapikan barang-barangnya dan memisahkan tempat kotoran dan sampah. Pria itu pun menghampiri Almira dan Sekar lagi masih dengan wajah cerah.
“Aku udah bisa,” ucapnya bangga dan pamer.
Kebanggaan itu pun akhirnya harus pupus ketika Sekar mengeluarkan suara kentut yang panjang disusul bunyi yang membuat Wisnu terduduk di samping sang bayi.
“Sekar ... ya ampun, ini belum lima menit,” lirih Wisnu mencolek pipi gembul Sekar. Ia memandang Almira dengan embusan napas dan wajah memelas.
Almira hanya bisa tersenyum simpul sambil berujar menggoda, “Maaf, Ayah. Sekar, tuh kebelet.”
*****
'Salah satu kebahagiaanku, menatap kamu dan buah hati kita. Saat tangisan melengking terdengar darinya, saat itu pula kita belajar bagaimana bahasa tubuh sedang dimainkan. Saat mata polos memandang disertai ocehan lucu, saat itu pula aku tahu dirinya sudah merasa nyaman. Aku tahu ini berlangsung sangat singkat. Waktu akan terus bergulir hingga aku tidak mau sedikit saja melewatkan momen berharga itu.'
(Wisnu & Almira).
❤️Salam Pamer dari Ayah Sekar yang Keren (Mas Inu ✌️)
__ADS_1