
Bab extra part
Malam pesta resepsi pernikahan Wisnu dan Almira telah usai. Para tamu undangan sudah tampak mulai meninggalkan acara dan hanya menyisakan beberapa teman terdekat Wisnu. Almira segera menemui kedua orang tuanya di kursi tamu. Tampak mereka menyunggingkan senyuman hangat dan memeluknya dengan erat.
"Kamu terlihat cantik, Sayang," puji Halimah menyentuh pipi putrinya, ia merasa sangat bahagia melihat anak sulungnya sudah mendapatkan pendamping hidup yang baik.
"Terima kasih, Ibu," jawab Almira tersenyum.
Tampak adiknya, Ersa mengerucutkan bibirnya menggoda. Almira segera merengkuhnya ke dalam pelukan bersama ibunya juga. Sang ayah ikut menepuk pundak Almira dan Ersa, memberi rasa bangga punya putri cantik seperti mereka berdua.
"Selamat malam, Pak, Bu," sapa Wisnu ikut bergabung. Setelah beberapa rekan kerjanya dulu pulang ia segera ikut menemui kedua mertuanya.
Halimah dan Ramlan segera menoleh. Wisnu dengan senyuman hangat mengangguk menyapa. Sungguh menantu tampan itu berhasil membuat Ramlan segera menyambut dan memeluknya dengan menepuk punggungnya bangga. Almira dan ibunya juga Ersa melepas pelukan dan mengalihkan perhatiannya kepada Wisnu dan ayahnya.
"Terima kasih sudah membantu bapak menjaga Almira," ucap Ramlan melepas pelukannya. Wisnu mengangguk dan beralih menatap ibu mertuanya dan mengambil jemarinya dan menciumnya penuh rasa sayang dan menghormati.
"Terima kasih, Bu, sudah mengijinkan Almira tinggal di rumah Wisnu," ungkap Wisnu segera di elus kepalanya oleh Halimah seperti seorang ibu kepada anak laki-lakinya.
"Berbahagialah, ya, kalian berdua. Kalian sebentar lagi akan memiliki anak. Cucu kami berdua. Jadi, ibu dan bapak harap kalian akan saling menjaga diri kalian masing-masing, jangan sampai berbuat hal yang akan merusak hubungan kalian berdua," ucap Halimah memberi nasihat.
"Baik, Bu," jawab Wisnu melepaskan tangan itu dan menyunggingkan senyuman.
"Kak Ira dan Mas Wisnu membuatku iri. Menyelenggarakan resepsi di tempat mewah begini," celetuk Ersa membuat semua orang menatapnya. Ia dengan pede nyengir menampilkan deretan gigi dan lesung pipinya. Halimah segera meraih pundaknya dan memeluk gemas putri bungsunya.
"Kamu sekolah dulu yang bener, nanti kalau nikah Mas sponsori resepsinya di gedung ini, bagaimana?" tawar Wisnu membuat Ersa menegakkan kepalanya dan menepuk tangannya karena merasa kegirangan.
"Jeongmal? Sungguh? Benarkah? ah ... terima kasih Kakak kerenku, idolaku?" teriak Ersa sambil memeluk ibunya senang.
Semua orang tertawa melihat tingkah aneh Ersa. Sambil ikut tertawa Wisnu meraih jemari Almira berniat mengajaknya menemui Dhepe, ia tidak mau hubungan keduanya masih saja memburuk setelah apa yang terjadi.
"Kita menemui teman-teman sebentar sebelum mereka pamit," bisik Wisnu di telinga istrinya. Almira mengangguk dan berpamitan kepada kedua orangtuanya.
"Nanti akan ada sopir yang datang menjemput. Bapak dan Ibu malam ini menginap di rumah kami, ya?" pinta Wisnu menghadap kedua mertuanya.
"Kalau begitu kita pamit pulang sekarang saja, ya? Bapak sudah lelah sepertinya," sahut Halimah merasa setuju dengan permintaan menantunya.
"Baiklah, silahkan. Saya akan menghubungi sopir untuk menyiapkan mobilnya."
Wisnu segera meraih ponsel di saku sambil meraih pundak Almira agar berjalan menemui teman-temannya. Ia tidak mau sampai mereka semua bosan menunggu dan pulang diam-diam tanpa sempat bertemu.
"Kita ketemu lagi nanti di rumah," ucap Halimah segera meraih tasnya dan menggandeng Ersa untuk diajak keluar dari aula hotel. Ramlan mengikuti mereka berdua dari belakang.
Almira berjalan pelan mengikuti ke mana suaminya mengajak. Setelah selesai melakukan penggilan kepada sopir dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku akhirnya Wisnu menatap istrinya juga. Almira segera mengalihkan pandangannya karena tertangkap basah sedang mencuri pandang.
"Semoga semakin jatuh cinta," ledek Wisnu semakin membuat Almira malu.
"Apaan, sih?" sangkal Almira merasa Wisnu menggoda karena ia dari tadi menatap dirinya.
"Sepertinya cuma aku yang jatuh cinta," simpul Wisnu memberi senyuman tipis, raut wajah Almira menampilkan kerutan kening bingung.
Wisnu mengabaikannya dan menarik jemari lembut itu ke arah Isna, Dhepe dan Ihsan sedang bercengkrama menjaga anak-anak mereka. Almira sedikit menahan langkahnya saat menatap Dhepe sedang memandang kedatanganya.
"Kak Dhepe masih marah apa tidak, ya?" gumam Almira mengeratkan jemarinya.
__ADS_1
"Untuk apa dia marah, kalau aku yang jatuh cinta dan melamarmu duluan. Tanpa mengenalnya pun, aku tetap akan menikahimu," bisik Wisnu membuat Almira merona, sambil mencibir dia mencubit kesal suaminya.
"Pinter merayu," balas Almira hanya diberi senyuman Wisnu.
Isna segera berdiri dan melangkah mendekat saat melihat kedatangan Wisnu dan Almira. Pasangan yang membuat iri dengan jarak usia yang sangat ideal. Dhepe masih berdiri di tempatnya belum mau mendekat, sedangkan Ihsan segera menggendong Sakha dan menggandeng tangan kecil Azka agar mau diajak berhenti bermain kejar-kejaran.
"Kita ijin mami kamu kalau mau main," rayu Ihsan kepada Azka, anak kecil itu mendongak menatap Ihsan dan mengangguk paham.
Ihsan segera berjalan pelan mengiringi langkah kecil Azka dengan masih menggendong Sakha menuju ke tempat Isna dan Dhepe berada. Ia juga ingin pamitan pada bosnya karena mau pulang.
"Seru ini, Almira akan berhadapan lagi dengan Dhepe, apa mereka berdua akan saling berdebat lagi, ya," gumam Ihsan mengamati. Ia berjalan mendekati Dhepe berada.
"Selamat, ya, Almira. Malam ini kamu luar biasa serasi dengan tuan patung hidup ini," puji Isna segera meraih jemari Almira, memisahkan tautan tangan pasangan sedang berbahagia itu dan memeluk Almira. Tidak lupa mengerlingkan kedua matanya ke arah Wisnu, Wisnu menggeleng sambil tersenyum dengan tingkah konyol wanita mantap nona mudanya itu.
"Kalau dia tidak siaga dalam menjagamu, laporkan padaku," bisik Isna tapi sengaja masih bisa didengarkan oleh Wisnu yang berdiri di samping mereka berdua. Wisnu menunduk tersenyum mendengarnya.
"Siap, Kakak Ipar," jawab Almira sambil tertawa. Isna juga tertawa dan melepaskan pelukannya. Mereka berdua saling memegang jemari tangan.
"Kita temui Kak Dhepe, yuk?" ajak Isna memandang Wisnu dan Almira.
Almira mengalihkan pandangannya ke arah Dhepe dan mengangguk setuju dengan ajakan Isna untuk bertemu lagi. Pertemuannya di Halte seminggu yang lalu menyisakan rasa marah, tapi kini ia punya jawaban yang akan membuat hubungannya dengan kakak mantan pacarnya itu bisa saja membaik.
Dengan langkah pelan dia mengikuti Isna yang menggandeng tangannya. Wisnu berjalan mengikuti dari belakang. Ia ingin sekali Almira dan Dhepe menyelesaikan masalah akibat salah paham ini dengan baik, malam ini juga.
"Selamat malam, Kak," sapa Almira memandang.
Dhepe mengangguk dan menatap tangan Almira yang terlihat hendak mengulurkan tangan dengan ragu-ragu.
"Masalah Minggu lalu, aku minta maaf," ungkap Dhepe mengulurkan tangannya lebih dulu. Almira segera menjabat tangan Dhepe dan saling melepaskan dengan sikap canggung.
Isna dan Wisnu saling memandang dan mengangkat bahu bersamaan.
"Aku hanya sedih saat melihat adikku terpuruk," jawab Dhepe lebih terbuka dan jujur dengan maksudnya. "Bukan karena Wisnu, masalah itu bukan murni kesalahanmu memberi informasi, tapi karena adikku begitu terpuruk dan berubah sifatnya sejak tahu kamu memutuskan hubungan dengannya dan menikah, aku jadi membencimu," tambah Dhepe memberi alasan.
Almira mengembus nafas, ia menoleh ke arah Wisnu yang memberinya anggukan kepala tanda memberi ijin untuk menjelaskan. Almira mengangguk mengerti dan berbalik menatap kembali Dhepe di hadapannya.
"Soal itu coba tanyakan baik-baik pada mas Bagus apa masalahnya, Kak. Jangan hanya melihat dan menyimpulkan sendiri tanpa mencoba mencari tahu kebenarannya. Apalagi asal main tuduh tanpa konfirmasi terlebih dahulu sumbernya. Bukankah kak Dhepe itu kakak kandung mas Bagus. Aku rasa kalian bisa saling bertanya secara pribadi karena masih satu rumah," saran Almira membuat Dhepe sedikit tersinggung dengan ucapan itu.
"Apa kamu sedang mengajariku bagaimana cara bersikap?" tanyanya tidak nyaman.
"Membela boleh, tapi Kakak harus tahu mana cerita yang benar dan mana yang salah. Jangan langsung percaya walau cerita itu dari adik Kakak sendiri," seloroh Almira masih bersikap tenang.
Dhepe menatap Wisnu yang segera melengos, Dhepe merasa bingung sendiri menanggapi ucapan Almira terhadapnya. Ia mengaku salah juga, tidak bertanya baik-baik terhadap Almira dan hanya mengedepankan kemarahan semata. Hanya percaya kepada adiknya sendiri.
"Maaf, saat itu aku sedang berkabung. Jadi, pikiranku saat itu sedang tidak jernih," aku Dhepe menunduk.
"Lalu Kakak bisa seenaknya saja menuduh dan berteriak kepada orang lain?" tegur Almira dengan senyuman tipis.
Dhepe menatap kembali Almira. Ia tidak menyangka Almira menaruh kemarahan itu juga terhadapnya. Ia bingung sendiri dalam menyimpulkan keberanian wanita itu menyanggah tuduhannya.
"Yang jelas, aku menikah dengan mas Wisnu seratus persen karena ada andil Mas Bagus di dalamnya. Itu garis besar yang harus Kak Dhepe ketahui. Untuk lebih jelasnya silahkan tanyakan sendiri kepada mas Bagus," tegas Almira.
"Apa maksudmu?" tanya Dhepe belum mengerti.
__ADS_1
"Katakan padanya juga, kalau aku berterima kasih atas semua rencananya hingga aku bisa mendapatkan seorang suami yang luar biasa menjagaku seperti sekarang ini. Dia pasti akan paham dan sangat mengerti dengan apa yang aku katakan ini," tandas Almira menampilkan wajah lega, ia memandang Wisnu dan Isna yang memberi dukungan dengan senyuman menguatkan.
"Baiklah, aku terima. Aku akan menyampaikan semua yang kamu katakan dan akan mencari tahu kebenaran dari apa yang diceritakan Bagus kepadaku," sambut Dhepe mengangguk.
Almira mengangguk senang, ia merasa sedikit lega dengan apa yang berhasil ia keluarkan. Himpitan yang jujur saja selalu membayanginya. Kemarahannya kepada sosok Bagus bisa ia luapkan lewat kakaknya, sekaligus mengetahui bahwa Dhepe tidak lagi mempermasalahkan kesalahannya di masa itu.
"Jadi ini artinya masalah kalian berdua sudah selesai?" sela Ihsan dari belakang.
Pria penyayang anak-anak itu segera melepaskan tangan Azka dan membiarkan anak itu berlari mendekati ibunya. Dengan pelan pula ia menurunkan Sakha dari gendongannya, menggandeng tangannya mendekati Isna.
"Bagiku sudah," sahut Almira melirik Dhepe. "Kalau masih mau berlanjut boleh, aku juga penasaran bagaimana cara mas Bagus mengelak tuduhan. Kalau perlu aku bisa saja melaporkannya atas perencanaan tindakan kriminal terhadapku, saksinya ada," sambung Almira, ia merasakan pundaknya disentuh suaminya, menandakan ia sudah cukup jelas mengungkapkan perasaannya.
"Sudah, pasti Dhepe mengerti, kok," sela Wisnu menarik jemari istrinya mundur dan menggandengnya agar berdiri di sampingnya.
"Baiklah, urusan kita clear sampai di sini. Kita lupakan masa itu. Soal Bagus aku akan memaksanya berbicara jujur. Maaf selama ini hanya mau mendengar dari sisi sepihak saja," ucap Dhepe menerima.
"Baiklah. Kita damai," sosor Ihsan dengan suara lantang. Ia bertepuk tangan dan tertawa sendiri, semua memandangnya sambil tersenyum apalagi saat ia dengan bersemangat menepuk tangannya dengan gaya seperti artis K-Pop dalam bergaya.
"Mamih," panggil Azka menarik ujung jemari Dhepe dan menggoyangnya meminta perhatian.
Dhepe segera menunduk dan menyamakan tingginya dengan Azka putra kecil tampannya. Sambil mengelus pipi Azka ia mendekatkan pipinya minta dicium.
"Emuach," ucap Azka sambil mencium pipi Maminya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Dhepe mengangkat tubuh putranya dan menggendongnya dengan dekapan sayang.
Azka dan Dhepe saling memandang sayang, pandangan seorang ibu dan anaknya. Azka menoleh ke arah Ihsan yang segera memainkan bibirnya mencibir kelakuan pamer Azka terhadapnya.
"Om Ihsan ganteng," celoteh Azka diberi tawa semua yang ada di sana.
"Jelas," sahut Ihsan bersedekap tangan mengakui pujian anak kecil itu dengan gaya yang lucu. Azka dan Sakha tertawa bersamaan.
"Kalau begitu, Om mau enggak jadi Papinya Azka, Azka nggak punya Papi, Om," celetuk Azka dengan suara imut khas anak-anak, Ihsan masih bersikap cool tapi seketika ia membelalak mata memandang ke arah Azka dan Dhepe.
Terlihat Dhepe juga terkejut dengan celotehan putranya. Ia jadi menunduk karena malu sendiri.
"Wah, Ihsan dilamar seorang putra dari mendiang kakakku," seloroh Krisna yang ternyata sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka, semua yang ada di sana tertawa bersama. Dhepe memandang Krisna dengan anggukan kepala menyapa. Ia segera mendekap erat putranya dengan batin kembali sedih, mengingat mendiang suaminya Imran, suami yang sangat mencintainya. Ia merasa bersyukur, pria kesepian itu pernah hadir di dalam hidupnya dan menganugerahkan seorang putra tampan dan cerdas, buah cinta mereka berdua. Azka Nalendra.
Tunggu bonus Chapter berikutnya yaa🙏🤗🤗
Cinta itu bisa hadir kapan saja, saat kamu membencinya sekalipun.
Saat benci datang maka secara tidak sadar rasa cinta juga mulai hadir menyapa.
Rasa benci dan cinta yang merasuki bisa membuat kita selalu ingat, selalu memantau, ingin tahu apa saja yang sedang ia lakukan, ia kerjakan dan ia pikirkan.
Benci dan cinta perbedaannya sangat tipis, bahkan rasanya sama saja. Sama-sama mendera batin.
Bedanya saat cinta yang hadir, kamu ingin meraihnya agar kuat dan tegap berdiri.
Kalau benci, kamu ingin menghempaskanya dan mendorongnya agar terjerembab jatuh tersungkur. (Almira-Dhepe)
By. Syala Yaya🌻🌻
__ADS_1
Salam Cinta dari Almira dan Wisnu untuk kalian semua 😍😍