Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 11 Langit Pun Mendukung


__ADS_3

Selamat membaca


Suara pletak-pletak yang menerpa genting dan memancarkan gemuruh dari langit segera terdengar. Beberapa tetangganya yang berkumpul di rumah Almira segera berpamitan dan berlarian pulang ke rumah masing-masing yang hanya berlokasi sekitaran rumahnya.


Wisnu tertegun menatap langit gelap yang hawanya berangsur menjadi dingin dan membawa angin sepoi menghempas air hujan ke arah teras rumah.


“Mari masuk ke dalam rumah dulu,” ajak Ayah Almira dengan lambaian tangannya, mengajak Wisnu dan Ihsan ikut masuk ke dalam rumah.


Sepertinya malam ini hujan akan semakin deras, dengan suara semakin keras terdengar dari dalam rumah yang segera ditutup pintunya rapat ketika Wisnu dan Ihsan juga Almira masuk ke dalam ruang tamu.


“Wah, hujannya sangat deras,” ucap sang Ayah sambil menepuk baju depannya yang sedikit basah.


Hujan deras yang tiba-tiba turun disertai angin memang langsung menerjang hingga siapapun pasti basah bila terkena hempasan ataupun percikan airnya walau di teras rumah sekalipun.


“Silahkan duduk dulu, Wisnu,” pinta Pak Ramlan ayahnya Almira sembari duduk di salah satu kursi berbahan kayu jati ukir yang ada di sana.


“Terimakasih, Pak,” sahut Wisnu segera menuruti permintaan ayahnya Almira dengan memberi isyarat kepada Ihsan agar ikut duduk juga.


“Ira, bikinin lagi minuman, Bapak mau ngobrol banyak dengan Wisnu,” perintah ayahnya menatap Almira yang hendak melangkah pergi setelah menutup tirai jendela kaca.


“Iya, Pak.”


Almira mengangguk pelan sambil menatap Wisnu yang juga menatapnya. Dengan sedikit berdecak lirih Almira membalas senyuman Wisnu yang sangat membuatnya gemerutuk kesal.


Bagaimana bisa tiba-tiba hujan lebat begini. Aku benci hujan.


Almira melangkah pergi menuju rumah belakangnya. Sepanjang perjalanannya ke sana melewati rumah tengahnya dia masih mengomel sendiri.


Bagaimana bisa harus mengalami nasib seperti ini. Sesekali dia masih menoleh ke belakang dimana bisa memandang Wisnu duduk sembari tertawa ringan, sangat akrab dengan ayahnya.


Mas Bagus saja selama setahun belum mampu meluluhkan hati bapak, kenapa orang itu baru bertemu beberapa jam pandai sekali mengambil hati bapak? Apa dia semacam punya ajian penakhluk hati? batin Almira merinding.


“Mbak!” panggil Ersa keras menyentak kesadaran Almira dari gerutu ocehannya.


“Apa sih, ngagetin aja deh!” hardik Almira dengan wajahnya yang bersungut kesal karena adiknya itu selalu saja berbuat onar disekelilingnya, mengganggu dan menggodanya setiap waktu.


“Tampan sekali kakak ipar, ya. Kak Ira nemu dimana,” seloroh Ersa membuat Almira dengan cepat menjitak kepala adiknya itu hingga membuatnya meringis sakit.


“Kamu pikir dia kodok, nemu.”


“Astaga, galaknya,” protes Ersa mengelus kepalanya yang terasa panas sambil berjalan mengikuti Almira menuju ke dapur.


“Apa kira-kira malam ini kakak ipar akan menginap di sini, ya? Hihihi … aku senang.”


“Nggak! Kenapa harus menginap?” potong Almira cepat dengan tatapan melotot ke arah adiknya itu. Ersa jadi mengkerut menatap aneh kakaknya.


“Omegat, Kak Ira. Biasa aja kenapa sih, udah kayak nenek lampir aja deh, marah terus,” gerutu Ersa mendengus kearah Almira dan berjalan mendahului kakaknya itu.


Almira menghembus napas dengan tangan masih mengepal erat, rasa sesaknya belum juga hilang dari sudut hatinya.


“Ira! Cepat kesini!”


Teriakan Ibunya dari rumah belakang membuat Almira dan Ersa berlari cepat ke arah sana. Melewati pintu rumah tengah dan menerobos pintu belakang sebagai penghubung ke area dapur.


“Kenapa, Bu?” tanya Almira dengan wajah panik menghampiri ibunya yang sibuk berjibaku dengan ember-ember juga baskom di sana-sini, air mengucur deras dari atap rumahnya.


“Bocor, Nak. Tadi sepertinya angin membawa serta beberapa ranting dahan dan jatuh mengenai genteng,” jawab Ibunya sambil mengambil bak cuci piring dan mengganti ember air yang penuh dengan air bocoran dari atas genting rumahnya dengan ember kosong.


“Ya ampun kacau, aku panggil bapak dulu!” teriak Ersa berlari kembali ke rumah depan saat melihat betapa berantakan dapur ibunya itu.


Almira dengan cepat segera membantu ibunya mengatasi air yang deras masuk ke dalam rumah dan membanjiri lantai dapurnya.


Hujan turun sangat lebat malam ini, bahkan kilatan guntur juga kadang kala terdengar bunyinya disertai gemuruh hujan dan angin menerpa pepohonan sekitaran rumah. Membuatnya semakin kalut saja.

__ADS_1


“Ya Allah, semoga nggak banjir. Aduh bagaimana ini, Bu.”


“Ibu tidak tahu, semoga hujan cepat reda,” jawab ibunya gelisah. “Cepat ambil pel, sama kain kering.”


Almira segera mengganti ember yang sudah penuh dengan air dan membuangnya ke arah pintu belakang dengan cepat. Sesekali menuang yang dibaskom dan mengumpulkan jadi satu di ember depan kakinya. Menyerobot kain kering di lemari dapur dan menyerahkan kepada ibunya.


Tidak sampai menunggu lama terlihat ayah Almira dan Wisnu juga Ihsan terlihat berlari kecil ikut membantu. Mengamati kebocoran dari dalam dengan fokus menatap ke atas genteng.


“Aku akan naik ke atas,” ucap Wisnu dengan ekspresinya yang cukup tenang.


“Tidak boleh!” potong Almira cepat dengan kepala menggeleng.


Almira tidak habis pikir, dalam situasi apapun kenapa pria itu masih saja bisa tenang dan tidak panik, terbuat dari apa hatinya.


“Gentingnya pecah, kalau tidak naik dan mengganti genting percuma kita jaga ember semalaman,” jawab Wisnu sambil menggulung kemeja lengan panjangnya sampai siku dan mengamati atas langit-langit rumah.


“Tapi, tanganmu 'kan masih terluka?” cegah Almira dengan wajah cemas, memandang pergelangan tangan kiri Wisnu yang masih dibalut perban tipis.


Wisnu mengamati tangannya sejenak dengan senyuman tipis, menghela napasnya ringan sambil memandang Almira yang cemas memandangnya. Wisnu merasa senang seketus apapun gadis ini terhadapnya, tetap saja menghawatirkannya juga.


“Ayo, Pak. Mana tangganya, bisa rusak semua plafon rumah ini bila dibiarkan airnya terus mengalir banjir masuk ke dalam.”


Wisnu memandang Pak Ramlan dan segera diberi anggukan cepat. Dibantu Ihsan yang memang tidak jago memanjat hanya bisa membantu menjaga agar tangga tidak sampai roboh.


Dari samping rumah Wisnu dan Pak Ramlan memanjat tangga dan membenarkan letak genting dan menggantinya dengan yang baru dibantu Ihsan melemparnya dari bawah. Ditengah guyuran hujan lebat semakin membuat Almira dan ibunya cemas di dalam rumah bagian dapurnya, memikirkan para pria itu.


Selama lebih dari setengah jam berjibaku melawan alam akhirnya semua genting berhasil diganti, menyingkirkan dahan yang menimpa genting. Air yang mengalir deras terhenti secara perlahan dan akhirnya benar-benar berhenti menerobos masuk rumah.


Almira dan ibunya menyapu ruangan dapur, mengepel lantai agar kering kembali dengan perasaan lega.


“Ira, bantu 'Nak Wisnu. Ambilkan pakaian ganti juga sana,” perintah ayahnya sambil mencopot kaosnya dan memeras airnya di depan pintu belakang.


Wisnu masih berdiri di samping pak Ramlan dengan badan basah kuyup. Ibu segera memberi Wisnu dan Ihsan handuk kering untuk membantu mengeringkan wajah dab rambut mereka berdua.


“Ganti bajumu dulu, Nak. Nanti masuk angin.” Pak Ramlan menampilkan senyuman ke arah Wisnu yang segera diberi anggukan.


“Ayo,” ajak Almira melangkah diikuti Wisnu berjalan di belakangnya.


Sepanjang jalan menuju rumah tengah Wisnu hanya bisa menatap langkah kaki Almira yang berjalan di depannya. Membisu hanya terdengar suara gemuruh hujan yang nampak belum reda juga.


“Karena badanmu tinggi besar, aku akan pinjamkan baju pacarku saja. Baju bapakku pasti tidak muat untukmu,” seloroh Almira masih berjalan tanpa menoleh.


“Kau, menyimpan pakaian pacarmu?” tanya Wisnu dengan suara pelan.


“Hem,” jawab Almira menoleh menghentikan langkahnya. Wisnu segera berhenti melangkah juga agar tidak menubruk tubuh Almira.


"Kalian saling mencintai?" tanya Wisnu menampakkan wajah dinginnya.


“Kau menghancurkan semuanya,” lontar Almira dengan helaan napasnya menahan kesedihan, kekecewaan juga kemarahan mendalam.


Wisnu bisa melihat jelas dari sorot mata gadis di hadapannya itu. Wisnu hanya bisa menahan dirinya kembali merasa bersalah.


“Aku, akan membayar semua dosaku padamu,” sahut Wisnu nampak bersuara tertahan menyahut lontaran kekesalan Almira. "Berikan aku kesempatan."


“Menikah denganmu, aku bilang itu bukan hal yang membuatku bahagia.”


“Aku bukan malaikat yang bisa mengembalikan semua yang sudah terjadi, apa kau paham?” adu Wisnu memberikan sorot mata tajamnya.


“Iya, karena kau iblis yang sanggup menghancurkan mimpi dan kebahagiaan orang lain,” tandas Almira membuat Wisnu mengepalkan jemari tangannya.


Mereka beradu pandang beberapa saat hingga Almira menatap perban Wisnu berubah warna menjadi merah dan semakin lebar nodanya. Dengan wajah cemas dia raih tangan itu dan menyeretnya masuk ke dalam kamarnya dan mendorong tubuh pria itu agar duduk di kursi belajarnya.


Wisnu hanya menurut dan memandang kamar Almira yang rapi, sederhana tapi nyaman. Memandang Almira yang dengan wajah kalang kabut membuka laci-laci lemari dan mejanya. Wisnu hanya memandang dengan senyuman sekilas.

__ADS_1


“Kenapa kau diam saja. Ap-apa tidak sakit?” tanya Almira panik masih mencari kotak obatnya sambil menoleh sekilas ke arah Wisnu yang duduk mangamati mejanya.


“Sedikit,” jawab Wisnu santai.


“Bagaimana bisa sedikit saat darahnya sampai merembes keluar?” decak Almira sudah berjalan tergesa menghampiri Wisnu dan meraih tangannya.


“Aku tidak apa-apa,” seloroh Wisnu membiarkan Almira membuka perban di pergelangan tangannya yang memang sudah berubah menjadi merah.


“Wah, lukamu kembali terbuka, bagaimana ini,” lontar Almira memandang Wisnu dengan cemas setelah melihat jahitannya mengeluarkan darah.


“Aku akan baik-baik saja,” jawab Wisnu dengan suaranya yang tenang.


“Tidak apa-apa bagaimana? Lukanya berdarah!” sentak Almira mencari kapas dan mencelupkan pada obat antiseptik dan menempelkannya pada luka.


“Bukankah, luka ini lebih kecil daripada luka yang harus kau tanggung karena kesalahanku?” lontar Wisnu membuat Almira menghentikan tangannya merawat luka Wisnu.


Dengan sengalan napas canggung dan tangan membeku Almira menatap Wisnu dengan mata berkaca-kaca. Wisnu juga menunduk dan meraih kapas dari tangan Almira dan membersihkan lukanya sendiri.


Almira segera berdiri dan mengambil satu stel pakaian dari dalam lemarinya. Menyerahkan kepada Wisnu dengan menaruhnya di meja belajar.


“Ganti bajumu, jangan sampai kau sakit. Aku tidak boleh bersikap baik pada orang yang jahat, bukan?” ujar Almira membuat Wisnu mendongak menatapnya.


“Terimakasih, akan ku pastikan kau akan bersyukur karena memberikan pakaian ini kepadaku, bukan pacarmu,” sahut Wisnu menampilkan senyuman.


Almira menghembus napasnya kembali sebal. Pria ini pandai sekali membuatnya iba kemudian menjadi menyebalkan.


“Ganti bajumu cepat, aku akan bantu bersihkan lukamu di luar kamar. Aku tunggu di ruang tamu.”


"Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkan aku?" lontar Wisnu menghentikan langkah kaki Almita.


Mereka terdiam cukup lama. Almira mematung tidak mau menjawab maupun menoleh kembali kebelakang.


Almira segera melangkah pergi dan menutup pintu kamarnya dengan cepat, membiarkan Wisnu mengganti pakaiannya di dalam kamarnya. Perasaannya bingung, di sisi lain dia benci tapi sisi lainnya merasa Wisnu pria yang baik.


Dengan langkah lesu, sesekali menatap kembali pintu kamar dimana Wisnu berada disana, gadis setinggi 160 cm itu berjalan kembali ke arah rumah depan dimana ayahnya sudah menunggu. Dengan rasa canggung. Gadis itu melirik sekilas ke arah ayahnya itu dengan jantung berdebar.


Memaafkanmu? bisakah aku memaafkan malam itu.


“Bapak menyukai pria pilihanmu yang ini,” ungkap Ayahnya itu sambil tersenyum ke arahnya. Dengan tubuh merosot lemas Almira mengangguk lemah.


"Dia cocok sekali dengan apa yang ada dipikiran bapak. Baik, sopan, sudah bekerja juga. Bapak rasa dia bisa menjagamu dengan baik, bapak bisa tenang melepasmu menikah," ungkap ayahnya diiringai senyum senang dan bijak ke arah putrinya itu.


Andai bapak tahu, apa yang telah dia lakukan kepadaku, masihkah bapak akan menyukainya dengan kilatan sorot mata begitu bangga mendapatkan menantu seperti dirinya?


Almira hanya bisa menatap Ihsan yang menganggukkan kepalanya mendukung dirinya menyembunyikan rahasia itu.


Bersambung ...


Terimakasih ya masih setia menyimak kisah cinta Wisnu. Berikan dukunganmu dengan fav, like juga komen. vote seikhlasnya juga ya


Baca juga karya para sahabatku selagi menunggu update novelku


Karya kak Ismi



Karya Kak Karlina



Karya Kak MC


__ADS_1


Salam segalanya dari Syala Yaya🌹🌹


__ADS_2