Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 97 Rinai Hujan


__ADS_3

🌻🌻🌻


Rinai hujan, gemercik air terdengar jatuh bersahutan. Suara hewan seperti jangkrik, kodok, dan beberapa burung malam pun terdengar mengiringi. Keringat Almira terlihat mengkilap di bawah temaram lampu kamar yang menyala. Beberapa kali ia berguling. Mencoba untuk menyamankan diri pada tumpuan bantal dan kasur, tetapi ia cukup letih juga.


Malam ini, ia tengah berada di rumah orang tuanya. Setelah mendengar kabar bahwa bapaknya sakit sudah lima hari, ia pun memaksa suaminya itu mengantar pulang ke desa. Sudah selama lima bulan memang ia belum berkunjung, pekerjaan Wisnu memang cukup menyita waktu hingga ia harus mengalah dan memendam kerinduan kepada bapak dan ibu.


Namun, saat ia mendengar bapaknya sedang sakit. Perasaan itu menggebu untuk segera pulang. Terbayang wajah sang bapak yang tidak pernah satu kali pun mengeluh sakit seumur hidupnya, membuat Almira merasa tidak tenang.


“Kenapa?” bisik Wisnu bergerak, sedikit bangkit dengan mendorong tubuhnya untuk membungkuk menghadap sang istri. Gerakan Almira tidak seperti biasanya pun malah membuatnya cemas.


“Tadi sempat rasanya kok nyeri di bawah sini,” jawab Almira menunjuk pada bawah perut bagian pusar.


“Sekarang rasanya bagaimana?” tanya Wisnu segera bangkit, kini tangannya bergerak untuk mengelus perut buncit sang istri.


“Rasanya ilang, udah enakan. Cuma ....”


“Cuma kenapa? Jangan bikin nggak tenang, deh, Ra!” gemas Wisnu. Tangannya semakin aktif bergerak untuk mengusap kulit kokoh yang menghalangi antara dirinya dan sang calon anak.


“Kebelet, pengin ke kamar mandi,” bisiknya malu.


“Aku anterin,” ajak Wisnu.


“Nggak apa-apa Mas Inu antar terus tiap jam?”


“Ya, nggak apa-apa. Kita besok pulang ke Solo, ya?” ajaknya mulai merangkak turun dari kasur, mengikuti Almira yang sudah bergerak turun dari sisi yang lain.


“Bapak masih sakit.”


“Kalau kamu lahiran gimana? Aku cemas lho, Ra.” Napas Wisnu terasa sekali menahan himpitan ketegangan. Ia merasa terus cemas bahkan seringkali tidak tidur semalaman hanya untuk mengamati istrinya yang sedang tidur.


Begitu ringkih, tetapi justru menyimpan kekuatan yang tidak terbantahkan karena mampu menjalani ketidak nyamanan itu selama berbulan bulan. Mengingat kembali betapa bertahun lamanya ia membenci sang ibu kandung -Shantika- setelah apa yang terjadi di masa mudanya sungguh menorehkan penyesalan. Harusnya ia cukup membenci sikapnya bukan orangnya sebagai seorang ibu yang melahirkannya.


“Lahiran yang tinggal lahiran 'kan, Mas,” jawab Almira menggoda suaminya dengan menanggapi sekenanya.


“Mas serius, Dek Ira. Kamu nggak tahu,ya?” Wisnu merasa geregetan.


“Apa yang nggak tahu?” balas Almira kini sudah berjalan ke arah kamar mandi yang berada di rumah belakang.


“Aku tiap dengar ada yang mau lahiran, jantungku berdebar nggak karuan, perutku ikut mulas, dan parahnya aku kayak kehabisan napas seperti mau pingsan,” jawab Wisnu berdiri di depan pintu yang tertutup sementara Almira sudah berada di dalam.


“Nggak apa-apa kalau Mas Inu nanti nggak bisa nemenin Ira lahiran, lagipula kayaknya rumah bersalin nggak mengizinkan suami ikut menunggu di dalam,” jawab Almira dari dalam.


“Nggak bisa, aku pokoknya ya ingin menemani kamu, rasanya nggak tega kalau kamu melewati sendirian di dalam ruangan.”


Almira keluar dari kamar mandi dengan wajah penuh tawa. Ia merasa sangat lucu dengan apa yang diucapkan laki-laki yang terkenal dengan sebutan si Patung Hidup dengan begitu manis dan lugu saat berbicara dengannya. Ia bahkan akan menyangkal omongan orang kalau Wisnu itu laki-laki dingin yang tidak punya simpati pada orang lain.


Mereka salah, Wisnu sangat penyayang. Ia merasa beruntung sudah bersanding dengannya.


“Malah ketawa,” sungut Wisnu merasa gemas sendiri. Pikirannya terlampau cemas, sedangkan istrinya malah sangat santai. Ingin rasanya ia menyadarkan perempuan itu agar bisa menenangkan hatinya yang gundah.


“Ya, aneh aja gitu. Dulu Mas Inu semangat banget pingin aku hamil, eh sekarang cemasnya nggak ketulungan,” ledek Almira berjalan mendahului Wisnu.

__ADS_1


“Kalau kamu nggak hamil, bawaannya kamu ngajak pisah, Ra. Mas cuma mikirnya bagaimana biar kamu nggak mikir pergi dan anggap aku suamimu.”


“Astagfirullah, Mas. Ira minta maaf, ya. Saat itu ....”


“Sehat terus, ya, Ira. Harus kuat kamu nanti melahirkan anakku. Seperti kamu mengkhawatirkan bapak, rasanya sama seperti aku mengkhawatirkan kamu,” ucap Wisnu meraih pundak Ira dan segera memeluknya erat.


“Terima kasih, Mas. Ira sebenarnya juga selalu cemas, hanya saja dengan pasrah rasanya semua akan terasa lebih mudah," ucap Almira mencoba sedikit menenangkan suaminya.


”Ini rasanya gimana? Ayo balik ke kamar. Ini masih jam dua malam,“ ajak Wisnu memberi akses jalan untuk Almira.


”Sebentar, aku kebelet lagi,“ jawab Almira berbalik badan kembali ke dalam kamar mandi, sungguh pemandangan yang membuatnya semakin gelisah.


”Ra, kita periksa, ya? Masa ke kamar mandi terus?“


”Nanti saja, Mas.“


”Ya Allah, Ira. Nurut suami kenapa juga, sih!"


“Ya, masa periksa malam-malam cuma karena kebelet terus, sih, Mas. Jangan lebay.”


Entah sudah berapa kali Almira keluar masuk kamar mandi. Bahkan terpaksa Wisnu tidak tidur semalaman hanya untuk menunggu istrinya di depan pintu. Tanpa sadar pria itu pun tertidur di meja makan dengan posisi telungkup memeluk lengannya sendiri. Ibu mertua yang hendak melaksanakan shalat subuh sampai terkejut.


“Nggak tidur di kamar?” tanya Halimah.


“Astagfirullah, di mana Ira!" gagapnya kebingungan, Halimah hanya bisa menatap Wisnu dengan wajah bertanya-tanya.


Wisnu segera mengecek ke kamar mandi, pikirannya sangat kalut saat tidak mendapati Almira di sana. Tanpa mengatakan hal apa pun kepada ibu mertua yang terlihat diam membisu menatapnya, akhirnya Wisnu beralih ke dalam ruang kamar.


”Lha ke mana?“ sahut sang mertua yang hendak ke kamar mandi kini malah mengurungkan niatnya.


Wisnu segera mengecek rumah depan, berharap sang istri berada di sana. Halimah pun juga mengekor di belakangnya. Ibunya Almira itu segera sadar bahwa mungkin saja anak perempuannya kini dengan merasakan kontraksi karena hendak melahirkan. Kemarin sore terlihat sekali puncak perut Almira sudah turun ke bawah.


Begitu Halimah dan Wisnu keluar dari rumah, mereka mendapati Almira sedang berjalan pelan di halaman. Rintik-rintik hujan pun kini sudah reda.


”Kamu ngapain?“ tanya Wisnu segera berjalan mendekat.


”Perutnya kenceng-kenceng, Mas. Terus aku milih jalan-jalan sebentar.“ Almira menatap kecemasan Wisnu lagi-lagi dengan wajah menyesal.


”Kenapa nggak bangunin mas Inu. Astagfirullah, Ira.“


”Nak, coba siapin keperluan Ira. Kayak baju ganti yang ada kancing depan, jarit, handuk, dan yang lain. Kayaknya ini Ira udah mendekati persalinan.“ Halimah yang berdiri di teras mengamati keduanya dengan pikiran lebih tenang. Pengalamannya melahirkan dua anak sangat membantu membawa ketenangan saat menatap putri sulungnya sudah tiba waktu bersalin.


”Baik, Bu. Tapi ...“


”Persalinan itu nunggu sampai setidaknya dua belas jam, Nak. Ira kamu tinggal sebentar untuk menyiapkan keperluan tidak akan ada apa-apa.“ Halimah mencoba untuk memahami kekhawatiran sang mantu.


”Baik, Bu.“


Wisnu pun mengecup kening sang istri sebelum akhirnya berjalan ke dalam rumah untuk menyiapkan keperluan untuk Almira. Ia sedikit jengkel dengan keadaannya. Di Kota, Almira sudah menyiapkan segalanya, ternyata situasinya kini ia berada di desa dengan minimnya akses kesehatan dengan jarak ke rumah sakit hampir satu jam.


”Andai nggak pulang,“ keluhnya lirih.

__ADS_1


Tangannya kini dengan cekatan memasukan apa yang dipikirkan penting dan dibutuhkan ke dalam tas. Sesekali ia terus memikirkan barang apa saja yang pernah mereka persiapkan ketika di rumahnya sendiri agar tidak terlewati.


”Yang salah itu kenapa aku nggak bawa aja barang keperluannya,“ gerutunya pada kebodohan sendiri.


Suara panggilan ibu mertua dari luar rumah memaksa Wisnu berlari cepat ke arah sana. Bayangan skenario buruk jelas saja tercipta begitu sang mertua memanggilnya dengan suara lebih panik dari sebelumnya. Rasanya kaki dan tubuh Wisnu lemas. Jarak dari kamarnya ke halaman terasa jauh hingga beberapa kursi harus menjadi korban terjangan tubuhnya ketika melewatinya dengan membawa tas saat ke luar rumah.


”Ya, Bu?“ sahutnya ketika sudah hampir dekat.


”Kita bawa Ira ke bidan desa, kayaknya udah pembukaan di atas empat,“ jawab Halimah membuat Wisnu menelan ludah pahit.


”Pembukaan empat, artinya apa, Bu?“ sahutnya penuh kepanikan.


Wisnu segera membuka pintu mobil, memasukkan tas dan segera menghampiri Almira yang duduk di teras dengan wajah menahan rasa nyeri di perut yang kian tidak tertahankan.


”Kalian ke sana duluan, ibu akan membangunkan Ersa dan pamitan pada bapak. Nanti ibu nyusul, ya. Yang penting Ira sudah ada di sana sebelum pembukaan tambah banyak.“ Halimah bergerak ke dalam rumah, tidak membiarkan Wisnu terus panik bertanya melainkan bergerak ke tempat yang ditunjuknya.


”Ya, Allah. Kita nggak apa-apa ke bidan saja, Ra?“ tanyanya merasa tempat itu bukan tempat yang ia inginkan untuk menjadi tempat persalinan sang istri.


”Nggak apa-apa. Ayo,“ ajaknya mulai berpegangan pada lengan Wisnu untuk menjadi tumpuan agar bisa bergerak dari tempat duduk.


”Kamu kuat?“ Wisnu memandang gelisah, tapi tidak bisa berbuat apa pun untuk meringankan sakit yang dirasakan sang istri.


”Astagfirullahhal'azhim!" serunya sambil memejamkan mata, Almira merasakan sensasi rasa kram yang menjalar hingga sampai ke punggung. Rasa yang luar biasa hingga ia harus diam tanpa bergerak dengan memeluk lengan sang suami untuk menjadi pegangan sekaligus sumber kekuatannya.


Wisnu memeluk Almira dengan perasaan penuh haru. Sungguh pengalaman berharga kini tengah dialaminya. Istrinya sedang berjuang untuknya, melahirkan darah dagingnya.


“Ayo, Mas,” ajaknya ketika rasa kram itu terasa berkurang.


“Bilang sakit kalau sakit, jangan ditahan Ira. Jangan diam saja,” bisik Wisnu mengiringi langkah Almira berjalan pelan ke arah mobil.


Ia merapikan pakaian yang menjuntai sebelum menutup pintu, mengintari mobil untuk menjangkau kursi kemudi untuk segera secepatnya menuju ke tempat bidan desa seperti apa yang diminta ibu mertua.


“Wisnu, Ibu ikut!”


Teriakan Halimah yang kini sedang menenteng sandal karena kepanikan tidak lekas bisa dipakai membuat Wisnu mengurungkan niat melajukan mobil. Ia pun membuka kunci pintu dan membiarkan ibu mertuanya duduk di kursi belakang.


“Ayo, ibu sudah telpon bidan Hesti. Ersa sudah bangun buat bantu masak dan bapak badannya udah enakan untuk ditinggal,” ujarnya menenangkan hati Wisnu.


Wisnu pun akhirnya menjalankan mobil, menuju bidan desa yang letaknya dari rumah sekitar satu kilo. Ia merasa lega, tiba-tiba rasa syukur mulai menghinggapi hatinya saat melihat Almira bercakap dengan ibunya soal apa yang harus dilakukan untuk mengurangi rasa sakit.


“Alhamdulillah, Ya Allah. Dengan bersama ibu, Almira terlihat sangat kuat dan siap. Apalah jadinya kalau kami di kota cuma berdua saja,” batinnya menatap sesekali Almira yang mengatur napas untuk mengurangi gelenyar rasa sakit yang mendera pada proses awal pembukaan.


“Tarik napas lalu embuskan perlahan Ira, seperti itu ... tenangkan hati dan pikiran, pasrahkan sama Allah, kamu pasti bisa, ya, Nak,” ucap ibu dengan suara begitu menentramkan.


Jarak satu kilo bagi Wisnu seperti ratusan setelah berada dalam situasi yang melibatkan urusan nyawa bagi orang yang ia sayangi.


****


'Sangat pantas surga berada di bawah telapak kaki ibu, bahkan sejak awal hingga akhir tidak ada yang bisa melukiskan bagaimana perjuangan untuk menjadi seorang ibu. Ini bahkan bukanlah akhir dari segala perjuangan, ketika kelahiran bayi pun menjadi awal perjuangan baru untuk merawat dan membimbingnya dalam menjalani tahapan kehidupan dengan penuh kasih sayang.'


-Syala Yaya-

__ADS_1


See You next Chapter -> Selamat Datang Baby Inu&Ira 🤗✌️ Kira-kira kasih nama siapa ya? cewek atau cowok, boleh juga tuh kasih rekomendasi nama depan buat Baby-nya Mas Inu, hehehe Siapa tahu kita sejantung 🤭


__ADS_2