Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 80 Penyesalan


__ADS_3

'Saat sebuah rasa penyesalan hadir menyeruak, menyerang, mencabik dan menyeret ke lembah kepiluan, hingga raungan menyayat hati tidak mampu puaskan tangis yang meledak, maka nikmatilah, karena itu adalah balasan setimpal yang harus kau rasakan untuk menebus dosamu padaku.' (Almira Putri-Bagus Ahsan)


--Syala Yaya--


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Bagus, pria itu memejamkan mata dengan arah wajah melesak begitu keras, saat mendapat gerakan tiba-tiba yang diterimanya. Pria itu seketika meradang dan menarik pergelangan kakaknya dengan mata menajam. Gelegak kemarahan segera hadir hingga dengan gerak cepat tangannya menarik dan menghempaskan pemiliknya ke sofa yang tepat berada di sampingnya.


"Apa maksud Kakak dengan tamparan ini!" teriaknya dengan rahang mengetat keras.


"Itu layak untukmu, dasar brandalan tidak tahu diri!" balas Dhepe dengan suara tak kalah meninggi.


"Apa maksud Kakak?" tanyanya mengetapkan bibir. Tangannya mengusap pipi yang terasa panas, menghela napas yang memburu penuh emosi.


Jam baru menunjukkan jam delapan pagi, ia tidak menyangka akan mendapatkan sebuah pukulan yang keras dari kakaknya. Kegaduhan kakak beradik itu segera terdengar oleh seluruh penghuni rumah, tak terkecuali ayah dan ibu mereka berdua yang baru turun dari lantai atas, bahkan kedua asisten rumah tangga mereka mengintip takut-takut dari pintu ruangan dapur; saling memandang bingung ke arah Depe dan Bagus.


"Aku tidak menyangka, adik yang selalu kubanggakan, kulindungi dan aku dukung, akan berbuat hal menjijikkan dan keji seperti ini." Dhepe menjatuhkan tas jinjingnya di atas sofa, menunduk dengan mata memanas hampir meledak tangis, ia tidak habis pikir dengan kelakuan busuk Bagus.


Sebagai sesama perempuan tentulah ia sadar betul, luka yang telah ditorehkan adiknya kepada Almira begitu patut dibenci hingga mati, dengan kekesalan masih menggunung, tangannya mengusap wajahnya frustasi sendiri.


"Ada apa pagi-pagi kalian berdua bertengkar?" tanya ayah menuruni tangga dengan tergesa. Memandang kedua anaknya saling beradu suara meninggi di ruang tengah biasa tempat semua anggota keluarga berkumpul. Wajahnya panik dan mengamati satu persatu wajah anak-anaknya yang tampak beradu wajah menunjukkan emosi.


"Tanyakan saja padanya. Datang-datang menamparku tanpa sebab," lontar Bagus memalingkan wajah, beberapa kali tangan pria yang kini sudah rapi hendak berangkat ke kantor itu mengusap wajahnya yang masih menyisakan rasa pedih.


"Sekarang aku tanya padamu, Bagus Ahsan." Dhepe menatap tajam ke arah adiknya.


Rasanya ia ingin bertanya dan memastikan adiknya menjawab baru ia akan bertindak. Namun, melihat wajah adiknya yang sok cool dengan perusahaan kembali berkembang nyatanya ledakan emosinya tidak mampu dikontrolnya lagi.


"Bicaralah baik-baik dengan adikmu, Dhe. Kenapa kamu harus memukulnya? Bagus kan bukan anak kecil lagi?" ucap sang ibu ikut menengahi.


"Baik. Jawab jujur, dan jangan pernah ada satu kebohongan terucap, atau aku akan menarik semua investasi atas nama ayah Azka dari perusahaanmu," tegas Dhepe seraya meneguk saliva untuk mengumpulkan semua pertanyaan yang menyita pikirannya selama berhari-hari.


"Tanyakan saja," jawab Bagus.


"Apa benar, kamu menjadikan Almira barter investasi dengan Johan GM dari Sultan Hotel?" tanya Dhepe tegas.


Bagus tergelak, ia menggelengkan kepala menatap kakaknya dengan wajah tidak berdosa, kakinya melangkah menghindari tatapan menusuk dari kedua orang tuanya yang tersentak dengan pertanyaan dari Dhepe. Pria itu menutupi rasa terkejut dengan menampilkan senyuman.


"Fitnah macam apa itu?!" bentak pria itu menyangkal.


"Jadi kamu tidak mau mengaku?" tanya Dhepe pelan, senyuman tipis segera terukir dari wajah cantiknya.


Wanita yang kini juga sudah berpakaian rapi hendak ke kantor yang telah diwariskan suaminya --Imran-- itu segera bangkit dari duduk dan berjalan mendekati adiknya yang kini berubah gelisah.


"Aku tidak tahu apa yang Kakak bicarakan. Omong kosong macam apa ini?" lontarnya pelan membalas tatapan Dhepe yang menghunjam hati.


"Bagus, adikku sayang. Almira dan semuanya sudah tahu, tapi masih punya hati nurani untuk tidak menangkapmu. Bukti-bukti dan saksi sudah ada tinggal mulutmu saja mengakui dan semua pertikaian ini akan berakhir damai, adik bodohku," cerca Dhepe dengan kepalan tangan dan geram wajah yang ditampakkan nyata di depan Bagus.


"Maksud kamu apa sih, Dhe? Ibu dan ayah tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan ini," sela sang ibu.


"Kamu benar, kan, menjebak Almira di bar Sultan Hotel, milik Wisnu Tama? Kamu memasukkan obat ke dalam minumannya agar kamu bisa memberikan tubuhnya kepada Johan; ayah dari Delia agar menanamkan modalnya ke dalam perusahaan bangkrut kamu itu?" tanya Dhepe dengan suara pelan dan jelas hingga membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terhenyak menatap Bagus dengan mata terbelalak.

__ADS_1


"Bohong!" elak Bagus.


"Aku cuma ingin kamu mengakui itu. Kamu tahu, seberapa keras aku membenci Almira karena mencampakkan kamu! Seberapa kemarahan karena dia merebut Wisnu dariku! Kamu tahu, ini sangat mempermalukanku ketika semua sumber petaka ini berasal dari setan sepertimu!" teriak Dhepe dengan suara memenuhi langit-langit ruang.


Ibu mereka terhuyung hingga ayah mereka segera menyahut tubuh wanita baya itu dan mendudukkan tubuhnya ke kursi sofa.


"Kakak minta, sebelum Almira melaporkan kamu ke polisi, karena kamu bersikap sok suci, lebih baik kamu minta maaf kepadanya."


"Tidak bisa," putus Bagus tegas.


"Oh, baiklah. Jam sebelas siang ini aku akan datang ke kantormu. Uangku terlalu berharga berada di perusahaan kotor seperti pemiliknya. Minta maaflah dan semua akan baik-baik saja. Karena Almira dan Wisnu saling mencintai dan menganggap ini sebagai ujian bagi mereka," ucap Dhepe seraya melangkah pergi.


"Tunggu," pinta sang ibu yang terduduk lemas di sofa.


Dhepe menghentikan langkahnya, tapi wanita itu enggan menoleh. Ada segurat kemarahan yang menyeruak dari dalam hati Dhepe untuk semua anggota keluarganya, dan tentu saja ibunya sangat memahami itu.


"Maafkan ibu, Nak. Ibu menyesal," ucap Ibu dengan suara gemetar menahan tangis.


"Tidak masalah, Bu. Bukankah ini persis seperti apa yang ibu mau?" balas Dhepe memendam kesal.


"Ibu tidak menyangka, apa yang ibu pikirkan merusak perasaan kalian terhadap ibu."


"Aku kehilangan Wisnu, dan menikah dengan Imran. Ok, Dhepe masih bisa terima karena mungkin saja memang bukan jodoh. Ya ... kedua pria itu hanya seseorang yang mampir dan segera berlalu," ucap Dhepe dengan tawa getir. "tapi, saat aku mendengar, Bagus mencelakai Almira hanya demi bisa membanggakan ibu, hatiku teriris, Bu. Aku terluka sebagai seorang wanita. Apa hati nurani ibu masih bisa merasa?" lontar Dhepe membalik badan menghadap ayah, ibu dan adiknya.


Bagus menundukkan kepala tidak mampu menjawab, perasaannya juga sama halnya --terluka, ia merasa kehilangan gadis itu.


"Aku mendukung mati-matian agar kamu bisa bersamanya, merengkuh gadis itu hingga menjadi istrimu. Karena sungguh, berpisah dengan orang yang kamu sayangi itu teramat pedih hingga rasanya mau mati, tapi apa? Kamu menyia-nyiakan dukungan kakak ini dengan kembali mendengarkan ocehan omong kosong tentang kekayaan di keluarga kita, Bagus! Kamu mengecewakan kepercayaan kakakmu ini yang menganggapmu berbeda!" teriak Dhepe melengking penuh penekanan mengarah kepada adiknya.


"Aku sungguh kecewa padamu. Almira kecewa padamu."


Dhepe membalik badan dan meninggalkan rumah neraka baginya itu. Ia muak, mungkin saja ia harus sedikit bersyukur karena Imran memberikan cinta yang begitu besar hingga kemarahannya terhadap peraturan keluarganya menyangkut standar hidup, pekerjaan dan jodoh bisa ia kesampingkan.


Mobilnya melaju kencang meninggalkan rumah itu.


Bagus terduduk lesu, ia melepas dasi dan menampilkan wajah kusut dengan daun telinga memerah. Nafsu kedudukan dan juga tekanan dari kedua orang tuanya mengenai kesuksesan membutakan mata hatinya; menyerahkan wanita yang ia cintai adalah kesalahan fatal yang coba ia ingkari, tapi nihil.


"Benar, apa yang kakakmu tuduhkan tadi, Bagus?" tanya ayah menghela napas.


"Bukankah kalian harusnya bangga? Aku berhasil mematikan hati nurani agar bisa sukses? Sudah bangga, bukan?" jawabnya sinis.


"Apa maksudmu, Bagus?" tanya ibunya meradang.


"Bukankah dengan mencari keuntungan dari beberapa orang itu bukan sebuah dosa? Imran contohnya. Apa kalian kira aku tidak tahu kenapa kakak iparku itu meninggal mendadak karena terkejut menerima kenyataan keji?" cemoohnya.


Ayah dan ibunya membelalak kaget, mereka berdua sama-sama saling pandang dengan wajah pucat pasi, tidak menyangka putranya begitu menyimpan hal yang sukar mereka tebak.


"Kak Imran tahu kan, kalian menikahkan dengan kak Dhepe demi harta? Bahkan dia cukup terkejut ketika menyadari bahwa perencanaan matang kalian untuk mengalihkan semua saham dan aset kepada kakak sudah berjalan? Hem?" tuduh Bagus menyeringai.


"Diam!" bentak ayahnya menggeram.


"Bukankah perusahaan kak Imran hampir bangkrut dengan menyisakan hutang menggunung juga karena korupsi yang kalian lakukan? Penggelapan dana, pencucian uang, astaga ... bukankah keluarga kita ini sangat keren? Aku belajar banyak dari taktik kotor kalian. Tapi sayang sekali, kini kak Imran hanya bisa meninggalkan warisan kepada anak istrinya dari sisa-sisa yang bisa ia selamatkan dari keruntuhan perusahaannya. Luar biasa sekali, bukan, kalian ini. Sama anak sendiri begitu tega? Jangan bicarakan dosa denganku, orang tua panutanku," lontarnya segera melenyapkan senyuman dan berjalan meninggalkan kedua orang tuanya yang kini mematung di ruangan tengah.

__ADS_1


Mereka menyesal, dan tidak menyangka sama sekali anak-anak mereka hancur karena nafsu mereguk untung yang mereka berdua lakukan. Bahkan ia tidak menyangka Imran, si pria yang dulunya dingin dan angkuh itu bisa menjadi menantu terbaik dan mencintai anaknya dengan tulus, memberinya seorang cucu tampan yang tidak pernah mereka bayangkan.


"Ayah, kita telah berdosa," isak ibu semakin terduduk lemas.


"Kita, tidak tahu semua akan kacau seperti ini," keluh sang suami ikut duduk.


"Apa anak-anak kita akan meninggalkan kita berdua?" tanyanya sendu.


"Harusnya kita tidak memaksakan kehendak, kita kehilangan calon menantu terbaik, dan semua itu karena keserakahan kita, Bu."


Kedua pasangan yang kini sudah menginjak usia lima puluhan itu meratapi penyesalan.


Bagus meninggalkan rumahnya. Selama ini ia menahan rasa bersalah, menutupi hati nuraninya dengan pura-pura tidak masalah. Berakting layaknya pria sejati di hadapan Almira, nyatanya ia cukup tersiksa dengan apa yang dulu menjadi keputusan bodohnya.


"Kenapa aku tidak belajar dari pengalaman kak Dhepe dengan melepaskan Wisnu?" keluhnya penuh sesal.


Pria itu pun segera meninggalkan rumahnya dan menuju ke hotel milik Wisnu, ia memutuskan untuk mengaku dan secara sukarela siap untuk diusut, tentu saja banyak pihak akan merasakan bola api panas itu juga, yaitu orang dalam yang berada di dalam jajaran yang mempunyai jabatan tinggi di Hotel milik pria tampan itu.


Mobilnya menyibak jalanan kota yang mulai dipadati oleh kendaraan roda empat maupun roda dua yang sama-sama beraktivitas. Butuh waktu lima puluh menit hingga akhirnya sampai juga di tujuan.


Memasuki parkiran, dan Bagus segera meninggalkan mobilnya, berjalan perlahan dengan batin gentar, nalurinya setengah-setengah dalam berpikir dan itulah kelemahannya.


Saat hendak berjalan memasuki lobby, matanya menangkap sosok wanita yang dulu sempat mengisi hari-harinya dengan tawa dan perhatian selama lebih dari empat tahun, menjadi teman serta kekasih hampir dua tahun lamanya, dan ia merasa menyesal sudah menyia-nyiakan kebaikan gadis yang mencintai dengan apa adanya itu, bahkan untuk sebuah restu, wanita itu kuat bersabar.


"Ira?" panggilnya ketika langkahnya berhenti di taman hotel, berdiri di belakang Almira yang sedang membaca buku di bangku taman seorang diri.


Perempuan pemilik nama itu segera menoleh. Semilir angin ditambah suasana taman yang sepi dan nyaman seolah menyihir suara itu hingga membuatnya seketika tertegun memandang.


"Mas Bagus?" sapanya tanpa sadar.


"Bagaimana kabarmu, Almira?" tanya Bagus masih berdiri, kakinya kaku seolah ada bongkahan batu yang menelan hingga tidak mampu untuk melangkah.


Rasa rindu yang menyeruak, ingin memeluk, tapi apa daya dia bukan siapa-siapa. Dan kata yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang dilihatnya pagi ini adalah Cantik. Wanita yang ia lihat biasa saja saat dulu dekat dengannya, kini aura kecantikan wanita itu terpancar indah berseri.


"Baik, kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" tanya Almira segera menunduk, mengalihkan pandangannya kembali kepada bukunya.


"Buruk, kabarku buruk karena aku menyesal dan merindukanmu," ucapnya kelu, batinnya merutuk rasa malu.


Almira sejenak tertegun, apabila ucapan itu terlontar dulu, saat hatinya belum terpaut untuk nama seorang pria bertanggung jawab dan mencintainya dengan tulus bernama Wisnu, mungkin saja ia akan menghambur memeluk dan mengatakan bahwa ia bahagia, tapi nyatanya hanya senyuman getir yang mampu ia berikan untuk ucapan yang kini malah terdengar seperti sampah.


"Nikmatilah," sahut Almira mendongak serta memberikan seulas senyuman manis yang Bagus memahaminya sebagai sebuah kutukan yang nyata.


Bersambung...



Terima kasih untuk Mas Inu dan Mba Ira Lovers ❤️❤️❤️


Baca juga novelku yang lain --Istri Kedua Tuan Krisna dan Dinikahi Taipan Tampan (versi istri keempat)


Salam termuaniez dari --Syala Yaya--

__ADS_1


__ADS_2