Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 81 Ciihh Mantan! (Aku Sudah Bahagia)


__ADS_3

'Kebahagiaanku tidak hanya diukur dari sebanyak harta yang kamu berikan, tapi seberapa kuat kamu memberi keyakinan dan bahasa yang membahagiakan hingga rasanya aku yakin bahwa perasaanmu murni tidak pernah terbagi untuk sosok yang lain.'


--Syala Yaya--


🌻🌻🌻🌻🌻


Almira menatap sekilas pria kusut itu kemudian beralih kembali membaca bukunya. Baginya urusan dengan Bagus sudah selesai setelah malam itu; ia menjelaskan dan memaafkan Bagus melalui kakaknya --Dhepe.


"Pagi ini aku bertemu dengan Kak Dhe," ungkap Bagus seraya melangkah maju mendekat ke kursi taman yang di duduki Almira.


"Dia melayangkan tuduhan padamu?" tanya Almira acuh tak acuh.


"Iya, dan dia juga memukulku," ungkapnya lagi.


"Sudah sepantasnya," sahut Almira datar tanpa menoleh sama sekali.


"Apa kamu mau memaafkan aku?" tanyanya ragu-ragu.


"Kalau kamu jadi aku?" balik Almira.


"Sampai mati mungkin saja tidak akan kumaafkan."


"Nah, itu tahu," sahut Almira mengulas senyuman miring.


Mereka saling memandang sejenak hingga Bagus memilih untuk menunduk, sekian lama memendam rindu hingga rasanya gila bila harus berhadapan dengan gadis hampir dua tahun mengikutinya hampir setiap waktu.


"Aku iri sama Wisnu," ucapnya kemudian membuat Almira melontarkan tawa.


"Kenapa iri?"


"Kamu melakukan hal yang sama terhadapku dan Wisnu. Mengikutinya kemana saja pria itu pergi, persis apa yang kamu lakukan padaku dulu," ungkap Bagus lagi seraya mengembuskan napas dan duduk di samping Almira yang terlihat biasa saja duduk bersandingan dengannya.


"Apa kamu menyesal?"


"Iya, sangat," jawabnya mengetatkan bibir menahan geramnya perasaan yang timbul terhadap wanita di sampingnya itu.


"Kalau begitu jangan ganggu hidupku lagi, jangan menampakkan wajahmu lagi. Kita berdua sudah menemukan jalan hidup masing-masing. Aku yang mendapatkan suami luar biasa menyayangiku, yang dulu tidak kudapatkan dari sosokmu. Tentu saja kamu saat ini juga sudah mendapatkan kesuksesan dalam bidang pekerjaan seperti impianmu, kan?" ucap Almira menutup bukunya dan menoleh ke arah Bagus yang menatapnya juga.


"Kamu sudah bahagia?" tanyanya dengan suara bagai tercekat di tenggorokannya.


"Tentu saja, aku sekarang ini menikmati perhatian luar biasa dari Mas Inu, bukankah dulu aku tidak pernah mendapatkan semua itu darimu kecuali aku yang berusaha mendapatkan perhatianmu," sindir Almira pada kisah mereka berdua yang pernah dijalani.

__ADS_1


"Maaf, aku dulu terlalu terobsesi dengan standar kesuksesan yang diberikan orang tua padaku," jawabnya memandang Almira dengan sorot mata malu.


"Sudahlah, itu masa lalu, Mas, aku lupa. Aku kini sadar, memaksa perasaan orang itu tidak mudah, dan tentu saja menyia-nyiakan perasaan tulus orang itu juga akan membawa penyesalan ketika orang tersebut pergi. Jadi, inilah alasan kenapa aku membuka hati untuk suamiku, melupakan apa yang terjadi pada kami hingga harus melalui tahapan ini, aku belajar banyak darimu."


Almira dan Bagus terdiam, saling menunduk mengusap jemari masing-masing. Bagus tidak bisa menyela pembicaraan lagi karena bahasa Almira cukup jelas. Melupakan masa lalu tapi tidak bisa memaafkannya.


"Ira?" Panggilan Wisnu membuatnya seketika menoleh.


"Oh, Mas Inu?" sahut Almira berdiri seraya berjalan mendekati suaminya.


"Ngapain kalian duduk berduaan?" Terlihat sekali Wisnu memasang wajah geram, lirikan matanya menajam dengan beberapa kali mengembus napas.


"Siapa yang berduaan?" sanggah Almira sudah berjalan dan memeluk lengan suaminya.


"Nostalgia sama mantan?" sindir Wisnu masih bernada kesal.


"Mantan yang mana?" Almira memasang wajah imutnya sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.


"Jangan merayu deh, nggak mempan. Lagipula di tempat umum peluk-peluk." Wisnu mengucap kesal.


"Nggak merayu, cuma menggoda," ucap Almira terkekeh. "Kalau nggak mempan aku pulang saja kalau gitu, menunggumu rapat rasanya kakiku sudah pegal."


"Capek, ya kamu?" tanya Wisnu mengingat lagi telah meninggalkan Almira selama dua jam di taman.


"Siapa suruh duduk berduaan sama mantan."


"Siapa yang berduaan?" sanggah Almira lagi.


"Nah, tuh sama Bagus ngapain?" tegas Wisnu kesal.


"Memangnya di sini ada mas Bagus, ya? Di mana, sih?" tanya Almira memutar kepala seolah mencari sosok makhluk tak kasat mata.


"Kamu jangan iseng deh, Ir."


"Beneran, kalau aku ketemu mas Bagus, aku bakal bilang makasih sama dia, udah bikin aku nikah sama Mas Inu," ucap Almira tersenyum sangat manis.


"Bohong," balas Wisnu walau jelas wajahnya tidak mampu menahan kedut sudut bibirnya menahan senyuman merona bahagia.


"Sungguh, aku mah, bersyukur. Nggak tahu deh, kalau Mas Inu." Almira melepaskan tautan tangannya dan mundur beberapa langkah.


"Mas Juga bersyukur."

__ADS_1


"Nah, kalau gitu, Ira mau nostalgia sama temen-temen di restoran."


"Ya sudah kita ke sana, aku anterin," balas Wisnu menarik pinggang Almira dan membalik badan meninggalkan jalan setapak taman, meninggalkan Bagus yang masih duduk di kursi taman, memandang dengan wajah muram.


Almira berjalan diiringi Wisnu. Pria itu menuntunnya dengan menggandeng tangan hingga kehangatan menjalari keduanya. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka memberi salam, Wisnu dan Almira dengan kompak membalas sapaan mereka semua dengan senyuman bahagia. Hingga tibalah mereka berdua di depan resto, menatap Ihsan yang juga baru saja dari sana, menenteng paper bag dengan langkah semakin cepat mendekati mereka.


"Eh, Nyonya Tama di sini," sapa Ihsan memberi senyuman.


"Apa itu?" tanya Wisnu mengintip isi paper bag yang dibawa Ihsan.


"Anu, Pak." Ihsan meringis tidak menjawab.


"Pak Inu," koreksi Almira bermaksud menggoda Ihsan yang terlihat gugup.


"Iya, Pak Inu," sahut Ihsan segera diberi wajah masam Wisnu.


"Main nggak jujur, sembunyi-sembunyi nih ceritanya?" sindir Wisnu segera diberi kibasan tangan Ihsan.


"Nggak gitu, Pak. Ini soalnya ada urusan sama mantan Pak Wisnu jadinya nggak enak mau cerita," sahut Ihsan menjebak.


"Mantan siapa?" sela Almira melesak ke depan, memasang badan hingga terpaksa membuat Wisnu melotot kesal kepada Assisten-nya itu.


"Iya, Mbak Ira, mantan Wisnu yang--"


"Kenapa kamu nggak langsung pergi?" potong Wisnu sembari mendorong Ihsan dan menarik Almira menjauhinya.


"Mantan mas Inu siapa sih? Aku jadi kepo."


"Siapa lagi, kalau bukan kakak mantanmu!" desis Wisnu kesal lagi.


"Cihhh, mantanmu yang itu?" ledek Almira mendesis.


"Cihhh, mantanmu yang itu?" balas Wisnu tak kalah mencibir.


"Ciiieehhhh, aku yang bakal mempertemukan para mantan kalau berhasil mengajaknya ke pelaminan," celetuk Ihsan di belakang mereka berdua.


"Apa sih, ikut-ikutan nyahut!" Almira dan Wisnu sama-sama nyolot membalik badan hingga seketika Ihsan meloyor pergi membuat jarak aman dari amukan.


*Tunggu extra part berikutnya ya❤️


__ADS_1


Terima kasih untuk dukungannya Inu&IraLovers ❤️❤️❤️


Salam Manis dari --Syala Yaya--


__ADS_2