
Almira menunduk dalam. Perasaannya gamang, antara sedih atau bahagia. Ia bingung sendiri mengatasi perasaannya. Semua hal begitu tiba-tiba terjadi di dalam hidupnya, sungguh ia sendiri belum sepenuhnya siap menerima semuanya.
Wisnu masih menunggu jawaban yang akan terlontar dari Almira. Perasaannya saat ini, bagaimana wanita itu menganggap apa yang membahagiakan bagi dirinya apa juga menjadi hal yang sama. Hembusan nafas kasar Wisnu menunjukkan bahwa pria itu sudah lelah menunggu. Ia melepas tangannya dari dagu Almira dan duduk menggeser tubuhnya di pinggiran sambil meraih ponselnya kembali.
“Mas, marah?” tanya Almira menggigit bibirnya, ia memandang takut-takut suaminya.
Sikap ketus yang selalu ia tampakkan di awal pernikahan nyatanya tidak bisa dia lakukan lagi setelah tahu bahwa Wisnu bisa membanting kasar barang-barang disekitarnya tanpa ampun. Membayangkan saja ia ngeri sendiri.
“Apa yang akan dipikirkan orang saat seorang istri tidak bahagia saat menyadari ternyata dia sedang hamil? Hem?” tanya Wisnu tanpa menoleh.
Almira memandang Wisnu dengan pikiran gamang. Ia menghela nafas mengatasi rasa tidak nyaman dihatinya. Wisnu masih diam membisu dengan ponselnya.
“Bukan itu masalahnya, Mas,” kilah Almira kemudian.
“Selalu saja seperti ini, aku selalu mencoba sebaik mungkin dalam bersikap. Semua keinginanmu aku penuhi, tapi apa? Semua masih saja membuatmu tidak menerimaku,” ucap Wisnu penuh penekanan, sebisa mungkin ia tidak membentak istrinya walau jauh di dalam hatinya dia benar-benar sudah tidak sabar lagi.
“Mas tahu ini tanggal berapa? Mas tahu tidak ini artinya apa?” lontar Almira meringkuk memeluk bantal dengan lelehan air mata geram pada dirinya.
Wisnu masih membisu tidak memandang, hatinya sendiri juga sedang kacau.
“Mas kenapa tidak merasa bahwa ini semua terlalu cepat?” ucap Almira lagi dengan suara bergetar.
“Tidak ada pasangan menikah yang mengatakan ini terlalu cepat atau lambat. Yang ada kamu bahagia apa tidak, itu yang penting,” sahut Wisnu berdiri dan melangkah meninggalkan tempat tidur.
Wisnu berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Meraih air putih yang berada di atas meja. Sesekali ia melirik ke arah Almira yang masih meringkuk menyembunyikan wajahnya dengan bantal. Dengan hembusan nafas frustasi ia mengusap wajahnya kasar.
“Aku kira kamu sudah bisa menerima pernikahan ini, nyatanya apa? Kamu baru terlambat saja sudah histeris begini? Aku harus apa?” ucap Wisnu kemudian. Ingin sekali ia membanting sesuatu untuk melegakan emosinya, tapi kemudian ia istighfar menyebut nama Allah hingga pikirannya kembali tenang.
“Ira, katakan sesuatu,” pinta Wisnu memandang lagi Almira.
Tubuh wanita itu masih belum bergerak sama sekali. Masih meringkuk menyembunyikan wajahnya dengan tubuh bergetar menandakan tangisnya belum mereda. Dengan langkah lemas Wisnu berdiri lagi dan berjalan mendekati istrinya.
__ADS_1
Wanitanya, istrinya kini sedang bersedih. Karena ia merasa sudah mengandung anaknya? Wisnu mengepalkan erat jemari tangannya ketika duduk di pinggiran kasur hingga hentakkan kasur terasa menggoyang tubuh istrinya.
Wisnu mengelus punggung Almira, memberi wanita itu dukungan bahwa ia tidak sepenuhnya menyalahkan apa yang ada dipikiran istrinya. Ia menyadari bahwa ini semua memang terlalu cepat untuk wanita yang punya impian itu.
“Mas minta maaf, Ira. Tapi mau bagaimana, semua sudah terlanjur. Kita tidak bisa melawan takdir 'kan?” seloroh Wisnu meraih bantal dan mencoba menariknya agar bisa melihat wajah istrinya yang bisa di pastikan sedang sembab air mata.
“Salah Mas Inu,” decak Almira membuat Wisnu mengangguk mengakui.
“Iya, salah Mas Inu. Mas bersedia bertanggung jawab,” jawab Wisnu malah tersenyum sendiri dengan jawabannya.
Almira segera bangkit dan meletakkan bantal yang menutupi wajahnya. Ia bergerak menggeser tubuhnya dan meraih leher suaminya seakan hendak mencekiknya dengan kesal. Wisnu mau tak mau tersenyum menahan tawanya.
“Jangan tertawa, aku sedang marah,” decak Almira sambil menggembungkan bibirnya.
Matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah semakin membuat Wisnu tersenyum simpul. Bagaimana mungkin seorang istri bisa marah padahal dihamili suaminya sendiri. Wisnu pun segera meraih pipi Almira dan mengusap air matanya.
“Lalu bagaimana, Sayang? Kita periksa ke dokter biar jelas hasilnya, Hem?” tawar Wisnu menarik pundak kecil itu dan memeluknya penuh sayang.
“Aku belum sarapan, Sayang. Jangan memukul keras-keras,” ucap Wisnu segera dicubit perutnya dengan pelintiran yang menyiksa.
“Astaga, kekuatanmu berlipat ya kalau lagi marah,” goda Wisnu menahan tangan istrinya agar tidak tambah menyakitinya.
Wisnu mengelus rambut Almira dan menjatuhkan dagunya di pundak, mencium rambut dan leher yang selalu membuatnya ingin menyentuh yang lainnya. Dengan kesal Almira kembali mencubit gregetan dirinya.
“Berhenti atau mati,” rajuk Almira bersungut. Mau tak mau Wisnu tertawa juga.
“Sudah, marahnya sampai di sini ya? Kamu mau gimana? Aku bawa kamu ke dokter sekarang ya?” tawar Wisnu melepaskan pelukannya dan menatap wajah cemberut Almira.
Almira menghembus napas memandang juga, bibirnya masih merengut dengan wajah dan mata memerah menampakkan kesedihannya. Mereka berdua saling memandang satu sama lain.
“Jelaskan apa yang membuatmu marah? Kenapa,” tanya Wisnu menatap dalam Almira mencoba untuk mendalami kesedihan yang dirasakan istrinya.
__ADS_1
“Aku … merasa mual,” jawab Almira sambil mendorong Wisnu dan berlari menuju ke kamar mandi.
Brak!
Almira membuka kasar pintu dan membiarkannya tetap terbuka, perutnya seperti di aduk. Dengan cepat ia menuju ke kloset dan memuntahkan isi perutnya yang masih kosong.
Wisnu dengan panik segera menyusul istrinya ke kamar mandi, menatap sedih Almira yang bersusah payah memuntahkan isi perutnya. Dengan langkah cepat ia menghampiri dan mengusap punggungnya, mencoba mengurangi tekanan berat istri yang di sayanginya.
“Maafkan Mas, Ira,” bisiknya masih menepuk punggung dan ikut berjongkok di samping Almira.
“Rasanya, aku seperti naik Bis,” keluh Almira duduk merosot ke lantai dan memeluk tubuh Wisnu yang sedari tadi menatapnya dengan cemas dan perasaan bersalah.
***
Rasa tidak nyaman ini membelengguku, mengoyak rasaku hingga hatiku benar-benar beku.
Tanpa ku sadari kebingungan ini mendera saat rasa cinta mulai melanda. Aku marah, aku kecewa sepenuhnya salahmu. Tapi sungguh, kebingungan ini terimalah seperti aku menerima kesalahanmu. (Almira&Wisnu)
By. Syala Yaya.
Bersambung.
Aku up satu bab lagi setelah ini yaa.
Sama mau kasih cuplikan novel sahabatku. Cuz otwe ke novelnya yaaa🤗.
Salam Cinta dari Syala Yaya🌹🌹
__ADS_1