
Wisnu menutup pintu kamar dengan hentakan kakinya, memandang Almira yang masih bersungut dan meronta di gendongannya meminta untuk diturunkan. Ingin sekali dia cubit hidung mungil milik istrinya itu, atau lebih ekstrimnya akan dia gigit gemas juga.
Masih dengan tawa jahilnya Wisnu merebahkan tubuh Almira di kasur, menahan gerakan Almira yang hendak kabur dari sana dengan lengan kokohnya.
“Mau kemana?” goda Wisnu menampilkan tawa dengan deretan giginya yang rapi dan putih, memandang Almira masih dengan gelak tawa.
Almira masih saja memukuli lengan Wisnu dengan gemas, mencubitnya juga hingga pria itu tertawa sembari mengaduh dan malah menindih tubuhnya menghindari serangan.
“Minggir ahhh … jangan membuatku marah!” sungut Almira merasa terhimpit dan sekuat tenaga mendorong tubuh Wisnu dari atas tubuhnya.
“Diam dulu, nanti baru aku lepaskan,” seloroh Wisnu menahan bobotnya dengan siku.
“Aku rasanya seperti tercekik,” keluh Almira sudah terlihat tenang dan membiarkan wajah Wisnu mendekati wajahnya, Almira hanya bisa menahan napasnya menghadapi sorot mata Wisnu dan senyuman samar suaminya itu.
“Mana yang tercekik? Di sini?” tanya Wisnu mendekatkan wajahnya ke leher dan mengecupnya dengan lembut.
Almira terkesiap dengan perlakuan itu, dadanya berdesir bagai sengatan listrik menyentuh tubuhnya. Rasa geli spontan membuatnya menggerakkan pundak menyentuh pipinya.
“Atau di sini?” tanya Wisnu lagi tersenyum manis dan kembali menciumi lembut leher Almira di sisi yang lain dan melepaskannya saat terasa jemari Almira mengusap punggungnya dan sedikit mendorong agar dilepaskan.
Almira masih terdiam memandang Wisnu tanpa berkomentar, pria yang kini menjadi suaminya itu menampilkan sorot mata yang indah, sorot mata yang mengganggu pikirannya, dengan canggung Almira menunduk menghindari pandangan itu.
“Tatap aku, katakan bagaimana perasaanmu?” ucap Wisnu mencoba memutar arah pandangannya kemana saja Almira mencoba mengalihkan tatapan matanya.
“Aku masih membencimu,” jawab Almira masih tidak mau menoleh, pandangannya masih kesana kemari menghindari beradu pandang dengan Wisnu.
“Kenapa benci?” Wisnu masih mencoba membuat tubuh Almira nyaman, bisa dia rasakan saat ini istrinya itu sedang berusaha keras menahan traumanya kembali menyerang.
“Tidak tahu,” jawab Almira menggeleng.
“Karena aku bukan Bagus?” tanya Wisnu menciumi bibir Almira yang mencoba menghindari
Wisnu berhenti dengan aksinya, hanya memandang wajah cantik istrinya yang menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mengatur napasnya yang berangsur mulai tenang kembali setelah beberapa saat kecemasannya hampir menyerang.
“Kenapa Mas membicarakan soal Bagus?” tanya Almira ragu-ragu dan pelan. Dirinya berani menatap Wisnu yang masih menghimpit tubuhnya.
“Karena dia kekasihmu,” jawab Wisnu dengan rona wajah berbeda saat mengucapkannya.
“Lalu Mas mau apa, kalau dia kekasihku?” tantang Almira dengan sorot mata memandang Wisnu dengan serius.
“Menghancurkannya, kalau dia berani menyentuhmu,” jawab Wisnu dengan suara dingin.
Almira melengos, Wisnu tidak peduli dan kembali menciumi leher dan telinga Almira hingga gadis itu merasakan geli. Dengan kesal kembali mendorong wajah Wisnu agar menjauh dan berhenti.
“Sepertinya berhasil,” ucap Wisnu sembari tertawa kecil.
Almira menatap kesal dan memukul dada Wisnu sekuat tenaga.
“Istriku tergoda juga,” ledek Wisnu segera mencium bibir Almira setengah memaksa, menyecapnya lembut dan menikmati manisnya, permainannya yang secara alami layaknya seorang suami terhadap istrinya.
Almira gelagapan ketika menerima sentuhan demi sentuhan di tubuhnya, bahkan rasa getir kengerian malam itu perlahan menghilang dari ingatannya, mencoba menahan serangan bibir yang menyesap bibir dan lehernya, nyatanya rasa lain yang berdesir seolah melemahkan ototnya untuk melawan, tubuhnya merasa nyaman dan menginginkan lebih dari apa yang Wisnu berikan kepadanya.
Wisnu tersenyum puas saat terdengar lenguhan lirih menempel ditelinganya. Bisa dia rasakan jemari tangan istrinya menyentuh lembut pundak dan punggungnya. Wisnu segera mengangkat wajahnya dan tidak lagi melanjutkan apa yang sebenarnya juga membangkitkan gairahnya.
“Apa kamu merasa lebih baik?” tanya Wisnu menyatukan keningnya, saling mengatur nafas yang sama-sama tersengal.
__ADS_1
Almira yang terlihat mulai membuka matanya mengangguk pelan dengan rona wajah malu-malu bercampur canggung. Nafasnya masih belum teratur. Wisnu mencium keningnya dan kembali memberikan senyuman senangnya dengan kembali mengecup sekilas bibir basah Almira.
“Aku akan membantumu membuang bayangan mimpi buruk itu pelan-pelan, kamu jangan kuatir, tanpa ijinmu aku hanya akan bertugas untuk menggodamu,” ujar Wisnu dengan senyuman menggoda Almira.
Dengan kesal yang mulai kembali nampak, rasa kesal karena malu sudah berhasil digoda habis-habisan, Almira mencubit pinggang Wisnu hingga pria itu menggelinjang kesakitan.
“Astaga sakit, Sayang,” keluh Wisnu meraih jemari Almira dan menggigit jemari itu sebagai balasan.
“Ahh … sakit.” Sambil mengeluh Almira mengibaskan jemari tangannya.
Wisnu melepaskan tawa gemas dengan mencubit hidung Almira dan segera diraih lengannya itu agar segera melepaskan tingkah gemasnya.
“Hentikan,” gerutu Almira merasakan hidungnya panas, segera mengusapnya dengan wajah bersemu merah padam.
“Cantikku,” goda Wisnu lagi segera diberi pukulan Almira yang menahan malu, wajahnya terasa menghangat dibuatnya.
“Surat ijinnya kapan keluar?” bisik Wisnu membuat Almira mendorongnya karena geli, kesal bercampur malu.
“Nanti,” lontar Almira menghindar dan mendorong dada Wisnu hingga membuat Wisnu segera menggulingkan tubuhnya ke sisi samping Almira terbaring. Dengan menoleh senang Wisnu melipat lengannya dan dia jadikan bantalan kepalanya.
“Kalau aku terus melakukannya, aku rasa surat ijinku sebentar lagi turun,” celoteh Wisnu segera dipukul Almira dengan bantal mengenai wajahnya.
Wisnu tergelak dengan tangan segera meraih bantal dari wajahnya dan menoleh ke arah Almira yang sudah menutupi dirinya dengan selimut menutupi malu.
Almira merasa dirinya hampir saja dengan mudah terlena. Dia merutuki tubuh bodohnya.
Almira menoleh sekilas saat merasakan kasurnya tergerak karena Wisnu meninggalkannya sesaat setelah terdengar ponselnya berbunyi. Wisnu keluar dari kamar dan menutup pintunya pelan.
Almira kembali tenggelam dalam pikirannya.
Benarkah, malam itu kita berdua sedang terjebak? Haruskah aku mencoba membuka hatiku untukmu?
Drrttt … drttt … drttt
Ponsel yang ada di nakas bergetar membuat segala pikiran Almira buyar, sambil membuka selimutnya dan meraih ponselnya dari nakas dirinya menatap layar ponselnya. Dengan mendesah ringan Almira akhirnya menerima panggilan itu.
“Assalamu'alaikum, Mas Bagus,” sapa Almira saat ponselnya sudah menempel di telinganya.
“Apa kabarmu? Kenapa baru menjawab panggilanku?” tanyanya terdengar menampilkan amarah tertahan.
“Ada apalagi, Mas. Aku sudah bilang sama Mas Bagus, ada hal yang membuat kita berdua tidak bisa lanjut,” ucap Almira menekankan.
“Alasan apa? Karena malam itu aku meninggalkanmu di Bar? Aku akui itu, aku minta maaf aku salah. Tapi tidak bisa dong kamu minta putus gara-gara itu?” cerocosnya tidak mau menerima keputusan Almira
“Maaf, Mas. Mas tahu karena malam itu, hidupku jadi amburadul begini?” desis Almira bangkit dari tidurnya.
“Aku tidak mengerti maksudmu. Pokoknya kita besok ketemu di tempat biasa kita ketemu,” ucap Bagus dengan nada terdengar menekan.
“Aku tidak bisa, Mas.” Almira menampilkan sisi lemahnya, menyandarkan bahunya di bantalnya.
“Almira, bukankah kita sudah sepakat untuk menikah setelah urusanku selesai? Perusahaanku sedang ada masalah, jadi aku minta maaf pernah mengajakmu putus. Jadi aku mengajakmu balikan malam itu, karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Sungguh aku tidak bermaksud untuk membuangmu dan mempermainkanmu,” seloroh Bagus membuat Almira memejamkan kedua bola matanya.
“Aku mohon, temui aku. Atau aku bisa mati kalau kamu tidak datang,” ungkap Bagus dengan suaranya yang memohon.
“Jam berapa?” tanya Almira menghela napasnya kasar.
__ADS_1
“Siang jam 11 ya, di Caffe Ne Depe,” sahut Bagus dengan suara bersemangat.
“Baiklah, aku tutup dulu,” ucap Almira segera menutup panggilan dan meletakkan ponselnya kembali.
Almira merosot kembali memakai selimutnya, kemarahannya pada Bagus yang malam itu malah membuatnya terhuyung sana sini, hingga harus berurusan dengan Wisnu dan menikah dengannya, menikah untuk menutupi ketidak perawanan setelah terenggut pria yang kini jadi suaminya itu.
“Kenapa mendadak perasaanku tidak nyaman? Bukankah aku ke sini agar bisa bertemu mas Bagus lagi dan mendapatkan jawaban atas yang terjadi malam itu?” gumam Almira merasa resah
Pikiran Almira kembali berputar malam itu, tangannya yang sudah tenang tiba2 kembali bergetar, dengan sekuat tenaga dia menggenggam erat dengan kedua tangannya.
“Ira,” panggil Wisnu sudah memeluk tubuh Almira dari belakang.
“Hmm?” jawab Almira masih diam membeku masih berbalut selimut.
"Aku mendapat kabar bahwa temanku meninggal,” ungkap Wisnu segera mengalihkan perhatian Almira dan membalik badan menoleh ke arah Wisnu, memandang wajah pria yang nampak sedih itu.
“Innalillahi wainna'illahi roji'un, teman Mas Inu?” tanya Almira dengan rona wajah terkejut
“Harus bagaimana ini?” ucapnya malah membuat Almira bingung.
Kenapa malah pertanyaan seperti itu yang terlontar darinya? Kenapa malah bingung, memangnya siapa yang meninggal?
Almira menepuk lengan Wisnu mencoba menguatkan.
“Dia menyandang status janda saat aku baru saja menikah, bukankah itu sangat ironis?” lontar Wisnu menghenyakkan perasaan Almira.
“Dia … apa dia orang yang Mas Inu cintai?” tanya Almira begitu saja, pertanyaan yang meluncur begitu saja entah mengapa perasaannya tidak enak saat menanyakan hal itu kepada suaminya.
**
Perasaan apa ini? Tolong jelaskan.
Ketakutan yang tiba-tiba muncul?
Kecemasan yang tiba-tiba hadir?
Kecemburuan?
Kenapa menyesakkan begini?
Benarkah aku mulai merasakan cinta juga?
Kenapa jalannya harus begini?
Kenapa lontaran kata ini baru menyadarkanku selama ini?
*
(Almira-Wisnu)
Bersambung …
Hai semuaaa … terimakasih yaa atas semua dukungan untuk Wisnu dan Almira.
Dukungan like, komen, kritik membangun proses belanjarku dan juga vote luar biasa dari kalian.
__ADS_1
Salam Cinta dan Persahabatan dariku ~ Syala yaya🌹🌹