
Malam ini banyak hal Almira pelajari dari sosok pendiam suaminya. Memikirkan dulu setiap hal sebelum dia mengatakannya, baginya itu sangat misterius.
“Mas Inu, Ira boleh bertanya?” tanya Almira sambil menatap lekat wajah suaminya.
Dia pandangi wajah tampan suaminya yang kini masih memejamkan mata, sesaat setelah sesi bercinta berakhir suaminya akan selalu mengecup keningnya dan memeluknya hingga tertidur, Almira memandangnya sambil tersenyum.
“Tanya apa? Jangan hal absurd lagi … atau kita akan meleburkan cinta sampai pagi untuk menyembuhkan amarah,” ancam Wisnu membuka matanya memandang senyuman geli Almira.
“Apanya yang Absurd?” protes Almira mengelus pipi Wisnu dengan jemari tangannya.
Almira tidak bosan memandang, sesekali ia memainkan rambut suaminya yang mulai memanjang menutupi daun telinganya, menariknya ke atas membuat mata suaminya yang terpejam lagi menjadi membuka mata, ia tersentak pedih karena ulah istrinya.
“Kenapa tanganmu jahil sekali, Nenek Peyot empat puluh tahun,” ejek Wisnu meraih hidung istrinya dan menariknya dengan gigi gemerutuk gemas.
“Sakit, tauk,” desis Almira melototkan matanya.
“Peyot ... peyot … peyot,” goda Wisnu memainkan pipi gembil itu hingga Almira mengibaskan jemari tangannya kesakitan.
“Apa maksudmu dengan peyot?” protesnya sambil menggembungkan pipinya agar tidak bisa dicubit lagi oleh suaminya, Wisnu hanya bisa tertawa lucu.
Wisnu mengingat kembali malam itu, baginya adalah pertemuan pertama mereka berdua. Pertemuan karena insiden di depan portal kereta api. Ia mengingat gadis yang menyerempet mobilnya dengan berani menghadapi sikap ketusnya.
“Di palang pintu rel kereta api, apa kamu ingat kita bertemu di sana?” tanya Wisnu memperbaiki posisi tidurnya dan memandang lekat istrinya, meraih anakkan rambut yang menutupi pipinya dan menyelipkan cepat ke belakang daun telinga agar sisi cantiknya bisa ia nikmati tanpa gangguan.
“Mas Inu tidak lupa? Aku kira pria ketus itu bukan Mas Inu,” sahut Almira membalas pandangan.
“Kenapa? Apa aku berbeda?” tanya Wisnu merasa penasaran dengan semua perasaan istrinya sebelum benar-benar menerimanya.
“Saat itu Mas Inu galak, dan juga ketus.” Almira membalas dengan senyuman tertahan di ujung bibirnya.
Wisnu segera bangkit dari tidurnya dan mengecup pipi Almira, Almira segera menghindar dengan memakai selimut untuk menghalau keisengan Wisnu dalam menggodanya. Hanya sekali tarik Wisnu sudah berhasil membuat istrinya menjerit dan tertawa geli kareba aksi jahilnya.
"Jangan mulai deh," tolak Almira tertawa. Wisnu segera menghentikan kelakuan jahilnya sambil tertawa tapi tak bergerak dari tempatnya.
“Aku lapar, kita masak dan makan malam bersama, bagaimana?” tawar Wisnu menekan tubuh Almira dan menghimpitnya dalam dekapan.
“Apa sih, aku tidak bisa bernapas,” protes Almira semakin menambah gemas suaminya dalam menggodanya.
Almira meronta dengan tangan mencoba memukul gemas suaminya, nyatanya tangannya terbelenggu tangan Wisnu yang kokoh.
“Aku tidak pernah merasakan punya keluarga selain denganmu,” ungkapnya membuat Almira mengendorkan penolakan atas kungkungan lengan kokoh suaminya.
Almira mengamati perubahan di wajah suaminya. Sungguh banyak sekali pertanyaan yang penuh di kepalanya, tapi nyatanya dia tidak mampu mengungkapkannya. Ia merasa sangat takut bila ternyata pertanyaannya membuat suaminya memberi rona marah lagi kepadanya.
“Ceritakan sedikit hidupmu, Mas,” pinta Almira menelan salivanya, saat mengatakannya rasa nyeri tiba-tiba hadir mengisi hatinya, seperti ada luka yang terasa menghujam batinnya.
“Bagian yang mana yang ingin kamu ketahui?” tanya Wisnu lembut sambil mencium bibir Almira dan mengecupnya lembut. “Jangan pertanyaan yang membuatku harus bertengkar lagi denganmu,” ucapnya lagi memberi batasan kepada Almira. Wanita itu mengangguk setuju.
"Ceritakan semuanya," jawab Almira penuh harap.
Almira menarik tubuhnya dan duduk bersandar, menarik selimut sekuat tenaga dari tubuh Wisnu yang menindihnya. Wisnu hanya bisa membiarkan Almira menjauhinya dan memilih menempelkan pipinya pada perut Almira dari luar selimut dan menciumnya sayang.
“Aku harap aku segera bisa memiliki keluarga kecil, kapan malaikat kita akan hadir di sana,” ucap Wisnu membuat Almira terkejut dan reflek duduk dengan gugup merasuki relung hatinya.
“Aku masih dua puluh dua tahun, Mas,” sahut Almira tanpa sadar ucapannya meluncur begitu saja, ia segera tertunduk dengan bibir mengatup merasa bersalah.
“Memangnya kenapa kalau usiamu masih dua puluh dua tahun? Apa ada larangan punya anak saat usia dua puluhan?” lontar Wisnu dengan nada kembali memberinya warning kemarahan.
Almira mengusap wajahnya dengan jemari tangan, mimpinya seakan lenyap dengan perbedaan pendapat mengenai ini lagi. Mimpinya harus pupus, semua impiannya berantakan tanpa bisa mengumpulkan puzzle-puzzlenya dan mengumpulkan kembali setidaknya untuk melanjutkan pendidikannya.
“Kamu tidak mau hamil anakku?” tanya Wisnu memberi rona suara ketus dan tekanan pada nada suaranya.
“B-bukan begitu, Mas. Aku hanya belum siap saja,” jawab Almira memandang rambut Wisnu yang masih bertahan memeluknya dengan kepala mendekap.erat tiduran di perutnya.
“Aku tidak mau tahu, aku mau kamu hamil secepatnya. Saat aku melihat anak Isna dan Dhepe rasanya aku sudah tidak sabar memeluk dan menggendong anakku sendiri,” lontar Wisnu menampilkan suara sangat serius.
“Tapi, Mas,” protes Almira lagi mencoba menawar. “Kita tunda sampai tahun depan bagaimana?”
__ADS_1
“Tidak bisa, aku tidak mau ada tunda menunda, biar Allah kasihnya kapan kita menurut saja, awas kamu macam-macam,” ancam Wisnu masih bertahan kepada posisinya.
“Aku mau kerja, Mas. Besok senin aku mau wawancara,” bujuk Almira dengan suara merayu sesuai usianya yang masih muda.
“Siapa yang melarangmu bekerja, aku hanya memintamu untuk hamil dan melahirkan anakku, tidak menuntut apa-apa," jawab Wisnu membalas.
“Kalau hamil aku pasti ditolak bekerja,” lontar Almira lagi mencoba mengubah keinginan suaminya.
“Siapa yang berani menolakmu bekerja, bilang sama Mas Inu? Hem?” tanya Wisnu melepaskan pelukannya dan beralih mensejajarkan punggungnya, merebahkan diri di samping Almira.
“Ya HRD dong, masa kamu. Kamu tukang apa di Hotel?” tanya Almira meraih ponselnya di nakas saat ada notif terdengar.
Wisnu hanya melirik sekilas ke arah istrinya saat melihat layar ponsel sudah menampilkan wallpaper wajah pria lain, bukan foto Bagus tapi semakin membuatnya kesal. Almira tidak menggunakan fotonya.
Wisnu merebut ponsel dari tangan Almira dan menatap foto pria tampan yang tertera di sana, dengan hembusan napas kasar ia melirik kesal ke arah Almira yang malah tersenyum nyengir ke arahnya.
“Apa sih? Masa cemburu juga sama artis,” kilahnya membela diri. “Kembalikan, itu fotonya Oppa Yang se jong,” pintanya mencoba meraih kembali ponselnya.
“Sini aku cek dulu aplikasi ponselmu.”
Wisnu semakin semangat mengamati satu persatu dokumen dan foto di ponsel istrinya, menghapusnya cepat saat melihat foto Bagus masih berada di dalamnya. Hembusan napasnya jelas menampilkan kejengkelan yang nyata. Almira melirik dengan wajah cemas dan takut-takut ke arah Wisnu juga sesekali ke arah ponselnya.
“Itu, kamu hapus juga?!” pekik Almira membelalak mata.
“Kenapa? Kamu mau protes?” desis Wisnu menampilkan sikap sinis jengkelnya.
“Aku mengumpulkan foto itu waktu mereka jumpa fans, Mas. Astaga, jadi suami tega amat,” protes Almira lagi saat melihat beberapa foto artis favoritnya yang sedang konser dikotanya dihapus sepihak oleh suaminya.
Wisnu beberapa kali menscrol layar ponsel Almira dan meneliti setiap aplikasi yang dipakai Almira. Pria tampan yang sedang bertelanjang dada itu beberapa kali melirik sinis dan berdecak kepadanya.
“Noveltoon, Readme aplikasi apa ini?” tanya Wisnu memandang Almira lagi.
Almira gelagapan, tangannya mencoba meraih ponsel ditangan suaminya tapi tetap saja gagal. Wajahnya tampak mencebik sendu ke arah Wisnu. Wisnu semakin merasa penasaran dengan tingkah aneh Almira.
“Jangan dihapus, aku mohon,” pinta Almira merayu, tangannya segera meraih lengan kokoh Wisnu dan menggoyangkannya selayaknya kepada kakaknya.
“Aku akan marah,” jawab Almira cemberut, beberapa kali ia harus menghentak kaki di kasur karena ulah usil suaminya.
Baginya aplikasi itu sering menemaninya dalam mengarungi kesepian saat sepanjang hari di rumah sendirian.
“Semua emak-emak juga punya akun itu juga kali, Mas,” ucap Almira membela diri saat suaminya mulai membuka beberapa bacaan istrinya.
"Masa?" goda Wisnu tidak paham.
"Sumpah, cek saja ponsel mereka. Jangan dihapus ya, please," bujuk Almira Lagi.
Almira kesal sendiri saat melihat senyuman mengejek Wisnu kearahnya. Wisnu suka sekali saat istrinya sangat memperhatikan aktifitasnya saat mengubrak abrik isi aplikasi itu.
“Kamu pilih mana? Pilih aku atau Noveltoon?" goda Wisnu mendekatkan wajahnya ke arah Almira.
Seketika Almira melotot dan menahan nafasnya. Memilih adalah hal yang paling sulit baginya, apalagi kalau keduanya sangat penting sebagai penghilang rasa kesepian bila tidak ada kegiatan.
"Pilih kamu," jawab Almira cepat.
“Berarti ini dihapus tidak apa-apa?” goda Wisnu lagi sambil mengarahkan gambar aplikasi ke tanda kata hapus.
“Hah! jangan,” rengeknya mencebik sudah seperti anak kecil yang akan kehilangan barang mainannya, dengan wajah memelas ia meraih lengan Wisnu dan menariknya dengan gelengan kepala.
“Katanya pilih aku? Harus fair dong,” kilah Wisnu memandang istrinya dengan menahan diri agar tidak menerkamnya lagi, melihat wajah polos membangkitkan gairah untuk merasakan lagi kelembutan sentuhannya.
“Apanya yang fair? Itu pemaksaan, aneh,” protes Almira mengerucutkan bibirnya.
“Berarti pilih siapa ini?” goda sekali lagi Wisnu, ia mengucapkannya dengan menampakkan binar mata sayangnya terhadap sang istri.
“Pilih Noveltoon,” jawab Almira sembari tersenyum nyengir, ia merasa suaminya pasti akan kesal karena jawabannya.
Dan benar saja, hembusan napas dan lirikan mata yang berubah membuat wanita cantik itu panik, apalagi saat Wisnu meletakkan ponselnya di samping tubuhnya sambil miring memunggungi Almira. Dengan panik Almira harus memeluknya agar marahnya tidak berlanjut.
__ADS_1
“Kamu marah lagi? Ahhh … baiklah, hapus aja,” seloroh Almira menggoyangkan punggung Wisnu berniat merayu.
“Rayu yang benar. Suami sama Noveltoon masa lebih milih Noveltoon,” omelnya masih tidur miring memunggungi istrinya.
“Aku tidak bisa memilih, semua bisa membuatku bahagia, tapi ... kalau dipaksa sih, aku pasti pilihnya tetap Mas Inu,” rayu Almira dengan suara merengek mirip sekali anak kecil, diam-diam Wisnu tersenyum mendengarnya.
“Pokoknya aku marah, sana … kamu tersenyum dan cekikikan sama novelmu sana,” omel Wisnu lagi sambil menarik selimut berniat memakainya untuk menutupi kepalanya.
“Lho … lho … Ira 'kan sudah bilang pilih Mas Inu, kenapa masih marah?” protes Almira gemas sendiri, Dia tarik selimut itu dengan kasar hingga dirinya hampir terjungkal, Wisnu hampir saja meledak tawa karena kelakuan istrinya, ia masih bisa menahan diri.
“Kamu beri aku alasan dulu, kamu pilih aku karena apa?” tanya Wisnu kembali menguji rasa gemerutuk Almira, sambil kembali berbaring dia melirik punggung Wisnu dengan kekesalan.
“Karena Ira mencintai Mas Inu,” jawab Almira cepat.
Entah mengapa perasaan Almira berubah, jatungnya berdetak lebih kencang saat mengucapkannya. Astaga, dia baru sadar kalau dia telah mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Almira memejamkan matanya karena malu.
“Karena kamu apa? Dasar gombal perayu,” ujar Wisnu membalik badan dengan lipatan bibir menahan senyuman kegembiraan yang menyembul hampir meledak dan menggigit habis istrinya saking senangnya.
Ia merasa sudah seperti anak kecil yang diberi pemen. Kata 'aku mencintaimu' entah mengapa mampu melelehkan perasaannya.
“Karena aku cinta Mas Inu, puas?” cerocos Almira masih berada di balik selimut.
Wisnu segera menarik selimut dan berhasil membuat Almira malu tidak kepalang, Wisnu segera meraihnya dalam dekapan dengan perasaan amat bahagia.
“Kalau begitu, lahirkan anak untukku,” bisik Wisnu menahan gejolaknya lagi yang mulai merambat naik.
Almira menahan napasnya saat suaminya membisikkan kata itu dengan sapuan ciuman di telinga dan lehernya.
“Tapi Ira-”
“Lahirkan anak untukku, agar aku bisa mengikatmu kuat dengan jalinan pertalian darahku,” potong Wisnu membuat Almira membeku, mendadak perasaannya menjadi penuh.
Pandangan mereka berdua saling beradu, mengunci arah pandangan mata. Menyalurkan rasa saling percaya dan cinta.
“Mas,” panggil Almira masih memandang bola mata suaminya yang bisa terbaca saat bagian, marah, kecewa, menggoda, semuanya.
“Hem?” jawab Wisnu merasa sangat penasaran, apa yang akan istrinya ucapkan.
Apa istrinya akan menggodanya, akan mencoba meminta serangan cinta? Ah pikiran Wisnu melayang kemana-mana.
“Almira lapar, hehe …,” lanjut Almira menampakkan lengkungan bibir dan deretan giginya yang putih.
Wisnu menghembuskan nafasnya.
“Baik, Nyonya. Aku akan memasak untukmu,” jawab Wisnu tersenyum dan segera menyambar bibir itu dan mereka saling berciuman beberapa saat.
***
Apa aku egois saat ucapan cinta darimu masih belum membuatku puas untuk menunjukkan sebuah rasamu untukku? Aku ingin lebih, aku semakin ingin lebih. Aku menginginkan semua yang ada pada dirimu, semuanya. Bila ada hal yang bisa menjamin agar kamu tidak bisa lepas dariku, maka akan kulakukan. (Wisnu&Almira)
By. Syala Yaya.
Bersambung …
Hai semuanyaa pokoknya makasihhh untuk dukungannya yaaa.
Like, komen, juga voteee
Baca juga ya novel kami ber
Salam tos Online dari Syala Yaya 🌷🌷
__ADS_1