Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 120 Nostalgia


__ADS_3

Pelukan selamat didapatkan Yashna dan Alan sepanjang acara pernikahan mereka. Adiknya, Isna yang tampak cantik juga datang. Ada bundanya, Kartika dan Yashna tahu bagaimana masa lalu mereka. Alan juga mengucapkan beribu-ribu syukur karena apa yang menjadi harapannya bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Statusnya kini sudah sah menjadi suami Yashna.


Setelah acara selesai Wisnu memeluknya dengan erat di luar Gereja bersama Almira dan Si Kecil Sekar yang sangat cantik dengan gaun pestanya.


“Aku sudah mem-booking hotel untukmu,” bisik Wisnu tersenyum nakal pada Alan.


“Kejutan indah,” jawab Alan sama-sama tergelak bersama pamannya. “Aku tahu paman paling pinter ngurus hal-hal berbau adegan dewasa.”


“Jangan main-main kalian, ya,” sungut Yashna menebarkan aroma perseteruan.


“Tidak ada urusan denganmu!” sahut Wisnu dan Alan bersamaan. Mereka kompak memberikan tatapan masam membuat Yashna menggelengkan kepalanya.


“Aku butuh penjelasan. Kita bicara lagi setelah aku menemui Isna,” bisik Yashna pada Alan.


“I'm yours! Kapan saja kau butuh, aku siap!” sahut Alan sambil menyunggingkan senyuman.


Wisnu yang melihat adegan itu terbahak-bahak. Pasangan yang sangat rumit, katanya dalam hati. Ia pun memilih untuk menarik Alan agar berkumpul dengan Depe dan Ihsan, pasangan itu target mereka berikutnya daripada menggoda Yashna.


“Aku ragu kau bisa memenangkan pertarungan dengannya,” godanya pada Alan.


“Aku akan menyerahkan diri, kok,” balasnya dengan gaya usapan lembut pada dagunya. “Tidak akan melawannya. Aku akan ikuti gayanya.”


“Sinting juga keponakanku,” balas Wisnu masih tertawa terbahak-bahak.


“Aku juga salut dengan misi hidup keren Paman,” bisik Alan merangkul Wisnu yang tingginya seimbang dengannya, hanya menyisakan beberapa sentimeter—lebih tinggi Alan.


“Misiku apa?” tanyanya tidak acuh. Keningnya berkerut.


“Menikahkan semua mantan?” kata Alan terkekeh. “Jatahku Yashna, lalu Depe untuk Ihsan, bukankah begitu?” canda Alan.


Wisnu hanya menanggapi ucapan Alan dengan jotosan pada lengan Alan lalu mengambilkan air minum yang berada di meja, untuk Almira yang menggendong Sekar ketika melewati mereka.


“Kita menemui Depe sama Ihsan dulu?” tawarnya pada sang istri.


“Boleh,” sahut Almira mengangguk setuju.


Setelah acara ini Wisnu sudah membuat kejutan untuk Alan, ia menyiapkan makan malam untuk menjamu semua tamu, terpisah dengan Erick maupun Julia. Wisnu tahu, tidak baik menggangu acara pernikahan orang lain. Mereka berhak bahagia tanpa didompleng Alan dan Yashna.


Alan mengikuti langkah paman dan bibinya menuju ke rombongan Depe dan Ihsan yang sudah berjalan hendak ke mobil, tapi berbincang dulu dengan kenalan mereka.


“Hai, Azka!” sapa Almira seperti biasa, begitu mudah berkomunikasi dengan anak kecil. “Kenalan sama dek Sekar.”

__ADS_1


“Hai, cantik!” sapa balik Depe menarik pipi Sekar dengan bibir gemas, lalu menunduk untuk membisik pada putranya agar menyapa. “Sayang, sapa tante sama om!”


“Om Wisnu, Tante Ira, Uncle Alan!” sapa Azka dengan wajah tampan menggemaskan. Ia mengulurkan tangannya untuk menyalami.


“Hai Azka,” sambut Alan dan Wisnu membalas uluran tangan anak mendiang Imran itu ramah, begitu juga Alan.


“Selamat, ya, Alan. Aku tadi sudah bertemu dengan Yashna di dalam.” Depe memeluk Alsn seraya menepuk bahunya.


“Terima kasih.” Mereka saling melepaskan diri, berbalas senyum.


“Oya, undangan makan malam sudah disebar 'kan, tadi?” tanya Wisnu beralih pada Depe.


“Oh, iya. Aku akan datang.” Depe pun mengangguk sambil menatap Ihsan yang juga mengangguk.


“Tapi aku bagian dari staf hotel, akan menyusul di sela kerja,” kata Ihsan memberikan informasi pada Depe.


“Okay, kita akan bertemu di sana,” sahut Depe tidak mempermasalahkan hal itu.


“Sudah satu misi sepertinya,” ledek Alan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ihsan lalu melangkah pergi dari sana karena jelas pria itu mendelik padanya.


***


Yashna menemui Isna dan Krisna, mereka berjalan beriringan keluar dari dalam Gereja. Yahsna yang mematung di tengah pintu mengulas senyuman.


Keduanya larut dalam rasa haru yang tidak pernah terlukiskan dengan kata-kata. Pertalian darah, tetapi tidak mampu mendekat karena sebuah situasi rumit di masa lalu. “Ayah pasti akan sangat bangga melihatmu begitu cantik.”


“Beliau tidak—”


“Beliau menyayangi kita, Kak. Aku tahu, hanya saja kebersamaan kita tidak lama untuk mengenang hal-hal yang tidak masuk keseluruhan dalam kenangan masa kanak-kanak.” Isna menyela, meletakkan ujung jemarinya pada bibir Yahsna. “Kita sibuk bertahan hidup, kini saatnya Kak Yashna bahagia.”


Yashna mengangguk setuju. Tidak ada yang bisa dilakukan selain berdamai dengan masa lalu. Tidak ada gunanya mengingat dan berkutat pada masa itu.


Yashna menatap Krisna yang diam menyimak percakapan dengan Isna. Yashna tahu, pria itu belajar banyak bagaimana hidup yang sesungguhnya sejak bersama Isna. Namun, ketika melihat ibu mertuanya duduk di dalam Gereja, lurus menatap ke arah patung Yesus, dadanya seketika nyeri.


“Bunda ada di sini,” gumam Yahsna menatap Isna.


“Aku sudah menyapanya, tidak ada masalah di antara kami. Krisna juga, tapi tidak tahu dengan hatinya,” goda Isna.


“Mulai lagi,” sahut Krisna mencubit pipi istrinya disambut kekehan.


“Sepertinya dia terjerat semak belukar,” goda Isna lagi-lagi tertawa.

__ADS_1


Krisna tidak bisa menjawab godaan itu. Bila mengingat bagian di mana dia mempermainkan hati Isna, rasanya ingin menjitak kepalanya sendiri.


“Temui ibu mertuamu, kami permisi,” ucap Krisna dengan suara datar.


“Baiklah, aku temui bunda dulu,” pamit Yashna pada Isna.


“Tentu, dia sangat bahagia dengan keputusan kalian berdua menikah. Kau beruntung memiliki mertua seorang Kartika. Dia masih sangat muda, berikan banyak cucu untuknya biar tidak kesepian,” kata Isna memegang tangan Yahsna.


“Kau bisa saja. Ya sudah, terima kasih atas dukungannya.”


“Kami juga permisi pulang.” Krisna pun meraih pundak Isna agar melanjutkan langkahnya keluar dari sana.


Yashna berjalan dengan tatapan penuh kerinduan untuk Kartika. Sudah lama tidak berjumpa dengannya, sejak pulang ke Indonesia. Mereka tidak saling menyapa meskipun melalui telepon.


“Bun,” sapanya pelan.


“Oh, hai Yashna!” tatapan berkaca-kaca kini mengarah padanya. “Kau cantik sekali.”


Keduanya berpelukan, melepaskan rindu yang menggebu. Sudah lama ia menunggu Alan, satu-satunya darah dagingnya hidup bahagia. Yashna pilihan yang tepat dan dia menyukai gadis itu, tidak peduli dengan usia. Dulu ia pernah menjadi wanita yang dicintai pria muda begitu menggebu—sama seperti cara Alan mencintai Yahsna.


“Pesanku padamu, Sayang. Jangan pernah membuat kesalahan seperti apa yang pernah bunda lakukan. Kini, karma itu berjalan, Krisna yang pernah kukhianati hidup baik dan bahagia, sedangkan aku masih belum mampu melupakan sosoknya,” bisik Kartika membuat Yashna tercenung dengan kenyataan itu.


“Bunda tidak pernah menyalahkan Krisna juga Isna. Mereka layak bahagia. Hanya saja, sering bunda memikirkan seandainya dan seandainya. Tapi, seperti yang seharusnya. Penyesalan selalu datang belakangan.”


“Bunda,” bisik Yahsna memeluk erat tubuh Kartika.


“Wisnu sudah menyiapkan makan malam di Hotel Sentosa.” Kartika melepaskan diri dari pelukan Yashna, mengusap pipi menantunya yang basah air mata. “Selamat atas pernikahanmu, Sayang.”


“Aku kira … aku mengira sudah kehilangan Alan, Bun,” ungkap Yashna sesegukan. “Dia berhasil membuat aku seperti ingin mati.”


“Sayang.” Senyuman Kartika pun terbit seketika. “Terima kasih sudah mencintai anakku.”


“Terima kasih, Bunda mau mempertahankan Alan hingga terlahir. Terima kasih sudah melahirkan jodoh Yahsna.”


Kedua perempuan itu saling menautkan jemari tangan dalam rasa haru.


***


“Bersedihlah ketika menyakiti hati orang. Menyia-nyiakan cinta, ketulusan, dan kebaikannya. Bukan hanya saat dicampakkan. Karena taukah? Sesungguhnya orang yang telah berlaku zalim, hidupnya tidak pernah diberikan ketentraman. Ia akan menuai setiap jengkal kesalahan yang telah diperbuat.”


Syala Yaya

__ADS_1


Salam rindu dari aku, Sobat Syala Yaya😍😍😍😍


__ADS_2