
Pagi sudah hampir menjelang saat Almira terbangun dari tidurnya, selalu sama setiap hari pemandangan kasur kosong ditinggal penghuninya. Sebenarnya hal itu cukup membuat Almira kecewa, ingin sekali ia merasakan pelukan hangat di pagi hari disusul sapaan selamat bangun tidur.
Ah, Almira melempar bantal ke sembarang arah hingga memantul mengenai sofa dan teronggok di depan kamar mandi. Bibirnya merengut sambil menghentak tangan ke kasur. Ia merasa kesal sendiri.
“Kenapa bantalnya ada di lantai?” tanya Wisnu saat melangkah dari kamar mandi.
“Bantalnya sedang kesal,” jawab Almira kembali meringkuk menutupi kepalanya dengan selimut.
Wisnu memungut kembali bantal dan berjalan ke arah tempat tidur. Ia tersenyum sendiri saat melihat istrinya meringkuk dan merajuk seperti bayi. Pikiran jahil Wisnu hadir seketika, ia sengaja menaruh bantal itu di kepala istrinya dan menekan kuat hingga teriakan keras Almira semakin membuatnya tertawa.
“Ish! Mas Inu niat banget ya mau bikin Almira tercekik?!” teriaknya sambil memukul kesal lengan Wisnu yang segera ditangkis seperti latihan seni beladiri. Sambil tertawa terbahak Wisnu menatap kekesalan Almira karena gagal memukul kesal suaminya.
“Suami jahat,” decak Almira duduk merengut.
“Suami jahat ijin mau shalat,” sahut Wisnu mengacak rambut Almira hingga gadis itu menggelengkan kepala dengan tangan menepis sikap iseng suaminya.
Wisnu, segera berjalan masih tertawa menanggapi kekesalan istrinya. Ia meninggalkan ruang kamar menuju ke arah ruang lainnya untuk menjalankan kewajibannya.
“Dia suami baik,” ralat Almira saat menyadari bahwa apa yang ia lakukan untuk dirinya sendiri tentang agama kalah jauh dengan si mualaf itu. Almira segera bangkit dari duduknya dan segera berlari kecil ke dalam kamar mandi, ia sebisa mungkin tidak akan mengecewakan suaminya hingga bisa menjadi istri yang baik untuknya.
“Tunggu, kenapa aku belum juga …,” Almira segera meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya setelah mandi.
Ia mengembuskan nafas kesal saat menyadari dirinya saat ini berada di Hotel. Interior kamar rumahnya yang mirip kamar hotel ini membuatnya melupakan segalanya, termasuk baju gantinya. Dengan tubuh merosot ia duduk di kloset.
“Mas Inu,” panggil Almira lemah. Ia merasa sangat malu.
Almira harus menunggu beberapa saat hingga Wisnu mengetuk pintu kamarnya. Laki-laki itu begitu panik saat melihat istrinya tidak keluar dari kamar sedari tadi. Wisnu mengetuk pintunya berulang dengan hati cemas.
“Ira, buka pintu. Kenapa mesti di kunci?” teriak kesal Wisnu masih berdiri di luar kamar.
“Apa sih? Aku nggak akan keluar kamar mandi sebelum Mas Inu mengambilkan pakaian untuk Almira," jawab Almira segera mendekati pintu.
"Pakaian apa, ayo buka pintunya,” perintah Wisnu kepada Almira, "Tanpa pakaian kamu malah cantik," goda Wisnu kemudian.
__ADS_1
“Ahh … berhenti menggoda,” rengek Almira terdengar hampir menangis.
Wisnu segera mengambil pakaian Almira dengan tawanya, ia merasa sangat gemas melihat sendiri istrinya masih malu-malu terhadapnya. Sungguh wanita tidak seperti pada umumnya yang berani terbuka bahkan di tempat umum. Dalam hati Wisnu bersyukur memilikinya.
“Mas,” panggil Almira mengetuk pintu dari dalam.
“Apa, pintunya kamu kunci dari dalam, kenapa harus mengetuk pintu?” goda Wisnu tertawa sambil mendekati kamar mandi lagi membawa pakaian Almira.
“Aku belum sholat subuh, Mas. Buruan waktunya keburu habis,” keluh Almira dengan suara kekesalan yang sangat imut bagi Wisnu.
“Ya sudah, buka pintunya. Ini bajunya." Wisnu tertawa ringan menanggapi.
Almira meraih pakaian yang diulurkan Wisnu saat membuka sedikit pintunya, Wisnu segera melangkah dan kembali ke tempat tidur. Ia tiduran sambil meraih ponselnya dan melihat isinya.
Almira berjalan cepat menuju kamar sebelah untuk menunaikan kewajibannya. Rasa tegang sebenarnya yang ia rasakan, saat menyadari hal luar biasa sepertinya sedang terjadi, dan dalam hati sebenarnya dia bingung sendiri harus bagaimana dan dalam bersikap.
Almira kembali ke kamar dan menatap sejenak pria yang kini sedang menyimak ponselnya di tempat tidur. Langkah Almira pelan menyusul suaminya kembali malas-malasan. Hari masih pagi saat ini untuk melakukan cek out, ia merebahkan tubuhnya sedikit menjauh dari Wisnu.
“Sini, aku bicara serius," punya Wisnu lagi sambil menepuk bagian tengah kasur agar Almira mendekat.
Wisnu tidak mau sampai istrinya terjungkal jatuh ke lantai saat dirinya menerkam lagi pagi ini, Wisnu menepuk lagi dengan tepukan tidak sabar melihat sikap Almira yang lelet.
“Apa sih, Mas. Semalam udah, aku capek,” keluh Almira merengut sambil menggeser tubuhnya mendekati suaminya.
Wisnu segera tersenyum dan memeluk tubuh jauh lebih mungil bila dibandingkan dengan tubuhnya sendiri yang atletis. Wisnu kembali lagi menciumi bibir dan area leher Almira tanpa menghiraukan kekesalan Almira lewat pukulan ringan di punggungnya, baginya itu tetap sikap istrinya yang usianya yang memang masih muda baginya.
“Mas,” bisik Almira di telinga Wisnu disela sengalan nafasnya karena Wisnu kembali mencumbunya.
“Hem, nanti saja.”
“Aku terlambat ...,” ucap Almira pelan membuat Wisnu mengalihkan pandangannya ke wajah Almira. Senyuman kebahagiaan segera terpancar dari raut wajahnya.
Almira membuang muka dengan perasaan kecewa, terlihat sekali sorot matanya yang mulai meredup. Perasaannya sukar diungkapkan. Ia merasa ingin menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
“Lihat aku?” pinta Wisnu bangkit dan meraih pundak Almira agar mengikutinya.
Wisnu menghembus nafas. Antara kemenangan atau malah hanyalah hal semu yang dia dapatkan. Mengerti bahwa ujian perasaan belum sepenuhnya berakhir.
“Kamu terlambat datang bulan?” tanya Wisnu meraih dagu istrinya yang menunduk dalam. Almira mengangguk.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Wisnu dengan jantung berdebar menunggu jawaban Almira.
***
Aku seperti berhenti bernafas. Paru-paru ku seperti berhenti memompa setiap kali aku menanyakan perasaanmu.
Apa aku lemah? Iya terhadap perasaanmu.
Apa aku lebay? Mungkin iya tertular oleh virus cintamu.
Soal ini aku mohon berikan jawaban dimana aku tidak benar-benar akan berhenti bernafas dan berhenti hidup karena jawaban itu menghentikan harapanku. (Wisnu~Almira)
By. Syala Yaya.
Bersambung …
Hai semuaa, aku rinduuu.
Aku hari ini up 3 bab yaaa. Hehe semoga tidak bosan dengan kisah Wisnu Almira 🙏😍.
Sekalian mau promo juga novel sahabatku ya gaesss. Penasaran kan??? cuz aja buka novelnya yaaa🤗
Salam segalanya dari Syala Yaya🌹🌹
__ADS_1