
Selamat membaca
Seminggu sudah berlalu sejak kunjungan Krisna dan Isna ke Rumah Sakit.
Tatapan Wisnu kosong, dia masih betah termangu duduk di bangku taman Rumah Sakit, memandang air pancuran kolam ikan yang berada di tengah-tengahnya.
Suara Ihsan memanggilnya beberapa kali, tapi hanya sayup-sayup saja terdengar di telinganya. Wisnu masih malas untuk menoleh apalagi menjawab panggilan assistennya itu.
“Ayo kita masuk ke dalam, Pak Wisnu,” ajak Ihsan menyentuh pundak Wisnu perlahan saat merasa bosnya tidak mendengar panggilannya.
“Almira Putri. Nama lengkap gadis itu, Pak,” ungkap Ihsan memberi tahu. Ihsan bisa menduga, Wisnu pasti tengah memikirkan gadis sial itu.
Dan benar saja, mendengar nama gadis yang dia sebut tadi seketika Wisnu menoleh ke arahnya. Ihsan memandang dengan sedih.
Tidak salah ketika saya mengidolakan Anda, Pak. Anda begitu merasa terpukul pada hal yang seharusnya tidak perlu anda sesali, toh gadis itu rasanya malah memilih untuk tidak memperpanjang masalah ini. Anda memang pria sejati, Pak.
Ihsan termangu menatap Wisnu yang masih mematung memandangnya, mereka berdua saling beradu pandang sejenak dengan pikiran masing-masing.
Sebenarnya begitu banyak hal yang ingin ditanyakan Wisnu kepada Ihsan, tapi dia bingung harus memulai dari mana.
“Apa kau tahu, kenapa sampai hari ini dia belum melaporkanku, padahal ini sudah seminggu? Bukankah semakin ditunda akan semakin buruk untuknya?” tanya Wisnu kemudian sambil mengalihkan pandangannya dari Ihsan. Pria itu menunduk.
“Saya juga kurang tahu, karena gadis itu juga menolak tawaran uang kompensasi dari saya, Pak,” jawab Ihsan sambil menghela napas merasa gagal.
“Lalu, bagaimana perkembangan kasus di BAR? Juga rekaman cctv malam itu?” tanya Wisnu mulai serius, dirinya menoleh dan memberi isyarat kepada Ihsan untuk mendekat.
“Sudah berada di tangan saya, Pak. Semua file aman. Sepertinya ada yang mencari keberadaan rekaman itu juga selain kita,” jawab Ihsan dengan suara pelan sambil menunduk kepalanya dekat di telinga Wisnu, Wisnu tersenyum tipis.
“Biarkan, anggap saja kita tidak tahu apa-apa, kau mengerti?” ucap Wisnu segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah taman.
Ihsan segera menegakkan kepalanya dan mengangguk pelan, paham dengan apa yang Wisnu maksudkan. Dirinya lalu melangkah ke arah kursi dan duduk di samping Wisnu yang kembali terdiam, masuk dalam pikiran rumitnya. Ihsan hanya bisa melirik sekilas tidak mau mengganggu.
Ihsan paham selama dua tahun bekerja bersama pria kesepian ini, dalam diam sebenarnya banyak hal yang sedang dia persiapkan dan pikirkan. Ihsan hanya bisa mendampinginya tanpa berusaha mendahului apa yang belum ditugaskan kepadanya.
__ADS_1
“Kau bilang tadi, namanya Almira Putri?” tanya Wisnu segera diberi anggukan cepat Ihsan di sampingnya.
“Kau sudah selidiki dengan baik tentang dirinya? Asal usulnya, semuanya mengenai gadis itu?” tanya Wisnu lagi.
“Benar, Pak. Saya sudah menyelidiki semua hal tentang gadis itu, Pak. Termasuk kehidupannya,” jawab Ihsan tegas.
“Baiklah … kalau begitu persiapkan dirimu.”
Wisnu tersenyum tipis ke arah Ihsan sembari berdiri, menepuk pundak assistennya itu dan melangkah pergi dari kursi taman dengan mendorong perlahan tiang infusnya. Luka di tangan kanannya sudah mengering dan bisa dia gunakan lagi untuk menggenggam dan mengangkat beban ringan. Pecahan gelas itu tidak melukai tangan kanannya sampai parah walau pecahan itu dia genggam dengan erat malam itu.
Wisnu meninggalkan Ihsan yang masih menatap dirinya dengan bingung. Selalu saja Ihsan merasa kurang cepat dalam membaca apa yang Wisnu pikirkan. Bosnya itu terlalu misterius baginya.
Aku jadi takut denganmu, hai Pak Wisnu. Selalu saja melakukan sesuatu tanpa aku diberi bocorannya dulu.
Ihsan menggerutu pelan sambil mengamati Wisnu yang sudah berjalan masuk ke dalam ruangan rawatnya.
Ihsan sempat merasa terkejut dengan hasil pemeriksaan yang diberikan dokter kepadanya. Sepertinya Wisnu bukan orang biasa. Walau dia terluka, tapi tubuhnya bisa pulih dan bugar lebih cepat daripada kebanyakan orang. Hingga rumor yang menyatakan Wisnu mantan anggota mafia membuatnya menggeleng kuat.
Baginya Wisnu terlalu lembut dan sabar untuk menjadi anggota gerombolan genk seperti itu.
gumamnya lagi sambil membayangkan.
Panggilan dari orang suruhannya membuatnya tersadar dan melupakan masalah asal usul Wisnu. Ihsan sedikit berlari kecil setelah membaca pesan yang dikirimkan kepadanya, dia berharap bisa menyelesaikan kasus dobel ini dengan segera.
Ihsan melewati koridor rumah sakit lagi dan segera berlari kecil ke arah parkiran mobilnya berada. Terlihat seorang laki-laki sudah menunggunya di dalam mobil saat dirinya mendekat dan melirik ke dalam lewat kaca. Ihsan segera ikut masuk ke dalam di bangku kemudi dan orang itu segera memberikan amplop coklat kepadanya. Ihsan segera mengecek isinya dan mengangguk puas.
“Kerja bagus. Bayaran dan bonusmu akan aku transfer sebentar lagi,” ucap Ihsan segera diberi anggukan orang itu sambil mengamati sekeliling parkiran. Dia takut ada yang melihat pertemuan mereka berdua.
“Aku pergi dulu ya,” ucapnya menatap Ihsan dan bergerak hendak turun dari mobil.
“Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi,” ujar Ihsan diberi salam tiga jari oleh orang itu dan segera menarik handle pintu mobil, meninggalkan Ihsan yang masih berdiam diri di dalam sana.
Ihsan kembali melihat isi amplop coklat itu dengan menghela napas. Ponsel di saku celananya kembali bergetar, dengan cepat dia segera meletakkan amplop itu di jok sampingnya dan mengambil ponselnya dan mengecek nama yang menghubunginya.
__ADS_1
“Iya, Pak Wisnu?” jawabnya cepat setelah menggeser panel hijau di layar.
“Dimana?” suara Wisnu di seberang dengan suara langkah kaki terdengar di telinga Ihsan.
“Di parkiran Rumah sakit, Pak.” Ihsan menelan salivanya cepat merasa kalau Wisnu sedang merencanakan sesuatu. Sembari memperbaiki letak dokumennya yang hampir terjatuh ke bawah jok dia melihat langkah Wisnu di parkiran, berjalan mendekat ke arahnya dari jendela kaca mobil.
“Tunggu aku,” sahut Wisnu menutup sambungan telepon.
Dengan menunduk kepala menatap Ihsan yang memandang dirinya bengong, Wisnu mengetuk kaca mobil agar dibukakan pintunya yang sudah terkunci otomatis dari dalam.
“Eh, iya, Pak.” Ihsan segera membuka pintu mobil di sisi kirinya dan Wisnu segera masuk dengan sudah berpakaian rapi.
“Kita berangkat,” perintah Wisnu dingin sambil mengenakan sabuk pengaman.
“Eh … iya. Kita kemana, Pak?” tanya Ihsan gelagapan sambil mempersiapkan mobil? dengan menyalakan mesinnya.
“Ini, dokumen yang berhasil kau dapatkan?” tanya Wisnu mengabaikan pertanyaan Ihsan sembari mengambil amplop coklat yang di letakkan asal Ihsan di dashboard depannya.
“Iya, Pak. Silahkan diperiksa,” jawab Ihsan segera fokus mengemudi, menatap spion dan keluar dari area parkir Rumah Sakit.
“Hmm, bagus,” puji Wisnu sembari tersenyum.
“Kita mau pergi kemana, Pak?” Ihsan menjadi penasaran, kenapa bosnya itu meninggalkan Rumah Sakit padahal dokter belum mengijinkan dirinya pulang.
“Menjemput takdir,” jawab Wisnu sembari tersenyum tipis ke arah Ihsan dan kembali fokus membaca isi amplop coklat di tangannya.
Aku tak mau menyerah lagi, tak mau mengalah lagi. Saat sebuah hal kembali hadir seperti mimpi, aku sedang bergerak untuk membuatnya menjadi nyata. Takdir memang kejam saat aku melawan, tapi saat aku merasa ingin menerimanya dengan lapang dada, aku merasa bisa menjemput bahagia juga.
Bersambung …
Hai semua … terimakasih masih menunggu kisah Wisnu.
Maaf lama tidak bisa update karena ada masalah kesehatan ^_^
__ADS_1
Ikuti terus dan dukung karyaku dengan memberikan Like, komentar dan vote seikhlasnya ya 😊
Salam Segalanya dariku ~Syala Yaya🌹🌹