
🌻🌻🌻🌻🌻
"Gue letakkan koper lo di sini, ya?" ucap Depe ketika sampai di Rumah.
Yashna mengangguk, mengamati interior rumah mewah yang ditinggali Depe bersama anak semata wayangnya, Azka. Yashna tidak menyangka bahwa Imran memiliki aset yang ditinggalkan dengan begitu membawa kenyaman bagi Depe dan anaknya.
Walau bagaimanapun, tetap saja ada kenangan keduanya dulu. Yashna segera menggeleng pelan demi mengenyahkan pikiran yang mulai melanda.
"Istirahatlah, Yashna. Besok pagi gue bakal ngantar lo jalan-jalan," ucap Depe seraya meletakan selimut baru di atas tempat tidur.
"Iya, terima kasih, ya?" jawabnya seraya duduk di kasur.
Matanya menatap Depe yang kini ikut duduk di sebelahnya, menyunggingkan senyum beberapa detik sebelum akhirnya memilih untuk menunduk.
"Bagaimana hubungan lo sama pria tadi? Gue ngerasa dia pria yang baik."
"Masih saling menjajaki kecocokan," jawabnya lesu.
"Lalu? Apa yang nggak lo sukai dari Ihsan?" tanyanya seraya membuang napas.
"Usia," jawabnya tergelak lirih.
"Kita tos!" sahut Yashna terkekeh.
Mereka berdua spontan tergelak bersamaan. Tidak menyangka hal ini malah membuat mereka saling mengerti satu sama lain atas kegundahan yang melanda.
Memberi kepercayaan diri untuk menerima cinta dari seorang pria yang bisa saja mendapatkan wanita lebih muda tentunya butuh kematangan ekstra. Depe sebagai seorang janda tentunya lebih riskan dibandingkan Yashna yang masih single. Ada Azka yang musti ia lindungi, juga aset besar yang ditinggalkan mendiang suami tentunya. Ia tidak mau buta dengan menerima pinangan laki-laki yang tidak tulus mencintainya.
"Setelah ini lo mau ke mana?"
"Ke Solo, kota kecil tempat gue merajut asa di kala muda," jawab Yashna sambil merebahkan tubuh di kasur.
"Lo bakal dekat sama rumah Wisnu, dong," kata Depe membelalak mata.
"Apaan, tuh maksudnya? Gue tinggal di sana sejak kecil, tauk. Sebelum dia pindah ke sana," ucap Yashna membela diri, karena memang itu fakta.
"Iya, ngerti."
"Buruan lo pergi, gih. Gue ngantuk banget," usir Yashna segera diberi gelengan Depe.
"Gila, ngusir pemilik rumah, nih," sahutnya sewot.
Yashna hanya bisa tergelak, memiringkan tubuh dengan mata terpejam. Pusing, kepalanya cukup berat untuk menahan diri tetap terjaga. Sebenarnya ia mengalami cukup jet lag.
****
Sementara itu di rumah Wisnu…
Pria itu terlihat sibuk di area belakang rumah, menunduk di kursi malas dengan kaki menopang ke atas, tangannya memegang sikat dan sepatu. Saat ini ia tengah menyemir sepatunya.
Almira segera melangkah mendekat, meletakkan sepiring pisang goreng yang masih panas ke atas meja seraya duduk di kursi samping suaminya.
__ADS_1
“Lelah?” tanya Wisnu menoleh sejenak kemudian kembali pada aktivitasnya.
“Hmm,” jawab Almira mengangguk.
“Kalau nggak nyaman, bilang sama mas, kita periksa,” tawar Wisnu kini sudah selesai menyemir sepatunya, memindai sesaat dengan wajah penuh kepuasan.
“Kenapa nggak disemir di tukang pinggir jalan aja?” protes Almira sambil menusuk satu pisang dengan garpu untuk disuapkan untuk Wisnu. “Buka mulut ... A!” perintahnya segera diikuti pria tampan dengan kaos oblong itu mengunyah kepanasan.
“Huahhh ... panas,” keluhnya diberi kekehan Almira.
Wisnu segera mengunyah dengan gaya bibir monyong untuk mengurangi panas di lidah.
“Tiupin dulu, dong,” protesnya.
“Nggak sehat,” tolak Almira mencibir.
Wisnu hanya bisa memberi senyum seraya meraih pergelangan tangan Almira meminta potongan pisang goreng yang lain.
“Katanya panas?” goda Almira.
“Masih panas kamu,” lontarnya sukses membuat tangannya diberi cubitan khusus yang menyakitkan.
Pria berwajah bersih terawat itu tergelak, mengusap lengannya yang membawa semburat warna memerah. Almira ikut mengusap karena perasaan bersalah.
“Jangan iseng makanya,” protes sang istri.
“Nggak tahu. Udah kebiasaan,” jawabnya membela diri. “Dulu aku nggak pernah bercanda, lho, Ra,” ungkapnya sembari mengulas senyum.
“Kenapa?” sahut Almira merasa sangat penasaran.
Almira tertawa, pasti suaminya sedang menyesalkan pemikiranya di saat muda. Ia menggeleng geli sambil menyuapkan satu potongan kecil yang sukses dilahap tanpa sisa suaminya.
”Sudah biasa nyemir sepatu kayaknya," komentar Almira melihat begitu cekatannya Wisnu mengerjakan pekerjaan kaum pinggiran itu.
"Iya, dulu aku sempat berpikir, kalau sudah nggak jadi bodyguard aku bakal jadi tukang semir," jawabnya tertawa.
"Wah, bisa jadi judul sinetron, dong.“
“Apaan?” Wisnu sewot.
“Tukang semir ganteng itu suamiku,” lontar Almira terbahak.
Wisnu hanya bisa ikut terbahak sembari meletakkan sesuatu dan sikat di lantai, menggeleng kesal juga dengan ledekan istrinya yang lucu sekaligus.
“Yakin, deh. Aku nggak tahu bakal kerja apa saat itu. Awal aku mengelola Hotel saja kalau tanpa Ihsan, mungkin saja sudah menjadi bahan penipuan di mana-mana, Ra,” ungkapnya.
“Itulah, kenapa kamu menyayangi Ihsan seperti saudaramu sendiri?” tanya Almira mengehentikan tawa.
Wisnu menghela napas sambil mengangguk pelan. Almira segera mendekat, duduk di samping suaminya sambil memeluk, menggelayuti lengannya yang kokoh.
“Ihsan juga menyayangimu. Demi kamu, dia bahkan rela melakukan apa pun untuk melindungimu,” ungkap Almira mengingat jelas awal ia berjumpa dengan Ihsan.
__ADS_1
Wisnu menipiskan bibirnya, memandang wajah ayu sang istri dan membalas dengan mengalungkan lengannya dengan mesra.
“Nyemirnya di tempat bapak-bapak di pintu portal kawasan perumahan ini aja, Mas. Bagi-bagi rezeki,” pinta Almira masih menyandarkan dirinya dalam pelukan hangat Wisnu.
“Ehmm, baiklah. Aku sampai lupa, kalau membantu orang tidak hanya dengan memberi uang cuma-cuma,” akunya jujur.
“Dengan kita beli barang maupun sesuatu yang sebenarnya tidak begitu penting dari orang-orang yang menjajakan si jalanan itu udah sama dengan membantu, Mas. Justru kalau mengemis malah jangan dikasih, itu bukan usaha, cuma alasan malas kerja,” ucap Almira.
“Siap, Bu Bos. Terima kasih, ya, selama ini udah bantu mas Inu semakin hidup lebih baik.”
“Enggaklah. Malah Mas Inu yang bawa Almira ke arah hidup lebih baik. Almira malu, shalatnya aja Mas nggak bolong-bolong, Nah Ira? Malu sama Mas yang mualaf,” ungkapnya lagi.
“Saling ingetin kalau gitu,” balas Wisnu. Almira mendongak, mengangguk pelan diiringi dengan senyuman.
“Besok kita periksa, ya? Dedek udah posisi pas belum, kemarin belum masuk panggul, kan?” Wajah Wisnu sangat khawatir.
Almira mengangguk, cukup khawatir. Hanya saja kata dokter masih ada waktu 3 minggu untuk menunggu posisi sang jabang bayi.
“Apa mau ibu dibawa ke sini biar kamy makin tenang?” tawarnya.
“Enggak, nanti pas lahiran aja, Mas. Aku nggak apa-apa, kok. Meski takut tiap ada rasa mules-mules,” jawabnya menggeleng.
“Kamu mules-mules?!” tanya Wisnu terkejut.
“Enggak, cuman kayaknya salah makan,” sahut Almira tertawa.
“Ira, coba nggak makan pedas kenapa, sih? Ngeyel,” rutuknya diberi cibiran sang istri.
“Nggak bisalah, Mas. Makan tanpa rasa pedas itu kayak nggak ada nikmat-nikmatnya,” seloroh sang istri ngeyel sukses mendapat cubitan gemas di bagian pipinya yang chubbie.
“Gendhutku,” goda Wisnu yang kini suka memberi panggilan sensitif kepada Almira.
“Tuh, mulai,” sungut Almira kesal dipanggil gendhut.
“Gendhutku,” ulang Wisnu sambil tergelak saat wajah Almira menampakan sungutan lucu yang memesona.
****
'Tahukah, Sayang, apa yang kuinginkan saat kamu jadi bunga?
Aku ingin menjadi akar.
Walau aku jauh darimu, tetapi aku ingin selalu membuatmu berdiri kokoh.
Aku ingin selalu menguatkanmu.
Aku tak ingin menjadi kumbang ataupun kupu-kupu yang hinggap dan mengambil sari madumu.
Aku juga tak ingin menjadi angin yang membelai sayang, tetapi meruntuhkanmu perlahan.
Aku hanya ingin menjadi akar saja, yang mungkin tidak terlihat, tetapi sangat berarti dalam hidupmu.
__ADS_1
--(Sumber Quote ini aku kutip dari Buku Harian yang kutulis tepat hari Sabtu tanggal 26 april 2008. Sebuah pesan teks SMS manis yang kuterima dari seseorang di masa laluku saat kami menjalani LDR, tapi nggak jodoh hahaha 🤫)--
Salam manis dari Author polos oplosan untuk Para penyayang Wisnu & Almira. Lope lope Full🥰🥰🥰.