Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 100 Kegundahan Hati Yashna


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Tidak ada waktu yang terlewati dengan sia-sia. Ada kalanya sebuah kepenatan yang mendera, terdapat hikmah yang terkandung di dalamnya.


Hari ini Yashna sudah selesai bersiap. Membawa satu buah ransel berisi satu style pakaian ganti juga seperangkat make up cewek yang biasa ia bawa sehari-hari. Tidak banyak bergaya, ia cuek dengan penampilannya. Meskipun demikian, jangan sangka bila akan menemukan sisi Yashna yang buruk. Ia masih cantik menawan, diusianya yang hampir menyentuh angka dua puluh delapan tahun. Saingan para emak yang ketar-ketir suaminya akan kecantol oleh sosoknya yang memesona.


“Yashna Andara Bumi?” panggil salah seorang panitia sambil membawa kartu peserta.


“Iya, saya,” jawabnya seraya mengacungkan jari telunjuk tangan ke atas kepala.


Ia pun menerima kartu dengan pita biru dan segera mengalungkan pada lehernya kemudian duduk santai kembali di rerumputan. Ia tidak sendirian, ratusan orang juga melakukan hal seperti dirinya. Duduk di rerumputan untuk menunggu kartu peserta didapatkan.


Hari ini ia akan mengikuti acara yang sudah menjadi agenda tahunan komunitas pecinta alam 'The Adventure' bersama dengan para mahasiswa pecinta alam dari Universitas Sebelas Maret. Setelah melakukan meeting point di depan gerbang universitas, rombongan berjumlah lebih dari seratus orang itu pun bertolak. Tujuan acara kali ini ke sebuah lokasi di Wonogiri lebih tepatnya masih berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo. Rangkaian acara kali ini selain untuk penyegaran diri dari penatnya aktivitas sehari-hari, juga diadakan camping alam, dan penanaman 1001 pohon di bukit pelangi. Bukan pohon bersifat keras, tetapi aneka pohon buah yang bisa dimanfaatkan hasilnya tanpa ditebang.


Perbekalannya sudah siap. Dari pihak panitia pelaksana pun ia mendapatkan snack, makan dua kali, stiker, dan ilmu tentunya.


“Ponsel kamu bunyi terus, tuh!” Setyo menepuk punggung Yashna hingga pandangannya yang fokus menyimak ilmu pembekalan yang sedang diberikan oleh ketua panitia pelaksana terganggu.


“Ah! Ya,” sahutnya tergagap.


“Ponselmu.”


Yashna mengangguk seraya meraih ponselnya dari dalam kantung tas. Mengembus napas sebelum akhirnya memilih untuk mengabaikan panggilan itu dengan menekan reject.


Ia pun menoleh canggung arah Setyo yang memergokinya menolak panggilan. Namun, ia tidak ingin menjelaskan apa-apa. Ini privasinya, dan ia tidak suka membagi masalah pribadinya kepada siapapun.


“Pacar kamu? Kalian marahan?”


Yashna memilih mengembus napas daripada menjawab. Ia bingung. Dalam satu sisi sikap Alan padanya jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun, keraguan bahwa ini semua hanyalah sebuah tipuan atas tenggat waktu yang diberikan olehnya selama dua bulan membuat Yashna ingin menghindar.


“Aris cerita—”


“Bedebbah itu ... sudah kuduga, ember!” decak Yashna membuat Setyo terkekeh.


“Bukan begitu. Aku ... kepikiran sama kamu,” ungkapnya. Yashna mau tak mau menoleh juga karena jujur saja, ia cukup heran dengan kalimat yang diucapkan pria itu padanya.


“Tertarik sama kamu, tapi ....” Pria itu menunduk dengan seulas senyuman manis. Tidak membalas tatapan Yashna dan memilih untuk segera bangkit dari duduk ketika suara panitia meminta semua peserta untuk berbaris.


Yashna pun hanya bisa mengikuti apa yang diserukan ketua panita agar acara segera bisa dimulai. Ia mengikuti apa yang diisyaratkan untuk berdoa.


“Menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa ... mulai.”


Yashna pun menunduk. Larut dalam doa, meleburkan rasa sesak di dada bila sudah menyangkut Tuhan. Rasanya ia telah lama tidak berada di sekitarnya. Beban hidup sejak kecil malah menjauhkan dirinya dari sifat menerima takdirnya. Sibuk mencari jati diri, berjuang untuk tetap hidup dalam kekurangan hingga mengantarkan dirinya menjadi pencopet, lalu tidak sengaja bertemu dengan Wisnu kemudian Isna. Seorang wanita satu ayah dengannya. Sama susahnya, tetapi memiliki sifat lebih terpuji darinya.


“Apa karena darahku kotor?” batinnya kelu.


Pertemuan dengan Wisnu dan Isna menjadi sebuah perantara hingga dirinya bisa tahu jati diri, siapa ayah dan ibu kandungnya. Semakin terpuruk, jelas karena ia bukan sosok bayi yang diinginkan. Lahir dari sebuah kesalahan. Lalu Alan merangkulnya, nasibnya sama. Ia anak muda penuh luka, sama seperti dirinya. Mencoba untuk menjaga, mencintai, kemudian menghidupinya dengan cara anak muda yang aneh. Memberi status tunangan, tetapi untuk beberapa kesempatan malah seakan memberinya rasa sakit karena gaya hidup mereka yang berbeda.


“Aku bawain tas kamu,” ucap Setyo mengaburkan lamunan Yashna yang masih mematung di tempatnya, padahal barisan peserta lain sudah bubar ke arah bus masing-masing.


“Nggak usah. Bisa sendiri,” tolak Yashna dengan sopan.

__ADS_1


“Bis nomer?”


“Tiga,” jawab Yashna seraya melangkah.


Setyo hanya bisa tersenyum simpul kemudian menyusul langkah Yashna dengan berlari kecil, menuju bis berwarna biru yang akan membawanya pada pengalaman baru. Ia kali ini akan mengikuti acara penanaman seribu pohon. Sebuah acara tahunan yang diselenggarakan untuk mengurangi jumlah lahan yang gundul akibat penebangan hutan.


“Alan, tanpa kamu ... aku nggak tahu kalau sebuah komunitas terdapat beragam acara dengan membawa manfaat untuk masa depan orang banyak,” batin Yashna tersenyum tipis.


Ia sudah mendapatkan tempat duduk. Nomor dan namanya sudah terpampang jelas di sandaran kursi hingga tidak ada peserta yang berebut. Dua jok dan sebelahnya masih kosong dengan tanda peserta khusus dari luar komunitas. Tanpa nama.


“Sponsor acara?” gumam Yashna sambil duduk di bagian pinggir jendela kaca.


Baginya sial juga bila mendapatkan kursi yang bersebelahan dengan peserta khusus. Beberapa peserta lain bahkan menatapnya berbeda. Yashna kembali harus menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabaikan. Mungkin saja aneh, karena rombongan sponsor sudah ada mobil khusus berada di urutan paling depan.


Setelah merasa nyaman, menaruh tas ransel ke bagian bagasi yang berada di langit-langit bus kemudian ia pun menyalakan musik dari player ponsel dan menyalurkan melalui head set ke telinga. Ia pun memilih diam sambil memejamkan mata. Perjalanan menuju ke Wonogiri. Sebuah kota letaknya lebih dekat dengan rumah istri Wisnu, Pacitan.


“Ck!” Setiap mengingat Wisnu, otaknya terpancing untuk mengingat cecurut Alan. Lama-lama ia pusing juga.


Cup! Sebuah ciuman halus dan kilat di pipinya membuat Yashna tersentak. Ia buru-buru membuka mata dengan wajah murka ke arah orang yang sudah berani kurang ajar padanya.


“Aku nyaris ketinggalan bis,” gerutu pria itu sambil merapikan barang bawaannya dengan napas terengah-engah.


“Lo sinting!” decak Yashna belum mampu mengatasi keterkejutan juga kekesalannya. Apalagi melihat Alan kini sudah berada di sampingnya, sibuk berbenah. Nyaris ia kehilangan kontrol dan memukul pria itu karena berani menciumnya di depan umum tanpa perasaan bersalah sedikitpun.


“Aku Alan. Jangan ganti-ganti namaku seenaknya gitu,” sahut pria itu kini sudah fokus memandang dirinya lekat. “Aku kangen.”


Yashna memalingkan wajah. Selalu, ungkapan hati yang mampu membuatnya salah tingkah. Wajahnya memanas, apalagi Alan masih saja memiringkan tubuh menghadap kearahnya. Dadanya nyaris sesak tidak mampu bernapas dengan leluasa.


“Aku sibuk seminggu ini, nggak ada jadwal penerbangan dari Jakarta yang bisa digunakan untuk melepas rindu ketemu sama kamu. Hari ini ... jangan menghindari aku, ya. Aku ... nggak tahu kapan lagi bisa ketemu kamu.”


Yashna tercenung, tidak menoleh. Pandangannya kini terarah pada tautan tangan mereka berdua. Sebulan sudah mereka tidak bertemu. Pesan dan telepon dari Alan tidak ada yang dibalas olehnya. Timbul perasaan bersalah, kenapa pula ia harus membangun tembok sekokoh itu pada dirinya sendiri.


“Perusahaan di Jakarta sedang tidak dalam kondisi bagus. Aku orang baru yang harus banyak belajar. Aku bingung siapa yang bisa kuberikan kepercayaan. Aku ....”


Pria itu mengulas senyuman, menjeda kalimat yang justru menarik Yasha untuk berbalik mengangkat wajah dan menatap perubahan ekspresi dari pemuda di sampingnya. Rasa penasaran pun mulai timbul. Ia pun mulai bingung cara mengungkapkannya.


“Bisa ketemu sama kamu, aku sudah merasa baik-baik saja,” sambung Alan membalas tatapan Yashna kini malah kembali menunduk.


“Bis akan segera berangkat. Pastikan barang bawaan kalian tidak ada yang ketinggalan!” Suara pengumuman dari arah depan bus membuyarkan kecanggungan Alan dan Yashna. Tanpa berkata apa-apa, perempuan itu pun segera menarik jemari tangannya dengan pura-pura membenarkan ponsel yang berada dalam pangkuan.


"Siap!"


“Yaa!!” Beberapa tanggapan dari peserta lain mulai kasak kusuk.


Suasana bus sangat ramai. Celotehan terdengar saling menyahut. Sebenarnya banyak yang mengomentari secara lamat-lamat apa yang dilakukan Alan dan Yashna. Namun, tidak ada yang berani bersuara lantang hingga Alan pun merasa itu bukan masalah.


“Mas Alan, terima kasih atas kesediaan waktu, tenaga, dan materi yang telah Mas berikan untuk kelancaran acara kami hari ini,” ucap ketua yang mewakili panitia di bus yang Yashna tumpangi.


Alan hanya melambaikan tangan seraya melempar senyuman. Tepuk tangan riuh pun terdengar memenuhi bus. Semua peserta baru mengetahui bahwa Alan salah satu donatur yang memberikan sumbangsih dana untuk acara hari ini.


“Mas Alan!” sapa beberapa peserta wanita.

__ADS_1


“Mas, lihat sini, dong!”


“Mas, salam kenal!”


"Kak Alan, nanti kita foto barengan, ya!" pinta salah satu peserta seketika mendapat sambutan gelak tawa seisi bus.


Alan pun hanya melempar senyuman, menganggukkan kepala, seraya melambaikan tangan, tanda menerima perkenalkan.


“Doain bisa meluluhkan hati wanita yang berada di sebelah saya, ya!” ucapnya lantang hingga membuat semua peserta di dalam bus berseru menggoda. Tawa serta tepukan tangan pun bergemuruh. Yashna hanya bisa mengusap wajah sambil menatap jendela kaca bis di sampingnya.


“100, 300, wah! 600 dukungan!” serunya dengan sengaja mendekatkan wajahnya dengan tubuh condong ke arah Yashna. Namun, perempuan itu hanya bisa mendengus sambil menggelengkan kepalanya. Baginya, Alan sudah gila dan aneh.


“Aku dapet 600 dukungan, yang 400 masih dipegang Yashna,” bisiknya lagi membuat Yashna merasa geli sendiri. Ia pun menggeser tubuhnya agak menjauh dari Alan. Pria itu masih saja mengulum senyum.


“Tenang Alan, tinggal 400 lagi,” celetuk pria itu lagi seraya mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tas yang dibawanya kemudian membuka segel dan tutup. Ia pun menyerahkan kepada Yashna, menggoyangkan beberapa kali sampai Yashna terpaksa menerimanya.


“Minum dulu, biasanya duduk di samping pemuda tampan sering ingin menelan ludah, tapi jadi kering karena saking nervous,” seloroh Alan narsis tanpa dosa.


“Astaga.” Yashna menggerutu dalam hati. Dengan tajam ia menatap Alan jengkel.


“Minum, dulu. Tensimu juga bisa turun, kalau nggak lagi haus.” Alan mengulum senyum.


“Obatmu habis?!”


“Obatku kamu, masih kurang 400 dukungan lagi, sih,” ujarnya sukses membuat tangan Yashna sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertidak. Ia pun tanpa berpikir panjang, segera meraih tangan Alan kemudian mencubitnya keras.


“Awww!” teriak Alan berjingkat. Teriakannya sukses membuat semua penumpang bus menatap ke arahnya. Yashna pun segera memalingkan wajah sambil mendengus malu. Berada di dekat Alan dari dulu memang selalu serba salah dengan sikapnya tengil dan sering menjadi pusat perhatian.


“Lebay!” gerutu Yashna.


“Tapi kamu berhasil tersenyum. Kurang 300 dukungan lagi berarti,” bisik Alan tidak peduli saat tatapan mata tajam kembali mengarah kepadanya.


“Aku kangen kita pacaran lagi.”


Yashna tidak menanggapi, pacaran gayanya dengan Alan di Australia hanya dengan jalan santai, duduk berdua di sebuah kedai kopi. Membicarakan tentang apa yang dilakukan hari ini, apa yang musti dilakukan ketika uang bulanan mereka menipis. Makan apa yang murah tapi kenyang. Acara apa yang bisa ditonton secara gratis dan masih banyak lagi yang mereka lakukan. Pacaran yang aneh bagi sebagian orang. Alan sedang jalan dengan tantenya. Ia terpaksa tersenyum setelah mengingat semuanya.


“Kamu lupa nggak cukur itu?” Yashna menunjuk dagu Alan yang terlihat tumbuh bulu-bulu halus.


“Nggak, ini sengaja. Aku ingin terlihat berwajah dewasa, biar bisa nikahi kamu, tinggal satu bulan lagi 'kan hukumannya?” sahutnya sambil mengusap wajah dengan penuh gaya.


“Ishh!” Yashna hanya bisa mendesis dengan kembali melengos.


“Anak paman Wisnu sudah lahir, setelah acara ini ... kita ke rumahnya Bik Almira, yuk!” ajak Alan memandangnya lekat. Yashna melirik sekilas kemudian mengangguk. Ia rindu dengan ocehan Almira yang menyuruhnya untuk memanaskan hati Alan. Ia juga tidak sabar melihat keseruan keluarga kecil Wisnu dan Almira setelah memiliki bayi.


****


'Banyak yang mengatakan bahwa ujian sebelum pernikahan itu berliku. Kuharap keraguan yang sempat muncul akan terkikis dengan usaha yang tidak pernah lelah untuk terus memahami kekurangan, kelebihan, serta belajar dari yang telah terlewati.'


(Yashna-Kalandra).


Selamat, bab 100 🤣🤣🤣, nggak nyangka menulis sampai bab ini. Seneng aja nulis di buku KCW. Banyak bab nggak penting, tapi pas nulis rasanya happy, apalagi mendapatkan like dan komentar kalian yang membuatku rindu. 😍😍

__ADS_1


Salam manis, dan tetep ikuti protokol kesehatan dari pemerintah. Mari hidup sehat dan berpikir positif. ❤️❤️


__ADS_2