
Wisnu meraih tubuh Almira dari lantai. Membawanya ke tempat tidur dan menyandarkan punggungnya dengan bantal. Almira masih mencoba menelan ludah pahit di dalam mulutnya. Sungguh perutnya terasa sangat mual hingga kepalanya menjadi pusing, dengan perlahan ia memejamkan matanya untuk meringankan rasa tidak nyaman tubuhnya.
“Kamu telat berapa hari?” tanya Wisnu sambil menarik selimut ke tubuh Almira hingga setinggi perut.
Almira masih diam membisu mengatasi pusing di kepalanya. Dengan lembut Wisnu segera meraih jemari tangan itu dan mengecupnya dengan sayang. Almira membuka matanya dengan sorot mata polos masih tanpa berkata apa-apa.
“Ira telat sebelas hari, Mas,” jawabnya kemudian setelah lama terdiam.
Wajahnya yang pucat membuat Wisnu menghembus nafas. Ia raih kening itu dan mengusapnya, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Almira yang masih betah menatapnya.
“Kenapa baru bilang sekarang? Sebelas hari kamu menahan mual sendirian?” tanya Wisnu mengecup kening istrinya dengan suara terkejut mendengar pengakuan istrinya.
Wisnu merutuki dirinya yang tidak peka perubahan yang ada pada istrinya. Semua hal disekelilingnya luput dari perhatiannya.
“Saat aku tidak ingat kalau terlambat, aku tidak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja tanpa ada masalah. Cuma lelah,” jawab Almira masih saja menatap dagu suaminya yang kini sedang memeluk dirinya.
Wisnu tersenyum samar, hal yang jelas segera membuat istrinya memukul lagi perutnya. Wisnu merekatkan pelukannya sambil masih melipat bibirnya agar tidak tertawa.
“Kenapa wajahmu sedih, hem? Kenapa hanya aku yang bahagia kalau kamu benar-benar hamil?”
“Aku sedih, Mas. Anak ini jangan-jangan tercipta saat malam itu terjadi,” ucap Almira lemah hingga perasaan Wisnu serasa teriris.
Wisnu merasa tercekat tidak mampu berkata apa-apa. Ia sendiri tidak bisa menghitung hal seperti itu. Pikirannya mencoba menolak kenyataan yang ada. Pikirannya ingin merubah kenyataan yang ada. Benarkah Almira hamil karena dia memperkosanya malam itu, bukan karena hasil hubungan cinta dan kerelaan minggu-minggu belakangan ini. Rasa sesak terasa ketika ia menyadari itu semua. Almira masih mengingat malam itu.
“Tidak Ira, Mas yakin, ini janin hasil kita bercinta. Saat kita saling menginginkan. Bukan karena malam itu, kamu harus percaya itu?” ucap Wisnu menenangkan diri dan istrinya.
Wisnu tidak menyangka pikiran Almira sedetil itu dalam menghitung. Ia tidak menyangka bahwa pilihannya mengejar wanita ini sangat tepat. Wanita ini akan hamil anaknya kalau ia tidak mempertanggungjawabkan kesalahannya. Wisnu merasa sangat bersalah dengan masa depan wanita yang kini sangat dia cintai ini.
“Tapi Mas, sudah jelas kita melakukannya lagi baru beberapa minggu ini. Ira yakin, ini hasil malam itu,” ucapnya sedih. Lelehan air matanya kembali terasa membasahi pakaian yang Wisnu kenakan.
Wisnu memejamkan matanya merasa bingung sendiri. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa yang bisa membuat istrinya tidak terguncang lagi seperti sekarang.
“Sama saja, Sayang. Sama saja ini anakku. Jadi kamu tidak perlu memikirkan kapan janin ini bersemayam. Ini anakku, jadi tidak akan mengubah apapun walau memang karena kesalahan Mas Inu atau bukan. Hem? Jangan berpikir terlalu jauh ya?” kilah Wisnu memberi nasehatnya.
“Mas 'kan tidak tahu beratnya orang yang direnggut apa yang berharga. Ngomongnya gampang,” gerutu Almira masih saja berdecak kesal.
__ADS_1
“Iya, mas ngaku salah sekaligus bersyukur. Mas Inu orang yang malam itu merebut barang berharga itu, bukan orang lain,” sahut Wisnu membuat Almira bangkit dari tidurnya dan menatap Wisnu dengan sorot mata penasaran.
Wisnu masih tidur miring menatap wajah istrinya yang masih bingung dengan perasaan yang jauh lebih baik. Setidaknya nasib wanita yang ia sayangi itu bisa berakhir baik dengannya, bukan dengan pria lain yang tentu saja hanya akan membuatnya menderita karena janin itu benar-benar berkembang.
“Mas selalu bilang begitu, apa maksudnya?” tanya Almira merasa selalu diberi teka-teki. Sambil tersenyum Wisnu bangun dari tidurnya dan duduk bersila menghadap Almira.
Dia usap rambut dan pipi wanita yang terpaut usia enam tahun itu dengan lembut. Wisnu menikmati kerjapan mata yang selalu membuatnya terpesona. Membuatnya tidak pernah puas hanya dengan sekadar memandang saja.
“Kita korban salah sasaran, Sayang,” jawab Wisnu membuat Almira mengernyitkan dahinya. Ia masih saja belum bisa mencerna dengan baik ucapan dari suaminya.
“Maksud salah sasaran? Kenapa bahasamu membuatku pusing? Aku akan muntah di bajumu kalau bicaramu tidak bisa ku mengerti,” ancam Almira memukulkan kepalan tangannya ke kasur.
Wisnu menghembus nafasnya memandang.
“Walau malam itu kita tidak tidur bersama. Kita akan tetap melakukan hal itu di malam itu. Bedanya aku dengan wanita lain, dan kamu dengan pria lain,” jawab Wisnu membuat Almira membelalak mata, ia tutupi bibirnya dengan telapak tangannya menutupi reaksinya yang terkejut.
Almira membalik badannya dengan perasaan bingung dan geram. Apa yang diucapkan suaminya jelas tidak bisa dia percayai begitu saja. Tapi semua menjadi begitu gamblang dimana saat itu pria yang kini menjadi suaminya itu sedang mabuk dengan gejolak bercinta yang kasar dan membabi buta. Ia merasa ngeri sendiri bila mengingatnya. Mengingat kembali kejadian traumatis dalam hidupnya.
“Siapa, siapa yang berani menjebak kita?” sungut Almira merasa tidak terima.
“Mas, siapa orangnya? Aku sama siapa dan Mas Inu dengan siapa?” geram Almira memandang Wisnu yang masih saja membisu belum menjawab.
“Aku sama mas Bagus? Benar begitu?” desak Almira semakin serius dengan pertanyaannya.
“Apa kamu senang kalau iya?” tanya Wisnu menatap istrinya dengan senyuman simpul.
Almira gelagapan mendapat pertanyaan itu. Ia menoleh ke sembarang tempat menghindari tatapan mata suaminya. Dia bingung sendiri untuk menjawab. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa berucap.
“Bingung ya?” goda Wisnu semakin membuat Almira salah tingkah.
Wisnu menggeser duduknya hingga berada di samping Almira, Almira beringsut menghindar beberapa senti. Wisnu semakin menggoda dengan menggeser lagi duduknya.
“Berhenti! Baiklah aku akan jujur,” sahut Almira menatap malu Wisnu, dengan sikap serius Wisnu segera bersedekap tangan. Sambil sesekali melirik suaminya Almira menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Jadi? Kamu senang kalau pria itu Bagus?” desak Wisnu menjadi tidak sabar. Padahal jelas wajahnya menampakkan raut yang belum siap bila jawaban Almira meleset dari apa yang ada dipikirannya.
__ADS_1
Ah, rasanya Wisnu ingin tenggelam di bawah selimut saja, menyesal juga dia memberitahukan hal jelas hanya menambah masalah bagi mereka berdua.
“Bukan begitu, aku rasa … Ira rasa ….”
“Rasa apa? Rasa asin, manis, gurih?” sahut Wisnu merasa tidak sabar juga dengan ucapan lambat istrinya. “Katakan saja, kamu senang,” tambah Wisnu dengan suara ketus.
“Bukan Bagus kan? Ira merasa pasti bukan dia. Kalau iya, pasti Mas Inu tidak akan seperti ini,” lontar Ira membuat Wisnu mengangguk mengiyakan.
Almira mengangguk paham, hatinya tambah menyisakan luka. Bukan Bagus lalu siapa? Almira merasa semakin terhina dihadapan suaminya. Bahkan di saat seperti ini pun dia merasa menjadi wanita tidak berharga, sejahat apapun kelakuan pria yang menjadi ayah dari anaknya itu tetap saja ia seorang pahlawan.
“Aku mau pulang. Aku mau makan mie rebus,” ucap Almira segera menoleh ke arah suaminya.
"Kita pulang sekarang. Mau berapa bungkus?" hibur Wisnu mengelus punggung Almira lembut.
"Dua, yang pedes," sahut Almira segera bangkit berdiri.
"Siap."
Wisnu segera mengangguk. Ia paham, saat ini istrinya sedang merasa tidak berada di mood yang baik. Sambil memeluk pundak istrinya Wisnu mengajak berjalan.
Bersambung.
***
Pria hebat bukan dilihat dari berapa banyaknya wanita yang sanggup dia cintai, tapi berapa banyak cara dia memberikan cinta dan kasih sayangnya kepada satu wanita saja. By. Syala Yaya.
Hai semuanya, terimakasih untuk waktu dan dukungannya yaa … love pokoknya❤️😍
Aku juga mau kasih cuplikan novel sahabatku, cuz ya otw baca pasti bikin nagih.
❤️Salam segalanya dariku ~ Syala Yaya,🌹🌹
__ADS_1