Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 35 Perseteruan Terbuka


__ADS_3

Wajah Wisnu menegang, telinganya memanas saat mendapatkan lontaran di depan umum itu. Beberapa orang yang keluar masuk lift memandang dirinya dan Bagus bersitegang. Tangannya terkepal erat menahan diri agar tidak sampai berbuat hal tidak terpuji, memukuli pria mulut kurang ajar yang telah menguji kesabarannya itu.


“Lepaskan Ira dan masalah selesai,” ucap Bagus dengan suara tajam bak pisau di telinga Wisnu.


Dengan cepat Wisnu meraih krah kemeja Bagus dan menariknya menjauhi lift, mendorongnya cepat hingga terpelanting dan punggungnya membentur tembok. Dirinya tidak menyangka lontaran kotor itu kembali harus didengarnya. Menyuruhnya melepaskan, itu sudah seperti sebuah penghinaan baginya.


Bagus terkejut dengan apa yang dialaminya, terlalu cepat dan terlalu kuat tenaga Wisnu hingga membuatnya tidak kuasa untuk melawannya.


“Apa kamu kira aku tidak tahu akal busukmu, Hem?” desis Wisnu dengan gigi gemerutuk menahan kegeramannya. "Berani-beraninya bicara sembarangan denganku."


“Jangan memutar balikkan cerita,” adu Bagus tersenyum sinis sambil meraih tangan Wisnu yang mencengkeram krah kemejanya agar dilepaskan, tangannya menarik keras namun nyatanya sulit sekali terlepas. Tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Wisnu.


“Kita lihat, siapa di sini yang busuk. Kamu tidak tahu saat ini sedang bermain-main dengan siapa?” sahut Wisnu menyebarkan seringai dingin.


Bagus memandang sorot mata tajam dan dingin dari Wisnu, saling memandang hingga Ihsan meraih pundak mereka berdua agar berhenti.


“Ini tempat umum, security akan datang ke sini dan mengusir kalian kalau kalian sampai membuat rusuh di Rumah Sakit ini,” ucap Ihsan melerai ketegangan itu.


“Dia yang mencari gara-gara dengan kita,” jawab Wisnu masih berada di posisi unggulnya. "Lihat saja, kalau sampai kamu berani menyentuh istriku, akan aku babat habis kamu hingga namamu pun akan terhapus dari daftar keluargamu," tegas Wisnu menghadap Bagus yang masih meronta mengibaskan cengkeraman tangannya.


“Sudah, Pak. Kita pulang saja kalau begitu, untuk apa kita melihat keadaan Depe kalau ternyata keluarganya saja menolak.”


Wisnu melepaskan cengkeraman tangannya setelah mendorong keras tubuh Bagus hingga kembali membentur tembok. Dengan sengalan napasnya Bagus meraih kemejanya dan merapikannya kembali dan masih bersikap sinis menatap Wisnu.


Aku harus mencari tahu siapa pria ini sebenarnya. Bagaimana mungkin dia bisa sekuat ini. Sial, Almira mendapatkan perlindungan dari pria berkuasa. Benar-benar sial.


“Kamu pasti Wisnu?” Suara seorang wanita dari arah belakang membuat Wisnu menoleh. Diikuti Ihsan.


Seorang wanita berjalan mendekati mereka bertiga. Wisnu memberikan salamnya kepada ibunda Depe yang terlihat menenteng paperbag di tangan kirinya. Senyumnya mengembang.


“Iya, Tante. Saya Wisnu,” jawab Wisnu sopan, “Dan ini Ihsan,” tambahnya memperkenalkan Assistennya kepada ibunda Depe.


Mereka saling bersalaman, hingga Bagus yang merasa diabaikan segera pergi meninggalkan tempat itu. Wisnu memandang punggung pria itu dengan heran. Belum saling mengenal tapi sikapnya sudah kurang ajar. Dia tidak menyangka Depe punya adik bengal seperti dirinya.


“Anakku sedang terguncang, menantuku pergi secara tiba-tiba akibat serangan jantung,” ungkap ibunda Depe dengan suara dan raut wajah sedih.


“Saya datang melayat juga, Tante,” sahut Wisnu diberi senyuman ibunda Depe.


“Maafkan Tante yang dulu sudah pernah bersikap buruk padamu,” ucap ibunda Depe menunduk malu.


“Saya sudah lupa, Anda tidak perlu khawatir,” jawab Wisnu dengan suara tegas.


“Kita pulang atau menjenguk ini, Pak?” tanya Ihsan mulai tidak nyaman. Merasa wanita ini mencoba bernegosiasi dengan cara halus, dia merasa Wisnu menjadi canggung karenanya.


Wisnu menoleh ke arah Ihsan dan tersenyum manis, merasa senang saat pria humoris dan cerdas itu membantunya terbebas dari pembahasan tidak penting yang menyita waktunya.


“Kita sholat Ashar dulu, baru kita menjenguk Depe,” jawab Wisnu cepat.


Ibunda Depe menatap Wisnu dengan guratan wajah bahagia, mendengar kata sholat yang terlontar dari bibir Wisnu seolah angin segar menerpa wajahnya. Terlihat wajah seri menghiasi senyumannya.


“Jadi, kamu sudah muallaf?” tanyanya dengan suara senang.


“Iya, Tante,” jawab Wisnu mengangguk, dia tidak mau membahas hal ini juga.

__ADS_1


“Kami permisi, Nyonya,” pamit Ihsan membalik badan diikuti Wisnu yang segera berpamitan dan menyusul Ihsan.


Wisnu berjalan dengan langkah bersemangat, meraih pundak Ihsan agar bisa berjalan beriringan, seperti kebiasaannya kalau sedang pergi dengan Assisten sekaligus dia anggap saudara itu.


“Untung Anda sudah menikah,” lontar Ihsan dengan suara gayanya tanpa memandang Wisnu yang masih berjalan dengan lengan berada di pundaknya.


“Memangnya kenapa?” tanya Wisnu bersungut. Ledekan selalu saja berhasil Ihsan lontarkan kepadanya dalam situasi apapun.


“Kalau ada yang melihat sikap Anda terhadap saya, mereka bisa salah paham dan mengira kita sedang pacaran,” oceh Ihsan segera didorong pundaknya oleh Wisnu kesamping dengan iringan tawa. Ihsan pun ikut tertawa juga dengan kekonyolan pikirannya.


Mereka berdua berjalan beriringan lagi menuju mushola masih sesekali tawa terlepas.


“Aku jadi ingat dulu saat Isna sempat salah paham denganku,” ungkap Wisnu segera ditarik pundaknya oleh Ihsan karena ingin mendengar lebih jelas cerita tentang istri cantik tuan Krisna itu.


“Salah paham? sepertinya seru,” ulang Ihsan merasa antusias.


“Iya, dia mengira aku menyukai sesama pria. Hahaha … rasanya aku ingin tertawa kalau mengingatnya,” kenangnya sambil sambil tertawa menoleh Ihsan yang ikutan tertawa.


“Jadi itu yang membuat Anda gagal mendapatkannya?” tanya Ihsan lagi merasa kasihan juga. Dia apal selama dua tahun bila menceritakan kisahnya bersama Isna pasti membuat moodnya membaik.


"Jangan salah, aku bisa dekat dan akrab dengannya gara-gara kesalahpahaman itu," jawab Wisnu membela diri.


"Strategi yang payah," ejek Ihsan mencibir. "Lalu kenapa akhirnya kalian tidak bersama? karena tuan Krisna kaya dan berkuasa?" tanya Ihsan makin merasa penasaran.


“Salah satunya, karena dia berusaha melindungiku. Suaminya sangat posesif dan berkuasa. Kalau dia sampai terlihat membalas cintaku, sudah pasti aku hanya tinggal nama saja,” jawab Wisnu membuat Ihsan bergidik ngeri.


"Anda sangat menyukainya?" tanya Ihsan sambil membekap mulutnya merasa keceplosan.


“Lalu bagaimana dengan Depe?” tanya Ihsan menyelidik.


“Aku berusaha, nyatanya aku seperti sedang berakting,” kenang Wisnu tersenyum tipis.


“Lalu, Almira … bagimana?” tanya Ihsan merasa ragu bertanya.


“Dia?” ulang Wisnu membuat Ihsan mengangguk sangat penasaran.


“Rasanya seperti apa yang aku rasakan terhadap Isna. Rasa ingin melindungi dan memiliki, seperti yang aku katakan berulang kali. Aku yakin kalau aku mencintainya, aku akan mempertahankannya agar tidak sampai meninggalkanku, dan aku beruntung punya ikatan kuat dengannya, yaitu pernikahan yang sah,” ujar Wisnu segera diberi tepukan pundaknya oleh Ihsan memberi dukungan.


“Anda menantu kesayangan mertua, kalau Almira membangkang laporkan saja pada orang tuanya, urusan pasti beres,” kelakar Ihsan segera diberi tawa Wisnu.


Obrolan mereka berdua terhenti saat mereka ternyata sudah berada di depan Mushola rumah sakit. Mereka berdua segera berjongkok dan melepaskan sepatu mereka di luar batas suci dan masuk ke dalam area untuk mengambil wudhu.


Adzan berkumandang saat mereka berdua selesai berwudhu, melangkah masuk ke dalam area dalam Mushola dan bergabung dengan para jamaah lain yang sudah mulai berdatangan hendak melakukan ibadah secara berjamaah.


Wisnu berada di shaff paling belakang, merasakan hidup berputar tidak sendirian. Dia menatap banyak wajah-wajah baru dikenalnya. Bercampur diantara petugas medis dan juga keluarga pasien yang dirawat di Rumah Sakit ini.


Batinnya menjadi tenang, semua ujian hidup terkadang silih berganti hadir mampir. Tinggal bagaimana cara menyambutnya, menyapa tamu bernama ujian itu saat datang. Menerimanya dengan tenang ataukah dengan sikap meradang.


Wisnu menyadari pernikahannya tidak semudah itu akan berjalan mulus. Hanya dengan menyembuhkan psikis Almira dari rasa trauma yang timbul, tapi dari orang -orang sekitarnya yang mempunyai niat terselubung dalam merusak hubungan pernikahannya.


“Pak Wisnu,” bisik Ihsan membuat Wisnu menoleh dan mengangkat dagunya isyarat menjawab.


Kini mereka berdua sedang duduk bersila saling berdampingan, menunggu waktu shalat tiba.

__ADS_1


“Anda harus bersikap selayaknya suami siaga agar disayang sama istri,” bisiknya lagi mendekatkan dirinya di telinga Wisnu agar bisa terdengar.


“Apa maksudnya?” balas Wisnu berbisik.


“Anda harus bersikap seperti sosok suami idaman,” jawab Ihsan lagi masih berbisik.


“Apa itu suami idaman?” gumam Wisnu segera ikut jamaah lain berdiri saat Iqamat selesai berkumandang dan saatnya shalat ashar dimulai. "Masih jomblo, tapi sudah sok ngajari jadi suami siaga, suami idaman," celetuk Wisnu sambil melipat bibirnya menahan tawa.


Ihsan yang sudah terdiam dengan posisi niat, matanya mendelik ke arah Wisnu yang terlihat sedang menahan tawa.


Dengan helaan napasnya dirinya segera hanyut dalam niat menyembah sang Khaliq, begitu pula dengan Wisnu yang segera mendengar suara imam sudah mengucap takbir.


***


Keselarasan hidup dimulai saat engkau bisa menyelami rasa antara merasa bersyukur atau tersungkur.


Saat bayangan masalalu indah kau buat kenangan agar maju dan bukan menjadi sosok semu yang menghentikan langkahmu.


Saat itu pula kamu telah mampu menepikan rasa sesak menjadi bahagia.


Rasa duka lara yang pernah hadir sirna bersama penyembuhan sang waktu.


Kebahagiaan bukan hanya untuk diraih tapi disyukuri dan dinikmati.


Begitu pula saat ujian datang, bukan untuk ditentang ataupun kita sambut dengan sikap meradang.


~Syala Yaya.


Bersambung …


Hallo semuanya, terimakasih ya masih bersama Wisnu-Almira.


Terimakasih banyak juga ya untuk semua Like, komentar dan juga vote luar biasa dari kalian semua.


Baca juga karya sahabatku sambil menunggu updateku biar nggak bosan. Dijamin seru-seru novelnya👍👍👍


Kak Tya Gunawan ( Trio Somplak and the gank) dijamin ngakak



Juga kak Asa



Juga kak Eka



Kak Ema



Salam segalanya dariku ~Syala Yaya🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2