Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab Menghempas Hatiku


__ADS_3

Menatap raga ringkih yang sedang meringkuk miring di bangsal rawatnya. Menatap mata nanar yang memandang kosong jendela kaca rumah sakit.


Wisnu menghela napasnya sambil menoleh ke arah Ihsan yang menepuk pundaknya pelan. Mereka berdua kembali tenggelam dalam pandangan kusut dari wanita yang baru saja ditinggal suaminya.


Wanita itu memutar kepalanya saat merasakan ada seseorang yang mengamatinya dari belakang. Sorot matanya menandakan sebuah ungkapan duka secara gamblang tersirat.


Wisnu menundukkan kepala beralih memandang sepatunya, hatinya berdesir merasai bagaimana cara Depe mengungkapkan rasa dukanya lewat sorotan matanya.


“Kamu datang,” ucapnya kembali menatap jendela kaca, suara malas dan sendu jelas terdengar walau lirih sekalipun.


Suasana hening yang tercipta semakin membuat kecanggungan tercipta dengan kentara, Wisnu melangkah maju mendekat dengan ragu-ragu. Tangannya menyeret kursi lipat dan membukanya di samping bangsal tempat Depe membaringkan raga yang separuh jiwanya terbawa suaminya pergi.


“Aku ikut berduka cita,” ungkap Wisnu menekuk lututnya dan duduk di kursi.


Depe tersenyum samar, lebih kepada senyuman ironi pada nasibnya, pada hidupnya.


"Kabar dari siapa? Aku kira kamu sudah melupakan aku," sindir Depe dengan bibir mengucap tipis dan pelan.


Rasa sesak yang menghimpit dada seolah membuatnya tidak punya tenaga lagi untuk sekedar berbincang berbincang.


“Dari Isna,” jawab Wisnu melirik perubahan mimik Depe sekilas.


“Kamu sudah tahu kalau aku menikahi Imrandira Sakha?” tanya Depe seolah menguji Wisnu dengan kehidupannya.


“Saat kamu melakukan ijab qabul, aku datang ke rumahmu,” jawab Wisnu dengan helaan napasnya.


Depe menatap terkejut ke arah Wisnu yang masih menatap ragu kepada dirinya. Pandangan Wisnu penuh makna, antara merasa biasa atau ada setitik kecewa. Depe menelan salivanya dengan susah payah.


“Kamu … bukankah saat itu ke luar negri, ya?” tanya Depe dengan nada suara terbata-bata.


Depe menatap manik mata cekolet bening yang segera beralih menatapnya bingung dan keningnya berkerut menyiratkan bahwa dirinya tidak mengerti lontaran pertanyaannya.


“Luar negri? Kemana, apa kau pikir aku punya pasport untuk sekedar jalan-jalan?” sahut Wisnu berkelakar dengan senyumannya.


“J-jadi kamu tidak pindah hidup di luar negri, 2 tahun yang lalu?” lontar Depe dengan wajah berjingkat dan duduk menatap Wisnu, matanya membelalak seolah ingin meyakinkan pertanyaannya yang tadi.


“Aku pindah ke Kota sebelah dan mengurusi bisnis pemberian Isna. Kamu tahu 'kan semua yang berhubungan dengan Krisna dan Isna mendapat jatah warisan semuanya?” terang Wisnu dengan suara tenang.


Wisnu merasa heran dengan sikap terkejut Depe mengetahui dirinya masih berada di negara ini, hanya pindah kota sejauh sekitar dua jam dari kota wanita itu tinggal.


Wisnu mencoba mengabaikan semua itu. Dia datang untuk menjenguk dan memberi simpati juga semangat, bukan untuk membicarakan masa lalu mereka berdua.


“Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik,” tanya Wisnu mengalihkan pembicaraan.


Jam sudah menunjuk setengah lima sore, dia tidak mau pulang terlalu malam. Wajah khawatir Almira membuatnya tidak tenang.


“Aku terpuruk, seperti yang kamu lihat.” Depe menghela napasnya panjang.


Sambil meraih saluran infus di punggung tangannya, dia memainkan jemari tangannya yang masih terdapat cincin putih bertahta berlian, tersemat cantik di jemarinya.


Wisnu memandangnya sekilas, kemudian beralih ke jemarinya sendiri. Cincinnya juga tersemat manis di sana. Mereka sama-sama sudah menikah, walau pada akhirnya Depe kini berstatus janda mati. Wisnu segera sadar bahwa berlama-lama di sana tidaklah baik untuknya.


Akan ada fitnah bila terus berlanjut, apalagi Ihsan beberapa saat keluar kamar rawat karena mendapatkan panggilan penting di ponselnya.


“Aku permisi dulu, ya. Aku harap kamu bisa ikhlaskan kepergian Imran, semoga Allah menerima semua amal ibadahnya dan mengampuni segala dosa, dilapangkan kuburnya,” ucap Wisnu menggerakkan tubuhnya, kursinya berserak kebelakang saat dirinya berdiri.


Wisnu meraih kursi dan melipat kembali, menaruhnya menempel dinding. Depe menatap kepergiaan Wisnu dengan perasaan menyesak dada. Kembali rasa itu hadir, rasa cinta yang dia yakini sampai sekarang pun sulit mendapatkan balasan.


“Jangan menyakiti dirimu lagi, jangan coba-coba. Allah membenci umatnya yang menyakiti diri sendiri,” tegas Wisnu berjalan mendekat hendak pamitan. “Walau dengan perasaan malu aku mengakui pernah melakukannya juga,” tambah Wisnu sambil menyungging senyum tipis.


Ucapan Wisnu menghenyakkan perasaan Depe. Menyebut kata --Allah-- membuatnya menfokuskan pikirannya pada pria tampan dingin dan tegas dihadapannya ini.

__ADS_1


“Allah?” ulang Depe dengan wajahnya yang seolah melongo bertanya.


“Iya, Allah. Tuhan Allah. Bukankah kamu menyembah Allah juga?” sahut Wisnu sambil menatap jam di pergelangan tangannya seraya menatap pintu kamar ruang rawat saat Ihsan masuk kedalam dengan ponsel masih menempel di telinganya.


Depe ikut menoleh masih dengan pikiran bertanya-tanya. Sebenarnya dia ingin bertanya lebih lanjut, tapi Ihsan sudah mengalihkan perhatian Wisnu.


Wisnu melangkah mendekati Ihsan yang berbicara sendiri di teleponnya. Wisnu masih sabar menanti.


“Ada masalah?” tanya Wisnu begitu melihat Ihsan menutup pembicaraannya.


“Tidak, sudah saya tangani, kok,” jawab Ihsan membuat Wisnu merasa lega.


Dia menepuk pundak Ihsan dengan bangga. Kinerjanya semakin membuatnya kagum saja. Ihsan hanya menanggapi dengan cibiran bibirnya merasa sudah dipuji Bosnya.


“Nyonya Depe? Saya Assistan pribadi Pak Wisnu, menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya suami Anda. Semoga Anda diberi ketabahan,” ucap Ihsan menatap Depe dengan menunduk kepala tanda ungkapan duka.


“Terimakasih,” jawab Depe ikut menunduk singkat menerima ucapan duka Ihsan.


“Anda sudah baik-baik saja? Pak Wisnu merasa khawatir saat Dokter Juna mengabarkan keadaan Anda,” ungkap Ihsan membuat Depe segera mengalihkan pandangannya pada Wisnu, pria itu tentu saja bersikap datar seperti biasanya dia kenal. Depe sampai hapal ekspresi itu.


“Saya baik, terimakasih dukungannya, saya sudah baikan saat ini.” Depe berucap pelan.


“Pak Wisnu, kemana ponsel Anda? Almira sampai menelpon saya karena panggilan Anda tidak dijawab, dia merasa khawatir,” tanya Ihsan membuat Wisnu meraih saku celananya.


Dirinya lupa meninggalkan ponselnya di dasboard mobil.


“Ahh … ketinggalan di mobil, katakan semua baik-baik saja. Aku akan sampai di rumah sebelum sholat isya',” jawab Wisnu dengan nada serius.


Depe terhenyak memandang kedua pria yang berdiri dihadapannya ini. Nama Almira yang tersebut membuat hatinya berdesir, mengingat seseorang, seorang wanita muda kekasih adiknya Bagus bernama Almira.


“Almira?” tanya Depe dengan ragu-ragu.


Ah … pasti bukan Almira itu. Depe memendam pertanyaannya.


“Kamu kenal dengan wanita bernama Almira Putri?” tanya Wisnu yang memang ingin sekali mempertanyakan hal ini langsung kepada Depe.


Apa hubungan mereka berdua? Oh, Almira calon adik iparnya. Mantan calon adik ipar lebih tepatnya, Wisnu mengingat dan menerka sendiri asumsinya.


“Almira Putri?” sahut Depe seperti bertanya, namun sebenarnya dirinya tersentak saat menyadari sepertinya Wisnu mengenal baik dengan gadis muda dan lembut, kekasih dari adiknya Bagus itu.


“Kalian saling mengenal, ya? Aku melihat foto-fotoku dia curi di albumnya. Aku menemukan banyak sekali foto kita berdua di dalam kamarnya,” lanjut Wisnu menjadi antusias, ingin sekali sekedar mendapat jawaban pasti.


Sebuah pertanyaan yang membelit perasaannya, apa Almira menyukainya bahkan sebelum mereka bertemu? Wisnu berharap mendapat jawaban itu.


“K-kamarnya kau bilang? K-kamar Almira?!” sentak Depe dengan wajah memerah dengan keterkejutan yang nampak nyata menghiasi sorotan matanya.


Ihsan segera menyadari kesalahpahaman segera maju, mengurai suasana yang nampak membuat pikiran negatif mendominasi cerita Wisnu.


“Pak Wisnu dan Almira Putri sudah resmi menikah, Nyonya Depe. Saya harap anda tidak berpikiran macam-macam mengenai hubungan keduanya,” sela Ihsan menambah Depe tercekat.


“Menikah, kalian berdua menikah?” tanya Depe memandang Wisnu yang mengangguk penuh senyuman.


“Maaf, acaranya mendadak jadi aku tidak mengabari siapapun, pernikahan kami sederhana,” jawab Wisnu berharap Depe tidak marah merasa dilupakan. “Bukankah, dulu kamu menikah juga tidak mengundangku, bahkan melupakan begitu saja tanpa ucapan apa-apa?” balas Wisnu dengan senyumannya.


Bibir wanita itu bergetar, matanya nampak melebar dengan jemari mencengkeram erat sprei berwarna putih bersih itu dengan desiran sesak yang menyeruak. Nafasnya tersengal dengan kabar yang baru dia dengarkan langsung dari bibir Wisnu. Pria yang dulu merasuk dalam hatinya.


Wisnu menikah dengan Almira?


Wanita itu? Kenapa tega melakukannya kepadaku.


Bukankah Bagus kekasihmu? Bahkan aku merestui hubungan kalian dan aku rela memasang badanku untuk melindungi hubungan kalian dari kekejaman ayah ibuku.

__ADS_1


Pandangan Depe lunglai menatap ke lantai, Wisnu dan Ihsan hanya bisa memandang bingung ke arah Depe. Tubuh Depe merebah pelan ke kasur, matanya terpejam mencoba menenangkan dirinya.


“Dhe, kamu … tidak apa-apa 'kan?” tanya Wisnu mendekati Depe. Depe menggeleng pelan.


“Aku permisi pulang dulu, ya. Cepat sembuh, kapan-kapan aku menjengukmu lagi,” pamit Wisnu segera diberikan anggukan Depe.


“Saya juga permisi,” pamit Ihsan juga.


Wisnu dan Ihsan melangkah menjauh menuju pintu hendak keluar, melangkah pelan sambil sesekali menatap keadaan Depe yang kembali menjadi lemah.


“Wisnu,” panggil Depe menoleh ke arah pintu dimana Wisnu hampir menutupnya dari luar.


“Iya?” jawab Wisnu mendongak menatap Depe.


“Sampaikan salamku padanya. Bilang padanya kalau aku mengucapkan selamat atas pernikahannya denganmu, katakan itu padanya, kepada Almira,” ucap Depe dengan suara dingin, segera diberi anggukan Wisnu.


Wisnu sejenak tertegun sambil menutup pintu.


**


Dalam kegelapan aku nyanyikan lagu untuk hati yang sepi.


dan aku begitu sedih saat aku tau


hati lain itu membuatmu mencintainya


membuatmu membutuhkannya


dan membuatmu merasakan sesuatu.


tubuh dari hatiku berkata untuk meninggalkanmu


tapi sungguh hatiku terdalam masih mengharapkan hadirmu. (A. Dhepe-Wisnu)


❤Quote By ANTIE


Terimakasih untuk kata indahnya Antie❤


Bersambung …


Maaf lama ya menunggu update?? Semoga tidak bosan menunggu


Terimakasih atas kesediaan membaca, memberikan like, komentar juga vote yang luar biasa dari kalian semua.


Maaf juga belum sempat membalas komentar kalian semua yang masuk. Pokoknya thank you dan love you. Aku baca kok, sesempat kau akan balas juga.


Baca juga kisah novel lain selagi Wisnu-Almira belum up ya


WaLingMi (Wanita Maling Suami) dijamin ngakak deh dengan aksi kesomplakan kisah Trio Somplak and The Gank dalam menyelamatkan bang Ismed dari Juminten istri galaknya, sekaligus gaya saingan mereka berlima dalam merayu Bang Ismed karena terpesona dengan kegantengan pria medok jawa yang unyu itu.



Baca juga novel sahabatku Antie, dukungan kalian pada karya perdananya membuatnya semakin semangat, mampir ya.



Bagi yang pengen tahu masalalu kisah Wisnu, baca novelku yang sudah tamat yaa



Salam dariku ~ Syala Yaya🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2