
Wisnu mencoba menenangkan anak kecil dengan mengusap air matanya, memandang sorot mata polos mungil seakan menyihir perasaannya, anak kecil itu sangat tampan baginya. Sambil tersenyum ia mengusap lembut rambut hitamnya.
“Siapa ibumu, Nak?” tanya Wisnu lembut setelah anak lelaki berwajah imut itu terlihat tenang dan berhenti menangis.
Anak itu tidak menyahut, ia memandang Almira sejenak dan menunjuk jemari kecilnya ke arahnya. Almira melongo melihatnya.
“Dia ibumu?” lontar Wisnu sambil tertawa memandang Almira yang segera membalas menatapnya dengan tawa juga.
“Bahagianya aku kalau punya anak setampan kamu,” balas Almira merasa gemas dengan tingkah imutnya.
Mereka berdua masih duduk berjongkok di hadapan anak bercelana jeans dan berbaju putih polos itu dengan derai tawa, merasa gemas sendiri. Hingga seorang wanita datang dan segera merebut anak itu dari hadapan Wisnu dan menggondongnya dengan wajah sangat panik.
“Azka … kamu nakal ya, mamah cari kemana-mana, tahunya kamu di sini,” ucapnya dengan suara kesal bercampur panik. Beberapa kali dia menepuk bokong anaknya juga memberinya ciuman penuh syukur karena anaknya tidak kenapa-kenapa.
Almira dan Wisnu hanya bisa melongo saling memandang, hanya terdiam tidak berkomentar apa-apa. Mereka menunggu hingga wanita itu kembali tenang. Momen seperti itu bagi Wisnu sangat manis, dimana seorang ibu merasa jengkel sekaligus panik saat menyadari anaknya terpisah dari genggaman tangannya.
Beberapa saat setelah menyadari ada dua orang yang masih berdiri dibelakangnya, wanita itu segera memutar badan dan menoleh Wisnu dan Almira dengan wajah terkejut. Begitu pula dengan Almira yang reflek mundur selangkah dengan tatapan tak kalah terkejut. Wisnu hanya diam mengamati situasi. Pria itu selalu pandai menyimpan hal apapun di balik wajah datarnya.
“Kak Dhepe,” panggil Almira membelalak mata.
Almira merasa terkejut dengan pertemuan tidak sengaja di tempat itu. Ia segera menatap canggung dan bingung dalam bersikap, apalagi menatap suaminya yang bisa bersikap biasa saja malah semakin membuatnya bingung.
"Ira," balasnya juga menampilkan sisi keterkejutan di wajahnya.
Dhepe segera menurunkan anaknya dari gendongan dan mengulurkan jemari tangannya kepada Almira dengan sunggingan senyum manis di bibirnya dan dengan canggung Almira membalas menjabat uluran tangan Dhepe.
“Apa kabar?" tanyanya berbasa-basi.
“Baik, Kak,” jawab Almira singkat.
“Oh, Selamat ya Almira. Wisnu sudah cerita soal pernikahan kalian. Wah, luar biasa sekali, kamu sampai melupakanku,” ucap Dhepe tertawa sambil menampilkan sisi kemarahan pada tekanan di jemari tangannya dalam berjabat tangan.
“M-maaf, Kak. Terimakasih, t-tapi pernikahan kami sederhana dan kami tidak mengundang siapa-siapa. Kakak jangan tersinggung,” jawab Almira merasa gugup.
Dhepe tertawa menanggapi. Almira selalu saja bersikap sama, gugup dan merasa sungkan saat berbicara kepadanya. Dalam hati dia selalu merasa penasaran dengan gadis ini. Setelah perjuangannya selama setahun lebih agar bisa bersama adiknya tapi kenapa dia bisa menikah dengan Wisnu. Membuat kemarahannya seakan memuncak bila mengingat masa lalu.
“Kak Dhepe belanja juga?” tanya Almira berusaha mengganti topik, ia memandang anak Dhepe yang masih diam memandang interaksi orang-orang yang berada di sana, tangannya masih digandeng erat agar tidak nyelonong asik bermain sendiri lagi.
“Kenapa hanya upacara sederhana? Payah sekali kalau menikah dengan orang kaya tapi nikahnya sederhana,” ucapnya dengan senyuman mengejek. Dhepe tidak mau mengalihkan pembicaraan, ia tahu Almira akan berusaha menghindari topik sensitif yang membelit kemarahan dalam hatinya ini.
Almira hanya bisa memandang tanpa bisa menjawab apa-apa. Ia juga merasa geregetan saat suaminya tidak mau membantunya sama sekali dengan sekadar menjawab pertanyaan dari Dhepe. Almira hanya bisa menghela napasnya.
“Hidup kami biasa saja kakak, kenapa kak Dhepe bisa bilang kami kaya?” seloroh Almira sambil tersenyum dan mencoba melepaskan jabatan tangan Dhepe yang terasa mengganggu.
“Jangan merendah begitu. Aku biasa kok berhadapan dengan wanita seperti kamu,” desis Dhepe menampilkan sorot mata yang menjengkelkan bagi Almira, tapi ia tidak bisa membalas apapun yang Dhepe lontarkan untuk menyindirnya.
__ADS_1
Almita tidak mengerti kemana arah tujuan ucapan Dhepe. Yang dia tahu perempuan itu sedang menyindir tentang kesalahannya.
“Apa maksud kak Dhepe?” tanya Almira mulai tersinggung.
“Bagaimana rasanya meninggalkan pria yang hampir bangkrut dan menikahi pria kaya raya? Apa kamu merasa puas dan bahagia?” lontar Dhepe menyentak perasaan Almira, dengan wajah tercengang dan tertusuk perasaannya Almira menunduk dalam tanpa mau memandang siapapun, dia tidak bisa membalas dengan jawaban apapun, lidahnya kelu.
“Pasti kamu bangga 'kan? Sudah berhasil menghancurkan hidup kami berdua? Kamu tahu betapa menderitanya aku dan Bagus karena ulahmu!” ucap Dhepe dengan wajah bersungut.
Almira masih terdiam mendengarkan dengan perasaan kacau, antara merasa bersalah dan merasa tidak terima dengan semua tuduhan.
“Hebat ya kamu, pandai sekali merayu pria hingga menoleh ke arahmu, nyatanya kamu hanya wanita pembohong, wajah polosmu benar-benar membuatku jijik. Kamu tega membohongi orang lain demi kebahagiaan dirimu sendiri.”
Dhepe mengeratkan tautan jemarinya dalam menggenggam jemari tangan Azka, dia merasa hatinya semakin sesak dengan ucapannya sendiri, dengan sungutan kemarahan ia menahan diri agar tidak menampilkan sisi kelemahannya, menampar wajah sok polos Almira ataupun ia merasa ingin menjerit dan menangis.
Almira memejamkan matanya sejenak, hatinya bergemuruh mendengar tuduhan yang Dhepe alamatkan padanya. Almira bahkan bisa melihat beberapa orang yang berjalan membisikkan kata-kata yang menggunjing dirinya. Dalam situasi kesalah pahaman bisa membawa sudut pandang bahwa dia wanita perebut lelaki orang. Almira semakin tertunduk sedih.
Tidak dia sangka-sangka tangannya ditarik Wisnu hingga badannya terhuyung mendekat ke arah suaminya, terasa sekali tangan kokoh suaminya mengalung di pundaknya. Almira memandang bingung, ia masih saja melihat sisi wajah Wisnu yang menampakkan sikap tenang dan wajah yang datar.
“Ini sudah malam, kasihan anakmu kalau pulangmu kemalaman. Apa kamu menyetir sendiri atau bersama supirmu?” tanya Wisnu masih dengan sikap tenang sekali.
Almira merasa sangat heran dan kesal, kenapa suaminya masih bisa bersikap setenang itu. Bahkan ia juga kesal karena suaminya masih bisa memperlakukan Dhepe dengan sikap yang santun padahal jelas ia sudah melontarkan kata tuduhan yang memanaskan telinganya. Almira benar-benar merasa bingung dan kecewa dengan sikap suaminya. Dengan pelan ia mencoba melepaskan gayutan tangan kokoh suaminya, tapi tetap saja tangan itu tidak berpindah sama sekali dari pundaknya.
“Aku … diantar supir,” jawab Dhepe juga merasa kebingungan melihat sikap tenang Wisnu setelah apa yang dia lontarkan kepada Almira. Wisnu tidak terpancing menanggapi ocehannya.
“Baiklah, aku dan Almira sudah selesai belanja, kami permisi ke kasir dulu,” pamit Wisnu sambi mencengkeram erat pundak Almira yang berusaha melepaskan diri.
Wisnu merasa yakin pasti istrinya sedang kecewa, marah kepadanya karena tidak membantu dalam upaya menghadapi Dhepe. Wisnu hanya bisa menahan istrinya agar tidak menambah panas situasi dan mengajaknya pergi.
“Jangan sampai terpisah lagi dengan anakmu, ya,” pesan Wisnu sambil menarik Almira menjauhi Dhepe.
Wisnu memastikan Almira tidak menoleh ke belakang dan berjalan lurus ke arah dimana trolinya berada.
Disepanjang jalan sejak bertemu Dhepe Almira tetap membisu, tidak ada sepatah kata pun yang ia lontarkan padahal Wisnu sudah mencoba untuk memecahkan sikap diam sejak di Supermarket hingga sampai di rumah.
Wisnu mengambil semua barang belanjaan seorang diri, merasa kesal juga saat Almira tidak membantu tapi malah berjalan ke dalam rumah dan masuk ke kamar. Wisnu menghela napasnya menahan sabar.
Dia atur sendiri semua belanjaan menurut jenisnya, memisah mana yang dia harus masukkan ke dalam kulkas atau dia biarkan saja di luar. Dirinya duduk termenung memandang lantai atas dimana istrinya berada saat ini.
“Kencanku hancur berkeping,” keluh Wisnu memukulkan jemarinya ringan ke meja di hadapannya.
Tanpa pikir panjang ia segera menyusul Almira ke kamar dan melihat keadaannya. Melihat berapa banyak rasa yang ditampung istrinya, rasa seorang wanita muda dalam menerima cacian kesal di tempat umum. Dalam hati Wisnu sebenarnya menyesal karena ia diam saja dan hanya menyaksikan tanpa ikut bertindak. Tapi itulah pilihan yang dia ambil.
Wisnu membuka perlahan pintu kamarnya, memandang ke dalam kamarnya yang kini menjadi gelap dan hanya berhias cahaya warna indah di langit-langit kamarnya. Setelah menutup pintu Wisnu mendekati tempat tidur dan menyentuh pundak istrinya dengan lembut.
“Kita tidak jadi masak dan makan malam?” tanya Wisnu lembut dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya, bisa Wisnu pastikan Almira menangis dalam kegelapan.
__ADS_1
“Jangan menangis, Sayang. Kita makan dulu ya,” bujuk Wisnu meraih pundak Almira dan berusaha membalik badannya agar menghadap ke arahnya, tapi sulit karena Almira masih bergeming tidak bergerak sama sekali.
“Kamu kenapa? Mas Inu minta maaf kalau ada salah,” lontar Wisnu lagi sambil memeluk tubuh Almira dari belakang, mengecup rambut Almira dengan sayang.
“Yang salah aku, Mas. Kalian semua tidak ada yang salah. Hanya Ira yang salah,” jawab Almira sambil menahan suaranya yang serak, beberapa kali ia harus berdehem karena suaranya parau dan hidung tersumbat karena tangisannya.
“Kok begitu? Kok jadi Ira yang salah?” pancing Wisnu mencoba membuka diri istrinya agar mau berbicara dengannya.
Wisnu semakin merekatkan pelukan walau jelas Almira menolak dengan mengibaskan jemari tangannya, Wisnu tidak perduli. Malam ini juga masalah itu harus selesai, pikir Wisnu.
“Kenapa tadi Mas Inu diam saja? Hem? Kenapa diam seolah tidak perduli dengan apa yang kak Dhepe tuduhkan padaku?” desis Almira kesal.
“Tuduhan yang mana? Tuduhannya banyak sekali tadi,” jawab Wisnu tenang membuat Almira mendengus kesal sendiri.
Ia segera membalik badan dan berusaha memandang kesal suaminya dalam suasana remang, menggigit kesal lengan Wisnu hingga pria itu mengaduh dan tertawa dengan kelakuan istrinya.
“Apa kamu vampir cantik, kalau marah suka menggigit pria tampan?” goda Wisnu mencoba memecah kemarahan Almira padanya.
“Biar tau rasa!” hardik Almira bersungut.
“Astaga, kelakuanmu kalau marah membuatku gemas saja. Istri cantikku yang imut kalau lagi marah begini,” lontar Wisnu meraih pipi Almira dan berusaha untuk menciumnya.
“Lepas!" decak Almira menolak karena masih kesal. "Jawab kenapa? Jawab kenapa Mas Inu diam saja saat kak Dhepe melontarkan kata-katanya kepada Almira, kenapa tidak mencoba membantu menjelaskan?” tanya Almira sewot dan masih saja merasakan hatinya sesak saat mengatakannya.
Wisnu terdiam dan memandang raut wajah Almira dalam cahaya yang minim. Isapan napas penuh sesak sudah pasti Wisnu tahu istrinya sedang terluka karena rasa bersalah dan juga terluka karena tidak mampu menjawab tuduhan.
“Aku diam bukan karena mengabaikanmu, bukan begitu maksudku,” jawab Wisnu dengan suara lembutnya.
“Lalu maksudmu apa?” sahut Almira sudah tidak sabar.
“Aku melakukannya karena ingin memberimu kesempatan untuk menyelesaikan masalahmu, memberimu kesempatan untuk membuktikan kalau kamu bisa menjawab dengan tanpa berusaha terlihat membela diri. Dan aku memberimu kesempatan untuk menunjukkan bagaimana caramu untuk mempertahankanku tanpa membuka aibku bahwa kita menikah karena aku sudah menodaimu,” jawab Wisnu pelan.
Almira tercengang memandang, ia segera memeluk balas suaminya. Alasan kenapa dia tidak menjawab lontaran Dhepe karena apa yang dia pikirkan juga sama. Sama seperti apa yang suaminya katakan.
Aku adalah pakaianmu, kamu adalah busanaku. Apa yang tampak bagus itu karenamu, apa yang tampak buruk juga karenamu. Jangan katakan keburukanku, seburuk apapun aku, karena aib kita tanggung bersama, karena indahnya juga kita kecap bersama. (Wisnu&Almira)
By. Syala Yaya.
Bersambung …
Ketik langsung Up. Segala kekurangan mohon di maafkan.
Terimakasih ya untuk semua dukungannya teman-temannya.
Salam dariku ~ Syala Yaya🌹🌹
__ADS_1