
"Ra," panggil ibu Halimah lembut sambil mengusap pundak Almira yang sedang duduk termenung di teras samping.
“Ya, bu,” jawab Almira menoleh lesu ibunya, dengan senyuman tipis dirinya kembali melamun.
“Apa ada yang kamu sembunyikan dari Ibu?” tanya ibunya sambil duduk di samping Almira dan menghela napasnya.
Ibu menatap Almira resah, menatap putri sulungnya ini berubah pendiam dan cepat marah, apalagi kejadian tadi siang saat kiriman orang-orang dari butik membawa pakaian pengantin untuknya, bukan kebahagiaan tapi raut wajah tidak suka. Ada apa dengan mereka berdua.
“Tidak ada, Bu,” jawab Almira menunduk memandang ujung kakinya dan memainkan sandalnya ke lantai.
“Aku itu ibumu, yang melahirkanmu. Ibu tahu, pasti ada sesuatu hal yang tidak kamu bagi bersama ibu, iya 'kan?”
Ibu Halimah mengusap kembali pundak Almira dengan lembut, menariknya hingga pundak Almira menyandar dirinya, merasakan kegelisahan yang seakan sedang melanda anak gadisnya.
“Wisnu, ceritakan tentangnya, tentang hidupnya,” ucap ibu Halimah menatap Almira dengan wajah penuh rasa penasaran.
Bagaimana cara mengungkapkan kebencianku padamu, nyatanya banyak hal yang tidak bisa aku mengerti.
“Intinya dia menyukaiku sedangkan aku belum sepenuhnya menyukainya, Bu,” jawab Almira membuat alasan.
“Tapi kau sudah menerima lamarannya, dan kata orang yang dikirimkan kesini tadi mengatakan bahwa Wisnu sudah menjadi muallaf,” terang ibu Halimah membuat Almira menoleh dengan ekspresi terkejut.
“B-benarkah?” tanya Almira dengan menundukkan kepalanya lagi, pikirannya kembali berputar.
“Saat kau sudah menerima lamaran, sudah mantap untuk menikah dan menjadi seorang istri, ibu harap kamu tidak akan berbuat hal yang membuatmu menjadi istri durhaka dengan sikap dan sifatmu,” lontar ibu Halimah mengomentari sikap ketus yang ditunjukkan anaknya itu dihadapan Wisnu maupun orang suruhan yang datang kerumahnya.
Almira menghela napasnya, segera berdiri dan melangkah pergi ke dalam rumah tanpa memandang ibunya.
*****
Suasana Rumah Sakit.
Wisnu sesekali melirik ke arah langit-langit ruangan, mendengar suara Juna mengobrol dengan tim medisnya. Sesekali mereka tertawa bersama, sungguh hal yang sangat memalukan bagi Wisnu.
Pria itu berbaring santai sambil mengerjakan tugas pekerjaan dari ponselnya, mengabaikan dengan memasang perangkat headset ditelinganya.
Risih rasanya saat Juna selalu melontarkan kata konyol yang membuat telinganya gatal untuk memberikan pelajaran untuk dokter kurang kerupuk itu.
“Bagaimana perasaanmu? Sudah selesai,” ucap Juna menepuk lengan Wisnu yang sibuk mengamati layar ponselnya hingga menoleh.
“Hah? Sudah … tidak merasakan apa-apa,” jawab Wisnu menatap keadaannya dengan menurunkan ponselnya ke samping tubuhnya.
Semua peralatan terlihat mulai ditata kembali dan mereka semua menyelimuti Wisnu kembali.
“Tentu saja, kami memakai metode peralatan medis generasi terbaru sehingga khitan menjadi aman nyaman dan tanpa menimbulkan rasa sakit dengan hasil bagus dan cepat sembuh pastinya,” oceh Arjuni seperti sedang promosi keahlian dan juga kemutakhiran kliniknya.
“Iya, percaya.” Wisnu menyahut singkat.
__ADS_1
“Mau aku memfoto before and after biar kamu bisa jadikan koleksi kenang-kenangan?” lontar Dokter Juna meraih ponsel dari saku jas putihnya setelah membuang sarung tangan karet dari jemarinya.
“Buat apa? Konyol sekali,” tolak Wisnu dengan wajah menggeleng penuh penolakan dan cibiran keras.
“Bisa di share di IG atau di FB,” jawab dokter itu terkekeh. “Bukankah kalau seorang Wisnu aku jadikan foto model sekaligus testimoni pasien yang menggunakan metode termutakhir dari klinikku. Aku bakal melejit terkenal seantero negri, benar 'kan?” ucap Juna panjang lebar terkekeh senang memandangi layar ponselnya.
“Hoi! Jangan katakan kau mencuri gambarku!” hardik Wisnu mencoba meraih tangan Juna yang mundur dari samping ranjang bangsal Wisnu semakin tergelak.
“Siapa? Aku tidak mencuri, ini bagian dari promosi,” ucapnya sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku jas kedokterannya. Tawanya masih tercipta.
“Benar-benar dokter gila,” umpat Wisnu dengan suara kesal. "Kau akan jatuh miskin kalau aku menuntutmu nantinya," ancam Wisnu merasa kesal sendiri.
“Minum obatmu, beberapa jam lagi kau boleh pulang, ngomel terus.”
“Aku tidak opname?” tanya Wisnu memandang Juna yang berjalan mengintari bangsal berniat mau keluar ruangan praktiknya. Beberapa tim medisnya sudah pergi semua dari dalam sana.
“Kenapa harus opname? Memangnya kau kenapa?” tanya Juna menggoda diiringi tawanya.
“Aku kira aku harus di rawat selama 3 hari,” seloroh Wisnu dengan wajah merasa kaget juga, apa yang ada dibayangan tidak seperti kenyataan.
“Bilang saja, lukamu ingin di rawat suster cantik disini?” ucap Juna tertawa geli dengan kekonyolan seorang Wisnu.
“Pergi sana! Membuatku kesal saja,” hardik Wisnu merasa malu sendiri dengan keluguannya.
Juna terbahak sambil melambaikan tangannya, dengan kepalan tangan menimpa kasur Wisnu menghembus napasnya karena menahan diri geram sekaligus ingin menertawai dirinya sendiri.
Menelaah kembali kehidupannya setelah ini, sebuah harapan dan juga jalan hidup sangat berbeda dengan yang selama ini dia jalani.
Mengunjungi kakaknya Aswa Tama di penjara, Krisna dan Isna mantan bos besarnya yang sudah seperti keluarganya, juga Alan keponakannya. Apa mereka semua akan mendukung?
Kesepian, rasa yang seumur hidup harus dia jalani. Dengan pernikahan ini, Wisnu ingin membuang rasa itu. Tapi kenyataan bahwa awal dari rencana ini hanya sebuah tanggung jawab sebrnarnya cukup menyesakkan dirinya juga. Sebuah rasa yang masih rancu apakah benar tidak ada rasa cinta pada sosok gadis ketus yaitu Almira.
Gadis tegas yang selama ini menjadi type idealnya.
Pintu ruangan yang terbuka dari luar membuat Wisnu menoleh ke arah sana. Ihsan terlihat memasuki ruangan dengan senyuman. Wisnu segera berdecak dengan gelagat sorot mata seakan menggodanya itu. Ihsan segera berdehem mengusir pikirannya yang menerka-nerka keadaan bosnya.
“Pulang jam berapa?” tanya Wisnu mengalihkan pandangannya dari Ihsan.
“Satu jam lagi, Pak.”
“Terus, apa kau mau menemaniku nanti malam di rumahku?” tanya Wisnu lagi.
“Jangan katakan Anda takut?” sindir Ihsan mengambil kursi dan duduk tidak jauh dari tempat Wisnu terbaring.
“Ck! Siapa? Aku takut katamu. Kau tidak mengenalku dengan baik, aku bahkan pernah berjibaku dengan peluru menerjang tahu tidak?” omel Wisnu merasa diremehkan Ihsan.
“Apa biusnya belum hilang?” sahut Ihsan melipat bibirnya ingin tertawa.
__ADS_1
“Isk!” Wisnu berdecak memandang Ihsan yang malah terkekeh.
Wisnu segera bangkit dari tidurnya dan turun dari bangsalnya. Turun perlahan dan berjalan dengan langkah hati-hati. Ihsan ikut berdiri mengikuti.
“Pulang sekarang saja, lama-lama tensiku akan naik kalau disini terus,” desis Wisnu melirik Ihsan yang seakan tersindir malah terkekeh.
“Anda yakin?” seloroh Ihsan masih menggoda.
“Nyatanya tidak terasa apa-apa. Dasar! Bisamu menakutiku,” sungut Wisnu membuka pintu ruang praktek Juna.
“Hehehe … kan jaman dulu tidak sehebat sekarang peralatannya,” jawab Ihsan meringis malu.
“Alasan!” decak Wisnu lagi.
“Lewat sana, Pak. Kita memakai lift,” ajak Ihsan mendahului Wisnu yang mulai nyaman dengan gerakan langkahnya.
Ternyata semua bayangan kengerian tidak dia rasakan, benar-benar Assisten juga Juna berhasil menakut-nakutinya. Wisnu mengikuti Ihsan dengan hati bersungut kesal.
“Kalau ke sini bisa memakai lift, kenapa kita tadi harus berjalan memutar dan naik tangga?” tanya Wisnu kesal.
Ihsan berjalan didepan masih tersenyum mengabaikan.
Ini 'kan kesempatan langka bisa melihat sisi hidup anda yang lucu, Pak.
Ihsan membatin masih tersenyum sambil menekan tombol lift menuju lobby Rumah Sakit.
Aku menghawatirkanmu seperti aku menghawatirkan diriku. Dalam diam kita saling peduli, dalam diam kita saling memuji.
Seperti pertemuan bulan dan bintang kita saling mengisi juga saling merasa tersaingi. Tapi tetap saat kita tidak saling hadir di malam gelap yang sama bukankah kita juga saling merindu? (Wisnu-Ihsan)
Bersambung …
Maaf ya update tidak bisa rutin, tapi akan diusahaan dobel ya hehe (hari ini 3 bab sedang review)
Terimakasih masih setia menunggu dan menikmati cerita ringan ini ya. Untuk Like, Komentar juga Vote yang luar biasa bagiku ^_^ .
Pokoknya terimakasih ya.
Baca juga ya novel keren karya temanku, bantu Rate bagus juga yaa teman-teman semua❤
Abang Eka Pradita
Dedek Risma
__ADS_1
Salam Cinta dariku -Syala Yaya🌷🌷