
Wisnu duduk dipinggiran sofa menatap Almira yang kini sedang merapikan pakaiannya. Matanya tak bosan memandang istri cantiknya yang diam menurut tanpa banyak bertanya, kenapa mereka harus mengakhiri sesi bercinta ditengah-tengah gejolak hasrat.
Wisnu merasa lega setelah melihat istrinya tidak marah sama sekali, padahal jelas hal ini begitu menyiksa dirinya kalau mau jujur.
“Tuan Besar mengunjungi kita,” ucap Wisnu membuat Almira menatap bingung.
“T-tuan Besar? Siapa mereka. Lalu kita harus bagaimana?” tanya Almira merasa panik sendiri, Wisnu jadi geli sendiri menatapnya.
“Tuan Krisna dan Nona Isna berkunjung ke sini, sekarang mereka sudah berada di luar,” ucap Wisnu sambil meraih baju Almira dan membantunya merapikan, mengancingkan pakaiannya dan meraih dagu istrinya agar mau memandang ke arahnya karena terlihat sekali wajahnya berubah menjadi cemas.
“T-tuan Krisna?” sahut Almira masih gugup.
Tiba-tiba Almira merasa deg-degan, bertemu dengan nama yang menyebutnya saja memakai sapaan yang biasa disematkan pada kalangan orang kaya dan penting. Bisa ia pastikan bahwa tamu suaminya bukan orang sembarangan, karena sampai-sampai membuat suaminya menghentikan aktifitas memadu kasih yang jelas-jelas terlihat sekali hatinya dongkol dan kesal.
“Jangan khawatir, buang semua kecemasan dari wajah cantikmu itu, hem. Mereka sudah seperti keluarga keduaku setelah keluargamu,” ucap Wisnu sambil melepaskan jemarinya dari dagu Almira dan beralih menarik jemari tangannya agar ikut berdiri, menariknya lembut dan menggandengnya saat berjalan keluar dari ruangan santai itu, mereka berjalan beriringan.
“Nanti malam kita lanjut lagi. Kamu masak yang enak dan usir secara halus tamu agung tidak berperikemanusiaan bagi pasangan pengantin baru seperti kita itu,” bisik Wisnu di telinga Almira hingga wanita itu terkekeh geli dan mendorong dada Wisnu saking gemasnya.
Almira merasa pikiran Wisnu sangat konyol.
“Kenapa Mas Inu jadi doyan begini sih? Bahaya banget,” balas Almira berjalan lebih dulu meninggalkan Wisnu.
“Hei hei … bahaya bagaimana? Mengataiku doyan, padahal nyatanya baru diberi sekali,” ocehnya meraih pundak Almira, merangkulnya seraya mencium pipinya dengan perasaan sayang.
“Apa sih, pikiranmu,” elak Almira malah jadi geli sendiri.
“Pikiran apa? Pikiranku sepolos bayi,” jawab Wisnu segera diberi cibiran nyengir oleh Almira.
“Idih, polos. Iya polos sekali,” protes Almira membuat Wisnu segera tertawa. Dirinya sendiri juga merasa aneh karena sifat dinginnya malah hilang saat berduaan bersama Almira.
Mereka berdua segera berjalan ke luar rumah sambil meraih tombol pembuka kunci gerbang depan yang berada di sisi pintu dalam rumahnya. Keluar bersamaan dengan langkah.Wisnu berjalan lebih cepat saat melihat Krisna dan Ihsan sudah mulai memasuki halaman, gerbang sudah terbuka lebar.
Almira tertegun di teras, merasa minder sekaligus takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Seorang pria tampan dan dewasa sedang berjalan dengan sunggingan senyuman hangat menepuk pundak suaminya, tampak sangat akrab.
Almira masih berdiri belum beranjak dari tempatnya, dirinya bingung saat menatap begitu banyaknya mobil yang berjaga bersama para pengawal hilir mudik di area luar rumahnya. Dia tidak menyangka suaminya akan mendapatkan kunjungan mendadak orang penting pagi-pagi begini.
“Aku tidak menyangka, sensor gerbangmu tidak mengenali mobilku, wah … keterlaluan,” protes Isna yang tampak memandang dari dalam jendela mobil, bersungut kesal menatap Wisnu yang tertawa lebar ke arahnya.
“Itu tandanya kau bukan lagi prioritas Wisnu, paham,” desis Krisna hendak meraih kening Isna hingga istrinya terkekeh dan menghindar dengan masuk lagi ke dalam mobil.
Wisnu dan Krisna saling melempar tawa, mereka meneruskan jalan kaki ke arah teras dan membiarkan Isna dan Shaka bersama supir pengawal yang membawa mereka ke arah parkiran halaman rumah agar nyaman.
Deg.
Jantung Almira sesaat seperti berhenti. Menatap wanita cantik yang sangat akrab dengan suaminya. Wajah sangat familliar, wajah yang terasa tidak asing bagi Almira.
Siapa wanita cantik dan wajahnya terlihat ceria itu. Seperti terasa dekat dan pernah bertemu. Almira terus saja mencoba mengingatnya.
“Ini istri saya, Tuan Krisna,” ucap Wisnu memperkenalkan Almira kepada Krisna.
Almira segera menyadari bahwa suami dan tamunya sudah berada dihadapannya. Almira berubah menjadi semakin gugup saja.
“Saya Almira, Tuan,” salam Almira sambil menunduk kepala.
Almira mendadak bingung antara mengulurkan tangan atau tidak. Pria tampan dan dewasa itu hanya tersenyum tipis sekilas dan membalas anggukan kepala Almira. Kesan dingin dan datar sangat mewarnai perkenalan mereka.
“Aku Isna,” ucap Isna sudah berdiri di samping Krisna dengan sunggingan senyum yang hangat. "Pasti Almira, ya?" tambahnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Almira.
“Eh … iya, Nona. Saya Almira, istri Mas Inu,” jawab Almira canggung dan malu.
Isna segera memukul gemas lengan Wisnu, hingga Wisnu harus mundur selangkah dengan tawa, mengerti apa yang sedang Isna pikirkan tentangnya. Isna merasa gemas dengan sapaan sang istri terhadapnya.
“Lihat, Yah. Wajahnya nampak lebih jelek dan tua. Sudah jelas 'kan apa artinya?” seloroh Isna sambil tertawa geli, jemarinya menutupi bibirnya agar bisa menahan diri.
“Pikiranmu,” decak Krisna ikut menimpali Isna, ia segera menarik pundak Isna dan menyeretnya masuk ke dalam rumah.
Krisna yakin, Isna akan tambah parah dalam menggoda Wisnu bila dia biarkan saja. Dia apal betul bagaimana jahilnya Isna terhadap pria paling dia jadikan daftar nomer utama yang membuatnya selalu dilanda api cemburu.
“Pikiranku apa? Aku cuma merasa mereka sangat romantis, Mas Inu ... hihihi bukankah itu sangat imut?” puji Isna meraih pinggang Krisna dan membalas pelukannya, mereka beriringan masuk ke dalam rumah. “Haruskah kita juga mencari sapaan imut seperti mereka?” ledek Isna segera diberi ciuman di kepalanya.
“Kau mau memanggilku apa? Mas Isna?” kelakar Krisna segera diberi cubitan kekesalan Isna.
“Salah sendiri nama kita sama,” keluh Isna cemberut.
“Berhenti cemberut, jelek. Mau kamu aku cium di sini,” bisik Krisna segera kembali mendapatkan cubitan gemas dilengannya.
Almira dan Wisnu saling memandang dan menyusul Krisna yang sudah seperti rumah berada di rumah sendiri. Memandang interaksi mesra mereka berdua dengan saling memberi gelengan kepala dan menahan tawa geli.
“Jangan gila seperti mereka berdua. Mesra di rumah orang. Anak sampai pengawal yang menjaga. Pemandangan apa ini? Sial sekali,” bisik Wisnu kepada Almira.
__ADS_1
“Haihh … bilang saja Mas Inu iri,” jawab Almira mencibir Wisnu.
“Bagaimana kalau kita menyelinap lanjutkan tadi yang sempat tertunda,” goda Wisnu segera di beri sungutan Almira.
“Sepertinya Mas Inu yang gila, bukan mereka,” desis Almira.
“Pak Wisnu.”
Panggil Ihsan dari arah belakang menghentikan langkah Almira dan Wisnu, Ihsan sambil nyengir menatap kedua bosnya, tangannya memberi kode yang membuat Wisnu harus berkacak pinggang saat menoleh dan menatap ke arahnya.
“Kenapa? Apa tidak sebaiknya kamu berkunjung lebih pagi?” sindir Wisnu tapi jelas assistennya mengabaikan sungut wajah bosnya.
“Kunci, Bos,” ucapnya sambil teesenyum manis. Dengan gaya jahil dia menganguk menyapa Almira. "Jadi begini, Ibu Ira -"
“Ish! Kuncinya di dalam mobil, belum aku cabut. Sudah pergi sana, jan lupa besok dikembalikan, urusan antara kita belum beres.”
Wisnu segera meraih pundak Almira dan menariknya agar ikut berjalan masuk, mengabaikan kejahilan Ihsan mengenai taruhan konyol yang jujur saja itu membuatnya bahagia. Karena Ihsan pula dirinya berhasil memenangkan hati Almira.
“Terimakasih Pak Wisnu, selamat pagi,” pamit Ihsan bersemangat menuju garasi mobil.
Tampak Ihsan memilih mobil incarannya dan dengan cepat pula dia mengambil alih stir dan meninggalkan kediaman Wisnu dengan suka cita.
Almira dan Wisnu segera menyusul Krisna dan Isna ke dalam ruang tamu. Terlihat Shaka sudah berada di tengah-tengah mereka berdua. Mereka asyik menggoda Shaka yang menggemaskan. Kedua pengawal berjaga di depan pintu masuk.
“Sapa pamam Inu dan Bibi Almira, Sayang,” ucap Isna mengajari Shaka memberi salam.
“Eh Dek Shaka, apa kabar?” sahut Almira segera berjongkok dan menatap gemas Shaka yang duduk santai di kursi sofa.
“Hallo, Bibi,” jawab Shaka dengan suara yang menggemaskan.
“Menggemaskan sekali,” puji Almira dengan mata berbinar menatap wajah Shaka yang tampan.
“Kamu cepetan bikin, Kak Wisnu sudah keliatan tua itu, kasian,” goda Isna saling beradu pandang satu sama lain, saling melempar senyuman dengan Almira.
“Pagi-pagi kami berkunjung, tidak mengganggu kalian 'kan?” lontar Krisna dengan gaya datar memandang Wisnu yang duduk berhadapan dengannya.
“T-tidak, sama sekali tidak mengganggu,” jawab Wisnu berpura-pura.
Wisnu mengepalkan jemari tangannya yang tersembunyi di sampingnya saat menatap Almira yang sedang mengigit bibir bawahnya menganggapi kebohongan lucu suaminya.
“Wah … beraninya menertawaiku. Habis kamu nanti, ya,” batin Wisnu merasa gemas kepada istrinya. Almira masih saja menahan tawa dalam hati.
Almira undur diri menuju ke dapur. Ia hendak membuatkan minuman untuk para tamunya. Ia mendadak sedikit bingung, hari masih pagi padahal ia belum menyiapkan apa-apa.
Isna menatap kepergian Almira. Ia ingin sekali mengenal lebih dekat istri dari Wisnu. Seorang perempuan yang dia yakini telah terluka oleh kesalahan pria yang sudah ia sebut sebagai kakak itu. Isna menatap bahagia Wisnu, wajah kebahagiaan terpancar dari wajahnya, bahkan disela tawa bersama Krisna menandakan pria itu tidak dalam tekanan.
"Apa kau bahagia Wisnu? Harusnya kau bahagia. Dia wanita yang terlihat sangat pantas bersanding denganmu." Batin Isna menatap interaksi Wisnu dengan suaminya.
“Shaka sayang, main sama Ayah dulu, ya? Bunda mau bantu Bibi Almira bikin minuman buat Shaka,” ucap Isna mengelus pipi Gembul putranya dengan badan menunduk mensejajari tinggi badan Shaka.
“Siap Bunda … Tobot Shaka meluncurrrrr …,” teriak riang Shaka dengan suara anak-anak yang menggemaskan.
Isna tertawa gemas memandang putranya yang berjalan kaku seolah menjadi robot hingga akhirnya berlari kecil menubruk sang ayah yang sedang asyik bercengkrama bersama Wisnu.
“Mau kemana, Bun?” tanya Krisna sambil meraih tubuh Shaka dalam pangkuannya, sesekali Krisna menciumi gemas putranya0 yang meronta terkekeh karena kegelian.
“Aku bantuin Almira dulu, ya?” ucap Isna meminta ijin.
“Hem, hati-hati. Jangan sampai tanganmu terkena air panas,” jawab Krisna mengangguk dengan senyuman. Isna menanggapinya dengan senyuman pula.
Isna memandang Wisnu dengan malu, selalu saja Krisna terlalu over protektif terhadap aktifitasnya. Wisnu hanya menanggapi dengan anggukan kepalanya memberi semangat untuknya. Cara seseorang mengekspresikan sebuah cinta sangatlah berbeda antara satu dengan lainnya, Wisnu menyadari itu.
Isna segera menyusul Almira di dapur. Terlihat wanita berambut panjang sebahu itu sedang menuangkan teh ke dalam cangkir, pandangannya menunduk fokus dengan apa yang dia lakukan.
“Apa yang bisa aku bantu?” tanya Isna lembut berjalan mengintari meja makan dan berakhir berdiri di samping Almira.
Almira menoleh dengan perasaan gugup, dengan canggung dia memberi senyuman ke arah Isna.
“Oh, Nona tidak perlu repot-repot,” sahut Almira meletakkan tekonya.
“Hahaha … kamu tahu kalau aku bahkan tidak pernah menginjakkan kakiku di dapur, itu menyebalkan bagi wanita. Bukankah kamu setuju?” oceh Isna sambil tertawa kecil. Menatap area dapur Almira dengan perasaan suka cita.
“Istana wanita ada di dapur,” timpal Almira segera diberi jempol Isna.
Almira membalas tawa dan kagum dengan sikap ramah Isna. Bagaimana pun kesan sebagai orang kaya sangat berbeda sekali yang dia nampakkan. Kesan sederhana dan ramah juga hangat sangat mendominasi sikap wanita cantik yang berdiri di sampingnya ini.
“Kak Wisnu sangat beruntung punya istri kamu,” puji Isna masih menyunggingkan senyuman hangatnya ke arah Almira.
Almira tampak salah tingkah dibuatnya. Dia bingung sendiri menanggapi ucapan lembut wanita yang masih saja menarik perhatiannya ini. Pesona yang tidak bisa dia abaikan begitu saja.
__ADS_1
“Benarkah? Mas Inu beruntung menikahiku? Ataukan aku yang beruntung karena menikah dengannya?” batin Almira merasa bingung sendiri.
“Aku masukkan ke dalam toples ya, camilannya?” tanya Isna meminta ijin kepada Almira.
“Silahkan, Nona,” jawab Almira sambil menyerahkan dua toples kosong dari dalam lemari.
Isna merasa sangat senang sekali, dia segera mengunting pembungkus dengan hati-hati dan telaten. Mengisi toplesnya dengan sangat hati-hati. Almira hanya bisa tersenyum memandang.
“Jangan menertawaiku,” oceh Isna sambil tertawa memandang Almira yang menahan senyumannya. “Suamiku sangat aneh. Dia akan memarahiku seperti anak kecil kalau aku sampai ceroboh dan terluka sedikit saja,” ungkap Isna dengan senyuman cerianya.
“Benarkah? Anda sangat beruntung, Nona,” sahut Almira merasa itu sikap luar biasa dari sosok suami kepada istrinya.
“Semua hal kalau kita memandangnya dari sudut pandang positif dan sederhana, pasti semua itu akan terasa menjadi mudah dan menyenangkan, bukankah begitu?” lontar Isna membuat Almira merasa bingung menjawab. Isna tersenyum dengan helaan napas ringan.
“Kakakku bukan orang yang mudah untuk ditakhlukkan. Kau tahu berapa banyak wanita yang naksir padanya?” tanya Isna menggoda Almira. Almira memandang Isna seketika, entah mengapa hal menyangkut wanita selalu mengusik perasaannya. Begitu juga dengan sosok Isna sendiri baginya.
“Ehm … iya 'kah?” tanya Almira menjadi tidak nyaman. Sebuah sikap yang malah disengaja Isna untuk dia pancing.
“Aku kesini karena aku merasa belum memberikan ucapan selamat untukmu, sekaligus berkenalan langsung denganmu. Wisnu melarang kami datang ke upacara pernikahan kalian,” ungkap lsna lagi.
“Terimakasih, Nona. Saya merasa terharu. Anda menyempatkan untuk datang.”
“Jangan memanggilku Nona lagi, aku tidak menyukai panggilan kuno itu. Aku lebih suka dipanggil nama,” pinta Isna sambil mengambil toples dari atas meja. Ia memberi isyarat pengawal yang sedari tadi berjaga di pintu untuk mendekatinya.
“Bawa minuman dan camilan ini di meja Tuan Krisna,” perintah Isna segera diberi anggukan kepala pengawalnya.
Almira hanya bisa melongo menatap nampan berisi minuman di hadapannya diambil alih dua pengawal pribadi Isna. Dia memandang Isna yang memberinya isyarat mengajak untuk duduk. Almira mengangguk menuruti.
“Kenapa kau tidak penasaran kenapa pagi-pagi sekali aku sudah datang berkunjung?” tanya Isna meraih jemari tangan Almira sehingga membuat Almira kaget dan canggung.
“Kenapa, kak Isna? Saya … takut Anda tersinggung kalau menanyakan hal ini. Walau saya memang saya merasa penasaran,” jawab Almira membalas usapan jemari tangan lentik Isna, mereka saling menguatkan.
Isna menunduk sejenak sebelum akhirnya dia menatap Almira dengan senyuman. Ada sebuah guratan kata yang ingin dia ungkapkan tapi nyatanya ia merasa bingung harus memulai dari mana.
“Ceritakan pertemuan dengan kakakku, aku rasa kamu punya hal yang menyenangkan untuk dibahas?" pinta Isna dengan antusias.
“Pertemuan? Pertemuan kami tidak begitu bagus, kami terlibat kecelakan motor. Aku menabrak mobilnya hingga tergores dan lecet,” jawab Almira memandang Isna dengan perasaan canggung.
“Berbahagialah apapun yang terjadi, hem?” ucap Isna segera diberi anggukan kepala Almira.
Sesaat Almira menjadi lebih jelas saat menatap wanita dihadapannya ini. Dia mengingat jelas foto yang terpasang di ruang kerja Wisnu, bahkan ucapan Wisnu tentang ada sosok wanita yang masih tersimpan rapi kisahnya di dalam hati, saat menyindirnya tentang keberadaan Bagus yang masih menjadi alasan untuk menolak pernikahan terasa menyesakkan.
“Apa Anda, Isnandara?” tanya Almira segera diberi anggukan Isna yang tersenyum ceria.
“Aku sudah ganti nama menjadi Isna Happy karena ada beberapa hal yang membuatku harus ganti,” papar Isna jujur.
Almira meraih air mineral dalam kemasan di keranjang sampinya. Ia segera meneguk hingga membasahi tenggorokannya.
“J-jadi … benar. Foto-foto yang masih disimpan Mas Inu adalah foto-foto Anda,” lontar Almira membuat Isna membeliak tercengang menatap Almira.
“Foto? Foto apa?” tanya Isna segera membuat Almira menunduk.
Visual Shaka (2 tahun)
Isna usia 24 tahun
Krisna usia 36 tahun
Ihsan Paundra, usia 27 tahun
Wisnu dan Almira (27 tahun dan 22 tahun)
****
Ujianku sedang dimulai. Saat banyak orang dari masa lalumu datang kembali dan menyapamu. Aku menjadi yakin bahwa aku benar-benar menyukaimu. Aku menyukaimu seberapa besar rasa cemburuku untuk dirimu. (Almira-Wisnu)
Bersambung.
Salam segalanya ~ Syala Yaya🌹🌹
__ADS_1