Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 111 Ide Gila Paman


__ADS_3

Suara nyaring dari teko yang menandakan air telah mendidih berhasil memecah keheningan. Pria itu terlihat kusut, menatap nanar ponselnya yang tidak bisa lagi mengirimkan pesan kepada wanitanya. Nomornya telah diblokir.


"Pagi-pagi datang ke sini hanya untuk ini, merenung? Astaga!" Suara decakan keluar dari mulut Wisnu.


Weekend kelabu, pikirnya. Hari masih gelap, pukul lima pagi dan saat itu Wisnu baru pulang dari Masjid untuk menunaikan ibadah subuh berjamaah, mendapati keponakannya sudah menunggunya di depan pagar rumah. Tampangnya sangat mengenaskan.


"Ada masalah apa?"


Wisnu menuangkan air jerang tersebut ke dalam dua cangkir yang sebelumnya telah diisi dengan gula dan kantung teh. Ia sesekali mengamati wajah tampan keponakannya dengan senyuman tipis.


"Kamu tidak bisa tidur karena patah hati?" tanya Wisnu masih betah menggoda.


"Ish! Kacau!" decak Alan seraya meletakan dengan kasar ponselnya ke atas meja. Ia menatap lesu pamannya yang mulai bergerak menghampiri meja makan di mana dirinya berada.


"Apa ada hubungannya dengan Yashna?" tebak Wisnu.


Alan mengangguk pelan. Apa yang dilakukannya kemarin sangat konyol dan terlintas begitu saja. Ia merasa putus asa dan emosinya yang meletup ternyata malah menutup jalan yang sudah dengan susah payah dirintisnya untuk memperbaiki keadaan. Ia yakin bahwa semua akan semakin rumit dari apa yang seharusnya.


"Aku bilang padanya kalau aku akan menikah dengan wanita lain," ungkap Alan.


"Dengan?" Meskipun terkejut, Wisnu mencoba untuk tidak menunjukkannya.


"Wanita yang aku temui dalam dua bulan ini selama Yashna menghindar dari aku." Alan menatap ekspresi wajah pamannya yang menatapnya penuh tanya.


“Wah! Kamu serius?” Wisnu mencangah, menggeleng tidak percaya. "Kamu akan menikah dengan wanita yang tidak begitu kamu kenal?“


”Bukankah Paman dulu juga begitu!“ gertak Alan kesal bukan main.


Wisnu pun berdeham, menyadari bahwa dulu ia juga melakukan hal yang sama. "Iya, tapi kasus kita 'kan berbeda, Alan."


”Aku tahu,“ sahut Alan memahami posisi pamannya saat itu.


”Lalu apa yang dikatakan Yashna?" Wisnu memandang datar ke arah keponakannya seraya meletakkan cangkir berisi teh ke atas meja dan menyodorkan satu di antaranya ke hadapan Alan.


"Dia mengucapkan selamat," jawab Alan lesu. “Sial!”


"Pfffftttt!" Wisnu tidak sanggup lagi menahan geli. Tentu saja, ia sudah mencoba untuk tidak menertawakan keponakannya. Namun, dari sana ia bisa merasakan kegundahan hati pria itu hingga rasa geli meledak begitu saja.


"Paman!"


“Maaf.” Wisnu menutup mulutnya rapat, tetapi hatinya tetap saja merasakan kekonyolan yang dilakukan Alan sangat menggelitik.


"Mas Inu! Keponakan lagi galau kok malah diketawain, sih? Ikut berempati, kek," komentar Almira yang kini memasuki area dapur dengan menggendong Sekar yang sudah ikut bangun.


"Ya, mau gimana? Dia yang berulah." Wisnu masih tertawa geli.

__ADS_1


“Bibi menguping?” Alan menatap malu istri dari pamannya tersebut, meski pada dasarnya ia tidak marah dan tidak peduli. Keluarga pamannya merupakan tempat ternyaman untuk pulang dan berbagi cerita.


"Perempuan itu siapa?" tanya Almira seraya menyerahkan putrinya kepada Wisnu. Ia akan bersiap untuk salat subuh di rumah.


"Fiktif, tidak ada yang bisa menggerakkan hatiku sampai tertarik menikah selain dengan Yashna!" jawabnya dengan suara jengkel.


“Lho, kok? Terus?” Almira menggeleng sambil tersenyum geli.


“Ada banyak wanita yang mendekatiku, tapi yang mirip Yashna mungkin cuma bayangannya Yashna saja.” Alan menatap Wisnu dan Almira bergantian. Ia merasa butuh bantuan.


“Ok, ada banyak wanita yang menyukaimu, tapi sebenarnya tidak ada yang ingin kamu nikahi, apa begitu maksudmu?” urai Wisnu memandang Alan dengan tatapan simpati, tetapi hatinya masih tergelitik untuk terus tertawa. Rasanya ia seperti merasakan dejavu atas apa yang terjadi pada Alan. Ia mengingat kembali saat Almira berniat untuk mengembalikan apa yang menurut istrinya—merebut dari Depe, dan itu membuatnya patah hati.


"Aku hanya ingin menggertak, tapi malah diberikan ucapan selamat. Menjengkelkan!“


"Semua orang pasti akan melakukan apa yang Yashna lakukan untuk menutupi perasaan yang sebenarnya," lontar Wisnu kemudian. "Kalau bukan ucapan selamat, lalu maumu apa?”


“Ya ... bisa saja 'kan dia bilang jangan atau ... nangis, gitu. Masa malah ngucapin selamat!" Pria itu menggerutu.


Almira hanya tersenyum, tidak menanggapi dan memilih meninggalkan kedua pria itu agar lebih leluasa dalam berbagai cerita dan mencari solusi bersama. Alan pun merasakan


iri dengan kehidupan pernikahan pamannya yang menurutnya sangat indah. Harapannya sangat tinggi untuk segera berumah tangga dan membunuh rasa sepi yang dirasakannya sejak ia mengenal dunia.


"Yashna saat ini pasti sangat terguncang, aku yakin," tambah Wisnu mulai menarik perhatian Alan hingga sepenuhnya pria itu menyimak apa yang disampaikan pamannya tanpa menyela.


"Maksud, Paman?"


"Yashna sudah cerita sama Almira semalam. Dia minta masukan dari dia, harusnya bagaimana karena kamu juga bersiap membingungkan," jawab Wisnu cukup mengagetkan Alan. Ia tidak menyangka kalau Yashna bisa sedekat itu dengan Almira.


"Itu ... aku kesal dan emosi, jadi aku hilang akal dan menciumnya. Tapi sumpah—dia tidak menolak," ungkap Alan mencoba untuk menjelaskan.


"Almira meminta Yashna untuk menggagalkan rencana pernikahan kamu," ucap Wisnu masih sambil menggoda putrinya yang terkekeh-kekeh geli.


"Hah! Bibi—"


"Dia tahu kalau kalian itu pasangan yang sedang berjuang untuk menyamakan persepsi dalam beberapa hal. Lakukan apa yang kamu rencanakan, kupastikan Yashna yang akan menjadi mempelainya,” kata Wisnu menyakinkan Alan dengan tatapan matanya.


“T-tapi, bagaimana caranya?” Alan mengacak-acak rambutnya karena merasa frustrasi. Ia tidak mungkin berpura-pura akan menikahi salah satu dari beberapa teman wanitanya dan mencampakkan mereka begitu saja. Ah! Pria itu kesal dengan tingkahnya yang tidak masuk akal.


“Alan yang sok dewasa, nyatanya tetap saja masih bocah,” goda Wisnu tertawa sambil membawa Sekar keluar dari area dapur.


“Hoi, bikin anak seperti Paman aku juga bisa!” hardiknya kesal bercampur malu dan geli sendiri.


“Merebut hati gadis impian aja tidak mampu, masih bersikap sok keren!” Wisnu masih melontarkan godaannya pada sang keponakan.


Alan menyusul pamannya keluar rumah. Kini mereka berada di halaman untuk mengisi paru-paru dengan segarnya embun dan udara yang terasa masih bersih. Wisnu melirik ke arah Alan yang kini sedang melakukan peregangan ringan. Pria itu mengulas senyuman tipis, paham dengan beban yang dihadapi keponakannya seorang diri. Ia merasa senang karena Alan sudah mau melibatkan keluarganya dalam menghadapi lika-liku kehidupannya. Itu tandanya, Alan memercayai dirinya sebagai seorang paman.

__ADS_1


“Hubungan kita apa?” tanya Wisnu memancing Alan untuk berpikir lebih cepat.


“Musuh!” jawab pria itu sambil mendelik padanya. Alan sedang malas bercanda.


Wisnu tertawa kecil, benar-benar hiburan pagi yang menyenangkan. Masa mudanya tidak semenarik Alan. Niatnya melamar Depe yang gagal karena wanita itu menikah dengan kakak tiri Krisna mengajarkan bahwa misteri jodoh itu ada. Kejadian bersama Almira yang mencoreng namanya, salah satu pelajaran pentingnya bersikap waras dalam segala hal. Ia tidak ingin Alan mengalami itu semua.


“Jangan pernah menyentuh wanita yang belum menikah denganmu secara sembarangan, Alan!” tegasnya mengagetkan Alan.


“Maksudnya?”


Wisnu pun berdecak, bahkan kakinya menghentak hingga Alan tertawa. "Iya, satu-satunya wanita yang aku cium cuma Yashna, sumpah!“ aku pria itu kemudian. ”Aku cuma berteman biasa, dan sikapku pada mereka itu salahnya cuma pada budaya yang selama ini bersebrangan dengan budaya yang Yashna pahami. Sumpah, Paman! Aku cuma memeluk mereka saat bertemu seperti orang-orang Australia pada umumnya tanpa ada rasa cinta, nafs*, atau apa pun itu seperti yang Yashna kira. Cintaku cuma untuk Yashna, tidak ada wanita lain.“


Wisnu pun paham apa yang disampaikan Alan padanya. Budaya Indonesia sangat berbeda dengan budaya barat yang tidak ada batasan sentuhan fisik terhadap lawan jenis. Ia pun sedih saat menyadari keponakannya seperti anak terbuang dan memang tidak diasuh oleh keluarganya yang sudah carut marut sejak awal.


“Kak Ratu punya kakak, 'kan?” tanyanya dengan nada serius.


“Iya. Dia orang yang telah mengadopsi dan merawatku sejak bayi,” jawab Alan dengan tatapan penuh kesedihan bila mengingat cerita masa lalunya.


“Berarti kamu punya saudara, dong? Anak perempuan ayah angkatmu, atau sepupu perempuan, misalnya?" pancing Wisnu tersenyum sambil menciumi pipi gembul anaknya dengan penuh sayang. Matanya tidak teralihkan dari Sekar.


”Maksudnya—“ Alan ternganga dengan pemikiran pamannya yang tidak pernah terduga. Ia pun mengerjapkan matanya dengan bibir merekahkan senyuman.


”Begitulah kira-kira,“ kilah Wisnu melirik Alan sambil tersenyum simpul ”Kita akan sekalian menguji perasaan Yashna terhadapmu, atau bisa juga kita akan menggiringnya pada situasi yang membawanya kembali padamu.”


”Oh My God! Tidak bisa kupercaya!“ Alan tertawa seperti orang gila. ”Ok, aku mengerti. Aku akan menemui kakak perempuanku yang cantik,“ katanya dengan tawa semangat.


”Kamu yakin bisa meminta bantuan padanya? Harus minta izin pacarnya atau kamu malah tambah bikin masalah baru!“ saran Wisnu menyiratkan kehati-hatian.


”Siap, Bos. Aku kenal baik pacar kakakku,“ sahutnya sombong.


”Tapi tidak kenal pacar sendiri? Ck, payah!“


Alan hanya memberikan cengiran sebal. Benar apa yang dituduhkan pamannya, ia dengan bodohnya kurang memahami Yashna selama berada di sisinya.


”Apa yang membuat Yashna begitu marah dan ingin berpisah denganmu? Cari tahu dan selesaikan dengan baik. Aku tahu, dia tidak bisa kehilangan kamu, karena sandaran ketika hidupnya terguncang adalah kamu.“ Wisnu menepuk pundak Alan dan berjalan masuk bersama Sekar. Alan tercenung, memandang punggung pamannya dengan tatapan sayu. Satu sisi hatinya berdebum nyeri.


”Semoga ide gila paman akan membuat Yashna mengejarku. Kalau tidak ... haishhh! Kau membuat kekacauan, Alan dodol," oceh Alan melayangkan tinjunya ke udara.


***


'Jika ingin dicintai, maka sisihkan ruang kosong di dalam hati untuk menempatkan perasaan cinta dari orang tersebut dan mulailah menyatukan komitmen agar jalinannya menjadi utuh kuat terpatri.'


(Syala Yaya)


Noted : Wisnu menyebutkan nama Ratu (Ibu kandung Alan bernama lengkap Kartika Ratu dan ayah kandungnya Aswa Tama, di dalam novel IKTK beralih nama Tony Darkson).

__ADS_1


__ADS_2