Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 68 Mengurai Masalah


__ADS_3

Almira membuka map cokelat berisi beberapa file berkas-berkas berisi perjanjian antara Johan dan Bagus. Almira menatap bingung Johan dan segera menarik kertas semuanya dari dalam dan membaca beberapa.


“Aku tidak tahu maksudnya ini apa, Om," ucap Almira bingung. Ia benar-benar tidak mengerti.


”Itu perjanjian penyerahan saham antara aku dan Bagus."


“Urusannya sama aku apa, Om? Itu urusan kalian berdua, tidak ada sangkut pautnya dengan Almira," tolak Almira tidak mau terlibat.


Johan menegakkan tubuhnya sambil tersenyum. Ia memindai semua yang ada di hadapannya seperti biasanya. Naluri seorang pria yang sangat menyukai wanita walau usianya seumuran anaknya. Almira meletakkan berkas itu ke meja dan menghembus nafas memandang Johan. Pria itu masih saja menatap lekat ke arahnya.


”Tentu saja kamu ikut terlibat di dalamnya," ungkap Johan masih memandang.


“Maksud Om Johan apa? Almira tidak mengerti sama sekali."


”Aku akan membantu perusahaan Bagus kembali seperti dulu kalau kamu bersedia menikah dengan Om," tegas Johan dengan wajah serius.


Almira membelalak kaget memandang Johan. Ia beberapa kali menelan salivanya dengan susah payah. Tangannya bergetar setelah mengingat kembali malam kelam itu.


“Apa ini, apa ini yang Mas Inu maksud?" tanya Almira dalam hati.


Almira berdiri seketika, ia merasa sesak nafas mengetahui niat buruk Johan dan Bagus terhadapnya. Sambil berjalan ia mengepal erat jemari tangannya menguatkan diri.


"Mas Bagus bukan siapa-siapa Almira, jadi Om salah kalau menggunakan Almira di dalam perjanjian tidak masuk akal itu," tolak Almira tidak mau mendengar lebih jauh.


”Aku belum selesai," tahan Johan meraih pundak Almira. Pria itu berhasil menghentikan langkah wanita yang dia sukai itu tepat di depan pintu.


Almira menoleh dengan wajah memerah menahan geram. Bagaimana mungkin Bagus pura-pura bersikap baik padanya. Bahkan marah dengan pernikahannya bersama Wisnu. Jelas-jelas ini semua karena kesalahannya. Almira merasa di tipu dan akan mencari perhitungan dengan pria penghancur masa depannya itu.


"Jadi ini ada hubungannya dengan apa yang terjadi di Bar malam itu?" tanya Almira dengan suara ketus. Johan hanya menatap tidak menjawab sama sekali.


Almira mendorong keras tubuh pria tinggi besar itu nyatanya masih bergeming. Tubuhnya tidak bergeser sama sekali.


”Jadi Om yang menaruh obat untuk minumanku?" tanya Almira dengan wajah meradang penuh emosi.


“Itu kelakuan Bagus, bukan aku."

__ADS_1


”Lalu? Om mau apa kalau aku minum obat itu?" Almira benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya lagi.


“Om, akan memaksamu menerima lamaran Om setelah kita tidur bersama," jawab Johan dengan tidak tahu malu. "Karena Om mencintai Almira dan berharap kamu bisa menjadi ibu tiri Delia, anak Om satu-satunya," imbuhnya semakin membuat Almira pusing.


Almira mengusap wajahnya, ia kembali menghembus nafas menahan diri. Ia tidak bisa berkata-kata lagi untuk bertanya atau sekedar menghardik pria ini. Ia merasa bingung sendiri.


”Saat kerusuhan itu tiba-tiba berlangsung, aku tahu ... Delia yang membuat keributan. Dia menolakmu menjadi ibunya dan merusak semuanya. Tapi malah gara-gara itu aku jadi tahu kalau ternyata Delia tidak lagi menyukai Bagus, tapi Wisnu," ungkap Johan menyentak perasaan Almira.


“Delia menyukai Wisnu?" tanya Almira.


”Dia pemilik Hotel ini, dia menyukai sosok dingin itu sejak awal bertemu dengannya," jawab Johan mendorong tubuh Almira hingga punggungnya menyentuh dinding.


“P-pemilik Hotel?" tanya Almira terkejut dengan kenyataan mengenai Wisnu.


”Kamu tolong jangan ganggu hubungan pria itu dengan Delia. Aku beberapa kali melihat kalian bersama. Aku harap kamu bisa mengerti," ucapnya membuat Almira terpaku memandang.


“Memangnya kenapa?" debat Almira tidak mau kalah.


”Aku tidak mau mengecewakan anakku lagi. Setelah membiarkan Bagus bersamamu, aku akan berusaha menyatukan mereka berdua agar anakku bisa bahagia dan merestui hubungan kita," jawab Johan serius.


“Dasar pria gila," cemooh Almira kesal.


“Kebodohan nafsumu menghancurkan semuanya," desis Almira memandang sinis ke arah Johan.


”Apa maksudmu?" tanyanya mendekatkan wajah ke arah Almira.


Almira memundurkan wajahnya hingga benar-benar menyentuh dinding. Ia tahu pasti pria ini hendak berbuat nekat kepadanya, walau selama ini sebisa mungkin selalu berupaya menghindarinya.


“Minggir, Om. Aku harus pergi," pinta Almira menggeser tubuhnya dan bergerak menjauhi.


Dengan sigap Johan meraih tangannya dan berhasil mencengkeram erat hingga Almira tidak mampu bergerak leluasa. Dengan segenap kekuatan ia menepis, tapi pemilik tubuh tegap itu masih kuat mengungkungnya.


”Hanya karena kamu, semua aku pertaruhkan, inikah balasan kamu?!" sentaknya mengagetkan Almira. Almira meronta minta dilepaskan nyatanya pria itu makin mencengkeram erat dirinya.


“Aku salah apa? Lepas!" teriak Almira kesal.

__ADS_1


”Kamu mendekati CEO kami untuk menghindari kami kan?" tebak Johan malah membuat Almira tersenyum sinis.


“Kalianlah, yang membuatku dekat dengannya. Aku ucapkan terimakasih untuk itu," sahut Almira malah membuat Johan kesal.


Pria itu menarik lengan Almira dan menggiringnya duduk kembali ke sofa. Sungguh ingin sekali ia kasar terhadap wanita yang kini duduk di sampingnya itu, nyatanya ia tidak mampu.


”Ijinkan aku pergi, Om. Atau aku akan meminta CEO di sini memecat Om karena berbuat kasar dan mengancam keselamatan aku sebagai salah satu karyawan di sini," lontar Almira memandang sengit.


Johan hanya tersenyum menanggapi. Ia tahu, Wisnu bukan orang sekuat itu hingga bisa memecatnya. Bahkan apa yang ada di Hotel ini saja semua sudah berada di genggamannya. Ia malah sangat senang saat menyadari Delia menyukai pria itu hingga bisa mudah menguasai pria itu beserta asetnya. Dia bisa sekaligus mendapatkan istri muda pilihannya setelah lama tidak menyentuh seorang wanita karena tidak ada yang masuk ke dalam hatinya.


“Terima aku dan kamu akan merasakan kebahagiaan karena kebutuhanmu akan aku penuhi, seperti dulu saat kamu kuliah," tawar Johan kembali.


”Jangan salah, Om. Almira tidak pernah menerima sepeser uang pun dari Om, Almira tidak punya hutang budi apapun terhadap Om. Dan lagi Almira sudah tidak melanjutkan kuliah lagi karena sudah menikah," jawab Almira kini ia tegas melawan.


“Menikah?" tanya Johan tersentak.


Almira meraih tangan Johan dan menepis jauh dari tubuhnya, ia segera berdiri dan berjalan menjauh saat pria itu terbengong dengan lontaran ucapannya. Ia segera meraih handel dan membuka pintu.


”Dengan siapa kamu menikah?" tanya Johan dengan mata menatap tajam Almira. "Siapa yang mengijinkanmu menikah?" lontarnya malah membuat Almira ingin tertawa.


Almira mengabaikan pertanyaan konyol itu dan melangkah keluar dari ruangan Johan. Pandangannya terkejut saat melihat Wisnu dan Ihsan sudah berdiri di depan pintu dengan wajah serius, dengan cepat ia menutup pintu ruangan Johan dan menggigit bibir bawahnya merasa gugup.


“Ikut, aku," pinta Wisnu berjalan meninggalkan Almira.


Ihsan segera mengangkat dagunya menyuruh Almira mengikuti langkah bos besarnya yang kini sudah mengulang di balik pintu ruangannya.


”Ahh ... apa dosaku hingga harus melalui ini?" keluhnya berjalan lemas diiringi Ihsan berjalan di sampingnya.


Bersambung.




Terimakasih semuanyaaaa.

__ADS_1


Follow IG @Syalayaya


FB Syala Yaya


__ADS_2