Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 117 Pesan Tuan Putri


__ADS_3

“Jangan lupa ambilkan tas berisi kunci laci kantorku di rumah Yashna."


Pesan teks dari Julia yang dulu begitu menjengkelkan bagi Alan karena kakaknya yang pelupa itu sering membuatnya repot. Namun, tidak dengan hari ini. Pesan itu begitu membawa angin segar bagi Alan untuk menyambut pagi.


”Siap Laksanakan!“ balas Alan sambil menyunggingkan senyuman.


Kesempatannya bertemu dengan Yashna pagi ini membawa dampak positif bagi dirinya. Setidaknya ia bisa menggunakan alasan ini untuk mengunjungi wanitanya setelah kejadian kemarin yang tidak menyenangkan.


Ya, dia harus berbuat sejauh itu agar Yashna tidak kabur dari acara pernikahan yang akan dilangsungkan sebentar lagi. Tidak, ia harus memastikan Yashna datang atau harapannya selama ini akan kandas begitu saja.


Alan bergegas mandi, memakai pakaian terbaik di hari Minggu dan tidak lupa sengaja memakai parfum yang diberikan Yashna untuk merayakan ulang tahunnya beberapa waktu lalu. Sebelum hubungan mereka renggang karena hal yang tidak dipahami sepenuhnya oleh Alan.


Setelah yakin ia tidak melupakan apa pun untuk menunjang penampilannya, pria yang memiliki garis wajah menawan menurun dari ibunya itu pun segera meraih kontak mobil dan mengunci pintu rumahnya yang besar untuk ukuran pria lajang.


Julia sempat menggodanya. Sebagai pria yang tinggal sendirian, kakaknya sangat iri karena rumahnya lebih nyaman daripada tempat Erick yang memilih tinggal di Apartemen. Ia membenarkan ucapan Julia bahwa ia membangun rumah idamannya untuk tinggal bersama keluarganya kelak. Bersama Yashna bila mereka akhirnya bisa berjodoh.


Rasanya perjalanan lima belas menit terasa lama ketika tujuannya kini ke rumah Yashna. Apa yang sedang dilakukannya pagi ini? Bangun malas-malasan karena tidak lagi bekerja? Membayangkan muka bantal wanita itu saja rasanya dunia Alan seakan berputar cepat. Masa kebersamaan di Australia saat itu tidak ia manfaatkan dengan baik. Ia kini mengakui bahwa dulu lebih banyak menghabiskan waktu pergi bersama teman-temannya alih-alih menemani Yashna yang kesepian.


”Ya, Tuhan. Apa ini yang disembunyikan Yashna? Merasa bahwa menikah denganku hanya akan membawanya pada situasi yang tidak menyenangkan?“ gumamnya penuh sesal.


Dua tahun yang sia-sia. Nyatanya ia belum pernah menanyakan bagaimana hubungan Yashna dengan ibu kandungnya. Bagaimana hubungan Yashna dengan Isna sebagai adik tiri satu ayah dengannya? Sedetik ini, rasanya ia mulai memahami bahwa kehadirannya tidak berdampak pada kehidupan Yashna. Wanita itu tetap sendirian meskipun bersedia tinggal bersamanya di Australia.


Alan membelokkan mobilnya ke gang rumah kontrakan Yashna dan parkir di halaman. Benar saja, belum ada tanda-tanda wanita itu bangun. Bibir merah muda Alan tersungging tipis. Ia segera turun dari mobil dan bergegas memasuki teras rumah lalu mengetuk pintu pelan.


”Yashna! Permisi!“ panggilnya dengan suara sedikit lantang. Ia membenturkan punggung tangannya pada papan pintu berbahan kayu tersebut dengan penuh semangat.


”Yash, buka pintunya!“


Alan masih mengetuk pintu, belum beranjak dari tempatnya karena merasa kalau penghuni rumah masih di dalam. Nalurinya demikian.


”Yash!“


”Ya, sebentar!“


Sahutan dari dalam rumah membawa gelenyar kebahagiaan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata. Alan merapikan rambut hitam gelapnya sambil menata napas dan sikapnya agar terlihat natural. Akan sangat tidak masuk akal bila ekspresi datar yang ia perlihatkan kemarin hancur berantakan karena ia terbawa suasana hati.


”Hai!" Alan menyapa sopan ketika pintu dibuka dari dalam.


”Oh, kukira—“ Tampak Yashna muncul dari dalam rumah dengan pakaian sehari-hari dengan rambut basah digelung bersama handuk di kepalanya.


”Maaf, aku pagi-pagi sudah mengganggu.“


”Hm, Julia sudah meneleponku.“ Yashna menatap sejenak Alan yang masih berdiri di hadapannya dengan postur tubuh tinggi melampaui dirinya. Ya, pria itu tumbuh menjadi sosok pria yang memesona.

__ADS_1


”Oke.“ Hanya itu yang terlintas di dalam kepala Alan. Ia bingung harus bagaimana padahal di dalam hatinya berteriak ingin Yashna menyuruhnya masuk ke rumah dan menawarkan sesuatu untuk diminum.


”Sebentar aku ambilkan apa yang dia minta. Silakan masuk.“


Yashna melepaskan handle pintu dan berlalu dari hadapan Alan. Angin segar rasanya bertiup hingga ketegangan pada wajah Alan mengendur bersama dengan langkah kakinya memasuki rumah. Ya, wanita itu menyuruhnya masuk setelah apa yang dilakukannya kemarin membawa luka. Semalam bahkan dirinya tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan keadaan Yashna.


”Aku mencium bau gosong!“ seru Alan berlari kecil ke arah ruangan yang berada di sebelah kiri dan mendapati satu masakan Yashna kecoklatan. Ia segera mematikan kompor dan mengangkat makanan berupa omelette telur.


”Oh, ya ampun! Aku lupa,“ teriak Yashna buru-buru mengikuti langkah Alan ke arah dapur. ”Wah, menyebalkan!“ gerutunya ketika Alan menaikkannya piring yang dibawanya untuk memperlihatkan warna kehitaman bagian sisi telur yang telah gosong.


”Mahakarya Yashna yang luar biasa,“ sahut Alan tertawa kecil. "Kau ceroboh seperti biasanya."


”Padahal tadi masih basah,“ timpal Yashna mengerucutkan bibirnya seraya meraih piring itu dan membawanya keluar dari dapur. "Gara-gara kamu!"


Alan tertawa sambil mengikuti langkah Yashna. Menatap punggung wanita yang tingginya hanya pada batas dada itu dengan tatapan penuh kerinduan. Kalau saja keadaan masih seperti dulu, bisa saja secara sembarangan ia memeluk tubuh itu dari belakang dan menghirup aroma manis yang membawa candu. Namun, kali ini keadaan telah berbeda. Bisa saja wanita itu akan memaki atau malah menjebloskan dirinya ke penjara dan bergabung bersama ayahnya karena telah melakukan pelecehan.


”Kukira belum bangun seperti biasanya,“ pancing Alan untuk memulai percakapan sampai akhirnya Yashna menoleh.


”Karena Julia mengganguku pagi-pagi,“ jawab wanita itu memasang wajah datar.


”Iya, dia suka berteriak tidak ingin dibantah.“ Alan menyahut lalu duduk di sofa begitu Yashna mempersilakan dengan isyarat lambaian tangannya.


”Tapi kamu menyukainya. Dia membawa perubahan positif untukmu, itu bagus. Aku ikut senang, sepertinya kamu jadi pria penyabar,“ lontar Yashna sambil tersenyum getir. Ia kemudian duduk di karpet tebal yang berada di bawah sofa seberang Alan dan mulai mencubit kecil omelette yang dibuatnya pada bagian yang tidak gosong.


Alan segera menyadari bahwa apa yang sedang disampaikan tadi seolah memuji calon istrinya yang luar biasa. Pria itu mengembus napas pelan, ia melupakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia memuji Julia sebagai kakaknya yang luar biasa.


”Itu tas Julia,“ tunjuk Yashna. Dagu perempuan cantik itu terangkat mengisyaratkan letak tas tangan yang tergeletak di atas meja. ”Kunci yang dicarinya mungkin ada di dalam. Aku tidak berani membukanya.“


”Ok, nanti aku cek.“ Alan menjadi salah tingkah. Suara Yashna yang berubah ketus setelah pujian yang ia layangkan untuk Julia yang terlontar begitu saja membawanya pada perasaan tidak enak. Namun, ia harus tetap menahan diri untuk meralat kesalahannya.


”Kamu tidak pulang? Barang yang kamu cari sudah ada.“


”Sialan. Tidak bisakah aku yang menang dalam pertarungan ini?“ Alan membatin kesal karena diusir.


”Hari ini aku akan kembali tidur, tentu kalau kamu bisa lekas pergi dari sini.“ Yashna ingin menunjukan bahwa dirinya kuat. Apa yang terjadi kemarin sore sangat menyiksa batinnya lebih dari apa pun. Namun, ia tidak boleh menunjukan kelemahannya dengan cara bersikap biasa saja. Mengusir dengan halus pria itu misalnya, sebuah tanda kekuasaan sebagai tuan rumah. Ia cukup elegan, bukan?


”Ya, sebenarnya aku ingin segera pulang. Tapi, apa kau tidak baca pesan Julia yang baru saja masuk?“ balas Alan dengan nada ejekan setelah sebuah notifikasi pesan masuk dan ia mulai membacanya dengan hati riang.


Yashna yang masih asyik menikmati bagian omelette telur yang terasa mulai pahit di lidahnya pun menoleh dengan tatapan cemas. Ia menatap wajah pria yang kini terlihat lebih santai itu dengan hati kembali tidak nyaman.


”Dia tidak tahu apa yang terjadi pada kita berdua, bukan?“ tantang Alan dengan kalimat retoris.


Yashna menelan makanannya dengan susah payah. Itulah masalahnya, ia yakin Julia tidak tahu bahwa dirinya dan Alan pernah menjalin kasih. Yashna tidak ingin menghancurkan kebahagiaan orang lain. Ia tidak akan berbuat seperti itu. Yashna menegaskan diri bahwa ia berbeda dari sifat ibunya yang perayu dan tidur bersama ayah Isna. Ia sedih ketika mendengar cerita bagaimana memalukannya tingkah sang ibu menjebak pria beristri dengan minuman laknat. Ia berjanji sejak semalam, ia akan merelakan Alan bersama Julia meskipun hatinya sakit. Ia tidak akan merayu Alan agar meninggalkan upacara pernikahan itu dan menata kembali hubungan mereka.

__ADS_1


”Pesan apa?“ tanyanya tergagap dari lamunan.


”Buka aja pesan di ponselmu sendiri.“ Alan menyahut santai sambil merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa.


”Oh, Tuhan! Wanitamu itu benar-benar—“ Yashna meletakkan dengan kasar ponselnya ke atas permukaan meja. Tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk Julia.


”Bukan salahku mematahkan pergelangan kakinya,“ sahut Alan sekenanya. ”Sungguh sebuah kebetulan yang tidak kusangka. Kau berada di antara kami.“


”Haish, cuma terkilir! Astaga, kau tahu saat ini apa yang ingin kulakukan padamu?“ Mata Yashna mendelik tajam lalu bangkit dari duduk dan berjalan meninggalkan Alan menuju ke arah dapur untuk mengembalikan piring.


”Apa?“ sahut Alan datar, berusaha untuk menyembunyikan senyuman di bibirnya dengan menundukkan kepala.


”Mengusirmu dari sini secepatnya!“ Yashna yang sudah muncul dari dapur pun berjalan kembali ke luar bersamaan dengan Alan yang bangkit dari kursi sofa.


”Saatnya kita melakukan tugas Sang Tuan Putri. Aku tunggu lima menit di luar, ya! Oke ... terima kasih atas bantuannya.“ Alan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum puas.


”Akan kubuat kamu menyesal karena sudah merepotkan aku!“ rutuk wanita itu sambil melayangkan tinjunya ke udara.


”Apa itu artinya kau akan membuat acaraku gagal?“ sahut Alan berjalan menjauh.


”Tidak, akan kubantu acara kalian dan kupastikan bakal sukses,“ jawab Yashna dengan nada suara geram.


”Baiklah, aku akan menantikan momen itu. Tapi, kalau kau memintaku untuk kabur bersamamu, mungkin—“


”Tidak, untuk apa kabur denganku.“ Wanita itu bersungut-sungut, tetapi jauh di dalam hatinya ingin mengucapkan kata ayo dengan jeritan frustrasi.


”Okay, dandannya jangan lama-lama. Bagiku kau sudah cantik apa adanya.“


Alan tersenyum geli ketika mengucapkan itu, apalagi melihat wajah marah wanita pujaannya. Ia pun memilih untuk keluar dari rumah sebelum ia tidak bisa mengendalikan diri untuk memeluk wanita itu untuk menenangkan bahwa keseluruhan cintanya masih utuh untuk Yashna.


***


'Cinta itu kekuatan sekaligus melemahkan. Di dalamnya terdapat kelemahan yang bisa menguatkan. Dapat menghancurkan apa yang menjadi harapan, tetapi memberikan harapan baru pada sesuatu yang mungkin saja telah hancur karena tidak terdapat cinta.'


(Syala Yaya)


Chuap-Chuap Syala 😂 Skip aja kalau tidak berkenan, ya. Hihihi


🥰 Nggak sabar sama prosesi pernikahan mereka, deh Syala 🤭 Kira-kira Yashna apa bakal mau nggak, ya hihihihi. Jadi geli deh nulis adegan Alan merayu wanita itu agar memaafkan keisengannya dan mau menikah dengannya. Ehhmm ... menuju ending nih kisah Alan-Yashna. Mau Happy apa Sad nih🤣 Ramaikan kolom komentar, ya 😍


Terima kasih masih mengikuti kisah mereka dari Novel IKTK sampai ini dan lanjut di Obsesi Cinta Sang Miliarder (kisah Sekar & Pangeran Ruista). Love you All, Sobat Syala Yaya 🥰


Kayaknya kalau Sakha dibikinkan kisah cinta maunya yang kayak gimana? Kalau sama anak Bagus Ahsan di Novel Behind Closed Doors si Lily yang supel dan suka kejar cowok ganteng kayaknya cocok sama Sakha yang sifatnya mirip Krisna suka meremehkan orang kali, ya 😂😂. Sakha Danendra Aditya, Azka Narendra Shaka, Ahza Anargya Hirata, Satria Aksa Divangga, bakal jadi 4 sekawan 👌

__ADS_1


(Ssttt diem Syala, Chuap-Chuapnya panjang amat!)


__ADS_2