
Hari esok telah tiba, bulir-bulir embun kini sudah menguap saat mentari bersinar semakin cerah beesinar. Suara gemericik air terdengar deras, Wisnu kini sedang mandi sedangkan Almira sedang menyiapkan sarapan di dapur. Sengaja pagi ini ia hanya memanggang roti, beberapa aroma jujur saja membuatnya mual, tapi sebisa mungkin ia berusaha terlihat baik-baik saja agar Wisnu tetap memperbolehkan dirinya bekerja. Setidaknya sampai ia ingin berhenti sendiri.
Beberapa saat kemudian Wisnu terlihat sudah menuruni tangga dengan tangan membenarkan letak dasinya. Sambil berjalan ia menatap Almira yang sedang duduk di meja makan, memandangnya.
“Apa aku terlihat tampan?" tanya Wisnu iseng menggoda.
”Perfecto," jawab Almira memberi jempolnya ke arah Wisnu. Keduanya melempar senyuman dan menunduk saling menampilkan rasa geli dan malu.
“Pacaran setelah menikah ternyata mengasyikan," ungkap Wisnu sambil duduk dan mengambil roti yang sudah disodorkan istrinya.
Almira mengulas senyuman tipis. Ia tidak mau berkomentar apa-apa. Ia hanya mengambil segelas susu dan meminumnya.
Wisnu menoleh sejenak Almira setelah menggigit rotinya dan mengecek ponsel.
”kamu nanti bekerja? Tidak mengundurkan diri saja?" tanya Wisnu hati-hati.
Hatinya cukup gundah, saat dia sendiri yang merencanakan pekerjaan untuk istrinya, tapi merasa tidak tega juga saat ternyata Almira sudah mengandung anaknya. Ia terus saja berpikir bagaimana cara menyelesaikan ini secepatnya.
“Jangan mulai lagi deh, Mas. Katanya hamil nggak akan merubah apapun?" Almira merenggut memandang Wisnu.
”Iya, Nyonya. Kamu habiskan sarapanmu, kita berangkat setelah ini," sahut Wisnu mencoba mengalah.
Almira segera mengangguk dan memakan rotinya. Ia merasa belum berselera untuk sarapan. Nafsu makannya belum menunjukkan peningkatan, ia masih bersabar menghadapi rasa mualnya.
“Kita berangkat sekarang saja," ajak Almira segera berdiri membawa serta rotinya sebagai bekal.
Sambil mengecek barang bawaannya Almira berjalan memutari meja makan, tanpa menoleh Wisnu sama sekali yang terus saja memandang aktifitasnya. Karena kesal ia segera membalik badan memototi kesal tatapan Wisnu.
”Berhenti menatapku, aku malu," omel Almira kembali merengut. Wisnu segera mengalihkan pandangannya, ia tersenyum dengan pikirannya sendiri.
“Maaf, aku cuma membayangkan saja, perut kamu nantinya bakal seperti ibu-ibu hamil yang pernah aku temui, aku tidak sabar menantinya," ungkap Wisnu masih tersenyum.
”Ah males, Mas Inu. Padahal aku baru mau kerja hari pertama, sudah disuguhi bercandaan begitu," sungut Almira malah membuat Wisnu tertawa.
“Makin lama ternyata Ira makin manja. Kalau cemberut membuat mas Inu malas pergi bekerja," goda Wisnu membuat Almira semakin tambah melotot kesal ke arahnya.
Wisnu segera berdiri penuh tawa ke arah bak cucian, menaruh piringnya di sana. Ia memandang punggung Almira yang berjalan terlebih dahulu meninggalkannya.
Perjalanan ke kantor berjalan lancar. Seperti biasa, Almira menolak keluar bersama-sama dan memilih berjalan terlebih dahulu ke area tempat kerjanya dan menolak berbarengan dengan Wisnu. Wanita itu merasa takut ketahuan teman-temannya. Walau jelas mungkin pihak HRD tahu nama suaminya Wisnu Tama, tapi dia berharap mereka tidak mengacuhkan masalah nama itu.
”Almira cantik sudah datang," sapa beberapa Chef menyapanya.
“Iya, Chef," sapa balik Almira tersenyum.
”Aku kemarin pas kamu datang, aku masuk jatah libur, jadi kita belum kenalan," ucap seorang wanita cantik memakai seragam mengulurkan tangannya ke arah Almira.
Almira menatap uluran tangan itu dan menyambut hangat dengan jabat tangan. Mereka berdua saling menyunggingkan senyuman.
“Almira, Kak," sambut Almira memberikan namanya.
”Nafa," balas wanita berkulit putih dan hidung mancung itu juga menyambut.
__ADS_1
Mereka saling melepaskan tautan tangan saat Delia masuk ke dalam area pantry dan memandang semua yang ada di dalam satu persatu. Almira dan Nafa menggeser tubuh mereka dengan melangkah ke samping. Mereka berada di barisan belakang para Chef bertubuh tinggi besar hingga postur mereka segera tidak terlihat.
“Kalian tahu apa peraturan di sini?" tanya Delia dengan suara lantang.
Semua orang yang sedianya menata peralatan tempur mereka sejenak menghentikan aktifitasnya. Nafa dan Almira saling melirik mengernyit, belum paham dengan ucapan Delia pagi ini di area tempat kerja mereka.
”Aku sebagai tangan kanan bos kita harus mengumumkan sesuatu bahwa, siapapun tidak boleh menjalin hubungan apapun dengan sesama rekan kerja, kalian mengerti?" lontarnya segera diberi hembusan nafas.
Mereka merasa apa yang Delia lontarkan sudah merupakan peraturan yang sudah mereka ketahui. Sambil berdecak mereka segera melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Nafa dan Almira di bagian tamu segera mempersiapkan buku-buku menu dan menata rapi telapak meja dan vas bunga yang menambah cantik suasananya
“Hei!" panggil Delia dengan suara ketus.
Almira segera menoleh di susul Nafa yang sedari tadi merapikan kursi sambil berjongkok juga ikut berdiri di samping Almira.
”Ikut aku," ucap Delia sambil melenggang meninggalkan kedua wanita yang kini saling memandang bingung.
“Siapa yang disuruh ikut?" tanya Nafa mendadak lola.
Almira menggeleng tidak tahu, sambil mengangkat dagunya ia mengajak Nafa ikut dengannya.
”Kenapa juga tidak bicara di sini saja? Mendadak sok penting deh," omel Nafa mengikuti langkah Almira menuju ke arah mana Delia sudah berjalan terlebih dahulu.
Sikap iseng Nafa muncul ketika Almira berjalan, ia segera meraih pundaknya dan berjalan beriringan. Almira segera tersenyum melanjutkan jalan, mereka tertawa beriringan.
“Dia lagi PMS kali ya?" bisik Nafa di telinga Almira. Almira hanya tersenyum menanggapi.
”Kamu kenapa ikut-ikut?" tanya Delia ketus terhadap Nafa. Gadis seumuran Almira itu memandang Delia dengan kening berkerut bingung.
“Lho, bukankah kamu tadi menyuruh aku ikut, ya? Iya 'kan Almira?" ucap Nafa mencari dukungan.
”Iya tadi dia nyuruh kita ikut," jawab Almira mengamini.
“Ck! Kalian ini sama-sama menyebalkan," lontar Delia memandang sinis dengan tangan bersedekap.
”Kalau kami menyebalkan, kenapa memanggil kami ke sini?" balas Almira merasa malas berhadapan dengan wanita itu.
“Bisa tidak, kamu tidak mengganggu pria orang lain?" tukasnya.
Almira dan Nafa menghela nafas panjang. Mereka berdua hafal, wanita ini akan selalu bersikap seperti ini bila berurusan dengan pria. Almira membalik badan hendak pergi.
”Diam di situ!" bentak Delia berjalan menyusul.
“Kenapa sih, setiap ada hal yang tidak sesuai keinginanmu kamu selalu mengancam?" lontar Almira tanpa menatap. Ia berhenti berjalan.
”Aku sudah menyimpan perasaanku kepada Wisnu jauh sebelum kamu. Seenaknya saja kamu merayunya, keluar masuk hotel seperti wanita murahan!" decak Delia menarik pundak Almira hingga wanita itu tersentak kaget.
Almira berupaya menepis jemari tangan Delia dan mendorongnya keras. Tatapan mereka berdua sama-sama tajam. Nafa hanya berusaha sedikit mendekat dan melihat situasi.
“Jauh sebelum aku?" ejek Almira tertawa lucu.
__ADS_1
”Kenapa kamu campakkan Bagus?" tanya Delia mulai berbicara sedikit pelan. Ia menyibakkan rambutnya dan memasang sikap sok elegan.
“Tanya saja padanya kenapa aku bersikap seperti ini, tanya saja kesalahan apa yang sudah dia lakukan, sampai aku berubah haluan," jawab Almira dengan suara tenang.
”Memang apa yang sudah dia lakukan? Karena dia sudah bangkrut 'kan?" tukas Delia.
“Tidak perlu sok bodoh, Delia. Aku tidak bisa lagi diam saat kamu menginjakku. Saat aku menerima segala konsekuensi dari sikap polosku, untung saja Tuhan berbaik hati dan aku tidak terpuruk karena ternyata Tuhan memilihkan orang yang terbaik untuk memelukku saat kami sama-sama terjebak."
”Bicara yang jelas, memutar saja hingga aku tidak mengerti," desisnya kesal.
“Sudahlah, aku juga malas berbicara dengan orang sok bodoh, padahal jelas ide kotor itu dari kamu," ucap Almira berjalan lagi meninggalkan Delia. Nafa berlari kecil menyusul Almira.
”Aku belum selesai bicara!" decak Delia meradang.
Ia berjalan cepat menyusul Almira dan kembali meraih pundak itu agar berhenti. Ia dorong Almira hingga hampir terhuyung, untung saja ada Nafa yang sigap berlari menahan Almira agar tidak terjatuh.
“Kenapa kamu kasar sekali?" protes Nafa memasang badannya menghalau tangan Delia ke arah Almira.
”Apa kamu! Diam dan jangan ikut campur, minggir!" bentaknya kesal.
Nafa menggeleng, ia merasa sifat Delia ini dari mengenalnya di sekolah SMA hingga bertemu sekarang nyatanya sama saja. Mau menang sendiri dan bersikap sok berkuasa. Dengan sikap menantang ia berjalan mendekat dan berhenti tepat berhadapan dengan Delia dengan tangan berkacak pinggang.
“Lalu kamu mau apa?" tantang Nafa memiringkan kepalanya. Delia membuang muka dengan kesal.
”Mau apa?" jawab Delia membalas bertanya.
Delia kembali menatap Almira yang masih berdiri memandang. Sambil mendorong Nafa menjauh Delia berjalan mendekat ke arah Almira lagi.
“Urusanku bukan denganmu," desisnya berjalan sambil mendorong Nafa dengan tangannya.
Nafa memutar badan dan berlari kecil mengikuti langkah Delia, ia merasa kalau Delia teman sekolahnya itu pasti hendak berbuat kasar. Maka, saat tangan Delia berusaha memukul Almira, Nafa meraih rambutnya dan menjambak Delia dengan sekuat tenaga.
”Astaga, lepas." Delia mundur dengan rasa pedih di seluruh kulit kepalanya.
“Lepas dulu Almira," balas Nafa masih menjambak rambut Delia.
”Astaga! Dasar wanita gila, aku bakal balas kamu," decaknya meraih tangan Nafa dan mencoba membalas menyakiti Nafa.
Bersambung.
Terimakasih semuanyaaaa masih berkenan mengikuti Cinta Wisnu&Almira. Hari ini saya kebut 6 bab Ending yaa.
Jangan lupa Follow IG @Syalayaya untuk info novel baru saya ya.
Salam Cinta dan persahabatan dari saya ~Syala Yaya🌻🌻
Terimakasih🙏😍😍
__ADS_1