Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 63 Kunjungan pertama


__ADS_3

Wisnu dan Almira meninggalkan rumah sakit satu jam kemudian. Saat ini mereka berdua sedang menempuh perjalanan menuju dimana tempat itu bagian dari hal menyakitkan bagi seorang Wisnu. Entah sedalam apa perasaannya, ia belum pernah mengunjungi tempat peristirahatan kedua orang tuanya.


Wisnu meletakkan ponselnya di dashboard setelah menekan kontak dari daftar kontak. Dering nada sambungnya segera di sambut pemilik nomernya.


“Saya akan mengunjungi orang tua saya, Tuan. Saya meminta alamat beserta tempatnya,” ucap Wisnu serius.


“Kamu yakin?" tanya Senopati, pria yang mengurus dan ikut membesarkan Wisnu Tama di kediaman Krisna.


”Saya tidak sendiri, Tuan," jawab Wisnu dengan suara tegas. Ia menoleh ke arah Almira yang sedang memandangnya dengan jantung berdebar.


“Baiklah, nikmati kunjunganmu. Ingat, aku juga termasuk orang tua tempatmu bisa pulang," ucap Seno dengan suara tercekat.


Seno menghela nafasnya pelan. Ia tidak menyangka wanita itu bisa sangat berarti, membawa Wisnu menemui kedua orang tua sama saja dengan mau menerima silsilah keluarganya lagi.


”Saya, berterimakasih, Tuan Seno," jawab Wisnu tulus.


“Kamu memang pria yang hebat. Perkenalkan aku dengan istrimu, aku ingin berkenalan dengannya," ucap Seno segera diiyakan Wisnu.


”Selamat sore, Tuan Seno," putus Wisnu menutup pembicaraan.


Wisnu dan Seno sedang berbicara melalui telepon. Almira duduk di kursi penumpang sambil menautkan jemari tangannya terdiam mendengarkan.


Suara canggung antara suami dan pria yang dihubungi bisa Almira rasakan, kedua pria yang sedang berbicara lewat sambungan telepon dan ia bisa mendengar lewat speaker phone yang menyala itu sikapnya mirip sekali. Almira jadi penasaran dengan hubungan mereka berdua.


“Kamu memanggilnya dengan sapaan 'tuan'?" tanya Almira menoleh raut wajah datar suaminya. Wisnu hanya tersenyum sekilas dan kembali datar saat menatap arah jalanan.


”Apa yang akan kita bawa? Aku belum siapkan apa-apa tapi Mas Inu sudah mengajak berkunjung," oceh Almira memainkan jemari tangannya karena gugup.

__ADS_1


Wisnu tersenyum mengalihkan pandangannya ke arah Almira sekilas. Dia sengaja tidak mau memberitahukan kemana tujuannya. Ia juga tidak menyangka bahwa apa yang wanita itu ucapkan tentang masa lalu dimana ia ingin mendengar sendiri dari dirinya benar-benar dia lakukan.


Wisnu merasa istrinya itu tidak cocok jadi seorang stalker.


“Kamu tunggu sebentar di dalam. Aku mau beli oleh-oleh dulu," ucap Wisnu membuka pintu mobilnya dan meninggalkan Almira.


Almira mengamati langkah Wisnu yang berlari kecil ke sebuah toko yang menjual bunga. Pandangannya segera teralihkan saat ponsel di dalam tas kecilnya bersuara. Ia segera mengambilnya dan menghela napasnya saat menatap nama di layar ponselnya. Walau malas, ia segera mengusap layarnya dan menerima panggilan.


”Tidak ku sangka, kamu busuk juga rupanya?" Suara Delia terdengar geram tapi Almira santai menanggapinya. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran masih memandang Wisnu di kejauhan.


“Apa lagi sih, kak?" tanya Almira dengan suara malas.


”Setelah Bagus kamu rebut dariku dan sekarang giliran kamu mau merebut pria yang sudah aku inginkan selama ini?!" Suara Delia meninggi.


“Sebenarnya apa sih maksudmu?" tanya Almira bernada tidak suka. Tangannya mengepal erat saat tawa ejekan Delia terdengar di ujung sana. Almira mengepalkan jemari tangannya.


Sudah Almira pastikan wanita itu kalau sedang berhadapan dengannya pasti akan main cakar-cakaran dengannya seperti saat malam itu.


“Apa kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu dan mas Bagus ada main di belakangku, Delia? Tidak udah sok suci kamu. Aku muak dengan kalian dan berhenti menggangguku. Dan tentang Wisnu, akan aku pastikan dia tidak akan menoleh sedikit pun padamu, jadi jangan berharap kamu bisa berbuat semaunya seperti kamu berusaha memisahkan aku dan Bagus," sergah Almira menutup panggilan.


Ia mencengkeram erat jemari tangannya. Dengan nafas menghembus naik turun ia memejamkan matanya. Rasa terkejut sekaligus hadir saat suaminya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi membawa bunga lili putih dan meletakkan di jok belakang. Almira merengut menatapnya.


”Kita berangkat, nanti kita kemalaman," ucap Wisnu tidak begitu memperhatikan raut wajah istrinya. Ia segera melajukan kendaraannya kembali ke jalan raya dan mulai menyalakan radio kesukaannya. Almira semakin mendengkus kesal sendiri. Dengan cepat ia melengos menatap arah lain.


“Telponan dengan siapa?" tanya Wisnu menatap layar kotor di ponsel milik Almira.


Almira menoleh dan segera meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia masih merengut tidak mau menjawab. Ia lelah menjadi bodoh dan pura-pura tidak tahu. Tapi rasa sakit akan semakin terasa saat ia kembali mencari tahu.

__ADS_1


”Mas tahu 'kan kalau aku sudah hamil?" ucap Almira segera diberi anggukan kepala Wisnu.


Pria itu kembali fokus ke jalanan setelah menatap Almira yang kembali terdiam. Ia tidak bisa menerka apa yang sedang ada di pikiran istrinya itu. Ia hanya menunggu saja dan akan menjawab semampunya tanpa banyak mendebat.


“Rahasiakan dulu ya? Orang tuaku boleh tahu aku hamil baru beberapa minggu," pinta Almira segara diberi anggukan setuju suaminya.


”Delia tadi yang menghubungiku, dia memintaku untuk menjauhi Mas Inu," ucap Almira sambil tiba-tiba tersenyum. Wisnu berdecak memandangnya.


“Ada apa lagi dia? Aku sama sekali tidak tertarik membahasnya," sahut Wisnu ikut tersenyum.


”Aku akan membalasnya. Aku akan memanas-manasinya," ucap Almira tertawa sendiri.


“Astaga, menakutkan sekali kamu ini," komentar Wisnu melihat Almira seperti membuat ide gila di kepalanya.


”Lihat saja, besok di tempat kerja aku bakal bikin dia kepanasan," tambah Almira lagi, “Aku akan membuatnya kesal karena aku sudah berhasil menaklukkan mu," ucap Almira membuat Wisnu tertawa.


Ide gila apa yang sedang dipikirkan istrinya? Wisnu menjadi gemas dengan penggunaan kata 'menaklukkan mu' di dalam kalimatnya. Wisnu berdehem membuang tawa saat mobilnya memasuki gapura tinggi area taman peristirahatan terakhir.


Bersambung …


Orang yang pandai berbahasa belum tentu ia mampu berkomunikasi, tetapi orang yang pandai berkomunikasi sudah jelas ia mampu berbahasa.


By. Syala Yaya,🌹🌹


Terimakasih untuk semua dukungannya ya teman-teman.


Follow IGku juga ya @Syalayaya 🙏

__ADS_1


__ADS_2