Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 116 Fitting Baju Pengantin


__ADS_3

Pria itu membalik badan, menatap kedatangan wanita itu dengan tatapan tercengang. Si gadis yang biasanya tampil apa adanya kini tampak luar biasa. Ia tahu, wajah cantik alami itu hanya diberikan polesan ringan agar tidak pucat, tetapi bagi Alan perubahan itu tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Keberadaan Yashna kembali mendebarkan hatinya.


Erick yang mengetahui hal itu pun segera mendekat, menepuk pundak Alan untuk menyadarkan kembali sang adik ipar. Ia tidak ingin apa yang tersusun rapi menjadi berantakan karena pria itu tidak bisa mengendalikan sorot mata kekagumannya terhadap sosok Yashna. Alan pun menundukkan kepala, mengangguk mengerti lalu mulai mendekati Julia dan duduk bersamanya. Sebuah dorongan dari jiwanya untuk segera mendekap erat wanita itu ke dalam ikatan yang kokoh terasa menggebu. Benar, tidak ada kesalahan lagi. Ia menyukai apa pun yang ada pada diri Yashna. Baik atau pun buruknya.


"Gaunmu sangat indah, Julia. Sangat cantik," ungkapnya kepada kakak perempuannya dengan wajah muram dan senyuman dipaksakan.


Yashna yang kini sudah berjalan mendekat dan berdiri di hadapan mereka berdua hanya bisa menatap kikuk. Ia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk menunjukkan bahwa gaun itu sangat nyaman dan indah baginya. Hatinya tiba-tiba diliputi rasa yang sukar dimengerti. Kata seandainya sering muncul dalam benaknya. Apakah gaun itu bisa jadi mikiknya apabila ia tidak berkeras hati untuk meninggalkan Alan?


"Yeah, sangat cocok untuk Yashna," ucap Julia tampak merengut. Sudah pasti ekspresi dan tanggapan itu sesuatu yang tidak diinginkan Yashna.


"Ini akan bagus kalau Kak Julia yang pakai. Percayalah." Buru-buru Yashna menepis anggapan cocok yang bisa saja itu sebuah ungkapan kekecewaan karena ia yang saat ini mencobanya.


"Aku pilih itu untukmu sajalah!" Julia mengalihkan pandangannya kepada perancang busana pengantinnya dengan lesu. "Aku memutuskan untuk menjadikan Yasha pendampingku ke altar nanti, bisa kau buatkan aku gaun yang baru?"


"Tentu, Julia. Tentu saja mudah saja bagiku," jawab Bella, sahabatnya seraya mengedipkan sebelah matanya.


Yashna meneguk ludahnya dengan kesulitan. Bagaimana mungkin Alan akan menikah dengan wanita rewel seperti itu. Sambil mundur ia menatap Alan yang tampak bergurau dengan Erick yang sudah siap dengan pilihan jasnya. Pria berparas tampan dengan dagu yang mulai tumbuh jambang tipis menambah kesan memesona setiap pria muda itu bila tertawa. Yashna memilih untuk menunduk dengan perasaan berkecamuk. Ia pun mematung tidak bergerak dari tempatnya sebelum akhirnya salah satu dari pegawai butik memintanya untuk berdiri berdampingan dengan Alan untuk memadukan warna busana yang mereka kenakan.


"Silakan, Kak."


"Tapi—bukankah Julia tidak lagi memakai gaun yang ini, ya?" tanya Yashna tampak bingung saat tangannya ditarik mendekati Alan.


"Aku akan lihat sekali lagi, Yashna." Julia memandang dengan seksama seakan sedang menilai bagaimana tubuh Yashna sangat pas memakai busana tersebut.


Alan tidak berkomentar apa pun, diam dengan batin mengucap ribuan kalimat pujian hingga rasanya tidak sabar untuk merengkuh tubuh itu ke altar dengan mengikatnya agar tidak mudah lagi membicarakan tentang perpisahan.


Yashna menggaruk pipinya karena canggung saat mata indah pria itu tidak lepas darinya. Dengan cepat pula Alan meraih jemari itu hingga Yashna tersentak dan membeku setelahnya. Tatapan mata mereka beradu sepersekian detik hingga akhirnya Alan tersenyum padanya.


"Kau akan merusak make up yang saat ini kau pakai. Akan sangat sulit membersihkan wajahmu nantinya, bukan?" ucap Alan seraya melepaskan tangan itu kemudian lagi-lagi pada sikap seolah tidak acuh bila sentuhan itu sama-sama memberikan efek kejut listrik yang tidak pernah disangkanya selama ini. Rasa yang telah lama memudar karena keegoisan karena merasa bahwa mereka hanya butuh dicintai dan tidak ingin berkorban menyatukan tujuan untuk saling mencintai kekurangan masing-masing. Efek yang membawa sensasi rasa yang tidak rasional. Mereka saling menginginkan satu sama lain.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengingatkan," sahut Yashna menunduk malu dengan pikirannya.


"Alangkah menyedihkan, kita bisa bicara tanpa urat syaraf tinggi di saat seperti ini. Bukankah sangat ironis?" komentar Alan dengan nada sinis.


"Ini kamu sendiri yang memutuskan, bukan salahku," jawab Yashna tersindir karena merasa Alan lagi-lagi menyalahkan dirinya.


Pembicaraan mereka terjeda saat penata busana datang mendekat dan mulai melakukan pekerjaannya. Alan dan Yashna hanya bisa menurut tanpa protes, melakukan apa yang mereka minta karena seperti dengan sengaja membuat keduanya harus tampil mesra dengan beberapa kali difoto untuk dikirim sebagai revisi. Yashna merasa aneh dengan prosedur itu, tetapi tidak berkata apa pun karena nyatanya Alan bersikap sangat santai.


"Kalian sangat serasi," bisik wanita penata gaun itu dengan mata mengerling. Yashna hanya bisa mendengus dalam hati karena merasa setuju dengan penilaian itu. Alan tidak lagi terlihat seperti bocah. Mendadak ia kesal sendiri dengan isi kepalanya.


"Calon istrinya yang ada di sana!" sahut Yashna dingin. Alan yang mendengar ucapan Yashna hanya memberi tawa ringan bersama penata busana itu.


**


Satu jam yang melelahkan bagi Yashna. Permintaan Julia untuk pulang ke rumahnya diantar Erick membawa angin segar bagi Yashna. Wanita itu sudah selesai mengganti pakaian. Dengan wajah murung ia pun pamitan dan berjalan keluar butik dengan hati hancur lebur.


"Sejak kapan Alan merencanakan acara pernikahan mendadak tapi berkonsep seperti ini?" batinnya merutuk resah.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi," gumamnya di sepanjang langkah. "Bahkan ayahku tidak mencintaiku sejak aku dilahirkan. Aku buah dari kesalahan."


Air mata perempuan itu mengalir deras, sambil berjalan lebih cepat ia mengusap wajahnya dengan lengan bajunya. Rasanya ia tak kuasa lagi menahan beban dipinggirkan, menjadi pemeran figuran di dunianya sendiri.


"Ibuku tidak memberiku cinta selain hanya karena aku buah dari jebakan yang tidak membawa keuntungan, oh shiit! Rasanya aku butuh—" Yashna menghentikan langkah, berjongkok di trotoar dengan kepala tertunduk dalam. Tangisannya tidak bisa dikendalikan lagi.


"Kau butuh tisu?" Suara orang dibencinya terdengar menjengkelkan. Yashna pun terpaku, tidak mendongakkan kepala karena jelas dia tahu siapa pemilik suara itu.


"Kalau kau bilang jangan, maka akan aku lakukan."


"Apa maksudmu?" Yashna pun mendongak pelan, tampak pria itu mengulurkan tangan padanya.

__ADS_1


"Bilang kalau kau tidak mau jadi pendamping pengantin Julia. Memangnya apa lagi? Apa kau berpikir aku akan membatalkan acara penting ini?" ejeknya dengan tawa rendah.


Yashna menepis keras uluran tangan itu dan bergerak bangkit. Ia tidak menanggapi ejekan itu dan memilih berjalan menjauh, meninggalkan Alan yang berlari kecil mengejarnya.


"Aku disuruh Julia mengantarmu pulang! Eh, tunggu!" Alan meraih lengan Yashna agar berjalan lebih lambat.


"Tidak perlu!"


"Tapi aku perlu mengantarmu dan memastikan kamu selamat sampai di rumah." Akan masih berkeras.


"Aku bilang tidak perlu!"


"Tapi aku perlu!" Alan masih berupaya mengejar Yashna yang menepis genggaman tangannya. Ia tidak akan membiarkan momen ini menguap begitu saja. Harus ada kepastian hingga langkahnya nanti tidak akan salah. Ia butuh keberanian lagi untuk melihat bagaimana perasaannya yang juga sakit saat awal kelahiran mereka ke dunia kembali diusik dalam kalimat kepedihan Yashna.


"Untuk apa? Hem? Kamu pasti sengaja, 'kan? Membuatku seperti orang bodoh seperti ini!"


Alan hanya terdiam, ia tidak sanggup menjawab apa yang dituduhkan Yashna padanya. Ya, ia sengaja membohongi wanita itu dan ia tidak tahu bagaimana cara mengembalikan apa yang seharusnya tidak dilakukannya. Melihat wanitanya menangis.


"Aku akan menjadi pendamping Julia dan melihatmu menikah, puas!"


Yashna menatap tajam ke arah Alan dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Napas keduanya pun tersengal, menahan rasa sesak yang sama-sama dirasakan.


"Itu lebih baik, dan aku harap kamu menepati janjimu. Jangan kabur atau tidak datang saat prosesi pernikahan itu berlangsung karena itu sangat menentukan hidupku ke depannya," pesan Alan lalu membalikkan badan, meninggalkan Yashna yang membeku di tempatnya. "Kau harus benar-benar datang dengan gaun yang dipilih Julia. Kalau kau tidak datang, aku akan menganggapmu sebagai pengecut. Sampai mati pun aku tidak sudi mengingatmu." Alan mengucapkan kalimat itu dengan lantang meskipun tanpa menoleh. Ia tahu Yashna mendengarnya dengan jelas.


***


'Ketika keberanian untuk memasang semua harta yang kumiliki untuk taruhan, maka kini telah kulakukan untukmu. Ajak aku lari, aku ingin menghabiskan waktu dan menatap dunia bersamamu. Tidak di kehidupan ini saja, tapi di masa yang akan datang saat tua renta mata kabur tak dapat saling menatap dengan jelas. Namun, kupastikan hati dan tangan kita masih akan saling bertautan sampai bibir tak lagi mampu untuk menasbihkan kata cinta dan sayang.'


(Ketulusan Cinta Kalandra)

__ADS_1


Salam cinta untuk Sobat Syala Yaya 🌻🌻


__ADS_2