
Wisnu pamitan kepada Almira untuk berangkat bekerja, dengan canggung Almira mengangguk saja tanpa menemani Wisnu keluar rumah. Wisnu mengabaikan sikap itu dan berjalan cepat di tangga menuju ke kantornya.
Meninggalkan istrinya sendirian di rumah sebenarnya bukan hal yang dia inginkan, tapi panggilan Ihsan sangat mengusiknya hingga mau tak mau dia harus mengecek pekerjaannya di Hotel.
Hanya berselang waktu 40 menit dirinya kini sudah memarkir kendaraannya dan membiarkan juru parkir mengambil alih pekerjaanya.
“Kamu karyawan baru?” tanya Wisnu memberikan kuncinya.
“Iya, Pak.”
Wisnu hanya mengabaikan dan berlalu dari sana. Dalam hati dirinya merasa penasaran, kemana juru parkir yang lebih tua itu. Dengan melangkah lebih cepat dirinya memasuki lift khusus untuknya dan mengarah ke bagian kantor. Dirinya tidak sabar mendengar laporan dari Ihsan.
Sambil menatap jam tangannya Wisnu menatap layar di lift menunjuk gerak lift menuju lantai atas dengan tidak sabar.
Hingga suara lift berbunyi dan pintu terbuka segera membuatnya bergerak keluar dari ruangan sesak itu. Beberapa karyawan menyapanya dengan menunduk kepala, Wisnu membalas sekilas kemudian memasuki kantornya.
“Pak Wisnu,” panggil Ihsan berdiri dari tempatnya dan menyambut dengan senyuman.
“Ada apa?” tanya Wisnu melangkah menuju kursi kebesarannya.
“Itu pak, juru parkir beserta security yang bertugas malam itu sepertinya satu persatu diberhentikan,” jawab Ihsan dengan suara sesal.
“Ulahnya lagi?” tanya Wisnu dengan suara kekesalan yang tertahan.
“Iya, Pak. Kita harus apa?” tanya Ihsan memandang bingung.
“Biarkan dulu, aku ingin tahu, seberapa besar dan apa yang sedang dipersiapkan Johan untukku,” sahut Wisnu dengan kepalan tangannya.
“Nona Delia juga ingin bertemu anda, benarkah Anda tidak ingin memberi tahu masalah pernikahan Anda, sepertinya dia belum tahu.”
“Almira yang meminta, jadi biarkan semua orang tahu dari Almira sendiri,” jawab Wisnu membuka berkas-berkasnya yang bertumpuk di meja.
“Kenapa begitu? Anda sangat menjaga perasaannya,” gerutu Ihsan sambil kembali duduk di kursi kerjanya.
“Aku baru sadar begitu berat dia melalui hidupnya setelah malam kelam itu, San. Jadi, aku akan bersabar menghadapinya,” ungkap Wisnu misterius.
Tok tok tok!
Pintu kantor ruangannya diketuk dari luar, Wisnu hanya memandang Ihsan dengan ekor matanya menunjukkan tanya. Ihsan segera menggeleng karena merasa tidak memanggil siapa-siapa.
“Masuk,” jawab Ihsan bersuara keras. Pintu segera dibuka dari luar.
Nampak wanita cantik dan memakai kemeja dan memakai rok di atas lutut berjalan memasuki ruangan kantor Wisnu, Ihsan sampai terpana melihatnya. Buru-buru dia mengucap istighfar karena sudah dosa dengan mata dan pikirannya. Dia segera berdehem keras.
“Maaf, Pak Wisnu. Boleh saya meminta waktu sejenak?” tanya Delia sambil melangkah masuk.
Wisnu hanya memandang sekilas dan mengangguk, dirinya kembali mempelajari berkas di tangannya.
“Bisa Anda mengambilkan saya minuman dingin, saya haus,” ucap Delia menatap Ihsan yang masih sibuk dengan layar laptopnya.
“Saya? Anda berbicara dengan saya?” tanya Ihsan merasa kurang paham. Wisnu menahan senyumnya untuk Ihsan.
“Iya, tentu saja,” jawab Delia menatap Ihsan dengan sorot mata mendelik kesal. Tapi tetap saja Ihsan mengabaikan tatapan Delia dan berjalan ke arah lemari pendingin dan menyerahkan kepada Delia.
Wisnu ingin sekali tergelak menatap sorot mata gelagapan Delia menatap botol mineral yang ada di hadapannya.
“Ada perlu apa Anda ke kantor saya?” tanya Wisnu mencoba membuat Delia tidak banyak tingkah di dalam kantornya.
“Aku … aku tidak nyaman kalau bicara ada yang menguping,” jawab Delia melirik ke arah Ihsan.
Ihsan mengepalkan jemari tangannya mendengar ocehan wanita tidak sopan itu. Dengan menahan diri dia segera meraih headset dan memasang ke telinganya.
“Silahkan Anda berbicara sampai puas, saya sudah menutupi kedua telinga saya, dan kalau Anda berpikir saya akan pergi dari dalam kantor ini, Anda salah … saya sedang bekerja. Mohon anda mengerti,” lontar Ihsan memandang Delia kemudian kembali sibuk memandang layar laptopnya.
Delia menahan dirinya untuk mengumpat, mendelik kesal ke arah Ihsan dengan emosi di ubun-ubun.
Awas saja, jabatanku kalau tinggi darimu udah aku depak kamu dari kantor ini ya, dasar asssisten sok sibuk.
Delia mengepalkan jemari tangannya dan memandang Wisnu dengan wajah ganti tersenyum saat Wisnu ternyata tengah memandangnya.
“Ada perlu apa? Saya sibuk sekali,” jawab Wisnu kembali menatap berkasnya dan membiarkan Delia duduk di sofa tanpa disambut.
“Oh … apa ayah saya belum memberi tahu anda sebelumnya?” tanya Delia dengan suara lembut dan manja.
“Belum, katakan saja intinya apa. Atau Anda bisa berbicara dengan Assisten pribadi saya kalau dirasa penting, pasti dia akan menyampaikan langsung kepada Saya,” jawab Wisnu menatap Delia dengan sorot mata jengah.
“Saya, akan menjadi sekertaris Anda,” jawab Delia dengan senyumannya.
Wisnu menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan lontaran ucapan Delia barusan. Menggigit bibir bawahnya dengan senyuman geli apa yang nampak di depan matanya. Seorang sekertaris? Dirinya ingin sekali mengusir wanita sok cantik itu dari ruangannya, tapi demi kesopanan Wisnu menahan dirinya dsn masih bersikap biasa.
“Katakan pada ayahmu itu, aku tidak butuh seorang sekertaris. Kalau memang butuh mungkin seorang istri yang menemani bekerja bukan sekertaris,” tolak Wisnu menampilkan wajah cemooh. Ihsan yang masih bisa mendengar tentu saja juga menahan tawanya.
“Anda … menolak saya jadi sekertaris Anda?” tanya Delia merasa terkejut.
“Bukan menolak, tapi saya memang tidak butuh sekertaris,” jawab Wisnu segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa dimana Delia duduk di sana.
__ADS_1
“Tapi, anda tetap butuh orang yang mengerti kebutuhan Anda, dan saya rasa bisa,” ucap Delia bersikeras.
“Seperti apa? Apa maksud dari mengerti kebutuhan saya?” tanya Wisnu merasa sangat penasaran dengan isi kepala Delia tentang pekerjaannya.
“Anda butuh sekertaris yang bisa menyusun jadwal Anda, menemani Anda makan di jam kantor, menemani Anda meeting dan -”
“Saya sudah punya Ihsan, apa Anda pikir Ihsan tidak bisa melakukannya?” adu Wisnu merasa sangat tertantang menjawab celotehan Delia yang bersikeras.
“Tapi, wanita cantik akan membuat mood Anda membaik saat bekerja,” lontar Delia lagi masih dengan suara lembut menggoda.
“Mood membaik?” tanya Wisnu merasa ucapan Delia sangat ambigu baginya.
“Ya … bukankah, sekertaris bisa menjadi milik Anda sendiri saat Anda membutuhkan seorang sekertaris melebihi sekertaris?” jawab Delia dengan suara percaya diri.
Wisnu menyandarkan punggungnya di sofa, memandang Delia yang tersenyum manis ke arahnya. Pikirannya malah melayang jauh. Membuat perasaannya dihantam rasa yang tidak bisa dia jelaskan.
Apa yang terjadi bila itu bukan dia? Bisakah aku bahagia dan tidak merasa merana seperti ini? Tidak akan ada perasaan bersalah hingga rasanya ingin memotong urat nadi.
Wisnu menundukkan kepalanya, bergolak dengan perasaannya sendiri, hingga Ihsan menyentuh pundaknya dan membuatnya tersadar kembali menatap Ihsan dan Delia bergantian.
“Pak, jadwal Anda menemui klien.”
Ihsan berdiri dengan membawa setumpuk map di tangannya.
“Katakan pada ayahmu, aku berterimakasih dengan apa yang dia berikan padaku, tapi sungguh Ihsan saja sudah sangat cukup handal untukku,” jawab Wisnu segera bangkit dari dudul.
Delia ikut berdiri dengan perasaan yang kecewa. Menghela napasnya dengan sedih dan mengangguk samar, berjalan mendahului dan keluar dari ruangan kantor Wisnu. Wisnu menghembus napas lega melihatnya.
“Bagaimana kalau malam itu aku bersama dia dan bukan Ira?” tanya Wisnu segera diberi hembusan napas Ihsan.
“Mungkin Anda akan jarang masuk kantor, akan asik berbulan madu di Maldive atau di Thailand, atau di Bali,” jawab Ihsan segera diberi tepukan pundak dengan kekesalan.
“Lihat saja caranya menawarkan diri? Ughh bukankah sexy?” lontar Ihsan lagi segera diberi hentakan kaki Wisnu merasa diledek lagi.
“Jalanku pasti akan berliku,” balas Wisnu tersenyum sambil mengekor di belakang Ihsan yang memimpin jalan.
“Anda pasti akan senyum setiap hari,” lontar Ihsan masih berjalan di depan Wisnu.
“Kenapa bisa begitu? Aku saja tidak menyukainya,” sahut Wisnu merasa tidak mungkin.
“Ya daripada berurusan dengan si ketus itu,” ledek Ihsan segera dirangkul Wisnu merasa sangat kesal istrinya dikatai ketus.
“Ampun, Pak. Habisnya istri Anda membuat saya gemas dengan sikapnya,” oceh Ihsan membela diri.
Ihsan hanya bisa mengangguk dan memandang Wisnu yang melepas gayutan tangan dipundaknya dan berjalan ke arah lift. Ihsan segera berdiri di sampingnya.
“Siapa klien yang akan kita temui?” tanya Wisnu menoleh Ihsan dan memasuki lift saat pintunya terbuka.
“Pulanglah, Pak. Klien itu istri anda sendiri,” jawab Ihsan menahan tawanya tidak ikut masuk.
“Apa maksudmu?” tanya Wisnu menahan pintu lift agar tidak tertutup.
“Masalah kantor Pak Wisnu sudah mengerti 'kan? Jadi saya harap Anda bisa berhati-hati menyangkut masalah ini,” jawab Ihsan segera diberi anggukan Wisnu.
“Terimakasih ya?” ucap Wisnu menatap Ihsan dengan ucapan tulusnya.
“Tidak masalah. Ini tugas saya. Ini buku dari saya, semoga bermanfaat untuk Anda. Sambil belajar minum air,” ucap Ihsan sambil menunduk menahan tawa.
Wisnu menerima buku pemberian Ihsan dengan wajah bertanya-tanya, apa isinya. Dengan membalas senyum Wisnu segera melepaskan tangannya yang menghalangi pintu lift tertutup.
“Akan aku manfaatkan dan amalkan sebaik-baiknya,” balas Wisnu dengan anggukan kepalanya paham.
“Sampai jumpa besok, Pak,” seru Ihsan saat pintu lift tertutup.
Wisnu membiarkan pintunya tertutup dan merasakan gerakan lift turun. Mencoba membuka buku dari Ihsan dan melompat-lompat bacanya. Menatap sebuah kata yang menarik perhatiannya.
Dengan senyuman dia berniat membaca semua isi buku itu agar menambah ilmu agamanya. Dirinya merasa sangat lambat dalam memahami ajaran agama baru baginya ini. Dengan tekad kuat dirinya ingin menjadi sebaik-baiknya imam bagi Almira apapun hasilnya nanti.
Entah mengapa, sejak mengetahui istrinya itu dulu menyimpan fotonya malah membuatnya semakin ingin mengokohkan pernikahan itu, bukan lagi ada alasan apapun untuk mencoba mengakhiri seperti apa yang ada di pikiran Almira. Dia ingin pernikahan ini langgeng.
Wisnu melewati lobby dengan langkah cepat, bahkan mengabaikan Johan yang terdengar memanggilnya, rasanya malas bila harus berurusan dengan pria yang mulai tercium kebusukannya itu.
Dengan gerakan cepat dirinya sudah mencapai depan lobby dimana mobilnya sudah siap.
“Ihsan memang keren,” gumamnya senang dengan pekerjaan Assistennya itu.
Wisnu memasuki mobilnya dengan cepat hingga Johan ternyata ikut masuk di bagian kursi penumpang, Wisnu hanya bisa memandang heran kelakuannya.
“Anda menyakiti hati anak kesayangan saya, Pak Wisnu,” ucap Johan memandang ke depan dengan nada suara serius.
“Maksud Anda apa?” tanya Wisnu menatap Johan tajam merasa sangat jengah dengan tindak -tanduk GM itu di belakangnya.
“Anda menolak dirinya dengan sangat menyakitkan,” ucapnya lagi diberi helaan napas Wisnu berat.
Wisnu membuang muka dengan hembusan napas menghadap jendela sampingnya. Ingin sekali mengusir pria tua di sampingnya itu dengan kasar. Kalau bukan karena kesopanan dia sudah melakukan itu jauh-jauh hari yang lalu.
__ADS_1
“Saya tidak butuh sekertaris, Pak Johan. Maafkan saya, seharusnya sebelum Anda merekomendasikan seseorang untuk mengisi jabatan, Anda bisa berkonsultasi dulu sebelumnya,” jawab Wisnu masih menahan diri agar terdengar sopan.
“Seharusnya Anda cukup iyakan walau sebenarnya posisi itu tidak penting untuk Anda,” tekan Johan menampilkan sorot mata tajamnya.
“Anda sedang mengajari saya bekerja dan bertindak?” lontar Wisnu tak kalah menatap tajam.
Johan menunduk dengan tangan terkepal erat. Memandang Wisnu kembali dengan sorot mata mulai melunak.
“Maaf bukan begitu maksud saya,” jawab Johan mengatur emosinya.
“Saya sibuk, silahkan Anda keluar dari mobil saya,” usir Wisnu dengan suara dingin.
“Maafkan saya, Pak. Saya hanya tidak tega melihat putri saya terluka.”
“Tapi tega menyakiti orang lain?” desis Wisnu menampilkan senyuman sinisnya. “Jangan mencampuri urusanku, dan aku tidak akan menyentuh bagianmu, kamu paham maksudku ,kan?” tambah Wisnu dengan nada bicara tidak formal sambil menyalakan mesin mobilnya.
Johan segera turun dari mobil dengan kepalan tangannya, membiarkan Wisnu meninggalkan Hotel tanpa dia berhasil mengabulkan keinginan putrinya untuk berada di samping Wisnu.
Wisnu mengabaikannya dan segera pulang ke rumahnya, dimana istrinya pasti sudah menunggunya.
Hatinya merasa ada desiran bahagia saat membayangkan ada seseorang di rumahnya. Dengan laju mobil dia percepat lagi merasa tidak sabar untuk sampai di rumah.
Gerbang yang segera terbuka saat mobilnya mencapai rumah, segera turun dan keluar dari sana mencari dimana Almira berada.
Bau harum segera tercium dari arah dapur, dengan semangat Wisnu berjalan ke arah sana. Nampak Almira sedang sibuk berkutat disana. Wisnu menyandarkan bahunya dipintu dan menatap keindahan yang nampak di depan matanya.
“Sedang apa kamu di sana?” tanya Almira setengah terkejut Wisnu sudah berdiri memandangnya di ambang pintu.
“Menatap keindahan dari pandangan wanita yang sudah mahrom bagiku,” ucap Wisnu spontan membuat Almira mengernyit tapi merona juga dibuatnya.
“Gombal banget,” decak Almira mengabaikan Wisnu dan melanjutkan acara memasaknya yang tinggal menghidangkan saja.
“Aku memasang barang bermerk kok, tidak ada gombal di dalam Almiraku, eh salah … Almariku,” koreksi Wisnu dengan suara datar dan tenang masih memandang. Mau tak mau Almira yang dalam pikirannya akan sekuat tenaga mengabaikan pria itu tak urung tertawa ringan juga.
“Shht, sudah ah … kita makan dulu,” sahut Almira mencoba menahan diri agar tidak terpengaruh gombalan Wisnu, bakal malu rasanya kalau dia sampai terlihat merona malu dan terdengar tawanya.
“Kamu masak apa?” tanya Wisnu menegakkan tubuhnya dari dinding dan mulai mendekati meja makan. Nampak Almira sudah masak dua macam masakan yang menggugah selera makannya.
“Sebisa aku, hanya ini yang aku bisa masak,” jawab Almira duduk di kursi diikuti Wisnu duduk di sampingnya.
Almira menoleh dengan perasaan malu dan canggung saat Wisnu menunggunya mengambilkan makanan untuknya, menunggu sambil memandang gerakan tangannya.
“Makanannya tertata rapi dan cantik seperti yang masak, tidak sabar ingin memakannya,” lontar Wisnu masih memandang piring yang disodorkan Almira untuknya.
Almira hanya bisa menunduk malu tidak berani menjawab, sudah terasa menghangat pipinya mendengar ucapan ringan Wisnu padanya.
“Setelah makan bantu aku mempelajari buku ini ya? Setelah shalat maghrib,” ucap Wisnu meletakkan buku pemberian Ihsan ke atas meja makan.
“Buku apa, Mas?” tanya Almira menyentuh sampul bukunya.
“Hadist Nabi,” jawab Wisnu sambil menyendok makananya dan memakannya dengan lahap. Masakan yang enak dan cocok di mulutnya.
“Ohh … baiklah.”
“Bagus, aku akan sangat senang saat kita bisa sama-sama belajar, bukan begitu?” ungkap Wisnu di beri anggukan Almira tanda mengikuti.
“Aku tadi membaca soal ini, coba jelaskan.”
Almira melirik ke arah buku yang jelas sudah dia pernah baca sebelumnya di rumahnya. Dengan memandang Wisnu takut-takut dirinya menelan makanan dengan susah payah.
“Kalau menolak suami berarti kamu di laknat malaikat, benarkah begitu?” tanya Wisnu dengan suara datarnya.
Apa maksudmu Ihsan, aku kremes kamu besok ya, aku sampai bisa kelepasan ngomong? Pasti kamu sengaja 'kan?
Wisnu menutup buku dengan cepat saat salah membuka halaman buku yang di tanyakan kepada Almira, tapi ternyata Almira sudah terlanjur menunduk mengamati makanannya, dengan melirik ke arah Wisnu gadis itu menatap malu-malu.
Perlahan tapi pasti aku akan memelukmu, merasai cinta utuh yang mungkin saja kau coba ingkari dalam hatimu.
Segala janji yang ku ucapkan kucoba untuk ingkari, namun sungguh karena inginku bersamamu. Bukan untuk akhiri hal yang semestinya masih bisa bertahan hingga nanti. Sayang, tolong pahami hatimu. (Wisnu-Almira)
Bersambung …
Hai semua … aku update 2 bab yaa
Terimakasih sudah memberi dukungan berupa Like komen juga vote yang luar biasa untuk Wisnu dan Almira.
Semoga selalu suka dan masih bersama Wisnu dan tidak bosan.
Ikuti juga ya kisah novel para sahabatku
Salam Cinta dan persahabatan dariku ~ Syala Yaya🌷🌷
__ADS_1