
Wisnu tersenyum manis memandang Almira yang kini sedang berlari kecil dari dalam rumah. Menatap istrinya yang kalang kabut karena dengan jahil hanya dia beri waktu satu jam saja untuk bersiap-siap. Ingin sekali ia menertawakan wajah gemas istrinya itu.
"Kita sudah terlambat," lontar Wisnu menggoda saat Almira membuka pintu mobil dan menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang, terlihat wajahnya merengut.
"Terlambat untuk apa?" sahut Almira menatap kesal ke arah Wisnu.
Wisnu hanya melemparkan senyuman untuk menanggapi istrinya. Baginya sangat aneh saat wanita menjadi kesal hanya karena ia memberi batasan waktu untuk berdandan. Dia merasa wanita itu sangat rumit kalau sudah menyangkut waktu untuk berdandan.
Wisnu memutar tubuhnya dan bergerak mendekati Almira. Ia berniat untuk memasangkan sabuk pengaman kepada Almira, tapi ia kembali merasa aneh saat dengan cepat pula Almira mengibaskan jemari tangannya dengan wajah seakan dia mau melakukan adegan berbahaya.
"Mau apa? ini kita sedang di mobil," desisnya memandang kesal bibirnya mencebik lucu.
Wisnu segera mengurungkan niatnya untuk membantu, memandang wajah Almira saja sudah membuatnya ingin mencubit gemas pipinya.
"Pasang sabuk pengamanmu, Nona Almira," goda Wisnu berhasil kembali menjahili istrinya.
Wisnu segera kembali pada sikapnya, duduk serius memegang setir kemudi dan menjalankan mobilnya diiringi derai tawa.
"Wah … tidak menyangka seorang Wisnu bisa menyebalkan begini," desisnya meraih sabuk dan memasangkan sendiri.
"Baru tahu ya? Sakit hatiku, gaya menguntitmu benar-benar payah pasti ya."
"Ck! Soalnya aku tidak serius mengikutimu saat itu, aku terlalu penasaran dengan pria muda yang kencan dobel dengan kalian berempat," ungkap Almira mencibirkan bibirnya.
"Siapa?" tanya Wisnu merasa penasaran.
Almira tersenyum manis menanggapi, ia membayangkan satu pria muda itu dan akan membuat si kaku itu cemburu juga. Suaminya sepertinya belum pernah menampakkan kecemburuan pada sosok masa lalunya.
Sesekali Almira melirik ke arah Wisnu yang fokus menyetir dan sepertinya mengabaikan lontarannya tentang sosok pria muda yang ia maksud. Almira kesal sendiri, prianya pandai sekali menyimpan perasaan di dalam hatinya.
"Apa kabar pria bernama Alan," tanya Almira berniat menggoda Wisnu.
Almira memandang Wisnu yang hanya menoleh sekilas dan fokus pada area parkir Supermarket. Wisnu sedang mencari area parkir yang kosong.
"Ramai sekali," keluhnya memandang sekelilingnya.
Beberapa kali ia harus memutar kemudi untuk mencari tempat parkiran. Dia baru ingat kalau hari ini adalah malam minggu dimana semua keluarga pasti sedang berbelanja dan menikmati akhir pekan bersama keluarganya.
Ia menyadari bahwa ini adalah hari pertama dalam sejarah hidupnya bisa ditemani wanita untuk berbelanja keperluan dapurnya. Ia merasa mendapatkan bonus besar dari Allah karena saat ini dia sudah sah menjadi suami wanita cantik itu.
"Ini malam minggu, pasti ramai. Mas Inu tidak pandai memilih waktu," ejek Almira memandang banyaknya mobil yang berada di lokasi parkiran.
"Tidak pandai bagaimana? Sekarang ini aku sedang mengajakmu kencan, dasar tidak peka," balas Wisnu berdecak ke arah Almira.
Wisnu segera mematikan mesin mobilnya dan membuka sabuk pengamannya, menoleh ke arah Almira dan turun dari mobilnya.
"Baru kali ini diajak berkencan di Supermarket," gerutunya memandang Wisnu yang sudah memutari mobil dan membuka pintu untuknya.
"Anggap saja ini kencan ala pengantin baru," celetuk Wisnu membuat Almira tersenyum juga. "Silahkan tuan Putri," tambah Wisnu lagi.
Almira mau tak mau merona juga. Perhatian kecil yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Mendapatkan suami kaku tapi penyayang seperti Wisnu. Dengan langkah hati-hati dia turun dari mobil dan menurut saja saat suaminya menggandeng tangannya.
__ADS_1
Mereka berdua menyusuri area parkir. Wisnu memilih berjalan memutari lewat jalan setapak area taman Supermarket, menikmati kebersamaan yang tidak pernah dia bayangkan akan semanis ini. Memiliki jemari wanita yang tersisip di antara jemari tangannya sendiri ternyata membawa kenyamanan tersendiri bagi Wisnu.
"Ternyata begini rasanya," guman Wisnu menggoyangkan tangannya hingga tangan Almira ikut bergerak mengikuti irama gerakan tangan Wisnu.
"Begini apanya?"
Almira melirik bingung dengan ucapan Wisnu barusan. Rasa apa yang dia maksud? Bahkan sejak dari rumah omongan mereka berdua terasa tidak nyambung sama sekali. Banyak pertanyaan yang hanya suaminya itu abaikan. Almira malas menanggapi.
"Pasti kamu sering melakukan hal seperti ini, jadi rasanya biasa," lontar Wisnu membuat pandangan Almira beralih fokus menatap Wisnu.
Kenapa dia harus mendapatkan lontaran kata seperti itu? Apa maksud dari kata biasa? Almira ingin sekali menginjak kaki Wisnu karena kesal.
"Kamu pasti sudah sering berkencan dengan banyak pria jadi bergandengan tangan rasanya kuno, iya tidak?" tanya Wisnu membuat Almira menghembus napas jengkel.
"Siapa yang bilang? Asal tuduh aja," dengusnya.
"Tandanya hanya aku yang merasakan hatiku nyaman saat menggandeng tanganmu," ucap Wisnu kembali membuat Almira tidak mampu membalas ucapan suaminya yang baginya sangat manis.
"Sok romantis," sahut Almira malu senyum-senyum sendiri.
Wisnu semakin merekatkan jemari tangannya dan mengajak Almira menaiki tangga menuju halaman gedung Supermarket. Berjalan layaknya pasangan kekasih ke dalam lobby.
Almira beberapa kali harus merasa malu karena Wisnu begitu perhatian dalam menjaganya saat berjalan. Mengambilkan troli dan menggandeng tangannya kembali. Pria itu sudah seperti pengawalnya saja.
"Apa Isna sering mendapatkan perlakuan seperti ini? tanya Almira di sela mengamati barang-barang belanjaan yang tertata rapi di rak.
Wisnu dengan cepat mengambil beberapa barang keperluannya dan memasukkan ke dalam troli. Memandang Almira dan tersenyum sambil mengacak rambutnya dengan gemas.
Almira segera berlari kecil mengikuti Wisnu yang masih asik memilih bahan makanan di rak. Almira merasa kagum juga dengan sikapnya yang tenang seakan sudah terbiasa berbelanja kebutuhan rumah maupun dapurnya.
"Aku sering memperlakukan Isna seperti ini, apa kamu puas mendengarnya?" ucap Wisnu kemudian saat Almira sudah berada di sampingnya.
Almira hanya menatap raut wajah Wisnu yang tampak berubah serius. Almira sampai merasa kaget saat suaminya itu menghentikan aktifitas belanjanya dan menghadap tepat di depannya.
“Apa sih, Mas. Membuatku malu saja,” tegur Almira melihat Wisnu lama sekali memandangi dirinya. Almira merasa pasti saat ini wajahnya sudah merah merona.
“Kabar Alan baik, apa kamu menyukainya?” tanya Wisnu dengan wajah datar tanpa senyuman.
Almira yakin suaminya ini sudah marah, rencana bercandanya gagal total. Rencana jahil malah berubah jadi serius. Almira merutuki mulutnya.
“Dia keponakanku. Dia bertunangan dengan Yashna. Jadi sebenarnya aku berada di kedutaan besar itu hanya untuk mengurusi visa mereka berdua saja,” jawab Wisnu dengan suara tenang.
Almira menunduk malu, ia merasa salah karena gara-gara itu dia jadi merusak hubungan orang lain. Wisnu kembali mendorong trolinya dan berhenti di rak makanan kaleng. Almira berlari kecil
“Jangan membicarakan hal yang akan memicu perdebatan dan membuat mood menjadi buruk. Ingat kita saat ini sedang berkencan, hem,” seloroh Wisnu mengingatkan Almira.
Almira mengangguk, apa yang pria itu ucapkan selalu benar. Memicu perdebatan dan hanya menjerit kesal karena cemburu dan akhirnya bertengkar.
“Nanti kamu masak apa?” tanya Almira segera membantu Wisnu mendorong troli.
Wisnu menatap senang saat meliha Almira ikut sibuk memilih bahan-bahan masakan juga. Beberapa kali dirinya melihat Almira memasukkan banyak bahan makanan ke dalam troli.
__ADS_1
“Aku mau kamu nanti masak Sup Iga sapi,” lontar Almira memasukkan beberapa macam sayuran. Wisnu tersenyum menatapnya.
“Aku mau kamu juga masak ayam goreng,” ucap Almira lagi sambil mengambil daging ayam.
Wisnu segera mengambil alih troli, dirinya melotot dengan banyaknya barang yang dengan asal dimasukkan ke dalam troli.
“Sayang, nanti kalau uangku tidak cukup bagaimana?” kenapa kamu belanja sembarangan?" Bisik Wisnu di telinga Almira. Almira jadi geli sendiri.
“Nanti kita kembalikan di meja kasir,” jawab asal Almira sambil terkekeh.
Wisnu ikut terkekeh menanggapi, dia tarik pundak istrinya dan memeluknya gemas dari belakang. “Pasti itu pengalamanmu ya?” bisik Wisnu membuat Almira membalasnya dengan mencubitnya dengan gemas juga.
"Enak saja," sangkal Almira tertawa. "Kadang-kadang sih, iya," tambahnya lagi masih tertawa geli.
Almira meraih lengan Wisnu dan melepaskan pelukan, merasa suaminya sudah membuatnya malu karena berani memeluk dirinya di tempat umum. Almira sampai tidak berani mengangkat kepalanya saking malunya karena di tatap beberapa wanita yang juga sama-sama belanja. Dia berjalan dengan wajah menunduk.
“Dasar? Malu tahu,” keluh Almira memukul gemas lengan Wisnu lagi.
Wisnu hanya ikut tertawa juga. Mereka berdua segera melanjutkan belanja ke bagian koridor rak yang lainnya. Masih saling bercanda satu sama lain. Hingga tidak sengaja Wisnu melihat seorang anak kecil sedang menangis di ujung koridor sendirian. Sepertinya ia terpisah dari orang tuanya.
Wisnu memandang wajahnya, tangisannya seolah mengingatkan kepada dirinya dulu saat harus pula kehilangan sosok orang tua di saat usianya masih belia.
“Ra, ada anak kecil menangis,” panggil Wisnu menepuk pundak Almira. "Sepertinya terlepas dari pantauan orang tuanya."
Almira segera menoleh ke arah suaminya, ikut melangkah dimana suaminya sudah terlebih dahulu mendekati anak kecil itu. Almira mematung menatap suaminya sedang berjongkok di hadapan anak itu dan mencoba menenangkannya.
“Sshhhh … anak ganteng diam dulu ya? Jangan nangis ya, ada Om. Shhh ... Mamah sama Papahmu mana?” tanya Wisnu masih mencoba menenangkan.
Anak itu masih sesegukan karena menangis, matanya yang bulat mengerjap polos menatap Wisnu dan Almira bergantian.
“Adek manis, ibumu mana?” tanya Almira ikut berjongkok juga.
Beginilah aku, beginilah caraku mengungkapkan rasa sayangku.
Tidak perlu kau memancingku dengan dalih mengujiku, karena sesungguhnya tanpa ujian apapun juga dengan mengenaliku lebih dalam lagi, maka kau bisa mengetahui seberapa besar rasa cintaku terpancar untukmu. (Wisnu&Almira)
By. SYALA YAYA
Bersambung …
Wahh kira-kira anak siapa yaa??
Ikuti terus yaaa, pokoknya nggak boleh bosen wkwkwkwk maksa banget ya othor somplak 😄😄😐😐
Baca juga Walingmi dong, dijamin bagi yang lagi galau bin kesleo bin melongo jadi ngakak berjingkrak. Nggak percaya? makanya baca okeyyyy👍👍
Ini aku kasih covernya biar nggak salah.
Salam Tos Online dari Syala Yaya🌹🌹
__ADS_1