Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 13 Berbeda Keyakinan


__ADS_3

Selamat Membaca


Ponsel Almira terlempar begitu saja ke lantai. Video yang masih berputar tidak serta merta mati karena ulahnya.


Beberapa saat kemudian ponselnya mati dan berganti sebuah panggilan bertubi-tubi hingga membuat Almira ngeri sendiri. Dengan wajah ketakutan dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya diiringi do'a-do'a hingga akhirnya dirinya terlelap.


Hingga pagi menjelang, jam sudah menunjuk pukul setengah lima pagi. Suara adzan subuh berkumandang membuat Almira terjaga dengan sendirinya. Segera meraih handuk dirinya keluar kamarnya menuju ke rumah belakang hendak mandi.


“Kompornya ntar matiin ya, Neng?”


Dengan langkah tergesa ibunya merapikan mukena di tubuhnya dan berjalan keluar dari rumah belakang saat melihat putrinya itu sudah bangun. Ibunya setiap pagi shalat berjama'ah di Masjid tidak jauh dari rumahnya.


“Hem,” jawab Almira mengangguk dengan mata mengangguk.


Almira memandang punggung ibunya dengan wajah kembali merasa bersalah. Merasa sudah berbuat salah, dirinya terduduk lesu di depan pintu kamar mandi dengan air mata yang hampir tumpah.


Apa dengan cepat menikah, rasa sesak ini akan cepat menghilang?


“Kamu tidak apa-apa?”


Suara Wisnu mengagetkannya, dengan mendongak menampakkan wajah memerah dia segera mengusapnya dengan handuk. Menuduk lagi membuang muka.


“Awas mengirimiku video horor lagi,” lontar Almira mengalihkan suasana.


“Kau takut?” sahut Wisnu tersenyum senang.


Dengan langkah pelan melewati Almira, Wisnu mematikan api kompor yang digunakan untuk memasak air yang sudah mendidih.


“Aku mau mandi, kalau mau shalat kau bisa menggunakan mushala kecil di rumah ini, sebelah kamarku.”


Dengan lesu Almira kembali berdiri dan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Wisnu yang masih mematung memandangnya bingung tapi dia abaikan saja.


Segera mengguyur rambut panjangnya dengan air dingin hingga membuatnya menggigil, Almira membasuh tubuhnya yang terasa kotor. Butuh waktu dua puluh menit hingga dia selesai dengan luapan perasaannya.


Berjalan menuju ruangan suci yang dia maksud, Almira bisa melihat Wisnu berlari kecil dari kaca jendela samping rumahnya. Gadis itu mengabaikan pemandangan itu dan lanjut pada rutinitas berdo'a di pagi hari sebelum waktunya habis.


“Ira, bantu ibu siapin sarapan, gih.”


Suara ibunya membuat gadis itu menoleh saat berjalan menuju ke dapur. Menarik gelas dari rak dan mengambil air di dispenser, segera meneguknya, menghilangkan sensasi tenggorokannya yang kering kerontang.


“Ibu masak apa?” tanya Almira sambil mendekat.


“Ayam goreng sama pengen bikin sayur bayam,” jawab ibunya masih mondar mandir sibuk sendiri.


“Hem,” sahut Almira mengangguk.


“Kamu petik cabai sama daun kemangi juga daun bayam di sawah, ya?” pinta ibunya segera diberi dengusan napas Almira, dia paling malas disuruh ke sawah untuk memetik sayuran.


Banyak ulat berbulu lincah sering dia temui di area tanaman, membuatnya bergidik ngeri.


“Ajak calon suamimu juga, biar sekalian mengenal pekerjaan bapakmu,” seloroh ibu membuat Almira menggeleng cepat sambil meraih tas kantong untuk dibawa serta olehnya.


“Ira sendiri saja,” sahut Almira memakai sandal dan meninggalkan ibunya yang senyum-senyum melihat anaknya malu-malu seperti dirinya sewaktu muda dulu, saat dijodohkan dengan bapaknya.


Malu tapi mau. Ibunya terkekeh sendiri.


Almira berjalan santai keluar rumah, menengok ke arah samping dimana Wisnu tadi melakukan peregangan ringan, tapi nampaknya pria itu sudah tidak ada di sana.


Menyusuri jalan terabasan dari rumahnya. Jalan berbahan cor-coran membuat langkah Almira semakin mudah dan ringan.


Merasakan hembusan angin pagi yang sejuk dingin menyentuh pori-porinya membuatnya merinding, dia segera merekatkan jaketnya.


Suasana sepi lengang di sawahnya yang berada di barisan paling ujung membuatnya harus melewati beberapa jalan sempit petak sawah dengan hati-hati.

__ADS_1


Ibunya menggunakan lahan sebelah sawah yang kering untuk bercocok tanam sayuran untuk kebutuhan sehari-hari.


Dengan semangat Almira merangsek masuk ke dalam lahan dan mulai memetik aneka sayuran yang tumbuh di sana, warna merah cabai menari-nari seakan menggodanya untuk segera meraihnya dan membawanya pulang.


Suasana sepi.


“Perlu dibantu?”


“Astaga, huh!” Almira tersentak kaget, dengan kesal dia dorong tubuh itu menjauh dengan mengusap dadanya yang berdebar-debar.


Wisnu terkekeh pelan hingga terduduk diantara pingiran tanaman di kanan kirinya.


“Kenapa bisa di sini? Mengagetkan saja,” sungut Almira mendengus kembali keposisinya dan mengambil kantongnya yang sempat terlepas dari genggaman.


“Membantumu,” jawab Wisnu masih duduk memandang Almira yang fokus memetik cabai. “Sepertinya kamu tadi celingukkan mencariku,” tambahnya lagi menggoda.


“Ngasal ya kalau ngomong?" cerocos Almira mencibir. "Kau hanya memandangiku, bantu apanya?” sungutnya lagi melihat Wisnu yang menandanginya terus.


“Jadi benar, keyakinan kita berbeda?” resah Wisnu dengan wajah tertunduk sedih.


Almira segera menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah Wisnu dengan wajah serius. Bisa dia lihat tatapan Wisnu ke arah tanah menghujam tapi pikiran pria ini sangat dalam. Pria dihadapannya itu mengacak rambutnya dengan kekesalan.


“Apa maksudmu?” tanya Almira menekuk kakinya ikut duduk di samping pria yang wajahnya kembali terlihat memerah itu dengan perasaan bingung.


“Kenapa selalu seperti ini? Halangan ini, halangan menyesakkan ketika aku berusaha untuk membuka hidup baru?” lontarnya dengan wajah memerah. Sudut mata menampakkan luka, Almira bisa melihatnya dengan jelas.


“Aku tidak mengerti maksudmu,” balas Almira dengan suara lemah. “Sudah kubilang, pergilah dari hidupku, aku membencimu. Kenapa kau masih ngotot untuk mempertanggungjawabkan semuanya?”


“Karena aku bukan pria rese seperti apa yang ada dipikiranmu,” jawab Wisnu menatap Almira dengan kekesalan.


“Apa bedanya? Huh! Aku benar-benar tidak bisa melihat sisi baik darimu.”


Almira segera berdiri hendak meninggalkannya tapi dengan cepat Wisnu meraih tangan itu hingga menghentikan cepat langkah wanita yang mengusik pikirannya itu.


Almira tertegun menatap pergelangan tangannya yang digenggam dengan erat, menampakkan semburat warna merah kulitnya karena begitu kuatnya pautan itu terikat. Dadanya sesaat seperti dingin oleh semilir angin namun kemudian kembali sesak.


“Jangan merubah apapun dalam hidupmu, hanya demi alasan yang sebenarnya bisa kau hindari, itu tidak baik,” jawab Almira menatap mata Wisnu dengan sorot mata lebih bersahabat.


“Aku sudah memikirkannya, sejak mencari tahu tentang hidupmu. Aku merasakan kedamaian ketika memasukinya dan aku tidak pernah dekat dengan Tuhan seumur hidupku yang kacau ini, aku mohon bimbing aku,” ucap Wisnu dengan suara tenangnya namun serius.


Almira tergelak, menertawai dirinya sendiri. Merasa seperti ditampar oleh pria dihadapannya ini. Menyadarkannya pada satu hal, ilmunya, hidupnya sama saja, dia tiba-tiba merasa sangat malu.


“Aku sama denganmu, sama-sama bukan apa-apa,” jawab Almira menunduk.


“Bagaimana kalau kita sama-sama belajar?” lontar Wisnu membuat kepala Almira yang tadinya menunduk segera memandang Wisnu dengan sorot mata terpana.


“Aku belajar jadi suami yang baik, kau belajar jadi istri yang baik?” ucap Wisnu lagi.


Kenapa seperti ini jalanku? Ketika ucapan ini ingin aku dengar dari Mas Bagus, kenapa malah terucap dari pria ini? Benarkah dia jodohku?


Almira menunduk dalam, Wisnu dengan pelan melepaskan genggaman tangannya. Dia membiarkan Almira berpikir lagi, walau tidak ada hal yang akan membuatnya cepat mundur tapi setidaknya jalur hidupnya sudah benar.


“Ira,” panggil Wisnu pelan segera membuat gadis di hadapannya ini menoleh ke arahnya.


“Apa?” tanya Almira kemudian mengikuti arah mata Wisnu memandang.


“Itu … di samping kakimu,” ucap Wisnu terbata sambil mundur selangkah menjauh.


Almira segera menengok ke arah kakinya, seekor ular berwarna coklat muda terlihat bergerak perlahan ke arahnya, lidahnya beberapa kali menjulur mengejeknya. Dengan berteriak keras Almira berjingkat ke arah Wisnu.


“Waaa … ibuuuu,” teriak Almira kencang setengah berlari menjauh. “Cari kayu, hoi, cepat!” decak Almira melihat Wisnu malah mundur menjauh.


“Tidak mau,” jawab Wisnu ngeri.

__ADS_1


“Dasar reseh!” umpat Almira berlari cepat, disusul Wisnu dibelakangnya dengan langkah pontang-panting, meraih jaket Almira yang sudah berlari kencang dihadapannya.


“Tunggu aku!” teriak Wisnu menyusul Almira dengan langkah berat ketakutan karena saking geli bercampur ngeri.


Bugh!


Tarikan jaket itu membuat langkah Almira menjadi berat dan terperosok kakinya, terguling ke area pinggiran sawah bersama Wisnu yang menubruknya hingga semakin dalam tubuhnya tercebur lumpur.


“Aaahhhhh … bodoh! Bodoh! Bodoh!”


Almira mengumpat mendorong tubuh Wisnu yang mendarat cantik di sampingnya dengan separuh badan masuk ke dalam kubangan lumpur.


“Kau yang bodoh!” balas pria itu balas mendorong.


“Makan ini untuk sarapan,” desis Almira meraih lumpur dan menaruh kasar di pipi Wisnu dengan gigi gemerutuk saking kesalnya.


“Pake ini untuk ngompres emosimu,” balas Wisnu juga meraih lumpur dan menepukkan ke ubun-ubun Almira tak kalah gemerutuk giginya.


“Waahhh ... kurang ajar ya!” seru Almira kesal dan meraih lumpur lagi dan melemparnya hingga mengenai dada Wisnu hingga pakaian atasnya menjadi kotor.


“Kamu yang ngajari!” sahut Wisnu gemerutuk dan mendorong pundak Almira hingga terhuyung dan semakin masuk ke dalam kubangan.


“Aahhh … resek!”


“Kau juga,” balas Wisnu segera berdiri dan berpegangan tanggul sawah sambil menertawai wajah Almira yang penuh lumpur dan terlihat lucu dengan ekspresi kesalnya.


“Diam!” sungut Almira ikut berdiri namun terduduk lagi karena lumpur sawah sangat pekat mengikat tubuhnya.


Sambil masih tertawa Wisnu mengulurkan tangannya ingin membantu, dengan pandangan licik Almira meraih tangan itu dan menariknya agar bisa berdiri.


“Jangan berpikiran licik ya?” desis Wisnu masih terkekeh karena Almira tidak berhasil menariknya ikut terjatuh.


Tubuhnya terlalu kokoh untuk diperlakukan layaknya ingin berkelahi dengan adu kekuatan tangan.


Dengan wajah cemberut Almira berusaha berjalan dan minggir dari kubangan lumpur dengan tangan berpegangan erat dengan jemari pria tegap yang menatapnya penuh siaga agar dirinya tidak terpeleset lagi.


Apa perasaan bisa berbalik dengan cepat seperti ini? Yang baik jadi buruk, yang buruk menjadi baik?


Haruskah kuselami kembali perasaan ini, antara benci menjadi suka maupun sebaliknya? (Almira)


~Syala Yaya.


Bersambung …


Hai semuanya, terimakasih ku ucapkan untuk semua dukungan melalui membaca, memberi like, komentar juga votenya.


Nantikan kelanjutan kisah manis mereka berdua ya


Sambil menunggu, baca dan mampir juga ke novel sahabat dan pasti seru juga


Karya kak Linanda Anggen



Karya kak Mazlina



Karya kak Shanty Fadillah



Salam segalanya dariku ~ Syala Yaya🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2