
Misteri jodoh, tidak ada yang tahu. Ketika hati dan pikiran seolah sudah menyatu, nyatanya Tuhan mampu membolak-balik hati seseorang hingga rasa itu terlepas begitu saja. Kira-kira seperti itu yang sering terjadi pada hati manusia. Kita tidak pernah tahu.
“Kamu temannya mas Setyo?”
Seorang wanita sedang menggendong anaknya menyambut kedatangan Yashna. Pertemuan yang sangat canggung. Untung saja Si Berandalan berada di sampingnya. Kalau tidak, entah apa yang bisa membuatnya tidak terlalu malu sudah datang ke sana.
“Iya, temannya Setyo,” jawab Yashna tersenyum. “Yashna, dan ini Alan.”
Yashna mengulurkan tangan bermaksud untuk mengajak berjabat tangan, tetapi sepertinya wanita itu cukup terguncang hingga tidak segera membalas.
“Setyo ke mana?” sela Alan dengan mata melihat-lihat suasana rumah yang terlihat sepi.
“Oh, dia sedang mengantar beberapa laptop tetangga yang diperbaiki. Sebentar lagi akan pulang,” jawab wanita itu canggung.
“Ok, tapi ... kita baru boleh dipersilakan duduk kalau Setyo sudah datang, ya?” celetuk Alan datar.
Yashna segera menyikut geram pemilik tubuh ramping atletis itu karena sudah berani melemparkan pernyataan tidak sopan di rumah orang. Alan hanya bisa tersenyum.
“Maaf.” Wanita itu terkekeh pelan. “Silakan duduk dulu, sambil menunggu mas Setyo pulang,” jawab perempuan berusia dua puluh lima tahun itu berjalan ke arah ruang tamu.
Alan berjalan di belakang Yashna sambil senyum-senyum, kebiasaan Yashna mencubit secara spontanitas memang tidak pernah hilang. Tangannya bergerak untuk mengusap tangannya yang memerah.
“Silakan Mbak, Mas. Saya ke belakang sebentar.”
“Silakan,” balas Yashna mengangguk.
Perempuan itu memandang ruangan yang tidak terlalu besar, bangunan lebih modern daripada gaya rumah Almira yang bisa dikatakan satu ruangan tamu selebar satu rumah. Tatapan itu tidak luput dari pengamatan Alan.
“Kenapa?” tanya Alan datar.
Yashna menoleh ke arah Alan yang duduk di sampingnya, kepalanya menggeleng pelan dengan tatapan ke arah lengan Alan yang tercetak merah di sana.
“Hasil karyamu,” lontar Alan membuat Yashna melipat bibirnya, merasa cukup bersalah.
“Makanya, jangan rese.” Yashna berkilah seraya meraih lengan itu untuk melihat separah apa ia melakukannya. “Lagipula, kamu ini cowok. Bagaimana mungkin punya kulit rapuh, payah!”
“Soalnya aku bukan kuli panggul, tapi kuli tinta,” balas Alan mendelik.
Yashna hanya mendengus, melepaskan tangan Alan kemudian bersikap santai dengan menyandarkan punggungnya pada kursi. Pikirannya bertanya-tanya, apa wanita yang pernah diceritakan Setyo yang lebih memilih menikah dengan kakaknya, wanita yang tadi? Yashna tanpa sadar menghela napas.
“Kita balik Solo jam berapa? Kalau kamu kuajak meeting sebentar, mau tidak?” bisik Alan membuyarkan lamunan.
“Jangan lewat jalan yang kemarin, aku tidak akan kuat,” sahut Yashna menatap Alan penuh permohonan.
“Siap, kita akan lewat rute jalur lintas selatan, sampai Praci kita ke Solo.”
Yashna mengangguk lega. Pengalaman kemarin yang mengocok perut sangatlah tidak nyaman. Obrolan mereka terhenti ketika Setyo memasuki ruang tamu bersama ibu dan bapaknya, tidak lupa wanita yang tadi menyabut, tetapi tidak membawa anaknya lagi.
“Yashna, Alan,” sambut pria kalem itu tersenyum. Tangannya terulur untuk menjabat Yashna dan Alan bergantian. Begitu juga orang tuanya.
“Silakan diminum dulu, Mas, Mbak,” ucap wanita itu meletakan lima gelas berisi teh hangat ke atas meja.
__ADS_1
Yashna memberi tanggapan dengan mengangguk, melihat gelagat tidak nyaman yang ditunjukkan wanita itu kala menatapnya. Yashna bisa menduga kalau wanita itu tidak memasang wajah ramah karena menyangka ia dan Setyo ada hubungan. Sesuatu yang sangat mengusik pikiran Yashna.
“Ini Yashna yang kamu ceritain sama ibuk?” Ibu Setyo menoleh ke arah anaknya.
“Nggih, Bu (Iya, Bu),” jawab Setyo mengangguk kikuk.
“Wah, lebih cantik dari yang ibu bayangkan,” puji wanita itu sukses membuat Yashna menjadi tersipu malu.
Kini tatapannya mengarah pada Setyo yang menunduk, merasa penasaran dengan cerita seperti apa yang dimaksud ibu paruh baya tersebut. Namun, ia segera mengalihkan pandangan ketika merasakan aura yang ditunjukkan Alan begitu mengancam.
“Ya, namanya orang kota, Bu,” cetus wanita yang duduk di samping ibu Setyo dengan wajah masam. “Usia segitu di sini juga sudah masuk perawan tua,” ejeknya dengan wajah keruh.
“Meski tua tapi masih perawan, ya,” balas Alan santai. “Salut sih, aku sama dia.”
Wanita itu semakin menampakkan wajah tidak senang, sedangkan Yasha hanya bisa tercengang ketika mendapatkan serangan personal seperti itu. Kaget juga dengan jawaban Alan yang terdengar sangat santai.
“Kamu ngomong apa?” tegur ibu Setyo tampak tidak suka menantunya bertindak demikian, sedangkan Setyo memilih untuk bungkam.
“Kenyataan, Buk. Umur dua lapan (dua puluh delapan) di sini anaknya udah kelas tiga SD—”
“Tapi rumah masih numpang mertua,” sambung Alan memotong ucapan wanita di depannya. “Seperti yang ngomong.” Alan mengulum tawa mengejek ke arah wanita itu.
“Alan,” bisik Yashna meraih lengan Alan, dia tidak mau kalau Alan akan terpancing keributan.
Sejak memutuskan untuk bertamu dan menjalin silaturahmi, Yashna sudah menyiapkan diri untuk menghadapi hal seperti ini. Budaya yang tidak seperti ketika berada di Australia memang seringkali membuat Alan terkejut, dan Yashna cukup memahami reaksi Alan yang berlebihan.
Wanita yang berada di samping ibu Setyo terpaksa bungkam. Apa yang disampaikan Alan cukup menohok dan tidak salah. Diam-diam Setyo merasa terkesima dengan bentuk perlindungan anak muda tersebut untuk wanita yang dikasihinya.
Wanita itu hanya melengos dengan dentuman rasa cemburu yang terlihat sangat kentara. Namun, semua orang segera bisa mencairkan keadaan dengan obrolan yang mengalir. Alan sangat pandai dalam bersosialisasi, memiliki kemampuan memasuki dunia orang yang diajak berbicara dengan aura berbeda. Yashna hanya bisa sesekali menyahut ketika dirinya dilibatkan.
Sepanjang perjalanan pulang tak henti-hentinya Yashna berpikir. Ucapan orang tua Setyo tentang balasan kunjungan silaturahmi ke rumahnya membuatnya berpikir keras. Alan yang berada di depan kemudi hanya bisa sesekali menoleh dengan perasaan cemburu.
“Kayaknya seneng banget,” sindir Alan menahan diri agar tidak kentara dalam mengungkapkan rasa cemburunya.
“Apa terlihat seperti itu?”
“Nyai ketus itu pasti istri kakaknya Setyo, deh,” tebak Alan mendengus.
“Kenapa?”
“Amit-amit. Kalau aku jadi Setyo akan sujud syukur tidak jadi menikah dengan wanita kelakuan seperti itu,” desisnya.
“Kamu aja yang baper, terpancing buat berdebat. Kalian sama saja.”
“Ya jelas beda, dia nyerang duluan, aku hanya menangkis dengan kalimat taktis yang langsung membuatnya bungkam,” cerocos Alan kesal.
“Dia cemburu, kayak kamu.”
Alan menoleh dengan tatapan bingung. Level dirinya beda, dia tidak pernah mengeluarkan jurus penghinaan untuk mereguk kemenangan ataupun menunjukan rasa tidak suka. Dia lebih memilih untuk to the poin. Pukulan telak kalau perlu.
“Kalau cemburu, akal sehat kamu sering kelupaan naruhnya di mana,” sungut Yashna membuat Akan terkekeh, ia menganggukkan kepala dengan perasaan geli. Mengakui.
__ADS_1
“Alan yang sekarang beda lah, Yash.”
“Bedanya ... sudah bisa memutuskan mana yang mesti dilakukan. Tidak lagi serampangan meskipun bagi sebagian orang yang tidak kenal, aku ini kasar. Tapi aku yakin, kamu pasti sudah merasakan perubahan itu, 'kan?”
Yashna tercenung, mengangguk tanpa sadar. Ia pun memilih untuk mengalihkan pandangan ke arah pemandangan alam melalui kaca mobil.
“Ngomong-ngomong, makasih, ya?”
“Untuk?” tanya Yashna dengan tatapan bingung.
“Sudah berusaha untuk mengetahui duniaku, aku ... harap kamu bisa menemukan keyakinan di dalamnya.”
“Ngomong apaan? Nggak jelas,” tepis Yashna tidak ingin terlihat lemah dengan pernyataan Alan yang sangat dewasa.
“Tidak sampai angka tiga, ok,” bisiknya membuat wajah Yashna memerah. Sungguh gila rasanya, upayanya menyingkirkan peluang Alan untuk menjadi pendamping hidup terlalu sulit.
“Tuhan, bisakah aku tidak jodoh sama berondong!” geram Yashna sengaja berbicara lantang.
Alan tertawa, tidak tersinggung sama sekali. Ini merupakan tantangan dan impian yang baginya sangat indah. “Anggap saja aku sugar babymu,” lontarnya terkekeh.
“Tidak lucu!”
“Oh, baiklah. Aku anggap kamu sugar tanteku.” Alan mengacungkan jempolnya ke arah Yashna.
“Alan!” Yashna menepis tangan itu dengan geram.
“Lihat kenyataan, Tante Yashna. Alan sudah layak jadi pendamping hidup, ok. Kita daftarkan pernikahan kita, kita butuh setidaknya enam bulan baru bisa melakukan pemberkatan.” Alan berbicara tanpa menoleh, begitu mudah.
“Aku ingin pernikahan di hadapan Tuhan, mengikat janji suci pernikahan,” ungkapnya. “Tidak seperti ayah dan bunda,” lanjutnya dengan suara nyaris tertelan rasa perih.
Yashna menelaah, meneguk ludah yang terasa kering. “Seperti ayah dan ibuku juga,” batin Yashna ikut sedih.
“Kamu tidak bisa mengubah keyakinan hanya karena sebuah pernikahan, Sayang. Kurang kokoh. Tuhan tidak suka bila alasan itu kamu jadikan pegangan. Kasus paman Wisnu sangat berbeda dengan kamu.”
“Aku tidak mengerti.”
Alan menoleh, memberikan senyuman penuh pengertian.
“Kamu dan Setyo berbeda keyakinan, itu yang membuatnya gundah, pun kamu sebaliknya.”
“Paman Wisnu sudah ingin menjadi mualaf sejak awal ketika dia hilang arah, tidak memiliki pijakan. Bibi Almira salah satu jawaban atas kegamangan hati paman Wisnu ketika berada di tengah persimpangan. Tapi, kalau memang kamu ingin melakukan itu juga, pastikan bukan manusia alasannya. Itu karena hatimu. Ingat, manusia itu tidak cukup kokoh untuk dijadikan sandaran. Bersandarlah pada Tuhan saja. Jangan pula padaku, karena aku juga menyandarkan hidupku pada Tuhan, sedangkan kamu kujadikan pendampingku untuk saling mengisi dan mengokohkan kekurangan dan kerapuhan ketika hidup sendirian.”
****
'Apa pun pilihanmu, pastikan berasal dari hatimu. ia tidak pernah salah bila kamu tidak pernah mencoba membohongi dan menghianatinya. Hati nurani akan menuntunmu, pun apabila terdapat rasa cinta untukku, jangan pernah mencoba untuk memberontak dan menyanggahnya.'
(Kalandra Tama)
***
Salam cinta ~ Syala Yaya 🌻🌻🌻
__ADS_1